
Lelaki bertubuh tinggi dan besar itu melangkah mendekati lemari dan perlahan membuka lemari tersebut.Nampak wajah si gadis terkejut dengan mata membola dan menutup mulutnya,sedangkan wajahnya begitu pias dan panik bahkan ia menangis.Lelaki itu mengulurkan tangannya,tiba-tiba gadis yang tak lain adalah Tasya menerjang dengan sekuat tenaga,namun hanya bisa membuat lelaki besar itu termundur beberapa langkah ke belakang.Tasya berlari menuju pintu keluar tetapi belum juga sempat ia mencapai pintu,tiba-tiba rambutnya di tarik dari belakang,dan sebuah pukulan di tengkuknya membuat ia tak sadarkan diri.Lelaki itu lalu membopong tubuh Tasya layaknya karung beras yang sedang di panggul di atas bahu kekar dan besarnya.Lelaki yang rupanya anak buah kepercayaan Vasya telah menyamar sejak beberapa hari di kediaman Abian yang ia fikir aman.
"HENTIKAN.' Teriak lelaki itu,ia menatap sangar orang-orang di sekelilingnya.Kedua pihak sama tumbangnya,rupanya kedua pihak memiliki kekuatan yang seimbang.Beberapa anak buah Abian yang masih kuat dan masih tersisa cukup banyak untuk tidak tumbang,langsung mengelilingi pria itu ketika melihat nona yang harus mereka lindungi telah di panggul musuh.
"Turunkan dan lepaskan nona kami." perintah seseorang yang nampak lebih besar badannya setara dengan pria yang hendak membawa Tasya.Ia berdiri sekitar tiga meter di depan.
Pria itu terkekeh,ia tak pedulikan peringatan si lelaki di depannya.
"Hehehe....menurutmu apa aku mau?"ucapnya dengan ekspresi ejekan memprovokasi lawannya.Dan berhasil,anak buah Abian itupun tersulut provokasi si pria.Ia lalu berteriak dan menyerang si pria.Pria itu melawan meski harus sambil membopong tubuh mungil Tasya.Pertarungan tak bisa dielakkan,anak buah Abian mengalami kesulitan,karena lawan menjadikan tubuh Tasya yang masih ia bopong dan pingsan sebagai tameng.
Emosi menguasai anak buah Abian,ia lalu menerjang lawan dengan kaki kanan,namun lawan dengan mudah menangkap lalu menahan dan memelintir kakinya.
"aaaaarrrggggg.....f***ck u b**tch." maki anak buah Abian,ia terkapar.Sementara yang lain kembali melanjutkan pertarungan juga saat kedua pria besar tadi bertarung.
Pria itu memandang sekeliling,semua fokus terhadap lawan masing-masing.Ia tersenyum tipis menandakan kemenangannya,ia lalu melangkah keluar dengan santai hingga menuju sebuah mobil.Pria itu meletakkan tubuh Tasya dengan hati-hati,lalu ia pandangi wajah Tasya dan pipi membelai gadis yang tengah pingsan.
"cik...andai bukan titah tuan,sudah ku bawa ke hotel kau.Kubuat kau menjerit ke enakan di bawahku." ucapnya lirih sambil memasang seatbelt ke tubuh Tasya.Ia lalu menutup pintu mobil dan agak berlari menuju arah pintu kanan bagian driver.Pria itu menyalakan mobil dan menjalankan mobil itu dengan gesit.
Hampir bersamaan,hanya selisih dua menit,Abian datang bersama lima orang yang mengikutinya.Mata Abian terbelalak melihat pemandangan di depan dia.Beberapa anak buahnya terkapar,termasuk anak buah lawan.
"Kalian periksa mereka dan mansion,kumpulkan semua anggota di markas." titahnya.Abian segera berlari menuju lantai dua.
"TASYA.....TASYAAAA...keluarlan,ini saya Abian ." teriak Abian sambil menuju kamar Tasya.
Dahi nya mengerenyit,dadanya bergemuruh seketika kecemasan dan ketakutan menerpa dirinya saat melihat pintu kamar Tasya rusak bagian handle nya.Ia membuka pintu dan mengedarkan tatapannya ke segala penjuru dan mencari-cari Tasya.Wajahnya nampak gusar.
"Paman..." Abian mendekati paman Pa'ish.Anak buah yang mengobati paman Pa'Ish segera berdiri dan memberi hormat.
"Nak,Abian.Maafkan paman...paman tak bisa melindungi Tasya."
"Siapa mereka?" wajah Abian memerah dengan tangan terkepal.
"Tu...." belum selesai anak buahnya bicara seseorang menerobos masuk.
"Astaghfirullah...ada apa ini,me.....paman..paman terluka?" Hendra masuk dan langsung terkejut melihat situasi di kediaman.Ia mendekat dan menatap Abian.
"Kediaman sudah di bobol,merrka menculik Tasya.Hendra..kerahkan semua team."Titah Abian.
"Dan kau,jaga paman serta koordinasi di sini.Obatin yang terluka,panggil dokter Yoga." Abian lalu bergegas keluar dan menuju ruang kerjanya.Sesampainya di ruang kerja,ia menggeser sebuah patung kuda,lalu rak lemari buku pun bergerak berderik.Dan nampaklah sebuah ruangan yang di penuhi berbagai senjata.
"Tap..tap..tap.." suara langkah kaki.Abian tak perlu menoleh,karena ia tau siapa yang datang.
"Ambil yang di perlukan." Titah Abian.Hendra bergegas mengambil sebuah pistol,panah, dan senapan serbu otomatis.Juga dua buah belati yang ia selipkan di kaos kakinya.
Abian juga mengambil sebuah pistol kecil dan ia selipkan di belakangnya,dua buah pistol yang ia letakkan di sabuk khusus,dua buah pedang di punggungnya.Tak lupa amunisi pistol.
Mereka lalu bergegas keluar dan membawa sekitar tiga puluh anak buah yang baru saja tiba dari markas utama.Iring-iringan mobil pun berangkat di tengah malam.