Love You Forever

Love You Forever
Chapter 31


Tiba-tiba lamunan Chika buyar mendengar bunyi pintu dibanting begitu keras oleh seorang pria, anak buah Matthew. Dalam keadaan mabuk, pria botak itu mencoba menciumnya.


Chika berteriak sekencang-kencangnya meminta pertolongan. Namun tak ada yang datang, dia semakin meronta-ronta menghadapi kebrutalan pria yang kemudian merobek pakaiannya. Tak mampu melawan, Chika terus berteriak berharap ada yang datang berbelas kasih padanya.


"Berhenti!" Suara Matthew menggelegar.


"Bos, aku hanya ingin jatahku! Bukankah aku boleh mencicipi tawanan?".


Matthew menghampiri anak buahnya, memegang kepalanya. "Sayang sekali, kau tak boleh menyentuhnya, berdiri di sana!" titah Matthew.


Orang itu menurut saja, Matthew mengeluarkan sebuah pistol dan bersiap membidik. Chika yang diam membisu kembali tenang. Dia mencoba mempelajari bagaimana teknik Matthew dalam menembak.


"Membidik menggunakan mata dominan,"


"Bagian depan dan belakang harus sejajar. Fokus pada senapan, perhatikan titik sasaran, konsentrasi dan-"


Duar!


Peluru mendarat tepat di kepala pria botak tadi, percikan darah mengenai jas hitam Matthew. Lelaki itu mengusap bekas darah yang sempat mengenai matanya.


Chika tercengang, "K-kau-" Matanya membelalak lebar.


Matthew melirik gadis di sampingnya, masih dalam keadaan syok berat.


"Aku bisa melakukan apa saja atas kehendak ku!" tutur Matthew seraya meninggalkan Chika.


*


*


Xu Jun Hui Pov


Teka-teki ini belum terjawab. Namun, sudah muncul yang baru, entah misteri apa memintaku segera menemukannya. Sudah berapa hari belum juga ada kemajuan mengenai penyelidikan kami. Aku berharap semuanya segera terungkap.


Menurut perincian Detektif Ma peristiwa ini seperti saling berhubungan. 10 tahun lalu, tepat pembunuhan Ayahku, sehari sebelumnya Beliau meminta bahkan mendesak kami agar segera pergi ke Australia dengan dalih mengurus bisnisnya yang hampir bangkrut. Tak disangka, dia justru menyelamatkan hidup kami sekeluarga.


Sayang sekali, aku belum menemukan siapa pelaku pembunuh Ayahku. Tapi, aku malah dituduh menghabiskan nyawa Ayahku sendiri hingga membuatku melepaskan pekerjaanku sebagai seorang Detektif. Sampai detik ini aku masih bertanya-tanya mengapa aku tak bisa menemukannya juga kasus-kasus ini seperti sulit untuk dipecahkan.


Lalu sekarang, Chika diculik oleh orang yang bahkan belum juga ditemukan siapa pelaku yang sebenarnya. Tersangka yang ditangkap kemarin ternyata bukanlah pelakunya. Hebatnya lagi, Chika juga diculik pada tanggal 7 April. Apakah pelakunya adalah orang yang sama? Kejadian ini nyaris membuat mataku sulit terpejam saat malam hari.


Dalam perjalanan tadi, Leo memberiku sebuah kotak. Ya, lagi-lagi harus dihadapkan dengan angka-angka misterius, (x'x281430). Lalu saat aku kembali, aku menemukan coretan-coretan huruf aneh di kaca mobil, (z-n-g-v)


"Lǎogong, mengapa kau belum tidur?" Istriku terjaga. Dia melihat ke arah jam, waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari.


"Aku tidak bisa memejamkan mataku, kau tidurlah!" ucapku seraya memeluknya.


Xiao Bao Yu membalas pelukanku dan kembali melanjutkan tidurnya. Tiba-tiba suara seseorang berteriak memanggilku. Rupanya putra sulungku itu belum juga tidur.


Aku bergegas keluar, ku biarkan Xiao Bao Yu dalam tidur pulasnya. Lalu membuka pintu, dengan tergesa-gesa Leo meraih pundakku.


"Pa, gawat! Orang itu kembali mengirimkan pesan padaku. Tapi, kali ini bukan kode rahasia lagi," Leo menyodorkan ponselnya.


"Segera pecahkan teka-teki itu! Jika kau ingin menyelamatkan kekasihmu, serahkan semua aset dan saham keluargamu. Waktu kalian hanya 12 jam. Jika gagal, aku akan memenggal kepalanya!"


Deg!


Mulutku menganga dan jantungku berdetak hebat setelah membaca pesan itu. Orang itu ternyata memang musuh keluargaku. Dia menculik Chika demi mengancam kami. Aku tak bisa menyerahkan semua harta milik kami padanya. Tapi, bagaimana dengan nasib Chika nanti.


"Pa, kau mau kemana?" Leo meneriaki ku dari belakang.


Tapi tak ku gubris sama sekali. Waktu kami hanya sedikit memecahkan teka-teki ini. Aku berlari ke kamar rahasia, berharap tiga kode rahasia segera terpecahkan dalam beberapa jam ke depan.


3 jam berlalu..


"Akhirnya!" Aku berdecak kagum. Melihat lembaran kertas berisi pecahan-pecahan kode rahasia dan sandi angka.


- 74148


- x'x281430


- zngv


Aku tersenyum lebar, "Jadi, di sana dia menyembunyikan Chika?"


Sandi angka yang pertama kali dikirimkan pada Leo adalah nama kota orang itu berada, Hebei. Meskipun aku terlambat mengetahuinya, setidaknya sekarang teka-teki itu sudah terpecahkan.


Dan mau tidak mau aku harus merelakan segalanya untuk membawa Chika kembali. Dengan langkah tertatih-tatih aku keluar hendak bersiap-siap mengurus semua perlengkapan sebelum pergi ke Hebei.


*


*


Di Hebei, kediaman Matthew.


"Lepaskan aku! Aku ingin buang air kecil," titah Chika pada penjaga.


Rantai dilepaskan, mereka masih mengikuti Chika dari belakang. Untuk berjaga-jaga jika tawanan penting milik bos mereka melarikan diri.


"Jangan coba-coba melarikan diri!" hardik salah seorang diantaranya yang dibalas anggukan Chika.


Chika berjalan menunduk, para penjaga lainnya melayangkan tatapan tajam padanya. Hingga tibalah Chika di dapur, toilet itu harus melewati dapur terlebih dahulu untuk bisa sampai.


Chika berbalik, "Biarkan aku pergi sendiri!" pintanya lagi.


Kedua penjaga itu hanya saling memandang, seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Apa kalian mau mengikuti aku sampai ke dalam?" Chika mendelik.


"Baiklah, tapi jangan lama-lama!"


Mereka keluar dan menunggu Chika di ruang makan. Setelah memastikan keadaan aman, Chika menaruh bubuk obat tidur di poci teh. Sebentar lagi, mereka pasti akan meminumnya, sebab teh itu masih sangat hangat.


Saat di bawa ke kamar Matthew, Chika tak sengaja melihat bubuk itu lalu mengambilnya beberapa untuk dia gunakan. Selang beberapa menit kemudian, terdengar suara langkah seseorang menuju dapur.


Chika bergegas pergi ke toilet dan mengintip dari balik pintu. Nampak, pria bertubuh kekar mengangkat nampan berisi teh dan segera pergi.


"Yes!" Chika mendesis. Sebentar lagi rencananya akan berhasil.


Dua penjaga yang mengantar dirinya tadi tak kembali, itu artinya obat sudah bekerja dan pasti mereka sedang tertidur sekarang. Chika mengendap-endap sembari memperhatikan sekitar. Dia tersenyum puas mendapati orang-orang Matthew tak sadarkan diri.


"Selamat tinggal!" gumamnya.


Dia berlari mencari pintu keluar, seingatnya sedikit lagi pintu itu akan terlihat dan dia hanya perlu berjalan beberapa langkah lagi untuk menggapainya. Napas Chika terengah-engah melalui lorong sempit nan gelap.


"Semoga saja mereka tidak akan bangun," lirihnya penuh harap.


Namun tiba-tiba..


"Anqio!" panggil Matthew.


Spontan Chika bersembunyi, jantungnya berdegup begitu kencang. Bagaimana jika Matthew melihatnya? Perasaan was-was sejak tadi kini semakin bertambah.


"Bagaimana dengan gadis itu? Apa kau sudah memberinya makan?" tanya Matthew begitu Anqio menghampirinya.


"Of course, Babe ! Meskipun hanya sedikit," jawab Anqio berbohong, padahal Chika memang tak mau makan. Dia terpaksa berbohong menghindari kemarahan Matthew.