
[Mas ... mana janjimu?]
Tertegun sesaat membaca sebuah pesan di Line sore ini. Aku seperti baru tersadar dari buaian mimpi indah berkepanjangan. OMG!
[Maafkan aku. Aku tak bisa.]
Menguatkan hati untuk mengetik dua kalimat ini. Kupandangi untuk keempat kali. Memejam sesaat. Mantap, kukirim kalimat itu. Menghela napas sepanjang-panjangnya. Oh, Tuhan! Kenapa aku berada di situasi yang tak kuperkirakan sebelumnya seperti ini?
[Tidak bisa! Mas sudah janji. Mas sudah mendapatkan ....]
Aku tak mau melanjutkan lagi membaca pesan itu. Gemas, kulempar ponsel ke kasur. Menjambaki rambut dan mengusap wajah dengan kasar. Perasaanku jadi tak keruan. Kenapa aku bisa lupa?!
Syaira .... Sekelebat bayangan sosok dingin itu menyadarkanku. Sudah jam tiga sore. Cepat, kusambar jaket dan kunci motor. Aku sudah janji mau menjemputnya di terminal. Harus ngebut. Tak boleh menelantarkannya di terminal lama-lama. Hanya lima menit, akhirnya sampai di seberang terminal. Sebuah bus antar provinsi berhenti.
Ah, itu wanita yang kurindukan sepuluh hari ini. Akhirnya, sosok yang sangat kuharapkan itu nampak juga menuruni bus. Tangannya melambai dengan senyum lebar. Duh! Betapa kangennya aku sama doski. Syaira-lah gadisku yang luar biasa. Tak ingin, tak rela, tak ikhlas kehilangannya. Sangat!
Kumajukan motor mendekatinya. Tanpa bicara apa-apa, tubuhnya sudah nangkring di jok motor. Dengan erat, dipeluknya punggungku. Hei ... baru kali ini sikapnya seagresif begini.
"Kangen ya?" kuusap lutut kirinya penuh tekanan sebelum perlahan menjalankan motor. Hanya kecepatan empat puluh saja.
"Nggak mau jawab," sahutnya.
Kurasakan kepalanya disandarkan ke punggung. Hmmm ... terasa hangat. Getaran halus laksana terkena setrum tegangan rendah, serasa mengaliri urat nadiku. Nyaman.
"Makan dulu, yuk. Pempek ... mau?"
"Terserah Akbar."
Sepanjang perjalanan, doski tak bicara. Tangannya melingkar kuat di perut. Tubuh bagian depannya menempel erat di punggung. Kubalas dengan mengusap lembut lutut dan sisi luar paha kirinya. Aku tak ingin mengakhiri ini semua. Tak ingin!
****
"Buka mulut." Doski menurut. Kusuapkan sepotong kecil pempek kapal selam. Syaira terlihat jinak. Hari ini, doski begitu lembut dan penurut. Wajahnya sering tersipu. Memerah. Tegakah aku merusak suasana hatinya yang sedang bagus ini? Tentu saja jawabnya ... TIDAK!
Kuhentikan motor di sisi persawahan. Sejuk dengan angin sepoi-sepoi membuat suasana hati bertambah damai.
"Mau ke mana? Langsung kost?" Kuputar tubuhku separuh ke belakang dan mencubit mesra hidungnya. Senyuman malu-malu itu makin bikin aku geregetan.
"Terserah kau saja."
"Yang bener?" Anggukan mantap itu lagi-lagi membuatku takjub.
"Syaira ikut Akbar," bisiknya lirih di telingaku.
Semua bulu di tubuhku langsung meremang. Embusan napas hangat dan bau harum parfum aroma dedaunan yang tertangkap hidung, membuat gairahku sontak naik ke ubun-ubun.
"Serius?" Aku mengerjapkan mata menahan dada yang bergolak hebat. Keringat dingin mulai membasahi dahiku.
"Iya."
Kurasakan wajahnya didusalkan ke punggungku. Duh, Syai. Jangan teruskan! Aku tak tahu hingga detik keberapa masih mampu bertahan di garis normal. Napas juga sudah mulai terasa berat ini, Syai.
"Kalo begitu, mati bersama, yuk!"
"Ngawur!" Ditepuknya punggungku pelan.
Kami tertawa berbarengan. Syai, Akbarmu ini tidak sedang bicara ngawur. Aku serius! Akh ... sedang coba mengatur lagi detak-detak jantung yang nyaris meleduk.
Kulajukan lagi motor dengan kecepatan sedang. Aku belum ingin pulang. Masih ingin bersama Syaira lebih lama lagi. Bersentuhan, berdekatan, tapi ....
****
"Hai ... ada apa?"
Perih menusuki hati saat jemari lentiknya mengusap pipiku lembut. Tepekur, tak tahu harus berkata apa. Menatap wajah cantik yang semringah itu rasanya ... OMG! Haruskah aku kehilangan semua keindahan itu? Kulempar pandangan jauh ke arah padatnya lalu lintas. Menghela napas berat berulang kali. Taman kota ini lengang karena senja mulai turun.
"Untuk ...?"
"Aku sudah pernah melakukannya." Suaraku tercekat di tenggorokan. Aku harus mengakuinya sekarang. Iya, harus!
"Melakukan apa?" Syaira menatap pas di bola mataku dengan kilatan tajam. Iris kelam itu seolah menuntut jawaban segera.
"Aku .... sudah pernah melakukan ... dengannya."
"Kamu ngomong apa, sih?" Tawa kecilnya justru tertangkap miris di telingaku.
"Aku sudah pernah melakukan hal itu dengan pacarku saat kuliah. Dia ... adik tingkatku." Napasku terempas keras. Tersengal setelah berhasil mengeluarkan kalimat yang menghimpit dada ini.
Wajahnya terlihat menegang. Beberapa saat, doski tak menunjukkan gelagat apapun. Kuusap keringat yang membanjiri leher dan wajah. Ini betul-betul menegangkan. Menunggunya menunjukkan reaksi atas pengakuan dosaku barusan terasa meneror jiwa.
"Lantas kenapa?"
Suaranya datar banget. Namun, hawa dingin dari ekspresinya bisa kurasakan begini kuatnya. Tak kutemui lagi senyum yang awalnya terbingkai indah. Tak ada lagi sikap manis Syaira. Hilang mendadak. Lenyap begitu saja.
"Aku ingin mengakuinya. Hanya kepadamu aku mengakuinya."
"Untuk apa kau mengakuinya? Kenapa kau tak berpikir untuk menyembunyikannya saja, agar tak menyakitiku? Aku juga tak berniat menanyakan hal itu."
"Karena ...." Kuteguk ludah. "Aku benar-benar menyintaimu. Aku tak ingin ada rahasia di antara kita."
"Sudah berapa gadis yang kau rayu dengan kalimat semacam itu, agar mereka mau menyerah padamu?" Masih juga tak bereaksi seperti yang aku takutkan.
"Hanya dua. Aku bersumpah padamu! Kau ... gadis ketiga dalam hatiku. Tapi, hanya kau yang tak kurusak. Aku tak tega." Aku menantang tatapan tajamnya, untuk menunjukkan bahwa aku serius.
"Kenapa tak tega? Kau punya banyak kesempatan melakukannya 'kan? Lihat aku sekarang! Lihat! Kau pasti tau, kalo aku sudah takluk padamu. Ayo, lakukan saja! Tak perlu merayu pake kata-kata sampah semacam itu! Aku pasti dengan sukarela menyerahkan padamu!" Kata-katanya terasa menusuk jantungku.
"Tidak ... tidak! Meski ingin ... sangat ingin ... tapi, aku tak sanggup melakukannya."
"Kenapa kau jadi pengecut seperti ini? Mana Akbar yang selalu pongah mengatakan, bahwa tak ada gadis yang tak bisa ditaklukkannya? Mana?!" Suaranya tergetar hebat.
Segera kudekap tubuhnya saat Syaira terlihat mulai histeris. Meski berontak, tapi aku tak akan melepaskan pelukan. Syaira harus tahu, aku jujur. Aku benar-benar menyintainya!
"Aku tak akan merusakmu. Tak taukah kau ... aku selalu berjuang melawan hasratku sendiri tiap kali berdekatan denganmu. Itu tak mudah, Syai!"
"Akbar jahaattt ...." Tangisnya tenggelam di dadaku.
"Iya. Aku jahat. Tapi, aku tak akan menjahatimu."
Ia berhenti memberontak. Hanya tangis sesenggukan yang tersisa. Mulai senja ini, aku janji, Syai. Hanya kau yang terakhir di hatiku. Hanya dirimu.
***
Penat rasanya memikirkan ini semua. Hati dan otak sedang berkecamuk membuat kondisiku mulai menurun. Saat yang tak kuinginkan ini, tetap saja datang. Tak tahu, apa yang sebenarnya aku sesali. Pertemuan dengan Syaira-kah? Jatuh hati mati-matian dengannyakah? Atau janji yang telanjur kubuat empat tahun silam?
Kuraih ponsel yang bergetar di meja. Berharap itu pesan dari Syaira. Semoga doski tetap baik-baik saja setelah kejadian senja tadi.
[Seorang laki-laki sejati tak akan mengingkari janji.]
Kepalaku makin berdenyut kuat. Ini ... sakit. Lena. Gadis manja itu tak mau melepaskan aku begitu saja rupanya.
[Aku mencintai gadis lain.] Jawabku tak mau menutupi lagi.
[Sudah kuduga! Laki-laki ******** sepertimu akan selalu bisa mendapatkan cinta yang baru.]
[Dulu kita sepakat melakukannya tanpa paksaan. Kau rela. Kau dalam kondisi sadar. Suka sama suka. Setelah itu ... end.]
Aku terkesiap saat balasan yang dikirim Lena hanya sebuah foto. Gemetar tiba-tiba hingga ponsel yang kugenggam hampir jatuh. Kumatikan ponsel dengan segera dan membanting punggung ke kasur. Persetan dengan ini semua!