Love You Forever

Love You Forever
Chapter 35


Sudah lima hari berlalu, kesehatan Chika pun sudah membaik. Dua hari yang lalu seharusnya mereka sudah berangkat ke Tokyo. Apalah daya, ada sedikit kendala. Namun, tak mengapa, toh acara graduation tiga hari lagi baru digelar.


Hari ini, Leo berniat membawa Chika ke Forbidden City atau yang kerap kali disebut dengan Kota Terlarang, tempat yang dijanjikannya pada Chika waktu itu. Xu Jun Hui sudah membuat janji terlebih dahulu agar Chika dan Leo bisa mengunjungi tempat yang dimaksud.


Kali ini mereka hanya pergi berdua dalam rangka kencan romantis di tempat bersejarah. Sejujurnya, Leo ingin mengajak sang kekasih ke suatu tempat yang lebih romantis. Namun, janji adalah janji, tak boleh diingkari.


"Mengapa memandangku seperti itu?" tanya Chika.


Leo langsung membuang muka, "A-aku-" sahutnya terbata-bata. Dia merasa malu karena ketahuan diam-diam mencuri pandang.


Chika terkekeh geli, "Sudah berapa lama?".


"Apanya?" Seketika Leo membeku. Dia mengedipkan mata berulangkali dengan cepat.


Saat ini, dia merasakan hal berkecamuk dalam dadanya kala memandang Chika tadi. Sayang, bahagia dan bangga bertumpah ruah begitu memandang lekat-lekat sang kekasih.


"Aku tahu kau terus memandangiku, tadi!" Chika mencolek dagu Leo yang enggan menoleh padanya.


Leo membatin, "Aish! Kenapa aku jadi gugup sekarang! Debaran ini membuatku dalam situasi sulit."


"Apakah setelah memandangku, kau sudah lupa mengatakan sesuatu?" Chika mengejek Leo lagi.


"Peras-" Mulut Leo seakan-akan terkunci rapat mengatakan kalimat itu.


"Perasaan yang luar biasa ketika melihatmu, aku kecanduan perasaan itu!"


Sayangnya kalimat itu lancar dilontarkannya hanya dalam hati.


"Apa? Kau ingin minum jeruk peras?" kelakar Chika.


Dia tertawa terbahak-bahak, entah hal apa yang membuat Leo tiba-tiba tak bisa berbicara dengan normal.


"Tawa jenis ini tak selalu kudengar. Kalau begitu, biarlah aku terlihat bodoh di depannya asalkan dia tetap seperti ini."


"Aku suka ketika melihatmu menatapku, kemudian kau tersenyum dan memalingkan muka."


Tiba-tiba Chika memasang wajah serius dan berkata seperti itu


"Sedekat ini denganmu, membuatku sulit berbicara." ujar Leo


*


*


Gugong Bowuyuan, kompleks istana besar kekaisaran dan kediaman Kaisar Tiongkok. Yang kini sudah menjadi pusat pemerintahan hampir selama lima abad. Sepasang kekasih baru saja turun dari mobil melangkah ke area Kota Terlarang.


"Hei, bukankah rakyat biasa tak boleh masuk kemari?" tanya Chika seraya memegang lengan Leo.


"Itu dulu, sekarang rakyat seperti kita sudah dibolehkan tapi ada syaratnya," terang Leo.


"Bagaimana caranya?" selidik Chika lagi.


"Mengisi formulir kunjungan di sebuah aplikasi seperti yang dilakukan Papa. Kalau disetujui, barulah kita kemari. Kau lihat itu! Para penjaga akan memeriksa kita di sana."


"Wah, ini seperti di drama fantasi sungguhan."


Chika berdecak kagum melihat aparat keamanan dengan seragam yang tentunya juga berbeda menyesuaikan dengan tugasnya masing-masing.


"Aku ingin memotret isi di dalamnya!"


Chika berseru namun dibalas dengan menggelengkan kepala oleh Leo.


"Tak boleh memotret jika tak diizinkan!".


Chika termangut-mangut, "Seharusnya kita menggunakan pakaian ala kerajaan agar vibesnya sangat terasa, bukan begitu?" lanjutnya.


"Begitu? Memakai gaun saja kau terus mengeluh karena tak leluasa berjalan. Bayangkan saja bagaimana repotnya dirimu menggunakan pakaian itu!"


"Tapi-" Leo menunggu respon Chika sebelum meneruskan bicaranya. "Kalau kau mau menggunakan pakaian berat, di hari pernikahan kita saja!"


"Boleh saja! Tapi kau harus menunggu lima tahun lagi!" balas Chika sambil menjulurkan lidahnya, mengejek Leo.


"Tidak, tahun ini saja! Aku sudah mengatakannya pada Orangtuaku. Tak bisa menolak!"


"Aku tak ingin menjadi babu di rumahmu," timpal Chika dengan niat menggoda.


Leo menelisik wajah Chika selepas mengatakan kalimat barusan yang diucapkan kekasihnya.


"Memangnya siapa yang ingin menjadikanmu babu? Aku mencari pendamping hidup bukan pembantu rumah tangga. Lagipula ada Mei Lin yang mengurus pekerjaan rumah."


"I just playing around with you," ledek Chika.


"As you wish! Lupakan itu dan mari menjelajahi pusat sejarah di sini!" Chika mengalihkan topik pembicaraan.


"Ya, aku akan cosplay menjadi guru sejarah lagi" sungut Leo.


"Kau sudah tahu mengapa tempat ini disebut Forbidden City?" tanya Leo.


Chika mengangguk, "Karena-" Chika berdehem dulu mengatur suaranya. "Hanya orang-orang kerajaan saja boleh masuk ke sini," jawabnya dengan bangga.


"Kurang lengkap!" bentak Leo.


Chika mencibirkan mulutnya, "Singkat, padat, dan jelas! Paham?".


"Sayang, kau harus menjelaskannya sedetail mungkin, seperti ; Permaisuri, selir, keluarga dan punggawa-punggawa kerajaan. Itu baru lengkap!"


"Karena kau gurunya, kau yang harus menjelaskan, wahai Tuan Muda."


"Jangan mengejekku, Nona Jepang!" balas Leo tersenyum kecut.


"Aku tidak berani, Tuan Muda." olok Chika sambil menirukan gaya seorang pelayan istana.


Seketika suasana menjadi tegang, kala sepasang kekasih itu saling adu mulut dan membalas ejekan satu sama lain karena tak mau kalah. Apa memang sudah dasarnya sama-sama keras kepala?


Usai berdebat dan mengamati benda-benda peninggalan kerajaan di dalam museum, akhirnya mereka kembali menjelajahi setiap sudut kota bagian luar. Taman-taman indah mampu menghipnotis mata yang memandang. Taman Jingshan, Beihai, Shichahai, Zhongnanhai dan Zongshan yang menjadi ikon mahakarya.


Tak kalah indahnya, istana musim panas, tempat peristirahatan keluarga kaisar Qing saat musim panas tiba juga ditapaki oleh Chika dan Leo. Tak heran, jika bangunan kuno di seberang Lapangan Tiananmen itu begitu digemari saking indahnya dan historis.


Kruukk.. Kruukk


"Aku lapar!" keluh Chika pada Leo.


Setelah sembuh, Chika mudah sekali merasa lapar. Mungkin karena beberapa hari tak berselera makan. Kebetulan, tak jauh dari Museum Kota, ada pusat jajanan tradisional Beijing kuno di Qianmen.


Leo menggandeng tangan Chika, pasalnya ada banyak pengunjung yang juga datang. Sehari dibatasi hanya 5.000 pengunjung, bayangkan saja bagaimana banyaknya lautan manusia.


"Tinggal menyeberang jalan raya kita akan sampai!"


Leo menyemangati Chika yang saat ini terlihat murung sekaligus meringis menahan sakit perutnya.


Karena masih harus berkeliling, Chika hanya memilih makanan ringan yang cukup mengganjal perutnya. Fuling Jiabing, makanan tradisional berupa panekuk dengan isian jamur dan sebotol air mineral.


"Kau tak ikut makan?"


Leo menggeleng, "Tidak! Air mineral saja sudah cukup!" kelitnya.


Padahal Pria itu sedang diet juga defisit kalori untuk menghilangkan lemak di perut. Selama di Beijing, dia kerap kali makan hingga membuat berat badannya naik tiga kilo.


"Aku tahu-" Chika kembali menggoda Leo. "Kau pasti sedang menahan hasratmu untuk makan!".


"Jangan berbicara saat makan!" potong Leo.


"Katakan saja kalau itu memang benar," goda Chika sambil mengunyah.


"Kata-katamu seperti pisau yang menusuk ke dalam hati." Leo melontarkan kalimat mutiara berniat menggoda kekasihnya.


Chika membeo, "Pisau? Ayo pergi makan Bebek Peking saja kalau begitu! Tiba-tiba aku ingin memakannya!".


"Tak melanjutkan eksplorasi lagi?" tanya Leo seperti tak yakin.


"Tidak! Aku sudah mendengarkan ceritamu sejak tadi, aku ingin makan saja!"


Chika terus mendesak Leo pergi meninggalkan area Kota Terlarang. Sedangkan, Leo, Pria itu tampak berkeringat dingin karena takut diajak makan.


"Aish, dietku akan gagal kali ini!"


*


*


Author mau memperkenalkan kalian pada visual protagonist dalam cerita ini sebagai tokoh utamanya.


Chika Arabella Wilson



Xu Changyi Leonardo