Love You Forever

Love You Forever
15. Dilema


Syaira menatap ke arah pintu saat ada yang mengetuk. Alisnya menaut, heran. 'Siapa yang ketok pintu jam tujuh malam begini? Ini akhir pekan,' gumam jaksa berusia tiga puluh tahun itu berpikir. Hanya dirinya yang menghuni kost kalau Sabtu Minggu begini.


"Siapa?" Syaira ragu membuka pintu.


"Ini Ibu, Syaira."


Ia menutup mulutnya dengan tangan kiri. 'Ibunya Akbar? Ngapain ke kost?' desis Syaira tak habis pikir.


Gegas, diputarnya anak kunci. Syaira membuka pintu dan mengajak wanita jelang senja itu duduk di kursi depan jendela kamarnya.


"Kok malam-malam begini?"


"Pasti kau belum makan. Ini, Ibu bawain lodeh rebung, sambel teri dan pepes ikan. Kau suka sekali 'kan, sambel teri dan lodeh bikinan Ibu? Akbar sering bilang, kalo ini menu kesukaanmu."


Syaira menghela napas. Ia hanya memperhatikan wanita itu meletakkan rantang makan di meja sebelah kursi yang didudukinya.


"Buat apa Ibu lakukan ini?"


"Dimakan, ya. Dihabiskan, loh. Ibu pamit dulu, ya, Syaira. Ihhh ... Ibu seneng bakal punya mantu cantik yang juga seorang jaksa." Tampak gemas, wanita bergamis biru itu mengguncang lengan Syaira.


"Tidak. Bukan begitu ...."


"Sudah, gak usah malu mengakui kalo kamu masih cinta sama Akbar 'kan?"


"Anu ...."


"Ibu tau bagaimana perasaan kalian. ini saatnya kalian bersatu. wujudkan mimpi kalian, ya."


Syaira meremas ujung kausnya bagian paha. gelisah. Ia cuma bisa tersenyum kecut. Ibunya Akbar bergegas pergi. Wanita itu menghela dan mengempaskan napas berat berulang kali.


"Dipikir lagi besok, deh. Yang penting makan dulu. Rejeki jangan dianggurin. Makasih, ya ibu mertua."


Syaira masuk ke kamar sambil menenteng hantaran yang sepertinya lezat itu. Dibukanya rantang. Hmmm, menunya menggoda iman.


*****


Cup!


"Hei ...." Syaira sontak menoleh seraya menutup pipinya yang barusan dikecup Akbar.


"Gemessss!"


Syaira mendorong bahu Akbar. Wajahnya bersemu merah. Mereka sedang duduk di rerumputan pinggir lapangan, sebelah Kantor Kecamatan.


"Liat pada maen bola aja, tuh!" Syaira tertawa kecil mengarahkan wajah Akbar ke tengah lapangan bola.


"Lebih asyik ngeliatin Syaira-nya Akbar," cetus pria 27 tahun itu menyeringai lucu.


"Udah, deh." Syaira melempar pandangan ke anak-anak yang sedang main bola.


"Syaira-nya Akbar."


"Hmmm?" Syaira menoleh.


Tatapan mereka beradu. Tak ada kata apapun yang terucap. Hanya saling pandang hati mereka sudah berdialog. Debur jantung berirama itu menciptakan alunan indah nan lembut. Pelan, wajah mereka makin mendekat dan dekat ....


"Haaaattcchiii ...!"


"Aaaaa ... Syaira!" Akbar merengut.


Jaksa seksi itu terpingkal. "Maaf ... sengaja." Akbar cemberut, sementara itu Syaira malah makin tertawa gila-gilaan.


Akbar geregetan. Pengin segera merengkuh wanita impian itu untuk ditenggelamkan ke dadanya. Tawa Syaira perlahan hilang kala didapati, Akbar asyik memandanginya.


"Udah, ah. Pulang, yuk!" Syaira bangkit. Ia jengah.


"Jahat banget sekarang, ya."


"Aku belajar darimu," bisik Syaira mengusap lembut telinga kiri Akbar, hingga membuat pria itu bergidig.


"Jangan godain begitu. Kalo diajak beneran, emang mau?" Pancing Akbar sambil memeluk bahu Syaira dari samping.


"Eh, diliatin anak-anak ntar, tuh. Lepasin, ah!"


"Mau, ya."


"Mau apa?" Syaira mencubit punggung tangan Akbar.


"Jadi milikku."


Syaira terdiam. Helaan napasnya terdengar berat. Rasa nyeri kembali merongrong sekujur tubuh. Akbar melepaskan pelukan dan menghadapkan wanita pujaan itu ke arahnya. Syaira tertunduk sedih.


"Aku mau. Tapi, bukan begini caranya ...."


"Aku akan cari cara, agar kita bisa bersama lagi."


"Bagaimana?" Syaira mengangkat wajah.


"Sudahi pernikahanmu."


"Tidak mungkin."


"Kenapa tak mungkin? Selama masih ada penghalang di antara kita, sampai kapan pun kita tak akan bisa bersatu, Syai."


"Bagaimana perasaan keluargaku nanti kalo tiba-tiba aku cerai? Aku juga tak punya alasan kuat untuk menggugat cerai. Tak sesimpel itu, Bar."


"Gila kau."


"Nafkah lahir dari suamimu. Urusan batin, biar itu jadi bagianku."


"Enak kamu,dong."


Akbar tertawa. "Habis, gimana? Kau tak mau melepas suamimu, juga tak bisa meninggalkan aku. Solusi terbaik, ya, itu tadi. Toh, kalian LDR. Nafkah batin tak sepenuhnya kau dapat. Di sini ... aku siap menggantikan." Akbar menatap penuh arti.


"Huuu, maunya!" Syaira bangkit dan cepat berlalu meninggalkan Akbar dengan wajah memerah.


"Terima saja usulku!"


"Ngawur!" balas Syaira dari kejauhan.


****


"Syaira?"


Syaira tergagap saat berpapasan dengan Rama di depan pagar kost, Sabtu siang itu. Wajahnya pias, karena saat itu ia sedang bersama Akbar.


"Hai, Rama. Cutinya sudah selesai?"


Rama tak menjawab. Ada amarah dari sorot matanya. Tatapan dokter tampan itu tajam ke arah Akbar. "Aku masuk dulu, Syai." Rama bergegas meninggalkan Syaira dan Akbar.


"Anak kost sini juga?" Syaira mengangguk.


"Dia seorang dokter. Sudah dua tahun di sini. Dia datang sebulan, sebelum kepergianmu. Dialah yang merawatku selama opname. Dia juga yang mengawasi kesehatanku selama masa pemulihan."


"Dia ... menyukaimu 'kan?"


"Ah, masa' sih?" Syaira mencoba menutupi.


"Kami sama-sama lelaki. Jadi aku bisa melihat dengan jelas, dia punya perasaan khusus padamu."


"Tak usah dibahas."


"Ternyata sainganku bertambah lagi. Belum juga bisa menyingkirkan suamimu, malah sudah ada lagi yang baru. Susah memang, punya kekasih cantik."


Syaira tersenyum tipis. "Harusnya kau bersyukur karena aku memilihmu. Jadi, jangan macam-macam lagi!"


"Ngancam, nih?" Akbar mendelik.


"Bukan ngancam. Cuma memperingatkan!"


Syaira segera melewati pagar kost. Akbar tersenyum dan melambaikan tangan sebelum pintu pagar ditutup Syaira.


"Aku cemburu!"


Syaira membalikkan badan tatkala sebuah suara terdengar jelas di belakangnya. Ia batal masuk kamar. "Kapan sampe?" Syaira berusaha bersikap wajar.


"Sejak kapan kau bersamanya lagi?" Ekspresi Rama terlihat serius.


"Rama ...."


"Kau sudah lupa, bagaimana ia menyakitimu?"


"Rama ...."


"Kau lupa statusmu sekarang?"


"Rama ... aku ...."


"Kenapa kau sebodoh ini?"


"Rama!"


"Kenapa harus dia? Kenapa kau harus bersama dia lagi?"


"Bukan urusanmu!" Syaira lepas kendali.


"Oh, baiklah. Memang itu bukan urusanku! Aku hanya tak ingin, kau disakiti oleh orang yang sama. Itu saja!" Rama menghela napas. "Maafkan aku. Aku memang bukan siapa-siapa bagimu selama ini. Aku sedih, kau tega membentakku hanya demi pria itu!" sambungnya.


"Rama ... maaf. Aku tak bermaksud ...." Syaira gugup mencoba menyentuh lengan Rama. Namun, dokter tampan itu sudah berlalu.


Pria jangkung berkulit putih itu duduk di bibir ranjang dengan kepala tertunduk. Kedua tangannya menyangga di sebelah paha.


Menatap ke meja saat ponselnya berdering. Lemah, diambilnya benda pipih itu dan memeriksa pesan yang masuk.


[Maafkan aku, Ram. Aku tak berniat kasar padamu. Maaf.]


Rama menghela napas membaca chat dari Syaira. Jarinya cepat mengetik balasan.


[Maafkan aku juga. Aku yang salah. Memang bukan urusanku, kau memilih bersama siapa.]


[Kita masih bisa berteman?]


[Tentu saja.]


[Terima kasih.]


Ditariknya selimut dan merebahkan diri. Syaira berusaha memejamkan mata, tapi tiba-tiba ponselnya bergetar. Restu. Diangkatnya panggilan masuk dari suaminya itu.


"Halo ...."