
"Ambil yang di perlukan." Titah Abian.Hendra bergegas mengambil sebuah pistol,panah, dan senapan serbu otomatis.Juga dua buah belati yang ia selipkan di kaos kakinya.
Abian juga mengambil sebuah pistol kecil dan ia selipkan di belakangnya,dua buah pistol yang ia letakkan di sabuk khusus,dua buah pedang di punggungnya.Tak lupa amunisi pistol.
Mereka lalu bergegas keluar dan membawa sekitar tiga puluh anak buah yang baru saja tiba dari markas utama.Iring-iringan mobil pun berangkat di tengah malam.
Malam semakin kelam,sementara itu,di sebuah bungalow yang berada cukup jauh,memasuki sebuah wilayah hutan konservasi dan dekat dengan laut,nampak memancarkan cahaya yang tidak konsisten yang di hasilkan dari cahaya api tungku penghangat ruangan.Seorang pria yang sangat tampan,bermata hazel,tubuhnya yang hanya memakai kemeja putih dan bagian lengan di lipat,celana kain berwana hitam,warna kulitnya bak pualam,rambut agak panjang berkibar karena angin dari arah jendela.Mata itu lekat menatap tubuh seorang gadis yang masih pingsan akibat bius yang di berikan.
Pria itu mendekati ranjang di mana sang gadis masih berada di alam bawah sadarnya.Ia lalu duduk di samping si gadis,ia memperhatikan dengan seksama.
"Hmmm...aku tidak tau apa yg membuat Abian menyukaimu,seleranya begitu payah tapi aku mengenal Abian,selama bertahun-tahun aku mengamatinya.Tentulah kau gadis istimewa." ucap pria tampan bak malaikat yang tak.lain Vasya Vladimir.Ia lalu mendekati wajah gadis itu,hidungnya mengendus-ngedus leher gadis itu.
"ah...aromanya menyegarkan dan terasa..hmmmm." kembali ia menghirup aroma tubuh gadis itu dan menutup matanya seakan-akan menikmati sebuah hidangan lezat.
"auughhhh....." tiba-tiba gadis itu melenguh.Spontan mata Vasya membuka dan kaget.Sontak ia menarik wajah dan tubuhnya dengan gerakan yang sangan cepat bahkan tak di ketahui begitu cepatnya.Ia kini sudah berdiri tegak namun pandangannya masih fokus pada si gadis yang perlahan bangun.
"uughhh.....badan aku sakit semua." gadis itu mengeliatkan badannya kanan dan kiri,hingga menimbulkan efek bunyi.
"kraak..krakk.." Vassya yang mendengar suara itu mengerenyitkan dahinya.
Perlahan si gadis membuka matanya.Ia mengerjapkan kedua matanya dan masih memandang langit-langit kamar.
"Ah...bukannya aku di culik ya." monolog nya.Ia lalu mulai memperhatikan sekelilingnya.Ia merasa sangat asing dengan ruangan kamarnya.
"a...aku di mana ini." Ia kembali menatap sekelilingnya.Hingga...
"HUAAAAAAA....KAUUUU SIAPAAA? ." terian gadis itu,dan teriakannya sukses.membuat telinga Vasya berdenging.
"WOOÒIII...STOPPED..f***ck it *****." umpat Vasya.
"WHAT..." Vasya kaget dan melongo,bahkan membuat bibir bawahnya berasa jatuh.Dia berfikir gadis itu akan takut atau terpesona padanya setelah sadar.Tapi,justru di luar ekspektasinya.
"wot...wot..wot..eh elu ya yang nyulik gue.Elu kurang kerjaan apa heh..harusnya elu culik gadis kaya,biar bisa elu peras ortunya.Malah nyulik gue.untung kagak,rugi iye." sewot Tasya masih dengan gaya ala emak-emak kurang jatah bulanan yang gak dapat beli skin care.
"hey..what are you saying?" Vasya semakin bingung.
"Tunggu." ucap Tasya dengan menapakkan telapak kanannya ke arah wajah Vasya.Hingga Vasya menjadi kesal.
Tasya meraba-raba bajunya.Ia tak menemukan ponselnya.Lalu ia menatap Vasya.
"Kamu yang ambil ponsel gue ya,sini kembalikan!" pinta Tasya sembari mengulurkan tangan kanannya.
"Cik...you suck." ucap Vasya seraya merogoh celananya dan menyerahkan sebuah ponsel le arah Tasya.Tasya mwngerenyit dan menatap ponsel tersebut.
"ini bukan ponsel saya." ucap Tasya dengan wajah sendu dan kesal kepalanya menggeleng.
Lalu dia ke gugele translet.Lalu setelah ada jawaban,ia tunjukkan pada Vasya.
"Yes, it is my phone."
"where is mine." Tanya Tasya masih dengan mode bantuan gugele translet.
Vasya mengedikkan bahunya,lalu berlalu dari kamar itu.Tasya melongo karena di tinggalkan begitu saja.
"Ish.menyebalkan...kenapa gue di culik ya?" batin Tasya.
"tok..tok..tok.." suara ketukan di pintu membuat Tasya kaget