
Goal! Akbar menang lagi. Cewek angkuh itu ada dalam genggaman. Mau sok jual mahal sama Akbar? Kau terlalu naif, Nona. Kau tak akan bisa lepas dari jeratan pria penakluk sepertiku. Aku akan membuatmu mengemis, meminta cintaku setelah ini. Kita akan lihat nanti! Berani sekali kau mempermalukan aku berkali-kali!
Rasanya sangat luar biasa! Kemenanganku kali ini terasa sangat istimewa. Setan dalam diriku sedang berpesta pora. Iyah! Merayakan keberhasilan sempurna.
"Akbar."
"Masuk!" Ah, mengganggu saja.
"Om mau keluar kota. Nitip piaraan di rumah, ya. Ini kunci rumahnya. Tangkap!"
Hap! "Oke, Bos!" Lelaki yang usianya hanya selisih lima tahun dariku itu menghilang lagi ke balik pintu kamar. Kugenggam kunci rumah adik bungsu ibuku itu dengan erat.
*****
"Rumah siapa ini?"
"Omku. Dia lagi keluar kota. Ada burung kakatua dan yang lain di belakang. Mereka harus dikasih makan. Aku sudah biasa mengurus piaraan Om-ku kalo dibutuhkan. Yuk, masuk!" Kugandeng tangan Syaira.
"Mau duduk di sini ato ikut ke kandang?"
"Aku mau liat burung-burung itu." Syaira membuntutiku.
Ia tampak asyik memerhatikan burung murai batu, anis merah, kakatua, lovebird, panca warna hingga kacer.
"Minumlah." Kusodorkan segelas es jeruk manis.
"Terima kasih."
Senyumnya makin membuatku terpesona. Dagu belah itu menambah kecantikan doski. Ah, Syaira memang tampak berbeda. Mengapa auranya bisa begini kuat, membuat aku ingin selalu menyentuh? Geletar-geletar yang selalu menggoda ini selalu meneror tiap waktu. Imanku beneran diuji saat bersamanya. Rasanya begini ... ughhh!
Tergeragap. Coba mengusir pikiran kotor dari otak. Kugelengkan kepala kuat-kuat. "Oiya sampe lupa. Aku ambil dulu makanan mereka, ya."
Kuperiksa lemari kecil di sebelah kamar mandi belakang. Ah, ini dia! Kudengar suara Syaira memanggil.
Aku menoleh. "Ya?"
"Aku mau duduk di ruang tamu aja, ya. Kepalaku tiba-tiba pusing."
"Kenapa?"
"Nggak tau."
"Ya, udah. Aku antar kedepan, ya." Ia hanya mengangguk sambil memijiti kepalanya sendiri.
"Rebahan aja biar lebih nyaman." Kuangkat kedua kakinya agar selonjoran di sofa. Kepalanya aku ganjal dengan bantal sofa. Beberapa detik kemudian, matanya sudah terpejam.
'Ini saatnya. Rencanamu berjalan lancar, Bar. Lakukan! Dia sedang tak sadar. Buat dia mengemis cintaku setelah ini.' Setan dalam diriku bersorak girang. Terus mengipasi hatiku. Iya! Ini waktu yang tepat. Merenggut mahkota seorang gadis adalah cara paling jitu untuk membuatnya bertekuk lutut.
Iblis telah benar-benar menguasai akal dan hatiku. Sayang sekali menyia-nyiakan kesempatan bagus ini. Tubuh mulus itu harus aku kuasai! Perlahan, aku duduk di sebelah tubuh Syaira yang terbaring. Mataku liar menyapu seluruh tubuh indah itu. Darahku menggelegak hebat. Napas mulai terasa berat. Kusentuh pipinya, tak ada reaksi. Bagus! Doski sudah benar-benar tak sadarkan diri setelah meminum es jeruk yang kububuhi obat tidur. Dendam ini harus kau bayar, Syaira!
Gemetar mengusap wajahnya. Kukecup sekilas bibirnya. Dingin. Jemariku mulai merabai lehernya dan terus turun hingga dada. Baru kali ini aku melakukan pada seorang gadis yang sedang tak sadar.
'Pengecut! Laki-laki macam apa kau ini?! Beraninya memecundangi seorang gadis dengan cara menjijikkan begini!' Suara itu ... menyambar telingaku dengan sangat telak!
Tanganku mengambang di udara saat hendak melepaskan ikat pinggang di tubuh Syaira. Tangan tremor dengan hebatnya. Keringat dingin mulai membasahi wajah dan tengkuk. Mataku yang semula nyalang perlahan terasa perih dan memburam. Ya, Tuhan! Apa yang aku lakukan?! Suara barusan serasa menampar, menghunjam jantung. Aku memang playboy, tapi bukan pengecut! Aku tak serendah ini!
Dadaku yang semula bergolak penuh nafsu perlahan terasa sesak. Kutemukan kesadaran kembali. Terngiang, bagaimana pesan ibu dan adik Syaira. Mereka percaya padaku untuk menjaga gadis kebanggaan mereka. Apakah pesan tulus seorang ibu, tega aku nodai dengan cara kotor seperti ini?
Aku juga punya adik perempuan yang jauh dari keluarga. Menggeleng kuat, tak berani membayangkan jika hal ini juga menimpa adikku. Tidak! Aku tak boleh melakukannya! Kupandangi lagi wajah cantik di depanku ini. Wajah tegar seorang wanita sebagai anak sulung, menggantikan tugas ayahnya sebagai kepala keluarga. Bukan tanggung jawab ringan. Bukan amanat main-main. Apakah aku sanggup sekejam itu untuk menghancurkannya begitu saja hanya demi keegoisan semata?
Tidak!
Aku tak sehina itu! Tubuhku gemetar dengan kerongkongan nyeri. Perasaan bersalah begitu kuat menyergap. Perlakuan Syaira dulu padaku, karena memang salahku sendiri. Ia hanya membela diri saat merasa terancam. Bukan salahnya! Akulah yang salah! Akulah yang telah mempermalukan diri sendiri!
"Maafkan aku, Syai ... maafkan aku." Tulang-tulang serasa dilolosi satu-persatu. Tubuhku lunglai melorot ke lantai. Tersimpuh. Hawa dingin terasa mencekam. Kugenggam tangan kanannya dan menciumi dengan perasaan campur aduk. Dada serasa terhantam palu godam. Sakit sekali! Kurasakan pandangan makin buram tertutup oleh airmata yang berdesakan minta keluar.
Tak bisa kupercaya! Akbar yang pongah ini menangis demi seorang Syaira? What is this? Hah, tak pernah aku menangisi wanita mana pun sebelumnya ! Ini ... untuk pertama kali air mataku tumpah demi seorang wanita?
"Kau memang hebat, Syai. Dalam keadaan tak berdaya begini pun, kau masih mampu memecundangi aku. Selamat, Syaira. Aku kalah. Aku mengaku kalah. Kaulah yang justru telah membuatku bertekuk lutut. Aku telah berada di kakimu. Bangunlah! Lihat sekarang! Aku benar-benar berada di kakimu saat ini. Tertawakan saja aku. Tertawalah sepuasmu."
Tak bisa lagi menahan sesak di dada. Kepala berdenyut hebat. Sesenggukan lirih menciumi kaki Syaira. Sungguh! Tak bisa kupercaya ini! Obsesi untuk menaklukkannya telah berubah menjadi bumerang buatku. Meleset dari prediksiku semula. Ternyata ... aku sungguh menyintaimu! Untuk berbuat sejauh itu, aku tak sanggup. Kau terlalu berharga untuk dirusak. Aku tak tega melakukannya. Tak sampai hati. Aku janji ... tak akan merusakmu! Aku berjanji padamu, Syai!
Setelah puas melepas beban di rongga dada, kucoba mengumpulkan tenaga lagi untuk bangkit. Kukecup dalam-dalam kedua mata dan dahinya. Mengusap penuh sayang kedua pipi halusnya. Ah! Hati terasa lebih tenang sekarang. Bersyukur tak mengikuti setan yang menghuni sebelah hatiku.
"Tidurlah! Aku beri makan burung-burung itu dulu, ya." Kuusap lembut dahinya sesaat sebelum kembali ke belakang.
Tiba di depan kandang, aku terbengong. Kok ... lovebird dan panca warna tergeletak begitu? Apa mereka mati? Panik kubuka kandang. Memegang dua burung itu dan kuperhatikan. Syukurlah tidak mati. Sepertinya hanya tertidur. Tidur? Tunggu! Kuperiksa tabung tempat minum kedua burung itu. Kok ... warnanya kuning cerah? Seperti ....
Deg!
Dari ekor mata, kutangkap ada bayangan berdiri tegak di tengah ambang pintu ruangan, antara dapur dan area kandang burung. Spontan aku menoleh dan menelan ludah.
Syaira? Aku membelalak tak percaya. Tegang. Lutut gemetar dengan leher terasa kaku. Menelan ludah, perlahan aku bangkit. Syaira masih berdiri di ambang pintu dengan ekspresi dingin. Bergantian, kupandangi dua burung yang masih di tangan, juga tabung tempat minum kedua burung ini yang berwarna kuning cerah. Jadi?
"Ternyata ... kau lupa siapa aku. Lupa, apa ilmu yang aku pelajari. Lupa, apa pekerjaanku." Doski tersenyum samar sambil memainkan pisau lipat. Glek!
"Sya-Syaira ... Ini tidak ... tidak seperti ...." Terasa hilang sesaat nyawaku.
"Lain kali, kalo mau berbuat kriminal ... belajarlah dulu dengan benar. Kalo boleh aku kasih saran, pake trik lain saja. Trik barusan terlalu purba untuk kau gunakan padaku. Dasar bocah!"
Aku mundur saat Syaira menghampiri. "Bukan ... aku hanya main-main," tawaku sumbang.
"Aku berterima kasih padamu, karena pisau kesayanganku ini tak perlu memakan korban lagi," ujarnya menepukkan ujung pisau tajam itu ke pipiku. Tersenyum sesaat kemudian dilipat lagi dan dimasukkan ke saku jeans-nya.
Lengkap sudah kebodohanku! Berniat memecundangi, justru aku yang kembali jadi pecundang. Untuk kesekian kalinya, aku dipukul telak oleh wanita yang sama. Rasa malu yang menyergap, serasa jadi korban arakan orang sekampung. Memalukan!
"Mereka sudah bangun. Kembalikan ke kandang. Kalo sampe terbang keluar rumah, aku tak mau membantumu menangkap mereka."
Dengan wajah terasa panas menanggung malu level sepuluh, aku cuma bisa menuruti perintahnya. Mengembalikan ke kandang dua burung dalam genggaman.
"Syaira ...." Kudekati doski perlahan seraya waspada kalau tiba-tiba ada pukulan melayang.
"Ahhh ...!" Kusilangkan kedua tangan melindungi wajahku yang sangat berharga ini.
"Adawww!" Aku terbungkuk memegangi tulang kering kanan yang ia tendang secara tiba-tiba. Belum sempat hilang rasa nyut-nyutan, menyusul sakit mendera telinga kiri.
"Telinga ini mau aku bikin copot ato sekadar sobek, hmmm?!"
"Ampun ... ampunnn! Kapok! Gak lagi-lagi. Janji!" teriakku tanpa malu-malu. Duhhh ... sakit banget telingaku ditarik kuat begini.
"Hei, Bocah! Kapan kau berhenti bertindak konyol?"
"Tidak ... aku kapok. Beneran!" Segera kujauhi. Kalau ada cermin besar saat ini, mungkin bisa melihat ekspresiku sendiri yang mirip maling kepergok warga.
"Cepat selesaikan tugasmu! Aku mau pulang."
" Iy ... iya ... oke ... oke!"
****
Sudah tiga hari aku tak melihatnya keluar masuk kost. Ke mana dia? Apa masih marah padaku? Mencoba telepon tak pernah diangkat. Kirim chat via Line juga nggak aktif. Duh! Jinak-jinak singa ini, sih.
"Cuti dia." Jawaban Weni membuatku mengempaskan napas panjang.
"Kok nggak bilang-bilang, ya, kalo cuti?"
"Kalian sudah jadian?" selidiknya.
"Haaa?" Aku tak menyangka ditanya begitu.
"Oh eh ... hehehehe. Iya, sudah."
"Baguslah. Hati-hati saja sama dia." Senyuman wanita dewasa di hadapanku ini penuh misteri.
"Kenapa?"
"Senjatanya lengkap."
"Haaa?" Mulutku membulat.
"Alat untuk membela dirinya lengkap. Dia juga menguasai sedikit karate dan pencak silat."
Ajip!
"Kalo bukan kau, aku tak akan beritahu," bisiknya membuatku tambah jiper.
Pantesan! Gerak refleksnya cepet amat. Tuhan ... tolong aku. Ternyata yang aku cintai, cewek jagoan. Bisa ****** kalau aku sembarangan sama doski.
Uffff! Baru juga lima hari tak melihat juga mendengar suara Syaira, sudah bikin aku pusing. Pengin nyamperin langsung ke rumahnya, tapi aku sedang tak punya waktu luang. Kerjaanku di kantor lagi numpuk banget. Duh! Menunggu doski balik ke kost berasa kayak nunggu pengumuman kompetisi. Dingin meriang jantungan tak keruan.
"Halo, Sayangku?" sapaku bungah.
Ah! Girangnya aku. Akhirnya pada hari kedelapan, ia mengangkat teleponnya juga.
"Hmmm ...." Blaik! Dingin amat.
"Kapan balik?"
"Lusa."
"Kok, nggak bilang, sih, kalo cuti," protesku.
"Kan kamu nggak nanya."
Hhhrrr! Sabar, Akbar. "Kok nggak aktif Line-nya? Di telpon berjuta kali juga tak diangkat?"
"Mau nginterogasi apa survey, sih?"
"Dua-duanya," sungutku dongkol. Kangen yang telanjur membuncah membuat ingin marah aja.
"Kalo lagi cuti, aku selalu matiin aplikasi chat. Telpon tak penting juga tak kuangkat."
"Jadi ... aku tak penting buatmu? Jahat kau, Syai!" Sakit banget rasanya mendengar itu!
"Selama cuti, kau belum penting. Entar kalo sudah balik kerja, barulah kau penting buatku hahaha."
Sialan! Doski tertawa gila-gilaan seperti tak punya dosa aja. Iya! Dosa. Sudah membuatku kelimpungan, blingsatan, tak enak makan, tak enak tidur, apa itu namanya kalau bukan sebuah dosa? Ahhh ... sungguh! Rasa ini begitu menyiksa. Aku benar-benar kena batunya kali ini. Nggak ketemu, kangen. Ketemu, juga khawatir karena doski bisa tiba-tiba marah dan menyerangku.
Duh! Aku harus bagaimana? Bersamanya, kurasakan sensasi yang luar biasa bahagia sekaligus ... takut! Ngeri-ngeri nikmat gitu, deh.
"Lusa jam berapa? Aku jemput di terminal ya."
"Ihhh ... girangnya. Habis dapat cewek baru lagi, ya?"
"Jahat banget, sih?" Gile bener! Malah makin ngakak. Ah, tak apa. Aku suka kalau doski tertawa dibanding marah-marah. Kunikmati saja suara tawa seraknya sambil membayangkan, pipi bulat itu pasti memerah saat ini. Uhhh ... makin nggemesin.
"Kangen ...," cetusku spontan.
Hening. Tawanya langsung tak terdengar.
"Syaira-nya Akbar ... kok diem?"
"Sama."
"Sama apanya?" Mendadak ****.
"Kangen juga."
Klik! Tuttt ... tuttt ....
Loh, malah dimatiin? Hahaha ... pasti sedang malu doski. Ah, indahnya cintaku kali ini. Lebih muda tiga tahun darinya tak membuatku minder. Peduli apa! Yang penting aku cinta. Titik!