Love You Forever

Love You Forever
Chapter 28


Bao Yu duduk di samping putranya, "Bagaimana hasilnya?" wanita setengah baya itu sejujurnya sangat khawatir ketika mendapat kabar tak menyenangkan dari putranya sejak kemarin.


Mendadak situasi hening, mereka menunggu informasi apa yang Leo bawa mengenai perkembangan pencarian Chika. Setelah kejadian menyedihkan yang di alaminya, Leo tak kembali ke rumah dan memutuskan mencari Chika terlebih dahulu.


"Nihil!" Leo menggeleng.


Sontak, Bao Yu menutup mulutnya. Berita yang dibawa Leo ternyata bukanlah seperti harapannya dimana Leo sudah membawa Chika kembali ke rumah.


"Astaga, kemana perginya Chika?".


Leo menatap nanar Mamanya, "Dia diculik." ungkap Leo terkulai lemas.


Deg!


"Apaaa?" Mama, Papa dan adiknya terkejut disaat yang bersamaan.


Bao Yu membelalakkan matanya, Jun Hui yang sedang menyeruput tehnya pun tersedak. Dan Jia Li, gadis yang sedang mengerjakan tugasnya sontak berlari menghampiri mereka di ruang tengah. Yang awalnya mereka berpikir jika Chika hanya pergi jalan-jalan sebentar namun ternyata justru diculik oleh orang yang sama sekali tak dikenalnya.


Bao Yu bertanya, "Bagaimana bisa?" seakan masih tak percaya.


Jun Hui menajamkan pendengarannya sembari menunggu Leo berbicara. "Katakan bagaimana ceritanya?" desaknya yang sudah tak sabar.


Pria itu sebenarnya enggan menceritakan kejadian dimana sampai sekarang pikirannya masih kacau karena tak kunjung menemukan keberadaan kekasihnya. Entah apa yang sedang diperbuat mereka pada Chika. Saat ini, Leo hanya berdoa atas keselamatan kekasihnya. Tak ingin lain hal yang menimpa dirinya dan berharap Chika pulang dengan selamat.


"Dua orang itu membius dan membawanya pergi entah kemana, aku sungguh tidak tahu."


"Kakak, saat ini sedang marak penculikan manusia untuk diperjualbelikan organnya." timpal Jia Li.


Leo menatap tajam adiknya, "Jangan berbicara sembarangan!".


Leo berlalu pergi menuju lantai atas. Kepalanya terasa sakit memikirkan Chika. Namun, dia juga harus istirahat untuk melanjutkan pencarian esok hari. Akan tetapi, ada satu hal yang membuat pikirannya semakin kacau. Ya, itu karena perkataan Jia Li masih terngiang-ngiang di benaknya, dia takut jika hal itu benar adanya terjadi pada Chika.


*


*


"Bawa gadis itu padaku sekarang!" titah Matthew dari dalam kamarnya.


Dua orang bertubuh tegap langsung melaksanakan perintah Bos mereka. Chika masih tertidur pulas pun terkejut kala tangan-tangan kekar itu memegang lengannya begitu kasar. Goncangan akibat dua orang tak berperasaan itu membangunkannya.


Kepalanya mendadak menjadi pusing saat dibangunkan tiba-tiba. Semalaman, Chika menyusun rencana untuk melarikan diri walaupun ujungnya dia belum menemukan cara yang pasti. Dia bahkan tak tahu dimana letak pintu keluar, selain itu tempatnya begitu gelap.


Chika mendongak, "Apa yang akan kalian lakukan?" erangnya.


Mereka menarik tangan Chika setelah tali di kakinya terlepas, "Diam dan menurut lah! Bos sudah menunggumu di sana."


"Lepaskan aku!" Chika memberontak enggan untuk pergi.


Chika menelan ludahnya kala melihat otot-otot besar dan juga tatto di tubuh kedua orang tersebut. Sebisa mungkin dia bersikap biasa-biasa saja. Dengan terpaksa Chika menuruti orang-orang yang menyebalkan itu


"Percepat langkahmu!" hardik lelaki berkacamata hitam.


Chika mengangguk dan membuat langkah panjang meskipun kedua kakinya masih terasa sakit dan pegal. Chika mengamati tempat itu, dia terus mencari pintu keluar dan mengingat-ingat setiap sudut bangunan kosong nan gelap.


20 menit kemudian sampailah mereka di sebuah tempat. Lebih tepatnya berada di belakang bangunan kosong, dimana Chika disekap. Dia memicingkan matanya ketika sinar matahari menyinari wajahnya. Ternyata hari sudah pagi. Akhirnya Chika bisa menghirup udara segar lagi setelah beberapa jam disekap dalam ruangan gelap.


Lagi-lagi dua orang itu membentak dan menyeretnya kasar masuk ke dalam. Bangunan itu berbeda dengan tempat sebelumnya. Namun, Chika masih belum melihat apa-apa selain lorong sempit yang hanya muat tiga orang. Dengan minim pencahayaan, lorong kecil itu tampak menyeramkan.


Takut? Tentu saja gadis sepertinya takut dengan orang-orang bertubuh besar. Mau melawan pun, dia takkan bisa menang. Tubuh kecilnya mungkin hanya seperti kerupuk yang begitu diremas akan hancur berkeping-keping.


"Mau dibawa kemana aku?" tanya Chika.


Salah seorang di antaranya mendengus kesal, "Aku sangat membenci perempuan yang berisik! Bisakah kau diam tanpa berbicara jika tidak diminta?".


Chika bergeming, "Aku pun tidak menyukai pria yang kasar," dongkolnya dalam hati.


Jika saja Chika memiliki kemampuan seni bela diri, dia sudah melawan orang-orang yang bahkan namanya saja dia tidak tahu. Kedua tangan yang sudah mengepal kuat pun takkan berguna, lihat saja sekarang dia masih menjadi tawanan. Chika berharap dia takkan dijual ataupun di jadikan budak pemuas nafsu.


*


*


Di ruangan operator keamanan, Leo kembali memutar rekaman kejadian kemarin. Dia berharap bisa menemukan petunjuk, masih terlalu pagi tapi dia sudah di sana sejak pukul 6 tadi. Leo mencermati setiap gerak-gerik orang yang berlalu-lalang di depan gedung. Tak ingin melewatkan hal-hal penting, dia hampir tak mengedipkan matanya.


"Sebentar!" matanya berbinar.


Dia menekan tombol pause pada menit ke 40 pukul 9 pagi kala itu. Kemudian memperbesar gambarnya. Ya, dua orang pesepeda dengan kamera vlog di helmnya itu yang sedang dicarinya. Leo memotret dua orang tersebut lalu berlari keluar menuju tempat parkir untuk menunggu orang yang dimaksud.


Dua jam berlalu, Leo mulai gusar tatkala tak ada tanda-tanda yang ditampakkan dua orang pesepeda itu muncul. Sembari menunggu, Leo meminum kopi yang telah menjadi dingin karena sudah terabaikan. Tak lupa sepotong roti untuk mengganjal perutnya. Beruntung saja ada yang menjual makanan sudah siap saji dekat dari gedung perusahaan Ayahnya.


Leo kembali berdiri menelisik setiap pesepeda yang melalui gedung dimana dia saat ini sedang berada. Dia celingukan mencari sosok yang di nantinya, sesekali melirik ke arah jam tangan. Hingga tiga puluh menit berlalu terdengar suara saling bersahutan. Leo mencari sumber suaranya, dan nampak dua pesepeda sedang bercanda tawa mendekati tempat parkir.


"Akhirnya!" Leo mengucap syukur.


Pria dengan tinggi 190 cm itu berdiri di jalan berniat menghentikan dua pesepeda. Mereka mengerem mendadak dan berhenti, terdengar suara umpatan dari mulut keduanya yang hampir menabrak Leo. Namun pria itu hanya menutup matanya sembari mengintip dari celah-celah jari.


"Apa yang kau lakukan, Bung?" bentak pria berkaos biru.


Leo membungkukkan badannya, "Maafkan aku, tapi aku sungguh membutuhkan bantuan kalian saat ini."


Mereka berdua langsung turun dari sepedanya seraya bertanya apa yang diinginkan oleh pemuda di hadapannya. Kemudian saling memandang satu sama lain, Leo mencoba menjelaskan pada mereka kalau mana dia membutuhkan hasil rekaman kemarin pagi kala mereka melewati gedung Xu Big Company. Setelah banyaknya drama, akhirnya kedua orang itu mau membantu Leo. Lantas, Leo langsung mengajaknya masuk ke dalam gedung.