
Aku duduk di sebelah Pak RT. Akan tetapi, mentalku drop selayaknya pesakitan. Tak berani bicara sebelum diberi kesempatan. Hanya pengin meminimalkan salah bicara. Bisa berabe urusannya kalau tiba-tiba kekonyolanku kambuh di saat genting begini.
"Bukan salah Pak RT dan Mas Tomi. Tak perlu sampai datang minta maaf begini." Senyum ramahnya terulas.
Namun, ekspresi ramah itu langsung menguap kala menoleh ke arahku. Pandangan kami beradu. Matanya menyipit berkilat tajam. Seperti sedang menabung dendam. Masih ada kemarahan di sana, kurasa. Ups! Buru-buru aku menunduk lagi.
"Bar ...." Pak RT mencolek lenganku.
"Eh, iya Pak." Aku tergeragap. Mengatur napas beberapa saat sebelum bicara lagi. "Hhmmm ... anu ... saya atas nama pribadi ingin minta maaf sama Mbak. Saya tak berniat kurang ajar. Hanya ... khilaf. Maaf ...." Mencoba memberanikan diri menatapnya. Fokus langsung pada mata kecil bermanik kelam itu. Aku hanya sedang menunjukkan etika komunikasi sebagai tanda menghargai lawan bicara. Itu saja, kok.
"Baiklah. Saya maafkan. Jadi sudah tidak ada lagi masalah antara kita. Terima kasih, Pak RT juga Mas Tomi."
Kami bertiga bangkit untuk pamit. Gadis itu ikut berdiri. Ia menjabat tangan Pak RT dan Tomi dengan mantap sepenuh hati bonus senyum manis.
Giliranku. Mengulurkan tangan penuh semangat. "Akbar." Ups!! Malah kayak orang kenalan.
"Bar." Tomi melotot kearahku.
Tangan gadis bernama Syaira itu menyambut uluran tanganku dengan seperempat hati. Cuma nempel sekilas. Sial! Padahal pengin sekali aku remas jemari lentiknya. Gemes!
Ingin hati masih ingin bertahan di sini. Akan tetapi, Tomi segera menarik tanganku paksa. Nggak suka lihat temennya senang sedikit saja apa, ya? Huh!
Sampai di luar pagar, Tomi menepuk dan meremas bahuku. "Jangan berulah lagi. Cepat pulang!"
"Pulang aja dulu sono! Rese!"
"Terserah. Aku tak mau tanggung jawab kalo Syaira marah lagi."
"Iya, oke! Setelah ini sudah jadi urusanku pribadi. Pulang sono!"
Tomi mendengkus dan segera berlari menyusul langkah Pak RT yang sudah jauh di depan.
Kuempaskan napas keras dan membalikkan tubuh. "Tunggu!"
Tubuh rampingnya yang nyaris menghilang ke balik dinding pembatas ruang tamu dan kamar kost yang berjejer itu, kembali nongol. Wajah yang sangat tak ramah.
"Ada perlu apalagi?"
Duh! Suaranya judes banget. Nggak ada ramah-ramahnya secuil pun.
"Anu ... maaf ... sudah tak ada masalah kan, ya, antara kita?"
"Lalu?" Doski beringsut mundur saat aku mencoba memperpendek jarak antara kami. Masa' ngobrol kok jaraknya hampir tiga meter.
"Kita bisa berteman?" Kesempatan ini tak kusiakan. Memuaskan hati memandangi wajah bulat cantiknya. Kulitnya memang putih mulus hingga tampak urat nadi berwarna hijau membayang di pipi dan lengannya.
"Aku pikirkan besok."
"Ayolah. Kita, kan, tetangga. Jangan memelihara dendam. Bisa penyakitan hehe." Asem! Tetap mematung dengan tatapan tajamnya. "Maaf ...." Kuhela napas berat.
Menunggunya bereaksi seperti harapanku, sepertinya jadi pepesan kosong belaka. Tersenyum tipis pun, tidak! Angkuh sekali gadis ini.
"Namaku Akbar. Ingat, ya, namaku."
"Sudah?" Haduhhhh! Dingin amat.
"Iya iya ... sudah." Aku menyerah sajalah dulu sekarang, kalau caranya begini.
"Silakan!" Tangannya terulur mempersilakan aku minggat dari rumah kost besar ini.
Membawa rasa malu, gemas dan dongkol, aku harus ikhlas pergi dari hadapannya. Baiklah! Hari ini cukup dulu. Besok masih ada hari untuk berjuang kembali!
*****
Melukis tiap lekuk tubuhnya dalam benakku. Tingginya kuperkirakan sekitar 165 centimeter. Serasi kalau jalan di sebelahku yang bertinggi 172. Hiahhh ... ngayal!
Kecantikannya memang tak semewah Nafa Urbach. Namun, tak kalah dengan Lisa, idola kompleks sini. Sebelas dua belaslah manisnya kala tersenyum, kayak artis Elma Theana
Kulit putih pucatnya, rambut ikal kemerahan, bibir tipis, mata kecil, hidung bangir, pipi cubby yang bersemu merah, semuanya aku suka. Sumpah, deh! Ada sesuatu yang bikin aku .... Akh! Tak bisa aku mendeskripsikannya dengan jelas. Pokoknya, di mataku, Syaira itu luar biasa, titik!
Tak bisa semenit pun aku melupakan sosoknya. Jantungku jadi sering berdebar saat mengingatnya.
Barang berharga itu harus aku dapatkan. Gimana pun caranya. Tak ada dalam kamus seorang Ali Akbar Hananto untuk tidak mampu menggaet cewek manapun. Tekadku sudah bulat sempurna. Syaira belum tahu, siapa yang sedang ia hadapi.
*****
"Hai ...," sapaku menjajari. Larinya makin cepat. Aku kejar lagi. "Masa' disapa gak nyahut."
"Hmmm ...!"
Sial! Melirikku pun tidak. "Suka olahraga, ya? Pantesan slim."
Tak ditanggapi juga? Bener-bener makhluk cantik satu ini. Harus cari akal lagi, nih, untuk mancing Syaira mau bicara banyak. "Asli mana?"
"Indonesia."
"Hahahaha ... bisa becanda juga rupanya." Loh, eh! Masih dingin-dingin aja?! Sialan! "Ayolah, Syaira. Bisa tidak kita berteman?" keluhku dengan napas ngos-ngosan. Tanpa kusadari sudah mengelilingi taman kompleks tiga kali.
"Tidak!"
Huaaah, sadis! "Istirahat dulu, yuk!" ajakku masih berusaha tersenyum meski tak dihiraukan. Gokil! Ngerasa kayak orang stres. Senyum-senyum sendiri tak ditanggapi.
Meski tak menjawab, tapi larinya mulai melambat sampai akhirnya berjalan cepat menuju bawah pohon mangga. Dengan cuek, doski duduk di rerumputan menyelonjorkan kedua kaki. Disekanya keringat di wajah dan leher.
Kece abis, sih, doski. Seksi banget! Dengan napas tersengal, keringatnya mengalir dari dahi dan leher. Masih ditambah wajah yang memerah. Gokil! Makin pening aku dibuatnya terpesona.
"Minum?" Kusodorkan sebotol air mineral tepat di depan wajahnya. Dag dig dug pyar dadaku.
Hadeh! Tak ada tanggapan. Tanganku menggantung tanpa dipedulikan. "Ya sudah kalo tak mau." Kutenggak sendiri air mineral di tanganku sampai tandas.
Aku bingung harus bicara apa lagi. Sepertinya, doski belum membuka hati padaku. Tak apa! Baru juga tiga hari, tiga kali ketemu. Wajar kalau masih dingin-dingin saja. Perjuanganku baru saja dimulai. Tak boleh patah semangat! Akbar bukan cowok cemen.
"Hebat, ya, bisa kerja di kejaksaan. Di sana gudangnya orang-orang pintar. Sulit, loh, belajar hukum. Salut deh."
"Terima kasih." Sahutan ramahnya membuatku takjub seketika.
Jadi punya doping baru. "Aku ambil tehnik sipil. Lulus dua tahun lalu. Sekarang mengais rejeki di kabupaten divisi rumahtangga, baru setahun. Kamu? "
"Lulus lima tahun lalu. Langsung masuk Kejari. Ini mutasiku yang pertama. "
Haaa? Berarti ... usianya lebih tua dari aku? Kirain baru fresh graduate. Terlihat dari sosoknya, tebakanku doski berumur sekitar 23 tahun gitulah. Ternyata, usianya sudah lebih seperempat abad. Wahhh, jatuh cintrong sama mbak-mbak, nih aku.
Ngedrop sedetik. Akh, no problemo. "Hehe kirain kita seumuran. Tapi, boleh, kan, aku panggil nama langsung tanpa embel-embel 'Mbak'? Biar lebih akrab aja, gitu," selorohku untuk menutupi rasa jengah.
"Terserah kau sajalah."
"Hei ...."
Terlambat! Larinya cepat banget. Tak apa. Sudah lumayan barusan mau menanggapi aku, meski rada sinis.
****
Malam, dengan tujuan lain, aku samperin Tomi di kamarnya sambil membawa dua bungkus nasi padang. Minta dibikinkan es sirup dan ambil alat makan. Sengaja, kubuat Tomi sibuk di dapur.
Oke, misi segera eksekusi. Ponsel yang tergeletak di kasur langsung aku sambar. Terburu, kuperiksa daftar kontaknya. Ah! Ketemu juga. Sigap kuketik ulang sebuah nomor. Dapat! Misi ... close!
Mendengar suara langkah mendekat, kulempar ponselnya ke tempat semula. Aman.
"Nih!" Disodorkan segelas es sirup beserta sendok dan piring untuk makan nasi padang.
"Thanks." Kulahap nasiku dengan cepat karena ingin segera pulang. Tomi juga tampaknya sedang lapar. "Ahhhh, kenyang." Kuusap perut. Puas hati dapat yang kuinginkan.
"Lagi pedekate ya, sama Syaira?" selidiknya.
Aku melirik. "Iya. Kenapa emang?" sahutku acuh tak acuh.
"Sial kau! Curi start." Matanya membulat tampak tak suka.
"Kau ... naksir juga?" Gantian aku yang menyelidik.
"Duluan akulah yang naksir. Dua minggu sebelum event kemarin, kan, aku sudah sering ketemu dia. Jadi harusnya aku yang berhak pedekate duluan."
"Hei, Meong! Saing sehatlah. Sama-sama maju juga gak masalah buatku. Soal siapa yang menang, biar Syaira yang tentukan."
"Dasar, Jeri! Aku, kan, selalu kalah saing ngerebutin hati cewek kalo lawan dirimu. Belum juga berjuang, eh, udah dipukul mundur. Sialan kau!"
Aku terbahak. Sudah sejak SMP kami bersaing soal cewek, dan ia selalu kalah. Namun, itu tak pernah menghancurkan persahabatan kami. Aku hanya suka berkompetisi, tanpa berniat menjadikan cewek-cewek itu pacar resmiku. Hanya menikmati sensasi berkompetisi saja. Seru!
"Minta nomor hape Syaira."
"Oho ... no! Yang satu ini, aku tak akan menyerah kalah begitu saja. Ini bener-bener cewek bagus." Senyumannya penuh arti.
"Maksudnya?" pancingku penasaran. Tumben! Baru kali ini dia ngotot bersaing serius.
"Sex Appeal-nya tinggi, Jeri." Ekspresinya tampak berapi dengan mata membulat dan tangannya menampar lenganku.
"Aduh, sialan, loe! Emang apaan, tuh?" Kuusap lengan yang nyeri.
"Emang ngerti kalo aku jelasin?" kekehnya merasa menang.
"Iya, deh. Orang psikologi, gitu. Aku cuma orang sipil gak tau ilmu-ilmu begituan."
"Ini cewek langka. Auranya beda. Ya, itu ... karena sex appeal-nya tinggi. Jadi, tanpa dia menggoda pun, pria yang punya insting bagus, bakal tergoda. Semacam Dian Sastro. Itu contoh nyata."
"Duhhh, pusing! Ngomong apaan sih?" Kupijit dahiku. Benar-benar tak mengerti.
"Lisa. Dia idola kompleks. Suaranya lembut mendayu. Kalo jalan gemulai, sering pakai baju ketat. Seksi 'kan?" Aku mengangguk. "Tertarik?" lanjutnya.
"Sebagai laki-laki normal tentu tertarik liat cewek seksi. Trus kenapa?" Aku mulai tertarik dengan obrolan tak biasa ini.
"Bikin kamu blingsatan, gak? Yah, tergila-gila gitulah?"
Aku berpikir sesaat. "Tidak. Bukan itu yang aku rasakan. Hanya tertarik untuk melihat, menikmati sosoknya yang cantik, tapi nggak sampai bikin aku tergila-gila."
"Tepat! Lisa cantik, seksi, baik dan pintar. Tapi dia tak punya sex appeal. Jadi, tak mampu membuat kita tergila-gila. Kenapa kita? Karena kamu punya insting bagus soal cewek, dan aku tau ilmunya. Kita sama-sama tak punya hasrat tergila-gila pada Lisa. Tanpa sadar, kamu bisa menangkap aura sex appeal seorang wanita. Paham?"
"Kagak!" Pusing, sih, mengikuti cara berpikir Tomi yang lulusan psikologi. Namun, aku makin tertarik dengan tema 'sex appeal' ini.
Tomi mendelik. "Begini ... apa yang kamu rasakan saat pertama kali melihat Syaira malam itu? "
"Kagum. Langsung bikin aku kayak kena setrum. Saat itu juga aku tak bisa mengendalikan diri untuk tidak mendekati doski. Seperti ... orang yang kena pelet gitu."
"Emang pernah kena pelet? Sok tau!" sungutnya.
"Ya, gak pernah, sih. Menurut cerita orang-orang, kayak begitu rasanya kalo kita kena pelet. Gak bisa berhenti mikirin doski, hilang konsentrasi. Pokoknya ... tergila-gila."
"Itu jawabannya! Kamu bisa menangkap auranya Syaira. Karena dia punya sex appeal tinggi. Itu juga yang aku rasain, Jeri! Sialan! Berat amat sainganku. Kenapa harus kamu lagi, sih, yang jadi sainganku. Mana yang ini cewek langka pula. Hah!" Empasan napasnya terdengar kasar.
Kali ini Tomi serius!
Obrolanku barusan dengan Tomi benar-benar meninggalkan rasa penasaran yang makin besar.
Ah! Aku search saja. Cari tahu sendiri definisi sex appeal itu apa. Dengan semangat, kuketik keyword 'Sex Appeal' di laptop. Banyak artikel tentang itu. Kupilih salah satu untuk kubaca.
(Pria adalah makhluk visual, artinya penglihatannya terlatih untuk melihat hal-hal yang menarik dari sosok wanita. Pria mudah jatuh cinta pada makhluk cantik dengan penampilan menarik. Apakah hanya dengan penampilan saja membuat pria tertarik pada wanita ?
Soal penampilan, pria sepakat bahwa itu tergantung selera. Ada pria yang tertarik dengan wanita dengan penampilan aduhai. Wanita seperti ini mungkin bisa membuat gairahnya meletup-letup. Tetapi ada juga pria yang lebih tertarik dengan wanita berpakaian sopan. Atau wanita berhijab pun kadang membuat pria penasaran. Gairahnya bangkit seiring dengan kepenasarannya.
Wanita memang patut waspada karena pria akan mudah tergoda bila wanitanya memang sosok yang “menggoda”. Bukan menggoda karena tingkah lakunya yang sengaja menggoda, tetapi ada sosok wanita yang tanpa menggodapun sudah terlihat “menggoda”.
Wanita-wanita seperti ini mempunyai sex appeal , daya tarik **** yang tinggi. Apapun yang dilakukannya selalu menarik perhatian kaum pria. Tanpa harus bekerja keras untuk menggoda pria, attitudenya sudah terlihat menarik. Bahkan dengan penampilan yang sederhana sekalipun sosoknya akan membuat pria menoleh.
Lalu apa saja yang dipunyai wanita dengan sex appeal tinggi ? Sehingga dengan daya tariknya membuat pria akan menatap seorang wanita berlama-lama kemudian tertarik untuk mengenalnya lebih jauh dan keep in touch.) Dan bla bla bla bla...
Iya! Kini aku mengerti yang dimaksud Tomi. Semua yang kubaca, seperti yang sedang aku alami sekarang. Persis!
Luar biasa! Cewek langka. Tak banyak cewek yang punya daya tarik begitu. Aku harus memenangkan kompetisi ini! Tekadku sudah bulat, sebulat bola basket!