
"Ayo ke sana!" ajak Matthew.
Saat memasuki lorong, Anqio tak sengaja melihat punggung Chika dalam persembunyiannya.
"Matthew, kau duluan saja! Aku meninggalkan sesuatu di mobil, aku akan segera menyusulmu."
Matthew mengernyitkan dahi lalu kembali menyusuri lorong.
"Kau!" Anqio membungkam mulut Chika agar tak berteriak.
"Apa yang kau lakukan, hah?" sergah Anqio.
Mendadak, Chika kehilangan kata-katanya. Entah apa yang harus dikatakannya pada Anqio sekarang.
"Dengar, aku akan membantumu keluar dari sini. Tapi, bukan sekarang!" Anqio menarik kasar lengan Chika.
Anqio membawa Chika masuk kembali dari belakang gedung. Dalam perjalanan, tak henti-hentinya Anqio mengomeli Chika. Mereka nampak seperti kakak-beradik saja.
"Mengapa kau ingin membantuku?" tanya Chika.
"Itu karena-" Anqio diam sejenak, "Tempat ini tidak cocok untukmu!" lanjutnya.
"Lain kali, jangan gegabah! Ingat dengan siapa kau sedang berurusan! Meskipun Matthew segan padamu, bukan berarti dia tak bisa membunuhmu." Anqio menasihati gadis belia disampingnya.
Sudah bertahun-tahun bersama, tentu saja Anqio tahu betul bagaimana watak dan tabiat Matthew.
Mendengar itu Chika hanya menunduk, "Aku ingin cepat kembali," lirihnya.
"Untuk sekarang, diamlah di sana! Aku akan memikirkan cara mengeluarkan dari sini." Anqio berbicara pelan-pelan.
Dan untuk pertama kalinya, Anqio tersenyum pada Chika. Sudah sekian lamanya, dia tak pernah tersenyum lepas. Hari ini, hati dan perasaannya sangat lega. Selain mempertahankan posisinya, entah mengapa Anqio merasa tersentuh membantu Chika. Dia merasa, tak seharusnya Chika ada di sini. Yang notabenenya tak ada sangkut-pautnya dengan Matthew sama sekali.
"Gadis ini tak bersalah! Dia hanyalah seorang tawanan. Kau mengingatkanku pada adik perempuanku dulu,"
Anqio memiliki seorang Adik perempuan. Jika dia masih hidup, sudah seumuran dengan Chika. Sayangnya, Adiknya lebih memilih mati daripada menjadi bawahan dan tunduk pada Matthew. Kepalanya dipenggal didepan Anqio, sakit rasanya jika mengingat kejadian naas itu. Tak peduli, bagaimana cara Anqio membujuk adiknya, dia tak mendengarkan Anqio sama sekali.
"Aku merindukanmu, Adik" Anqio menghela napas panjang, dia memalingkan wajahnya ke samping.
"Kau kenapa?" tanya Chika
"Aku kelilipan, mungkin kemasukan debu. Jangan khawatirkan aku!" jawab Anqio mengelak.
Anqio ingin menumpahkan segala keluh kesahnya, ingin menangis mengeluarkan uneg-unegnya. Tapi, apalah daya. Dia dituntut untuk bersikap profesional dalam menjalankan tugasnya. Sekejam-kejamnya Anqio, dia juga manusia yang memiliki perasaan.
*
*
Xu Jun Hui menarik kursi, "Di mana Leo? Mengapa belum terlihat?" Dia bertanya pada sang Istri.
Xiao Bao Yu menjawab, "Aku juga belum melihatnya, mungkin masih tidur."
Jia Li berjalan menuruni tangga, dia sudah berpakaian rapih dan hendak sarapan.
"Jia Li, panggil Kakakmu sarapan!" titah Xiao Bao Yu.
"Ma, aku buru-buru." pungkasnya
Xiao Bao Yu menatap wajah sang Putri, "Patuh padaku, cepat panggil Kakakmu sekarang!".
Jia Li menghentakkan kakinya dengan keras, "Baik, Ma."
5 menit kemudian Jia Li kembali tanpa Leo di sampingnya.
"Kakak tidak ada di kamarnya. Sepertinya sudah pergi sejak tadi," lapor Jia Li.
Xu Jun Hui mengernyitkan dahi sembari bertanya-tanya pada Istrinya. Seharusnya mereka pergi bersama untuk menjemput Chika di luar kota. Namun, Leo justru sudah pergi sendirian.
"Apakah dia tahu tempatnya? Aku belum memberitahunya apa-apa."
"Kau makanlah dulu! Mungkin, Detektif Ma memintanya segera datang ke kantor polisi." bujuk Xiao Bao Yu meyakinkan Suaminya.
Leo Pov
"Berani-beraninya kau menyentuh gadisku!"
Aku bertekad akan menghabisi nyawa mereka semua setelah melihat video yang dikirimkan padaku pagi ini. Pria itu bahkan merobek pakaian Chika dan mencoba memperkosanya.
Percuma aku membayar mahal Detektif Ma, kasus penculikan seperti ini saja tak bisa dipecahkan. Sungguh tak bisa diandalkan! Hanya membuang-buang waktu dan uang saja.
Beruntung saja, aku sempat melihat lembaran kertas di kamar Papa saat dia mandi tadi. Walaupun aku tak tahu pasti di mana lokasinya. Setidaknya, gedung yang ada di dalam video aku hafal bentuknya.
Waktu yang tersisa hanya 7 jam lagi, sedangkan untuk mencapai kota Hebei aku harus mengemudi selama hampir 4 jam lagi. Itu artinya, aku memiliki waktu 3 jam menyelamatkan Chika. Belum juga harus mencari titik lokasinya. Ini semua benar-benar menguras emosiku!
Sekarang, mungkin Papa sedang menemui Detektif Ma dan juga kawan-kawannya. Bagiku, mereka tetap saja tidak becus! Sudah mau seminggu tapi tak kunjung mengungkap dalang dibalik kasus ini. Terserah Papa mau marah padaku, aku hanya tak ingin mereka melakukan hal lebih jauh pada Chika. Aku tak bisa menerima jika itu terjadi pada kekasihku!
4 jam kemudian..
Aku sudah tiba di kota Hebei, sekarang sudah pukul 11 menjelang siang. Namun, aku masih tak tahu kemana kakiku harus melangkah. Rasa haus mulai menyapa tenggorokan, aku berniat mampir di sebuah Swalayan untuk melepas dahagaku.
Sebuah mobil hitam baru saja tiba di depan Swalayan itu, empat orang berpakaian serba hitam keluar dari mobil. Mereka melewatiku begitu aku sedang berdiri di depan lemari pendingin. Aku bisa mendengarnya dengan jelas, mereka sedang membahas tentang sesuatu.
Bisa ditebak, orang-orang itu suka sekali pergi ke klub malam, dari cara mereka membicarakan wanita-wanita malam tanpa ada rasa berdosa. Namun, aku merasa pakaian ini seperti tak asing. Aku melihat ke arah mobil.
"Bukankah itu mobil yang menculik Chika?"
Aku segera membayar belanjaan dan berlari ke mobil. Tanganku meremas kuat setir mobil, menunggu mereka keluar. Aku akan mengikuti mereka, tempat itu pasti tak jauh dari sini.
"Tunggu aku Chika, aku datang menyelamatkanmu!"
10 menit aku menunggu, tapi mereka belum keluar juga. Sudah seperti wanita yang tengah berbelanja bulanan saja. Aku kembali meneguk air mineral dan mengunyah roti dengan cepat. Akhirnya, mereka keluar menenteng beberapa kantong plastik yang berisi belanjaan.
Aku mengikuti mereka dari belakang, namun pelan-pelan agar tak ketahuan. Beruntung, ada beberapa mobil bisa menyamarkan aksiku. Setelah hampir setengah jam mengemudi, mobil itu masuk ke dalam hutan-hutan. Sepertinya, di sanalah tempatnya!
*
*
"Chika? Sayang, bangunlah!" panggil Leo pelan-pelan.
Sudah waktunya makan siang, orang-orang Matthew sudah pergi berisitirahat. Leo memanfaatkan kesempatan itu untuk masuk ke dalam. Dia tak tahu, jika di ruangan itu ada CCTV yang sedang merekam aksinya.
"Siapa pria ini?" Anqio yang sedang berjaga di ruang operator mengernyitkan dahinya. "Jangan-jangan dia datang menyelamatkan gadis ingusan itu?"
Anqio bangun dan menonaktifkan CCTV di ruang tahanan. Tak lupa dia menyiramkan air pada kabel komputer agar tak diakses oleh orang lain. Anqio menyambar ponselnya lalu berlari keluar menuju ruang tahanan.
Saat ini, Matthew sedang pergi keluar menemui kliennya. Anqio tak takut ketahuan, sebab dia sudah menyiapkan seseorang yang akan dijadikan sebagai kambing hitam.
"Aku harus memanfaatkan waktu ini untuk mengeluarkan mereka dari sini, 20 menit lagi orang-orang itu akan segera kembali!"
Di ruang tahanan,
Anqio datang mengendap-endap sembari meletakkan jari telunjuknya di bibir. Leo mundur perlahan-lahan, dia tak tahu siapa gerangan wanita itu.
"Bantu aku membangunkannya! Aku akan melepas rantainya, lalu pakaikan dia ini!" Anqio melemparkan jaket pada Leo.
"Chika, ini aku bangunlah! Kita akan segera pergi dari sini, aku datang untukmu." Leo menepuk-nepuk pipi Chika.
Chika mengerjap-ngerjapkan matanya, pandangan masih kabur, nyawa pun belum terkumpul sepenuhnya.
"Leo? Kau-" Senyum merekah di bibir kecil Chika, "Kau datang menyelamatkanku?" tanya Chika.
"Apakah ada orang lain yang harus aku selamatkan di sini selain dirimu?" Leo memakaikan jaket pada kekasihnya.
"Ikuti aku dan jangan berisik!" titah Anqio.
Anqio membawa Chika ke belakang gedung, ada sebuah jalan pintas yang menuju jalan utama di sana. Sedangkan itu, Leo mengambil mobil terlebih dahulu yang dia parkirkan di samping gedung kosong tadi.
"Terima kasih telah membantuku, aku tak tahu bagaimana caranya membalas kebaikanmu." Chika memeluk Anqio.
"Pergilah! Aku harap kita tidak akan bertemu lagi," tutur Anqio penuh harap.
Leo sudah menunggu di dalam mobil, Anqio mendorong tubuh Chika agar segera masuk sebelum mereka ketahuan. Anqio melambaikan tangannya pada Chika, dia tersenyum manis sekali.
"Aku harap tidak ada yang terjadi padamu setelah kau membantuku."
Chika duduk termenung di dalam mobil. Leo menyodorkan sebotol air mineral padanya, bibir Chika kering sekali dan juga terlihat pucat. Mungkin dia kekurangan cairan selama disekap di tempat itu.
"Leo, cepatlah! Kita harus mencapai jalan utama, sedikit lagi Matthew akan kembali. Bisa saja dia menyusul kita kemari!" ucap Chika menegaskan. Dia terus melihat ke belakang, takut jika orang-orang itu menyusul mereka.
"Sayang, aku sudah mengemudi dengan cepat. Tenangkan dirimu ya," ujar Leo. Dia tak bisa fokus mengemudi kalau Chika terus berbicara, Yang ada dia akan ikut panik.
"Bagaimana aku bisa tenang, tempat itu sangat berbahaya! Aku tidak ingin masuk ke sana lagi," pekik Chika sembari menatap wajah Leo.
Leo menyapu pergelangan tangan sang kekasih, berharap semua kekalutan pikirannya segera reda. Dia pun khawatir, pasalnya orang itu bukan sembarangan. Lihat saja, berapa banyak penjaga di dalam gedung tadi. Meskipun Leo memiliki kemampuan seni bela diri, dia takkan mampu melawan orang sebanyak itu.