
"Bar. Akbar! Turun! Makan dulu!"
Lengkingan tinggi itu mengusik lamunanku. Duh! Ibu gangguin aja. Lagi seru-serunya ngebayangin Syaira malah dipause tanpa permisi.
Malas-malasan, kuseret langkah menuruni anak tangga. Iya. Kamarku ada di lantai dua. Kamar Mira dan Mbak Erma kosong. Adikku masih kuliah di luar kota. Jarang pulang.
Kakakku sudah berumah tangga sejak empat tahun lalu. Jadi kamarnya kosong juga. Terisi hanya saat datang bersama suami dan anaknya.
"Tumben, sekarang betah di kamar? Biasanya suka kelayapan entah ke mana?"
Kuambil nasi, sayur dan ikan goreng tanpa menjawab pertanyaan Ibu. Malas-malasan kusuapkan ke mulut.
"Hei! Makan itu dinikmati. Jangan sambil ngelamun." Ibu menepuk pundakku.
"Bapak kemana?"
"Sejak pagi dijemput Pak Ahmad. Katanya ngurus proyek di desa sebelah. Sudah, dihabiskan itu makanannya."
"Hari minggu, kok, masih kerja? Enak di rumah aja. Santai."
"Ah, gayamu, Bar. Biasanya kamu juga nggak pernah di rumah. Nggak libur, nggak pulang kerja, ngilang mulu. Ibu cuma jadi penunggu rumah. Sendirian."
"Curcol ni yeeee hahaha."
Pletak!
"Aduh! Sakit, Bu." Protesku mengelus punggung tangan yang diketok pakai sendok sayur. "Bu ...."
"Hmm ...." Ibu melirikku sambil asyik mengunyah tempe goreng.
"Mau nggak ... punya menantu kayak Syaira?"
"Haaaa ...?!" Ibu melotot.
"Jangan alay kayak ABG begitu, Bu. Biasa aja kale." Kutertawakan reaksi Ibu yang bengong.
"Apa katamu tadi? Syaira? Anak kejaksaan itu?"
Aku mengangguk mantap. "Cocok gak sama aku?" Kerlingku penuh arti.
"Sudah berapa kali kamu ganti cewek? Ini mau ganti lagi?"
"Nyokap gue yeee ... masa bikin fitnah tentang anak sendiri. Dosa." Buru-buru aku tahan tangan Ibu sebelum sempat menjitak kepalaku. "Eh, iya iya, maaf. Becanda hehehe."
"Terserah!" Ibu mendengkus dan menenggak es teh di mug.
"Aku serius cuma sama tiga cewek sejak SMP. Kalo banyak cewek yang gonta-ganti main ke sini itu karena anak Ibu ini populer, ganteng. Bukan karena mereka semua pacarku."
"Pusing, ah." Ibu beranjak dan masuk ke kamar.
"Yahhhh ...." Kutelan suapan terakhir dan buru-buru minum.
Kabur lagi masuk kamar. Blaik! Baru ingat ... semalam, kan, sudah dapat nomor kontak Syaira dari ponsel Tomi yang kucuri pinjam.
[Siang, Syaira. Ini Akbar ] Send lewat SMS.
Semenit, dua menit, lima menit, tiga puluh menit, tak ada tanggapan.
[Maaf. Aku harus gimana lagi agar kau bisa maafin aku?]
Tak juga dibalas. Ya, sudahlah! Mungkin lagi tidur siang.
[Nanti sore kita lari-lari bareng, yuk, di taman kompleks.]
Aku menghela napas berat. Namanya juga perjuangan, harus gigih dan penuh kesabaran. Tak apa! Akbar bukan jenis orang yang gampang ngibarin bendera putih.
Mumpung udah dapat pin BBM, bisa melototin foto profilnya. Hmmm .... Waduh! Yang dipasang bukan wajah cantiknya, tapi cuma gambar es krim. Apes deh!
*****
Yes. Seperti dugaanku, sore ini doski ada di taman kompleks. Berjalan cepat tanpa ekspresi.
Samperin ah!
"Hai ... SMS aku,kok, dicuekin? Ayolah, mau sampe kapan marahnya? Jangan benci-benci amat sama aku. Ntar bisa kepincut, susah lepasnya loh."
Seettt ... upsss! Ngerem mendadak. Doski menoleh. Ahaiii ... berhasil juga bikin mbak-mbak judes satu ini bereaksi. Ditatapnya mataku tajam. Busyet! Serem memang kalau Syaira marah.
"Bisa nggak sih, berhenti ngusilin aku?"
"Nggak." Aku berusaha tertawa padahal aslinya jiper. Jayus jayus, deh. Sebodo!
"Begini, ya. Di antara kita sudah tidak ada masalah. Jadi kembali ke kehidupan kita masing-masing, oke?"
"Maaf, maksudnya apa, ya?" Aku melongo.
Susah memang kalau ngobrol sama cewek cerdas. Ngomong biasa aja, ribet banget pakai kosa kata level tinggi. Kalimatnya nggak pasaran. Anti kamseupay hahaha. Apalagi kalau lagi diskusi masalah serius. Wahhh ... kudu nelen multivitamin penambah kepintaran dulu, nih, biar bisa mengimbangi.
"Kamu bikin masalah, sudah aku maafkan. Jadi ... jangan bikin masalah lagi. Paham?"
"Belum." Belagak pilon aja, deh. Biar bisa lebih lama menikmati suara serak seksinya juga menatap wajah cantiknya yang polos tanpa make-up.
"Adek ... besok sekolah. Jangan banyak main, ya. Belajar sana, gih! Buruan pulang." Tangannya di kibaskan.
Busyet! Akbar ganteng kayak gini diusir? Doski pakai ngingetin segala, kalau usiaku lebih muda darinya. Hih! Harus dibalas, nih, biar impas.
"Jadilah kakak yang baik. Kalo adeknya tanya, ya, dijawab. Adeknya chat, ya, dibalas. Adeknya minta tolong, ya, dibantuin. Betul begitu kan ... KAKAK?" Kutekan artikulasi agar doski mengerti kalau aku sedang serius!
"Akbar!" Doski mendelik sambil berkacak pinggang.
"Kakak Syaira!" balasku melotot. Kami berhadapan muka dalam jarak beberapa jengkal saja. Saling serang melalui tatapan tajam. "Cantik." Kukedipkan mata nakal.
Wajahnya terlihat langsung merona merah dan membuang muka. Sekali lagi, doski melirik tajam kemudian ....
"Syaira! Ehhh ... malah kabur." Aku tertawa lepas.
Nah, kan, berhasil! Mukanya memerah begitu. Pasti karena tersipu malu. Jurus andalan paling basic sudah kukeluarkan. Akbar getooo loh. Tunggu episode berikutnya, Syaira.
*****
Aku selalu setia menunggu di taman kompleks tiap sore. Kadang nongol, kadang juga nggak. Sebelum berangkat kerja aku juga tongkrongin, tuh, gerbang kompleks hanya sekadar ingin melihatnya saja.
Cuma ingin melempar senyum padanya. Dicuekin? Nggak masalah. Dianggap nggak ada? Nggak gue pikirin. Asal bisa melihatnya, semangatku akan menyala. Yah, semacam doping gitulah.
"Jangan bertingkah kayak preman kompleks," sungutnya pagi itu. Mungkin doski risih terus-terusan aku awasi.
"Aku gak preman kompleks, Kakak. Aku penanggung jawab keamanan kompleks. Ada new comer yang istimewa begini, harus dijagain biar gak ada yang ngusilin."
"Kan, kau sendiri yang usil." Bibirnya meruncing.
Busyet, dah ... gemes banget pengin nyubit bibir tipisnya. "Oya, masa' sih? Kok ... aku gak ngerasa, ya?"
Buk!
"Aduhhh ... kok mukul?" Tanpa terduga, doski menonjok lengan kananku dengan keras.
"Sekarang udah kerasa 'kan?" Mata kecilnya mendelik.
"Iyah, loh. Terasa banget, nih. Malahan sampe ke hati hehehe." Kuelus dadaku dengan senyum menggoda.
Lagi-lagi, dengan cueknya, doski ngeloyor pergi masuk ke gedung kejaksaan. Ah, berasa dapat tambahan energi lagi hari ini hihihi.
***
[Kakak cantik. Aku bungkusin bakso sama es buah, ya.] Kukirim pesan lewat BBM.
Lima menit kemudian ....
[Nggak usah. Udah makan.]
[Kalo gitu, temenin aku makan bakso, deh. Cuma di depan kantormu itu aja kok. Mau ya.]
[Ogah!]
[Aku tunggu di depan pagar kostmu.]
Tak perlu menunggu balasan lagi, aku segera melompat dari kasur dan menyambar dompet di meja.
"Ke mana, Bar?" sapa Bapak yang duduk di depan televisi.
"Pergi berjuang, Pak!"
"Paling ngejar-ngejar anak kejaksaan itu lagi," sahut Ibu sambil membawa secangkir kopi untuk Bapak.
"Jangan aneh-aneh kamu, Bar! Jangan bikin ulah yang bisa bikin Bapak Ibu malu lagi!" hardik Bapak.
Ah, biarin. Tak kuhiraukan kata-kata Bapak. Kabur aja, deh!
Berdiri di depan pagar besi hitam yang menjulang tinggi. Heru, penjaga kost yang sedang duduk merokok di pojok luar pagar, datang menghampiri.
"Ada apa, Mas?"
"Syaira ada?"
"Ada, tuh. Belum keluar lagi sejak pulang kantor jam tiga tadi. Aku panggilin?" Kuacungkan jempol.
Kost Pak Guruh ini sangat ketat. Tak akan biarkan siapa pun slonang-slonong kecuali penghuni kost. Kalau pagi yang jaga kost Bu Ratmi, Ibunya Heru. Heru jatah habis magrib sampai Subuh. Mereka juga warga RT sini.
"Gak mau, Mas." Heru nongol lagi.
"Lha? Emang kamu bilang apa tadi?"
"Aku bilang, 'Mbak Syaira dicariin Mas Akbar'. Jawabnya, 'suruh pulang aja'. Gitu ...." Aku manggut-manggut.
"Oke. Terima kasih, ya." Heru mengangguk.
Plan B kayaknya harus dipakai. Lima kali panggilan, teleponku tak juga diangkat. Akh ... aku belum menyerah. Call terus sampai hampir dua puluh menit.
Wajah berlipat lima itu akhirnya menunjukkan diri dari balik pagar kokoh. Puas, berhasil memaksanya keluar menemuiku.
"Ihhh ... bisa nggak, sih, brenti nelponin aku?!" Suara seraknya nyamber di telinga. Wajah cantik pucatnya nongol.
"Lapar. Temenin adek makan, yuk, Kak," bujukku tersenyum lebar. Makin lebar makin baik. Kering kering, dah, ni gigi.
"Sudah dibilang nggak mau, ya, nggak mau! Ngerti nggak, sih, diajak omong pake bahasa manusia?!"
"Busyet, Kak ... sadis amat."
"Pulang sana!" Yahhh, diusir lagi.
"Iya. Nanti juga pulang setelah Kakak temenin aku makan bakso. Jalan kaki. Tuh! Cuma depan situ aja, kok. Mau, ya?" bujukku memelas. "Anggap aja jadi tanda permintaan maaf dari aku. Setuju?" Kulihat wajahnya tambah kesal.
Melengos, mendelik tambah lagi pakai menggerutu tak jelas. "Ya. Udah. Tunggu sebentar!"
"Siap!" Ahhh ... akhirnya!
Lima menit kemudian, sosoknya yang bikin jantung dag dig dug pyar itu, nongol lagi. Celana panjang gombrong dan t-shirt hitam. Rambut diikat cepol asal saja. Kayak nggak disisir.
Tapi sumpah! Bagiku itu sudah lebih dari cukup bikin mataku fresh luar biasa.
"Ayo, buruan! Malah bengong," sungutnya berjalan cepat ninggalin aku.
"Tunggu!" Aku gelagapan dan segera mengejarnya.
"Mentang-mentang sudah makan, jalannya cepet amat," gerutuku menjejeri langkahnya.
"Dari dulu jalanku memang begini," sahutnya dingin.
"Sudah mandi belum, sih? Berantakan, gitu?"
"Belum."
"Wahahaha ... pantesan kusut." Dingin. No respon! Hoasemmm ....
"Upsss ... maaf." Aku buru-buru menutup mulut.
Doski hanya memesan es buah dan mencomot dua tahu selimut. Cara makannya juga santai tanpa beban. Nggak sok manis pakai table manner segala, kayak temen-temen cewekku. Nggak ada jaim-jaimnya sama sekali. Makin salut aku dibuatnya.
"Biasanya, pulang kampung kapan?" tanyaku disela menyuapkan bakso ke mulut.
"Sebulan sekali."
"Ngebis?"
"Ya."
Aku manggut-manggut. "Rencana mau pulang kapan?"
"Belum tau," sahutnya hanya melihatku sekilas. Kami duduk bersebelahan tapi jaga jarak.
"Aku anterin, ya."
Kepalanya langsung menoleh. Dahinya mengernyit. "Buat apa?"
"Biar nggak ada yang nyulik."
"Hahaha ...." Waduh, surprise! Syaira tertawa?!
"Lucu?" Aku mencoba memperpanjang obrolan.
Sungguh! Aku belum ingin menyudahi pemandangan indah yang tepat berada di sebelahku ini.
"Aku sudah biasa ke mana-mana sendiri. Kuliah di Jogja. Rumahku perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Awal kerja, penempatan di Jawa Tengah. Mutasi pun masih seputar Jawa Tengah. Kost. Sudah terbiasa mandiri."
Doski menghabiskan tawanya. Dari dekat begini, baru sadar kalau ada belahan di dagu saat ia tertawa. Aku makin gemas melihatnya.
"Ada apa? Senyam-senyum ...." Matanya berkilat tanda tak suka.
"Cantik, loh, kalo tertawa begitu."
Ada rona terkejut di wajah Syaira. Mendelik sesaat disusul warna kemerahan di pipi cubby-nya.
"Sudah, ayo pulang! Makan lima belas menit, ngobrolnya sejam. Nggak enak ati sama yang punya warung."
Tanpa menungguku, Syaira mendekati kasir. Sebelum aku sempat mencegah, doski sudah menerima uang kembalian dan langsung ngeloyor pergi.
"Mas Akbar! Bakso sama es buahnya belum bayar."
Langkahku terhenti pas di luar warung tenda. "Haaa? Tadi yang sudah dibayar apa aja?" Malu banget. Para pembeli memperhatikanku. Mungkin dikiranya aku mau kabur tanpa bayar apa?!
"Tadi si Mbak-nya cuma bayar yang dimakan sendiri. Yang Mas Akbar makan, belum."
Sial! Aku dikerjain. Niat hati nraktir, apa daya malah BMM alias bayar masing-masing. Pakai nggak bilang-bilang dulu, pula. Kirain aku yang ditraktir. Ampun deh!
Terburu kukejar ke kost-an, tapi terlambat. Syaira sudah masuk. Ya, sudahlah! Lumayan juga bisa makan bareng tadi. Terpaksa menyeret langkah pulang tanpa ada kompensasi waktu lagi buat ngobrol.
[Makasih, ya, udah nemenin aku makan.]
Cuma read.
[Lain kali, jangan bayar sendiri. Aku yang ajak, jadi aku yang nraktir. Oke?]
Read doang.
"Aahhh ...." Kurebahkan tubuh. Tak apa. Baru juga dua minggu. Belum takluk itu masih wajar hehehe.