
"Lagakmu, kayak mandor aja."
"Loh ... urusan begini, kan, biar ditangani anak buah aja," kekehku menyeringai.
"Bhueehhh ...." Ia ngeloyor pergi begitu saja. Sahabatku--Tomi--bergabung dengan panitia malam tirakatan tujuh belas Agustus, di sebelah stage setinggi setengah meter.
Iya. Di kompleks ini sudah menjadi jadwal rutin tiap tahun, selalu menggelar selamatan pada malam kemerdekaan Indonesia. Tahun ini aku absen jadi panitia. Males!
"Hei, ayo! Ngapain jongkok disini? Acara sudah mau mulai." Tomi menepuk pundakku.
Aku melengos. "Males. Gak ada vitamin mata."
"Eittss ... malah pergi. Bar!"
"Ogah! Mau di kamar aja main game!" seruku ngeloyor sembari mengibaskan tangan di atas kepala.
"Nyesel entar, loh. Percaya, deh!"
Aku menghentikan langkah dan membalikkan tubuh. Kulihat senyumnya penuh arti. Tomi yang jadi ketua panitia acara malam ini, cengengesan.
"Ada apa sih?" selidikku seraya mendekatinya lagi.
"Entar juga tau sendiri." Kali ini, ia yang ngeloyor pergi ninggalin aku dengan rasa penasaran yang mengusik.
Asem! Main rahasia-rahasiaan sama aku, rupanya. Ya, sudahlah. Lihat dulu acaranya kayak gimana. Kalo bikin boring, ya, kabur pulang ajalah. Gampang!
"Selamat malam. Terima kasih sudah hadir dalam acara malam tirakatan hari kemerdekaan republik Indonesia, 17 Agustus 2006, erte 5 erwe 2 ini. Pertama-tama ...."
Hei!
Suara itu terdengar asing di telingaku. Bukan suara Nina atau Lisa yang biasanya jadi MC di acara RT macam begini. Suara siapa itu? Agak nge-bass, serak, tapi renyah di telinga. Kayak suaranya pedangdut Dewi Persik. Bergegas menuju tempat acara yang berjarak sekitar tiga puluh meter dari rumahku.
Belum sempat melihat ke arah panggung, malah Pak RT yang berdiri memberikan sambutan.
"Datang juga akhirnya. Sini!" Tomi bergeser memberiku tempat duduk persis di sebelah kiri panggung.
"Penasaran. Sepertinya ada yang kau sembunyiin dari aku."
Tomi tertawa kecil. "Sssttt ...!" Telunjuknya menegak di depan bibir.
"Terima kasih atas sambutan ...."
"Tom ... Tom ...." Aku menatap takjub ke arah stage sambil menarik-narik lengan baju Tomi.
"Iya, Jeri. Ada apa?" Senyumnya tampak dikulum saat kulirik.
"Siapa, tuh?" Kudekatkan kepala ke kepalanya sambil tak lepas memandangi sosok asing di stage.
"Gimana? Oke 'kan? Makanya, percaya sama Tomi." Ditepuknya dada dengan bangga.
Aku menoleh dan melotot. "Hihhh! Itu siapa?"
"MC acara kita."
"Fiuhhh! Ya, taulah. Maksudku ... itu siapa namanya? Sepertinya bukan orang sini. Kok aku baru liat?" cecarku gemas karena Tomi hanya senyam-senyum penuh misteri.
"Emang!"
"Sialan!" rutukku. Tomi tertawa tertahan. Ni anak bikin keki!
Kutu kupret! Tomi tak mau memberi informasi apapun soal makhluk cantik itu. Sepertinya, harus bersabar menunggu hingga akhir acara. Organ tunggal membawa dua penyanyi cewek yang masih duduk menunggu jatah tampil. Cantik, sih. Namun, aku tak tertarik. Lebih penasaran sama mbak MC.
"Akhirnya ... sampai juga kita di acara yang ditunggu-tunggu. Hiburan ...."
Suara itu terdengar menggemaskan bagiku. Tepuk tangan riuh menyambut dentingan musik yang mulai mengalun.
"Mau kemana? Duet sana sama penyanyinya." Tomi mendorong pinggang saat aku sudah beranjak dari kursi sebelahnya.
"Ogah! Gak kasih tau apapun soal cewek itu, tak masalah. Aku cari info sendiri!" dengkusku kesal. Sudah tak sabar pengin nyamperin si cantik yang bikin hatiku kebat kebit. Akbar tak akan pernah lepaskan mangsa yang sudah nyolok di depan mata begini. I'm in action!
"Sabar dulu. Ada waktunya nanti. Jangan sembarangan kamu sama dia."
"Sembarangan, gimana?"
"Sudah kuduga. Instingmu memang bagus kalo soal cewek."
"Tomi!"
"Jeri!" pelototnya.
Ah, sial! Tomi mempermainkanku.
Lagu pertama genre pop sudah usai. Sekarang mulai mengalun lagu kedua dinyanyikan secara duet. Kutahu judulnya, hello dangdut milik Rita Sugiarto. Sudah kuduga, kalau musik dangdut pasti rame para pemuda turun berjoget.
Akh! Aku tak tertarik ikut ajojing seperti biasanya. Sudah tak tahan lagi pengin segera nyamperin cewek misterius itu. Ia sedang duduk manis di kursi paling depan, pinggir kanan stage bawah pohon kresen. Kuhampiri lewat belakang panggung.
Cahaya temaram lampu yang menerobos di antara dedaunan, membuat sosoknya begitu istimewa. Cantik sekali! Mengenakan kebaya modern lengan sebatas siku warna merah hati pas bodi. Rok batik motif parang warna tulang melengkapi penampilannya. Kulitnya yang putih tampak bersinar diterpa sinar lampu. Jemari lentik itu asyik memenceti tombol ponsel. Ia tampak tak tertarik ikut heboh dengan para pemuda di sini.
Perlahan aku mendekat. Jantung sudah bertalu tak keruan. Mata tak mampu beralih. Kenapa rasanya gini banget, ya? Rupanya, kehadiranku tak ia sadari.
Kini, aku sudah berada dua meter di sebelahnya. Dari dekat, kupuaskan mata memindai tiap lekuk wajah memesona di hadapan. Hidungnya bangir. Pipi bulatnya memerah bukan karena blush on. Alisnya juga alami tak ada jejak lukisan pensil alis. Bibir tipisnya dipoles lipstik warna pink terang. Rambut ikal kemerahan sepunggung dikuncir ekor kuda.
Luar biasa! Dalam hitungan detik, aku dibuatnya jatuh cinta!
"Joget yuk, Mbak." Entah ditemplokin setan dari mana, dengan spontan aku tarik tangannya.
"Hei!" pekiknya dengan ekspresi terkejut, tapi tak kuhiraukan. "Lepas!" Dikibaskannya tanganku. Ups, terlepas!
"Ayo kita bersenang-senang." Aku makin nekat tanpa pikir panjang. Entahlah! Kenapa aku bisa sebrutal ini. Kutarik tangannya lagi dengan lebih kuat. Ah, bukan. Lebih tepatnya nyaris kuseret.
"Kurang ajar!" pekiknya.
Tanpa terduga, didorongnya tubuhku kuat-kuat setelah berhasil lepas dari pegangan untuk yang kedua kalinya. Tak kusangka tenaganya kuat juga. Badanku terhuyung ke kebelakang.
Suara musik berhenti seketika. Suasana jadi tegang. Hening!
"Mbak! Maaf, Mbak. Itu teman saya. Dia hanya jahil, tapi tak bermaksud kurang ajar. Maaf, Mbak." Aku melihat Tomi yang tergopoh datang serta merta membungkukkan badannya berulangkali.
Beberapa orang membantuku berdiri. Sumpah! Aku shock. Shock atas perilakuku sendiri. Malu! Mana para sesepuh kompleks juga ikut berdiri, pula. Semua beranjak dari kursi menyaksikan kekonyolanku barusan.
Benar-benar jadi horor!
"Tolong ... bilangin sama temannya itu, jaga sikap. Sembarangan! Enak aja melecehkan wanita." Intonasi suaranya meninggi. Ada nada angkuh yang tersirat. Wajah cantiknya merah padam tampak bengis menatapku.
Malu banget!
Semua orang menatapku tajam seolah menghakimi. Serasa jadi tertuduh dari kasus penganiayaan. Gugup, aku berniat mendekati gadis itu lagi. Namun, tiba-tiba seseorang mencengkram lengan dan menarik tubuhku menjauh dari kerumunan.
"Apa-apaan kamu, Bar?! Bikin malu aja!" bentak sebuah suara. Ah, ibu ternyata.
"Bu ... Akbar gak sengaja." Keringat dingin sudah membasahi tengkuk.
"Nggak sengaja, gimana?! Aduhhh ... bisa panjang urusannya ini, Bar!" Melihat ekspresi ibu, aku makin tak mengerti.
"Maaf, Mas Tomi, Pak RT dan semua. Saya pamit saja. Maaf atas keributan ini. Selamat malam." Suaranya terdengar keras dan jelas.
Pandangan kami bertubrukan. Langsung merinding ditatap setajam itu.
"Saya antar ya, Mbak." Tomi tergopoh membuntuti cewek misterius itu.
Tubuh rampingnya segera menghilang ke balik kerumunan. Kuhela napas berat. Sangat berat. Apa yang sudah kulakukan barusan?
"Akbaarrr ...." Bapak muncul dengan menggeram. Matanya berkilat marah.
"Kamu bikin malu keluarga kita!"
Aku mulai merasa kesal, saat menyadari semua bersikap berlebihan, menurutku.
"Ada apa, sih? Cuma gitu doang kenapa semua jadi heboh gini? Namanya juga lagi hiburan. Ada musik dangdut. Jadi wajar, dong, kalo ada joget-jogetan. Apa salahnya, cuma mengajak MC joget?" bantahku menggerutu.
"MC itu ...."
"Au ah gelap!" Aku ngeloyor pergi dengan bersungut. Apa-apaan, sih, pada gitu amat? Emang gadis itu siapa? Dia lagi show, dibayar juga, tapi semua bersikap hormat padanya. Apes bener!
Terdengar musik mengalun lagi setelah sempat jeda tiga puluh menitan. Kurebahkan tubuh di kasur. Meyangga kepala dengan tangan tertekuk di tengkuk.
Jam satu dini hari, ponselku bergetar. Segera kusambar benda itu dari atas meja kecil sebelah ranjang.
[Apa-apaan kamu, Bar?! Aku kan sudah bilang, sabar dulu. Nanti ada waktunya aku kenalin. Malah nyelonong narik-narik orang kayak begitu!]
Chat dari Tomi. Emosiku naik lagi.
[Kalian rempong! Cuma gitu, doang, kenapa diributkan sih?]
[Ya, jelas pada ribut. Kamunya ngawur!]
[Sudah risiko doski, dong. Kan, di mana-mana tempatnya, kalo jadi bagian dari penghibur, ya, gak boleh kasar sama penonton.]
[Nah! Ngawurmu itu yang nggak kira-kira. Dia bukan bagian dari organ tunggal itu, Jeri. Dia wakil dari donatur kita di acara malam ini.]
Aku melotot baca kalimat terakhir dari Tomi. Kukerjapkan mata meyakinkan pandangan. Takut salah baca.
[What?! Ciyus?! Jayus loe, ah! Yang bener?]
[Nggak usah shock begitu! Aku yang jantungan. Ketua panitia, tapi tak bisa menjamin keamanan tamu donatur kita. Dasar, Jeri!]
[Salahmu! Dari awal aku sudah tanya 'kan. Tapi, kau yang sok misterius. Jadi gini, kan. Dasar Tom meong!]
[Aku tadi sudah minta maaf puluhan kali. Tapi, besok sore kita bertiga, dengan Pak RT juga akan tetap ke rumah kost cewek itu untuk minta maaf atas kejadian malam ini.]
[Kost? Siapa, sih, tu cewek?]
[Namanya Syaira. Staff kejaksaan yang baru mutasi kesini dua minggu lalu, dari kabupaten sebelah. Dia terbiasa jadi MC di acara kantor. Jadi pas aku ke Kantor Kejaksaan ambil donasi, kepala staff mengajukan Syaira sebagai perwakilan tamu undangan juga MC. Jelas?!]
Glek! Alamak, ****** gue! Ini, sih ... sudah jatuh, keguyur air, masih juga ketimpa embernya sekalian. Gue ... cari mati ini namanya. Kantor Kejaksaan, kan, masih satu RT denganku. Beneran bisa panjang urusan, nih, kayak yang ibu bilang tadi. Duh! Malu ini rasanya sudah makin berlipat.
[Minta nomor hape tu cewek.] Ketikku gemas.
[Gak usah aneh-aneh. Jangan bikin masalah lagi.]
[Mau minta maaf.]
[Besok saja minta maafnya. Bertiga ke indekos Pak Guruh. Gak sopan dini hari gini minta maaf lewat telpon atau chat.]
Haduh! Sumpah! Malunya nggak bisa hilang meski sudah terdengar azan Subuh. Nggak bisa tidur semalaman. Hati rasanya nggak keruan. Bete, antara malu dan menyesal sudah bertingkah konyol. Namun, penasaranku justru makin gede.
Terbayang lagi akan sosoknya yang tampak angkuh, misterius, tapi kecantikannya benar-benar membiusku. Jadi kelimpungan gini dibuatnya. Benarkah aku telah jatuh cinta pada pandang pertama?
Kepala berdenyut kuat tak tidur semalaman. Tetap saja kupaksakan diri berangkat kerja. Sengaja cabut dari rumah lebih pagi. Dari seberang jalan, kuawasi rumah kost dua lantai milik Pak Guruh itu.
Pukul 06.30.
Darahku terkesiap. Mendapati sosok semalam muncul dari balik pagar hitam setinggi tiga meter. Dengan seragamnya, ia tampak lebih berwibawa dan makin memancarkan aura berkelas.
Nyaris tak bisa menahan diri untuk nyamperin. Namun, kala teringat peristiwa semalam, langkahku surut. Bisa makin panjang urusannya kalo aku nekat lagi.
Akhirnya, hanya bisa pasrah melihatnya melintas beberapa meter saja dari tempatku nangkring di motor. Sempat doski memerhatikanku beberapa saat sebelum masuk ke area kantornya. Mungkin mencurigai keberadaanku.
Iya. Tempat kost dan kantornya hanya berjarak kurang dari seratus meter saja. Jadi kulihat, ia hanya berjalan kaki.
Ufff! Membayangkan nanti sore harus datang minta maaf, membuatku gugup sepanjang hari. Rasa takut, malu juga penasaran meneror jiwa tiap menatap perputaran jarum jam dinding. Ah! Tak mungkin doski menamparku karena ada Tomi dan Pak RT juga nantinya.
Tak urung, tetap saja kepikiran. Jantungku terus berdegup kencang. Sudah tak bisa konsentrasi mengerjakan apapun. Gugup. Parah! Nggak pernah aku blingsatan kayak gini hanya karena cewek. Akbar, gitu loh! Bikin blingsatan cewek, sih, sudah jadi keahlian mendarah daging. Namun, beda dengan satu ini. Dunia sedang tak berpihak padaku, rupanya.