Love You Forever

Love You Forever
14. Permintaan Seorang Ibu


Luka dan remuk karena dipaksa berpisah oleh sebuah janji konyol seolah telah menemukan obatnya kini. Cinta yang belum usai itu tak urung membuat Syaira menjadi goyah dari janji pernikahan. Pertemuan kembali antara dua hati yang sempat retak itu menimbulkan letupan-letupan hasrat tak terkendali


Angan indah yang sempat jeda dari hati kini menemukan kembali jalannya. Bukan! Ia bukan lupa statusnya sekarang. Ia hanya ingin melupakan sejenak, demi memuaskan gejolak hati, yang lama dipaksa redam.


'Dia ... ada di hadapanku sekarang. Aku tak mau melepaskannya begitu saja.' Syaira menggumam dalam hati, kala rambutnya dibelai mesra Akbar sore itu, di taman kompleks. Mereka ingin mengulang kenangan yang sempat terkubur paksa.


Syaira menahan napas. Ponselnya berbunyi dan terlihat sebuah nama tak diharapkan terpampang di layar ponsel.


"Siapa?"


Syaira memberi isyarat pada Akbar agar menutup mulut. "Halo."


"Lagi apa, Sayangku?"


"Santai di kursi taman kompleks. Abis lari-lari. Masih di proyek?"


"Iya. Nunggu material. Telat datang sampai sejam, nih. Udah makan, Istri cantikku?"


"Abis ini makan, kok."


"Dia? Suamimu?" Akbar menggerakkan mulutnya tanpa suara. Syaira mengangguk sambil menempelkan telunjuknya ke bibir Akbar.


"Kangen banget, nih."


"Sama." Syaira menggosok telinga kanannya kasar, yang tak tertempel ponsel.


"Eheemmm ...."


'Akbar!' Syaira melotot tegang sambil menggerakkan mulutnya.


"Suara siapa itu, Syai? Ada pria di sebelahmu?"


"Heru ini tadi. Dia datang membawa jus buah naga pesenan aku, kok." Syaira memelototi pria manisnya lagi.


Akbar menonjolkan rahangnya. Ia cemburu. Hatinya panas mendengar Syaira menjawab lembut telepon suaminya. Dihentak-hentakkannya kaki dengan kesal.


Melihat reaksi mantan kekasihnya, Syaira tersenyum tipis. Senang, sudah membakar hati Akbar tepat di depan mata.


"Oiya, nanti malam aku telpon lagi, ya. Mau balik kost dulu. Udah mau maghrib." Syaira buru-buru menyudahi telepon Restu, karena dilihatnya Akbar hendak berulah lagi.


"Oke. Jaga kesehatan, ya, Syai. Love you."


"Love you too," sahut Syaira dengan ekspresi datar dan segera menekan gambar telepon warna merah.


"Apa-apaan kau? Mau showoff?!" Sengat Syaira tajam.


"Aku tak suka dia telpon Syaira-nya Akbar!" Dengkusnya kesal, memelintir botol air mineral yang telah kosong.


"Dia suamiku. Ya, wajarlah, nelpon aku. Gimana, sih?" Ingin hati menertawakan reaksi Akbar yang bagi Syaira, itu lucu. Kekanakan sekali. "Dia jauh. Kau yang dekat denganku 'kan? Jadi tak perlu diributkan lagi," sambung Syaira.


"Aku cemburu!" Syaira tertawa kecil. "Ada yang lucu?" Akbar merasa cemburunya diremehkan aat itu.


"Sudah tau lagi pacaran sama istri orang, kok, pake cemburu segala, sih?" Syaira mencubit pipi Akbar gemas.


"Kamu ngeselin banget, sih?!" Akbar dongkol ditertawakan begitu. Dengan langkah terburu, ia meninggalkan Syaira yang cuma bisa menggeleng pelan.


Sudah dua minggu, mereka kembali dekat. Syaira yang sudah membeli cincin kawin lagi, terpaksa menyimpan sementara di laci kamar kost. Takutnya, Akbar cemburu dan membuang lagi cincin kawinnya.


****


"Syaira! Beli lauk buat makan siang, nggak?" Kepala Weni melongok dari balik pintu ruang kerja sahabatnya. Setelah jadi jaksa, Syaira beda ruangan dengan Weni.


"Males keluar."


"Ada yang jual lauk. Tuh, di depan. Buruan!"


Syaira bergegas keluar ruangan menuju teras kantor, mengikuti langkah Weni. Sudah jam sebelas siang, saat ditengoknya arloji di pergelangan tangan kirinya.


"Silakan, Nak. Ini ada ramesan. Ato mau nasi putih saja? Lauknya ada pepes jamur pedas, tumis kangkung, semur ikan, opor ayam, sambal goreng ati ampela juga pepes tahu kemangi."


"Ih, jadi bingung milih apa, ya?"


"Pilih sesukanya, Nak Syaira aja." Syaira mengerjapkan mata. Heran!


"Ibu tau nama saya?"


"Kan, ada di situ."


Syaira tertawa melihat nametag di dadanya. Malu keliatan sedang blank. Kemudian, ia sibuk melihat beberapa jenis lauk sambil berpikir, mau beli yang mana.


"Tanpa baca, Ibu juga sudah tau, kalo namamu Syaira, Nak." Syaira dan Weni berpandangan.


"Ibu ... kenal saya?" Syaira duduk di sebelah ibu penjual lauk itu.


"Sudah lama. Sejak tiga tahun lalu." Senyuman teduh itu membuat Syaira makin tak mengerti.


"Saya tak ingat, kalo pernah ketemu Ibu. Maaf, Bu."


"Kita memang belum pernah ketemu secara langsung. Tapi ... Ibu sangat mengenalmu. Fotomu saja, sering Ibu lihat, loh."


Weni mengurungkan niat masuk ke kantor lagi. Ia penasaran, siapa ibu penjual lauk itu sebenarnya.


"Kita satu erte, Nak. Rumah Ibu di gang empat."


Syaira tersenyum kecut makin bingung. "Oooh." Cuma itu yang keluar dari mulutnya.


"Ibu senang akhirnya bisa melihatmu sedekat ini." Digenggamnya jemari kanan Syaira dan ditepuk lembut.


Weni angkat bahu tak mengerti, saat Syaira menoleh padanya meminta jawaban.


"Terimalah anak Ibu kembali, Nak."


"Anak Ibu? Anak Ibu siapa?" Syaira menatap penuh selidik.


"Akbar." Ibu itu melepas genggamannya dari jemari Syaira.


Syaira dan Weni menghela napas berbarengan, sambil berpandangan. Suasana jadi terasa aneh. Canggung!


"Ibu disuruh Akbar?" Weni menyela.


"Tidak. Ibu lakukan atas inisiatif sendiri. Akbar tak tahu yang Ibu lakukan ini. Sebagai seorang Ibu, perasaan ini ikut sakit, Nak."


"Kenapa?" Syaira mengelus pundak ibunya Akbar.


"Melihat anak lelaki satu-satunya menangis, karena harus berpisah denganmu, Ibu sedih. Fotomu yang terbingkai rapi, masih terpajang di dinding kamarnya, meski dia telah menikah dulu."


"Menangis?" Weni memancing. Syaira tercenung sesaat.


"Dia menangis saat mau menikah. Itu bukan keinginannya. Maafkan anak Ibu. Tolong, mengertilah." Wajah menua itu tampak sedih.


"Ibu mau apa dari temen saya?" Weni menatap penasaran.


"Terima kembali anak Ibu, ya, Nak. Ibu berani jamin, hanya kamu satu-satunya yang dia cintai. Akbar hanya mencintai Syaira. Percayalah!"


"Tapi ...." Syaira menahan napas. Sesak!


Jemarinya kembali digenggam erat ibu Akbar. "Ibu mohon sama Syaira. Lupakan, bahwa dia pernah menyakiti hatimu. Sekarang dia sudah kembali ke rumah Ibu dan Bapak. Dia ingin bersamamu kembali. Terimalah dia, Nak." Suara wanita berkerudung hitam itu parau hendak menangis. Matanya sudah berkaca-kaca.


Syaira bingung harus jawab apa. Dipandangnya Weni meminta bantuan. Jujur, sesak di dada makin menjadi. Berarti, Akbar tak bohong tentang perasaannya. Ibunya tak mungkin bersandiwara.


"Ibu. Maaf, ya ... Syaira sudah menikah. Tak mungkin bisa bersama Akbar lagi." Weni menjelaskan dengan hati-hati.


Mata basah itu sontak membulat. Kaget! Ditatapnya Syaira meminta penjelasan. Syaira mengangguk. Meski perih, ada rasa puas di sudut hatinya. Ya! Sangat puas. Dulu ia tersakiti begitu hebatnya. Dan sekarang ....


Bukan hanya Akbar yang memohon meminta hatinya kembali. Namun, ibunya pun turun tangan. Wanita paruh baya itu sampai merendahkan diri mendatangi Syaira. Mengemis, meminta kesediaan Syaira untuk menerima lagi Akbar, masuk ke hidupnya. Hebat! Ada apa dengan ibu dan anak lelaki satu-satunya itu? Mimpi apa Syaira semalam?


"Ibu. Saya tak bisa. Saya sudah menikah dengan orang lain." Akhirnya, jawaban itu yang terlontar dari mulut Syaira.


"Syaira bohong 'kan? Nyatanya ... tak ada cincin kawinnya."


Syaira terperangah. Weni spontan melihat jari manis kiri sang rekan. Tatapannya juga terlihat kaget.


"Ini karena ... tadi pagi lepas saat mandi. Lupa mengenakan kembali," elak Syaira mencoba menghalau pikiran negatif dari benak Weni.


"Tidak! Ibu tak percaya kalo kau sudah menikah. Kau hanya ingin menolak anak Ibu saja 'kan? Kau masih sakit hati dan hendak membalas Akbar dengan cara ini? Kenapa, Nak? Dia sangat mencintaimu. Setelah resmi bercerai, ia bergegas mencarimu lagi. Tidakkah kau mencintai Akbar juga?"


Weni makin menatap penasaran. Ia baru tahu, kalo Akbar sudah bercerai. "Anak Ibu sudah menduda? Pantesan, dia nongol lagi mencari temen saya!"


Syaira menyikut perut Weni. Ibu Akbar memandangi Syaira dengan tatapan sedih. Diusapnya lengan Syaira lembut.


"Ibu setujunya, Akbar menikahi Syaira. Ibu nggak sreg sama yang kemarin, sebenernya. Tapi, karena ... ya, sudahlah!"


Jaksa cantik itu menahan sesuatu yang berdesakan ingin kabur dari matanya. Bertahan, berharap ia tetap tenang dan mampu mengendalikan diri.


"Mau, ya, menikah sama anak Ibu? Ibu akan siapkan lamarannya. Ibu tak tahan melihat Akbar sefrustrasi itu."


"Ibu ... saya sudah menikah." Syaira menegaskan kembali statusnya, sambil tersenyum tipis. Puas rasanya mempermainkan perasaan ibu Akbar!


"Ibu mau pulang. Ini buat gadis cantik yang dicintai anak Ibu." Diletakkannya di bangku teras, dua bungkus nasi beserta pepes tahu, semur ikan, tumis kangkung dan sambal goreng ati ampela.


"Ini berapa, Bu?" Syaira membuka dompet.


"Tidak usah. Makanlah bersama temanmu itu. Spesial buat calon menantu Ibu yang cantik ini!" Dicubitnya dagu Syaira sekilas.


"Bu ...!"


Wanita itu sudah keburu kabur mengendarai motor matic. Weni menatap tajam. Syaira angkat bahu saja agar Weni tak menanyainya macam-macam.


"Syaira?" Weni seperti ingin menginterogasi sahabatnya itu.


"No comment! Aku tak ingin membicarakannya, oke?!" Syaira menghadapkan kedua telapak tangannya ke wajah Weni.


Mereka memang bersahabat. Namun, untuk cerita kembalinya Akbar, Syaira menutup mulutnya rapat-rapat. Ia tak ingin ada yang tahu skandalnya dengan Akbar. Iya, sebuah skandal! Antara duda dan wanita bersuami. Tak boleh ada yang tahu. Tidak itu Weni, keluarganya, Rama, apalagi Restu.


Ditariknya napas dengan berat. Ada penyesalan di hati saat ini. Andai saja waktu itu, ia sedikit bersabar dan menolak Restu, tentu tak akan serumit ini. Apalagi, ibunya Akbar datang sendiri memohon pada Syaira. Berarti, keluarga Akbar bakal merestui hubungan mereka.


"Ah! Kenapa jadi seperti ini?" keluhnya menerawang menatap dinding ruang kerja