
"Posisi mobil tidak menghadap lurus pada kamera. Aku akan mengirimkan videonya pada Ahli Digital Forensik," ucap Detektif Ma.
"Terima kasih, Detektif Ma, mohon bantuannya," Leo menyalami tangan rekannya.
Leo menemani Detektif Ma melakukan penyelidikan di sekitar tempat kejadian. Tak lupa mobil Ayahnya pun diperiksa untuk mengumpulkan bukti-bukti.
Sebelum menjalankan aksinya terlihat para penjahat sempat menyentuh bahkan bersembunyi di belakang mobil. Seharusnya Detektif Ma akan menemukan jejak-jejak yang ditinggalkan di sana.
"Seringkali jejak tak terlihat, namun kejahatan pasti meninggalkan jejak," ucap Detektif Ma
Dia selalu menangani kasus-kasus yang berkaitan dengan keluarga Leo dari tahun ke tahun.
"Di sinilah tempat kejadiannya. Saat itu aku masih di dalam gedung dan meninggalkannya di sini," Leo menunjuk tempat di mana dia memarkirkan mobil kemarin.
Detektif Ma berjalan menyusuri TKP. Tiba-tiba dia menurunkan tubuhnya perlahan-lahan ke bawah, sebuah jepit rambut merah jambu ditelitinya seksama. Kemudian dia berdiri seperti membayangkan bagaimana penculikan itu terjadi.
"Detektif Ma mengendus, "Korban sempat memberontak." jelasnya.
Leo mengambil jepit rambut itu, dan benar saja. Benda kecil itu memang milik Chika, Leo segera menjauhkan hidungnya, bau menyengat menyeruak masuk ke dalam rongga hidung yang hampir membuat dirinya tumbang.
"Kemungkinan mereka membawanya ke luar kota," Detektif Ma kembali menelisik TKP.
"Mungkinkah itu hanya alibi bagian dari rencana mereka dan membuat kita terperdaya?" Leo berharap Chika hanya ada di sekitar kota Dongcheng.
"Chlorophiil, bisa membuat orang pingsan dalam hitungan detik dan tahan hingga lima jam," Detektif Ma melirik Leo. "Jika hanya di sekitar sini mengapa tak menggunakan bius sejenis lainnya?".
Penuturan Detektif Ma membuat Leo berpikir dan terlihat gusar. "Dia tak bisa bela diri, aku tidak tahu apa yang akan mereka perbuat padanya," dia mengusap kasar wajah lusuhnya.
Detektif Ma mengeluarkan alat-alatnya, kemudian menaburkan serbuk magnet. Lembaran khusus, digunakan untuk menyalin sidik jari dari dekat pintu mobil bagian belakang.
Leo masih berdiri mematung membiarkan Detektif Ma melakukan pekerjaannya. Dia yakin Detektif Ma akan mudah menyelesaikan kasus ini. Walaupun begitu, pikirannya masih melayang-layang tak karuan membayangkan bagaimana nasib kekasihnya di tangan penjahat yang kini menyandera dirinya.
*
*
Di antar oleh Leo, Detektif Ma segera menuju ke laboratorium forensik untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut.
"Detektif Ma, Anda di sini?" Seorang wanita berusia sekitar 25 tahun dengan jas putih panjang menyapa Detektif Ma.
"Tolong, periksa ini secepatnya!" ucapnya sembari memberikan dua kantong plastik yang berisi barang bukti.
Kriing!
Tak lama setelah itu terdengar bunyi ponsel berdering dari saku mantel Detektif Ma. Begitu telepon diterima, dahinya berkerut mendengarkan laporan dari seseorang yang sedang berbicara padanya melalui telepon.
Leo bertanya, "Siapa?".
"Ayo pergi!" ajak Detektif Ma tanpa menjelaskan apa-apa.
Leo membatin, "Wajahnya terlihat serius sekali. Apa ada yang begitu penting?".
*
*
"Kasus 20 tahun silam rupanya ingin diselidiki kembali," ucap Ahli Digital Forensik sembari menunjukkan sesuatu di layar monitor komputer.
Xu Jun Hui yang turut hadir seperti mengingat-ingat sesuatu, "20 tahun silam, bukankah itu-".
Sekitar 20 tahun yang lalu, Xu Jun Hui pernah di serang oleh sekelompok orang berpakaian serba hitam. Saat itu dia baru saja kembali dari melakukan penyelidikan terhadap suatu kasus. Di mana waktu itu dirinya adalah seorang Detektif. Satu jam sebelumnya, dia dan Detektif Ma dibuntuti oleh sebuah mobil hitam. Setelah mengantarkan rekannya, Xu Jun Hui lekas kembali. Namun siapa sangka jika dia akan di serang? Beruntung, bantuan polisi datang tepat waktu.
"Plat nomor yang sama?" lirih Xu Jun Hui.
Meski pun bergumam, beberapa orang masih bisa mendengarnya apalagi dengan jarak yang terbilang cukup dekat. Sontak, lelaki berkacamata tebal itu menjadi sorotan dalam seketika.
"Pa, kau mengetahui sesuatu?" Leo menyentuh pundak Papanya.
Kasus yang pernah ditangani oleh Xu Jun Hui dan juga Detektif Ma ditutup karena tak kunjung menemukan pelaku dalam waktu yang sudah ditentukan oleh Inspektur mereka. Bahkan bukti-bukti yang sudah terkumpul menghilang begitu saja.
"Apakah ini ada hubungannya dengan kasus sebelumnya?" tanya Detektif Ma.
Leo menatap nanar pada Papanya, "Mengapa harus melibatkan orang yang tak bersalah?".
"Bisa saja Chika dijadikan umpan agar kita keluar," jawab Xu Jun Hui.
"Tapi Chika tidak tahu-menahu tentang kasus itu, bahkan kami masih kecil kala itu." tegas Leo, sangat jelas terukir di wajahnya rasa kesal terhadap Papanya.
Detektif Ma mencoba menenangkan Leo, "Penjahat bisa melakukan apa saja agar keinginan mereka terkabulkan. Bahkan tak segan-segan melibatkan orang yang tak bersalah sekali pun demi membuktikan kekejaman mereka."
"Pa, aku membawanya kemari untuk berlibur bukan mendapatkan perlakuan seperti ini!" Leo meremas pundak Papanya, emosinya meluap.
"Nak, aku tahu! Aku pun tak ingin hal ini terjadi padanya. Selain itu, kita perlu mengumpulkan bukti lebih banyak dan mengungkap siapa dalang di balik semua ini." Xu Jun Hui memeluk putranya dengan erat. Dia mengerti kekhawatiran Leo yang tak kunjung menemukan hasil yang baik.
Ahli Digital Forensik terlihat sedang berpikir, lalu memutar kursinya menghadap pada tamu-tamunya. "Entah mengapa aku merasa hal ini sangat berhubungan dan bukan suatu kebetulan," dia berdiri. "Jika memang benar, bukankah nama baik Tuan Jun akan kembali bersih?" ucap pria yang bernama Feng.
Xu Jun Hui di tuduh menghabiskan nyawa Ayahnya sendiri dan dipecat paksa dari pekerjaannya sebagai seorang Detektif beberapa tahun yang lalu.
Detektif Ma memusatkan pikiran dan membawa dirinya masuk kembali pada masa lalu. Ada begitu banyak kejanggalan pada kasus yang pernah dia tangani kala itu. Hebatnya, sampai sekarang pelaku tak pernah ditemukan sama sekali. Dia seperti menghilang ditelan bumi.
"Tanggal 7 April 1998 adalah penyerangan terhadap Tuan Jun, 7 April 2008 pembunuhan pada Tuan Besar Xu, dan sekarang 7 April 2018 penculikan kekasih Leo." Detektif Ma berdiri, "Sebenarnya ada apa dengan tiga peristiwa ini? Dan mengapa tanggal yang sama ?".
"Itu berarti semua ini memang berhubungan satu sama lain!" timpal Leo.
"Aku sungguh membenci teka-teki ini," ujar Jun. "Namun, hanya itulah kuncinya." lanjutnya
Detektif Ma dan Xu Jun Hui menemui Inspektur meminta agar kasus 20 tahun yang lalu kembali dilanjutkan untuk mendapatkan titik terang. Namun, harapan itu pupus sudah, Inspektur menolak mentah-mentah. Kasus itu sudah ditutup dan takkan pernah dibuka kembali. Jika Detektif Ma memaksa, Inspektur akan mencabut jabatannya dengan tidak hormat. Tak ada pilihan selain melakukan penyelidikan diam-diam.
*
*
Ting!
Saat makan malam, tiba-tiba ponsel Leo berbunyi. Dia segera membuka pesan itu dan menutupnya kembali begitu melihat isi pesannya.
"Siapa?" Jun langsung menghentikan makannya.
Leo menggeleng, "Bukan siapa-siapa, hanya pesan yang tidak jelas. Mungkin salah nomor," jelasnya.
Jun mengernyitkan dahi. Bagaimana mungkin ada pesan salah alamat masuk pada ponsel Leo. Sepengetahuannya, ponsel Leo selalu melakukan blokir otomatis jika ada nomor spam yang masuk.
"Bolehkah aku melihatnya?" Jun menyodorkan tangannya.
Mendadak situasi menjadi hening, mereka saling berpandangan. Bao Yu menyenggol lengan suaminya, selama bertahun-tahun Jun tak pernah menyentuh benda privasi anak-anaknya sekali pun. Akan tetapi, mengapa dia tiba-tiba ingin melihat ponsel Leo?
"Untuk apa ?" tanya Leo penasaran.
Jun tak menjawab dan masih dalam posisi yang sama menunggu Leo memberikan ponselnya.
"Ini, Pa."
"7 4 1 4 8"
Jun memijat pelipisnya, Bao Yu, Leo, dan juga Jia Li dibuat bingung olehnya. Mereka masih tak mengerti dengan apa yang sedang dilakukan Xu Jun Hui. Lelaki itu tiba-tiba bertingkah aneh sejak kembali.
"Pa, kau tidak apa-apa? Tak usah di ambil pusing! Hanya pesan spam," Leo menyadarkan Jun yang mulai tenggelam dalam pikirannya.
"Ini adalah kode rahasia!"
Lelaki berkacamata itu tak melanjutkan makan malamnya dan beranjak pergi meninggalkan ruang makan menuju lantai atas. Dia ingin mengunjungi ruang rahasia miliknya yang sudah lama tak pernah disambangi. Sementara itu, Leo mencoba menghubungi nomor pengirim pesan misterius, sayang sekali tak dapat tersambung.