Love You Forever

Love You Forever
4. POV Syaira : Getar-getar Rasa


"Ra ...!"


"Hmmm ...," sahutku masih meneliti berkas.


"Ditungguin, tuh, sama adek ketemu gede." Kuangkat wajah dari tumpukan berkas di meja.


"Siapa?" Aku masih belum nyambung yang diomongin Weni.


"Itu, loh. Si ganteng manis dengan kumis tipis dan mata sendunya."


"Siapa, sih?"


Weni menunjuk keluar jendela kaca yang persis di belakang punggungku. Aku melongok. Ah! Dia lagi. "Biarin aja!"


"Jangan sadis-sadis amat lah, Ra."


"Ihhh ... apaan, sih? Cuma brondong jahil," tukasku kembali ke berkas-berkas.


"Aku yang cuma liat aja berasa bahagia, loh. Diperhatiin sampai kayak gitu, masa' gak ada perasaan seneng? Rajin nungguin kamu pulang kerja, nyelonong kirim makan siang sampai mastiin kamu masuk kantor tiap pagi."


"Weni ... kenapa kamu yang semangat gitu, sih?" Kuberesi beberapa berkas laporan. Akhirnya selesai juga. Dua hari ini banyak banget laporan yang masuk. Jadi, ya, harus ikhlas over time.


"Beneran ... kamu nggak ngerasa gimana-gimana? Sudah sebulan dia kayak gitu. Ditanggapi dengan baik, apa salahnya, sih?"


"Kamu itu sudah jadi jubirnya dia, ya? Getol amat belain." Gemas diintervensi kayak gini.


"Bukan gitu. Aku yang ngelihat sikapmu ke dia, kok ikutan kekhi, ya. Udah care banget, tapi kau masih aja sadis."


Aku cuma angkat bahu. Segera memasukkan ponsel dan pena ke dalam tas, siap untuk pulang. Weni berdiri menghadap jendela dan melambaikan tangan. Senyumnya merekah.


"Kamu naksir? Sana, gih!" Aku tersenyum ikut melihat keluar jendela. Si jahil itu berdiri dari bangku kayu di bawah pohon. Senyumnya terulas tipis dan menyambut lambaian tangan Weni.


"Beneran? Ntar nyesel kamu," godanya mencolek pipiku.


"Untuk saat ini ... tidak. Yah, anggap aja buat mengujinya. Kalo dia sekadar iseng, entar juga mundur sendiri. Bisa beralih cari perhatian ke cewek lain. "


"Kau ingin mengujinya?" Aku mengerling sesaat. "Kuperhatikan ... wajah kalian mirip. Berarti kalian berjodoh." Weni melihatku dan cowok itu bergantian.


"Sembarangan. Udah, ah, pulang yuk! Sudah hampir jam lima nih."


Kami berdua beriringan keluar kantor yang sudah sepi. Weni buru-buru pergi saat melihat si jahil itu menghampiri.


"Hai, Kak. Baru selesai kerjaannya? Pantesan ... nggak ada di taman."


"Bisa nggak, panggil namaku aja? Risih dengernya." Ehhh ... dipelototin malah tertawa.


Tunggu! Tawanya ... ternyata renyah. Betul kata Weni. Cowok nyebelin ini manis juga. Matanya sayu, alisnya tebal dengan rambut agak ikal kaku. Kulitnya kuning langsat dengan bibir agak tebal. Sosoknya menarik juga. Meski posturnya tak masuk kategori atletis, tapi cukup gagah dengan raut terbilang charming. Rupawan.


Akan tetapi, bagiku sampai sekarang, tingkahnya tetap menyebalkan dan sangat mengganggu. Aku terbiasa serius dan tidak suka becanda pepesan kosong. Benturan sifat kayak begini membuatku eneg. Sangat bertolak belakang.


"Ngebakso lagi, yuk!" tawarnya setelah berada di dekatku.


"Capek. Mau pulang aja," tolakku bergegas meninggalkannya.


"Tunggu!"


"Ehhh ...." Tak dinyana, jemari kananku digenggamnya erat. Sebelum sempat berontak, hangat di telapak dan punggung tangan tiba-tiba mampir. Hangatnya menjalar cepat ke seluruh aliran darah. Badan sontak terasa kaku. Keringat dingin mulai kurasakan di tengkuk. Apa ini? Si jahil menciumi tanganku begitu rupa?


"Apa-apaan kau?" Kurasakan panas di wajah. Kaget campur jengah. Kutarik paksa tangan yang gemetar. Gagal!


"Tak bisakah aku menjadi penghuni hatimu? Kau ... membuatku tergila-gila."


Kami saling pandang. Entah kenapa tatapannya membuatku merinding. Bukan tatapan biasa. Seperti ... akh, rasa takut mulai menyergapku.


"Lepasin!"


"Syaira ... mau, ya."


Bujukan dengan sorot mata anehnya membuatku panik. Aku terus berontak mencoba menarik tangan yang masih diremasnya lembut.


"Aah ... maaf." Akhirnya ia melepas tanganku.


"Aku lelah lembur terus. Bisakah aku pulang sekarang?" Gugup, aku mencoba menguasai diri dengan mundur menjauh. Ia mengangguk sambil tersenyum lebar.


Kupercepat langkah. Si jahil itu makin cepat pula berjalan membuntuti. Hingga di depan pagar kost, barulah ia mau pergi. Ufff!


***


Segar rasanya habis mandi. Lapar, tapi malas keluar. Ah, nyemil roti sajalah. Masih ada dua potong roti di meja. Tiba-tiba Almost here-nya Brian Mc Fadden feat Delta Goodrem mengalun.


Kuambil ponsel dari dalam tas. Hmmm, dari si jahil itu lagi. Kuangkat telepon tanpa bersuara.


"Pasti belum makan, ya? Aku bawain, mau? Ibu masak sayur lodeh rebung udang juga peyek teri plus sambel trasi. Enak, loh. Suer."


Aku tekan tombol 'end' dan melempar ponsel ke kasur. Ah, males nanggepin.


Sepuluh menit kemudian, ponsel berteriak lagi. Haduh ... nggak menyerah juga dia.


"Aku sudah di ruang tamu. Buruan keluar, ya."


Kumatikan benda pintar itu. Malas, aku keluar kamar juga menuju ruang tamu. Melihatku datang, senyumnya langsung merekah.


"Ini nasinya, sayur, peyek, sambel juga kerupuk. Sudah aku bawain sendok kok. Ini."


Aku tercenung menatapnya. Ada gurat tulus yang kulihat di wajah itu. Ahhh ....


"Kenapa, kok bengong?" Tawa renyahnya tetiba terdengar begitu empuk di telingaku.


"Hei, Syaira? Kamu ... nangis?"


"Terima kasih." Tak urung, suaraku bergetar juga. Padahal sudah kutahan agar tetap tenang, tapi tetap saja ....


"Sama-sama," sahutnya sambil tersenyum tipis.


Melihatnya begitu telaten melayaniku makan, ada getaran lembut yang menyusup perlahan di sudut jantungku. Dari cinta pertama dan kedua, tak pernah aku mendapat perlakuan semanis ini. Seperhatian ini.


"Ada yang mencoba mengganggumu?"


"Haaa? Oh, tak ada, kok." Aku tergagap dari lamunan.


"Tak perlu dicuci. Biar aku bawa pulang langsung. Bisa aku cuci di rumah nanti. Gimana, enak kan?" Kulihat dengan cekatan ia memberesi kotak makan dan sendok.


"Iya. Enak banget. Terima kasih, Bar. Jadi ingat rumah karena melihat masakan ini. Rasanya juga sama. Karena yang masak sama-sama seorang Ibu."


"Rindu rumah?" tatapnya lembut.


"Iya." Aku tak bisa lagi menyembunyikan sedih. Nyaris menangis lagi.


"Lusa aku antar pulang ya." Diusapnya punggung tanganku pelan.


Entahlah. Kali ini aku tak bisa marah saat disentuhnya. "Tidak usah, terima kasih."


"Ayolah. Tak apa. Aku sudah terbiasa nyetir antar provinsi, kok. Aku satu-satunya anak cowok. Jadi sering nemenin Bapak dinas luar kota. Mau ya, aku antar?"


"Aku lihat besok. Masih ada kerjaan ato tidak. Kalo bisa beres besok, lusa aku bisa pulang."


"Minum dulu. Maaf, lupa. Tadi sudah aku bawakan minuman kesukaanmu. Ini ...." Diangsurkannya minuman isotonik dingin. Dia hafal minuman favoritku ternyata.


***


Ahhh, aku menggeliat menegakkan punggung dan menyeka mata memakai tisu. Pedas rasanya menatap layar komputer sejam ini.


"Sudah selesai?" Aku menoleh. Weni mendekatiku sambil menenteng tas kresek.


"Tinggal sedikit."


"Ini ada titipan."


"Apa ini?" Aku membuka kresek merah itu. Isinya nasi kotak dengan lauk ayam kremes.


"Dari?"


"Mas kurir warungnya. Katanya dari Akbar."


Ahhh, care-nya berlebihan. "Oooo ...."


"Pacar brondongmu itu romantis banget, ya. Iri, deh. Lihat perlakuannya kemarin sore, udah bikin aku merinding, loh. Ihhhh, berasa kayak aku yang ngalamin."


Aku terbengong. "Maksudnya?" Kutautkan kedua alisku.


"Aku lihat, loh, pas dia menciumi tanganmu dengan penuh perasaan. Masa' kau tak merinding? Aku yang cuma liat aja udah merinding disko."


Rasanya panas wajahku seketika. Malu! "Sudah sudah ... yuk, makan! Ini ada dua kotak. Mungkin maksudnya yang satu buatmu."


"Rejeki nomplok, nih. Sikat, ah."


Aku tertawa. "Dia bukan pacarku, Wen."


"Belum aja, Ra. Bentar lagi juga kalian bakal jadian. Lihat aja entar."


"Sok tau!" Tawanya pecah.


Mungkin Weni ada benarnya. Sebab, aku mulai menikmati segala perhatian si jahil itu. Berasa ada yang hilang kalau sehari saja aku nggak jadi korban keusilannya.


Jam delapan pagi, Akbar sudah standby di luar kost. Kupandangi sosoknya dengan takjub. Ia terlihat tenang tanpa menunjukkan gelagat tengil seperti biasa.


Bercelana kargo warna mocca, kaus putih dilengkapi jaket jeans dark blue, dan kets putih, membuat tampilannya terlihat dewasa.


Senyumnya selalu terulas kala menyambutku, membukakan pintu mobil dan setelah duduk di belakang kemudi. Ditunggunya sampai aku selesai mengenakan safety belt.


Sebelum kami melaju, disodorkan beberapa permen mint. Terkejut, saat menjumput permen di tangan kiri Akbar, tetiba ujung jariku dijepit dengan telapak tangannya.


Hanya bisa mematung kala ia mengecup ruas tulang jari kananku seraya tersenyum dan mata menatap redup. Ah, apa yang ia lakukan? Aku langsung mati gaya.


"Maaf, Syai ... kau membuatku sulit mengendalikan diri jika berdekatan begini."


Tumben, kata-katanya seformil itu? Biasanya juga ....


"Bisa kita berangkat sekarang?" Kucoba membuang debar yang mulai menggoyahkan hati.


Anggukan disertai senyum itu membuat dadaku makin berdenyut kuat. Kenapa rasanya begini banget, sih?


Kami sudah berada di perjalanan selama sejam. Aku tak begitu antusias menanggapi berbagai leluconnya. Entahlah, pikiranku sedang berkecamuk. Jantungku sibuk berdebar lembut. Jadi serba canggung.


"Mampir istirahat dulu, yuk, disitu! Minum es kelapa muda pasti segar."


Aku cuma mengangguk. Mobil berhenti di samping lapak sederhana. Belum sempat kutarik handel pintu, Akbar sudah membukakan pintu untukku. Berasa seperti ratu.


"Kamu pucat. Lelah?" Aku mengangguk lesu. Dibimbingnya aku turun. Benar-benar perlakuan yang sangat manis.


"Istirahat dulu. Nanti akan terasa segar lagi setelah minum air kelapa muda dan menghirup udara segar di pinggir hutan."


Lagi-lagi, hanya bisa mengangguk.


Sama seperti biasanya. Ia meladeni dengan sabar. Air kelapa yang sudah habis kusedot, segera diambil. Akbar bergerak cepat meminta penjual membelah dan dikeruknya daging buah itu untuk dimakan. Kupandangi wajahnya dengan cermat. Tak ada ekspresi jahil sedikit pun. Ia terlihat dewasa saat serius begitu. Tanpa sadar, senyumku terulas menikmati seraut wajah ganteng di sebelah.


Tak terasa, aku mulai menikmati berbincang dengannya. Meski usianya lebih muda, tapi gerak-geriknya menunjukkan sifat ngemong. Mungkin, karena ia anak tengah dan dikelilingi adik juga kakak perempuan menjadikannya seorang pahlawan bagi saudarinya.