Love You Forever

Love You Forever
BAB XVII


"Habiskan makananmu,setelah itu berkemas,bawa semua keperluan dan kebutuhanmu." Ucap Abian seraya berjalan keluar dari ruangan makan.


"Hah..ta..." ucapan Tasya terhenti karena tubuh Abian sudah menghilang.


"Apakah aku di pecat? Tapi...bukannya tuan suka masakan aku.Apa aku buat salah?" Tasya bermonolog dengan ekspresi bingung.


"Baiklah...apapun itu,aku ga bisa apa-apa." ucap Tasya seraya menghabiskan makanannya dengan cepat.


Setelah selesai makan,Tasya membersihkan merja makan mencuci alat sisa makan lalu merapikannya.Ia memandangi ruangan tersebut,setelah memastikan ruangan telah rapi dan bersih, ia lalu menuju kamarnya.Tasya mengemasi seluruh barang-barangnya yang tak seberapa.Ia lalu membersihkan diri.


Dua puluh lima menit berlalu,Tasya bersiap keluar dari kamar nya.


"huaaaa...astgahfirullah..." Tasya terjengkit kaget,karena saat ia berbalik setelah menutup pintu kamar,sosok tinggi tegap telah menghadangnya,sontak Tasya termundur dan bersandar di pintu.Jantung Tasya kembali harus berpacu,ia menahan nafas karena sekarang jarak lelakinyang tak lain Abian dengan nya hanya beberapa centi.Tasya hanya menunduk dan memejamkan mata.seraya menghirup aroma lembut yang menguar dari tubuh Abian.


Abian menatap wajah gadis manis nan mungil di hadapannya dengan penuh makna,Untuk sesaat suasana hening.Abian menarik nafas panjang,lalu meletakkan tangan kirinya di sisi kanan kepala Tasya dan merapatkan tubuhnya pada Tasya.


Sedangkan tangan kanan nya.meraih dagu Tasya agar bisa melihat wajah Tasya.


"Tuhan,apa yang tuan mau." batin Tasya,tubuhnya membeku dan matanya masih terpejam.Tasya merasakan jari jempol Abuan mengelus bibir Tasya.Tak lama Tasya merasakan sebuah benda kenyal menempel pada bibirnya.Mata Tasya seketika membuka terbeliak kaget.Tasya berusaha mendorong dada Abian dengan kedua tangannya.Namun tentu saja sia-sia,mengingat tubuh Abian yang kekar dan tinggi.Justru Abian semakin kuat ******* bibir Tasya dan merapatkan tubuh mereka dengan meraih pinggang Tasya.Tangan kanan nya meraih tengkuk Tasya dan memperdalam ciumannya dengan menggigit bibir bawah Tasya,hingga membuat Tasya membuka bibirnya.dan membuat mudah kinerja lidah Abian di dalam rongga.kulut Tasya.


******* Abian semakin intens sampai kemudian ia menghentikan ciumannya saat merasakan pukulan-pukulan kecil di punggungnya.Tasya menghirup nafas,ia merasakan sesak nafas sesaat,Tasya menatap tajam dan mengelap bibirnya dengan tangannya.


"Tuan mau bunuh saya,ya? Kenapa tuan akhir-akhir ini suka mencium saya dan tanpa ijin saya ?." Tanya Tasya dengan wajah memerah.Ia sangat marah atas perlakuan Abian pada dirinya.


"Sudahlah.." ucap Abian tiba-tiba.Ia berbalik dan membawa tas Tasya.Tasya memberengut kesal,


"huh....punya majikan begini amat.huff...tenang..tenanglah jantungku...kita tak pantas berharap." monolog Tasya berusaha menenangkan hati dan debaran jantungnya.Ia lantas segera berlari kecil menuju lift.Tak ada yang bicara di dalam lift hingga mereka berada di dalam mobil.


Abian membawa mobil sendiri ke tempat yang akan di tuju .Namun tetap para pengawalnya mengikuti dari belakang.


Perjalanan cukup jauh,hingga Tasya tertidur.Bahkan setelah dua jam perjalanan dan masuk wilayah yang tak mencolok dan terlindungi pepohonan,Tasya masih tidur dengan nyenyak.Hingga kemudian mobil mereka memasuki sebuah gerbang tinggi dan di jaga ketat beberapa pria menggunakan senjata api laras panjang.


Mobil berhenti,namun Abian belum keluar,ia menatap wajah Tasya yang masih tertidur pulas.


"cik...bisa-bisa nya dia tidur nyenyak." ucap Abian dengan dingin.Ia lalu keluar dari mobil dan menuju pintu mobil di mana posisi Tasya tidur lebih dekat dengan pintu mobil sebelah kiri.Abian membuka pintu mobil tersebut dan perlahan meraih tubuh Tasya dan mengendongnya seperti bridal.


Di depan pintu sudah menunggu paman Pa'ish dan kepala rumah tangga Pak Robert,pria paruh baya berusia lima puluhan lebih,berpakaian rapi.


"Tuan." sapa paman Pa'ish dan Robert bersamaan.


"hmm.." sahut Abian.Ia melangkahkan kaki menuju lantai dua.Robert buru-buru mendahului dan membukakan pintu kamar untuk Abian.Abian melangkah ringan menuju ranjang dan meletakkan tubuh mungil itu ke ranjang.Robert segera keluar,paman Pa'ish yang menyusul membawa tas Tasya dan meletakkan tas Tasya di dekat lemari pakaian.


"Paman." ucap Abian.Paman Pa'ish menoleh dan menatap Abian.Abian memberikan kode dengan kepala mengajak keluar.Paman Pa'ish pun faham,bahwa pasti ada hal penting yang ingin di sampaikannya.