Love You Forever

Love You Forever
Chapter 30


Di dalam keheningan malam, Xu Jun Hui masih bergelut dengan kegundahan hatinya. Di kamar rahasia dia mencoba memecahkan kode rahasia, berbekal kemampuan pada masa lampaunya sebagai seorang Detektif.


Di sisi lain, Leo mencoba memasuki kamar Kakeknya berharap mendapatkan petunjuk di sana. Suasana kamar yang sudah tak ditempati memang memiliki hawa dan juga aura yang berbeda.


Tak lupa dia mengunci pintu agar tak ketahuan. Pasalnya, setelah Tuan Besar Xu meninggal, Papanya selalu melarang siapa pun masuk ke sana. Bahkan dalam hal membersihkan sudah di ambil alih olehnya.


Leo membongkar semua lemari dan laci-laci, ditelitinya, pasti ada sesuatu di kamar Kakeknya. Dia mulai merasa merinding ketika angin berhembus menyapu pergelangan tangannya. Kamar itu adalah bekas pembunuhan Kakeknya yang terjadi 10 tahun lalu.


Gedebug!


Tiba-tiba, pajangan dinding di kamar Kakeknya terjatuh dan membuat Leo terperanjat.


Xiao Bao Yu spontan menghentikan langkahnya dan menoleh sembari menajamkan pendengaran.


"Kenapa Jun tak mematikan lampunya? Sangat tidak terpuji, selalu saja membuang-buang listrik!" Xiao Bao Yu berdecak kesal lalu segera meninggalkan tempat itu.


"Syukurlah, Mama sudah pergi. Hampir saja," Leo menghela napas panjang.


Tak kunjung mendapatkan apa yang dia cari, Leo duduk di atas ranjang mengusap peluhnya. Tak ada hal istimewa yang dia temui selain foto-foto kenangan milik Kakek dan Neneknya. Setelah itu dia berdiri, berniat pergi. Tak sengaja kakinya menginjak sebuah kotak kecil berwarna hitam di bawah kolong ranjang.


"Apa ini?" Leo meraihnya.


Perlahan-lahan dibuka, sebuah kain putih nampak seperti menyembunyikan sesuatu. Dan terdapat kode rahasia di belakang foto seorang pria. Angka-angka seperti dalam pesan misterius yang pernah dikirimkan padanya.


"D-dia adalah-" Leo membelalakkan matanya.


Dia bergegas pergi meninggalkan kamar itu untuk mengamankan bukti di tangannya sebelum Ayahnya kembali.


"Mengapa foto ini ada di kamar Kakek?" Tak habis-habisnya Leo bertanya pada dirinya.


"Aish, mengapa harus seperti ini!" Leo mengacak-acak rambutnya. "74148, apa maksudnya? Aku tak menyukai hal yang berkaitan dengan angka. Bahkan nilai Matematika ku saja tidak bagus, bagaimana aku memecahkan angka-angka ini," protesnya.


Bugh!


Leo menabrak sesuatu di depannya. Dia mendongakkan kepalanya melihat benda apakah itu.


"K-kakek? Bukankah kau sudah mati, bagaimana bisa-" Belum sempat Leo meneruskan bicaranya, sebuah tamparan mendarat di pipinya.


"Bodoh! Ini aku, apa yang sedang kau lakukan malam-malam begini?" Ternyata itu adalah Papanya.


Leo cengar-cengir, "Oh, aku menjatuhkan sesuatu di sekitar sini. Tapi, sekarang sudah menemukannya," dia menunjukkan kunci mobil yang sedang dia pegang.


Xu Jun Hui menatap Leo dan juga ke arah kamar Tuan Besar Xu secara bergantian.


"Istirahatlah! Besok harus melakukan penyelidikan kembali," titah Xu Jun Hui.


Esok harinya..


Detektif Ma menelepon Leo, memberitahu jika tersangka sudah ditemukan dan tim Investigasi akan bersiap melakukan penyergapan.


Leo dan Papanya segera berangkat tanpa melanjutkan sarapan yang sedikit lagi mau habis. Di depan pintu sudah menanti hadiah misterius. Karena terburu-buru, Leo langsung memasukkannya ke dalam saku celana. Benda itu kecil sehingga muat di sakunya.


*


*


"Seorang Intel yang sudah ditugaskan telah mendapatkan informasi orang ini. Setelah dilakukan penyelidikan, dia ada di tempat kejadian." Detektif Ma menunjukkan bukti rekaman CCTV.


Pria berjaket hitam dan juga penutup kepala nampak mencurigakan. Berdiri tepat di samping mobil pelaku penculikan. Namun, entah mengapa Leo tak yakin jika pria itu adalah pelakunya. Dia hanya fokus ke wajah Detektif Ma dan memperhatikan ekspresi Lelaki yang lebih tua dari usia Papanya.


"Hasil laboratorium sudah keluar, sidik jari teridentifikasi adalah miliknya." Detektif Ma menyodorkan selembar kertas putih pada Leo.


"Dia adalah penyelundup narkoba yang mulai merangkap pada aksi penculikan wanita untuk diperjualbelikan," jelas Detektif Ma kembali.


Setelah pertemuan selesai, Buru Sergap yang ditugaskan sudah turun menuju kediaman tersangka atas penculikan Chika. Rumahnya sudah di kepung, saat itu dia baru saja bangun tidur. Tak disangka paginya malah disambut dengan kedatangan orang-orang yang akan membawanya ke kantor polisi. Bukti-bukti pun turut di amankan, dua buah tas besar berisi narkotika dan satu senapan akan menjadi bahan penyelidikan lebih lanjut.


*


*


"Duduk!" titah Matthew pada Chika.


"Aku tidak akan menurut padamu!" pekik Chika.


"Jangan membuat kesabaranku habis, Nona!" ucap Matthew menegaskan.


Matthew membuat Chika duduk di atas sofa dalam kamarnya. Dres Chika sedikit tersingkap pada paha, lalu robek di bagian lengan. Spontan gadis itu melindungi tubuhnya agar tak disentuh oleh Matthew.


"Tetaplah di sana!" Jeritan Chika yang nyaring memenuhi ruangan.


Matthew menutup kedua telinganya, lelaki kelahiran tahun 1970 itu mendekati Chika sembari meneguk segelas bir.


"Mau tahu mengapa kau di sini?".


"Sebentar lagi, kau akan menjadi milikku!" serunya dengan wajah sumringah.


Chika berteriak, "Aku bukanlah milikmu dan tidak akan pernah menjadi milikmu! Lepaskan aku! Aku tak punya urusan denganmu, mereka sedang mencariku. Biarkan aku pergi!".


Dada Matthew bergemuruh menahan diri meskipun ingin rasanya menampar wajah gadis dihadapannya. Namun, dia sadar, Chika adalah gadis istimewa baginya.


Plak!


Plak!


Dua tamparan mendarat di pipi Matthew, mukanya memerah, nampak bekas tangan di wajahnya yang putih dan bersih.


"Lelaki ini-" Chika terkejut sekali, "Dia temperamen," lanjutnya.


"Mengapa kau tak pernah kembali padaku dan lebih memilih pria lain, hah?" Matthew meremas kuat pundak Chika.


"A-aku, aku menunggumu selama bertahun-tahun! Kau tahu bagaimana rasanya menahan kerinduan yang amat mendalam ini? Aku tersiksa!".


Chika bergeming dan terdiam sesaat. Tak paham dengan perkataan lelaki yang diucapkan terus-menerus padanya.


"Aku berjanji padamu, aku akan menikahimu secepatnya," Matthew menggenggam tangan Chika.


Chika langsung menepis, "Jauhkan tanganmu dariku!".


Matthew menatap nanar gadis yang bahkan enggan menatapnya.


"Ahwei, k-kau? Mengapa kau berubah? Begitu cepat kah kau melupakan kenangan kita?".


Chika membatin, "Siapa Ahwei? Orang ini aneh sekali!".


Matthew tak tahu jika seseorang sedang mendengarkan percakapan mereka dari balik pintu. Ya, Anqio. Wanita dengan cat eyeliner, dia adalah kekasih Matthew. Seorang penyelundup narkoba yang pernah bermasalah dengan Matthew. Dia ditangkap dan terpaksa menyetujui tawaran Matthew menjadi kekasihnya untuk bertahan hidup.


"Jadi, benar. Matthew ingin menikahi gadis ingusan itu, pantas saja dia selalu melindunginya. Tak boleh di biarkan, aku harus menggagalkan rencananya." Anqio menggeram. Keberadaan Chika akan mengancam posisinya saat ini.


*


*


Chika kembali di sekap di ruang tawanan yang gelap nan sempit tak beralas. Hanya ada sebuah kursi sebagai tempat dia duduk dengan rantai yang mengikat tangan dan kakinya. Tak lupa CCTV untuk mengawasi gerak-gerik Chika.


"Lagi dan lagi," keluh Chika.


Tempat gelap itu mengingatkannya pada kenangan buruk masa kecil waktu dia berusia 12 tahun. Bayangan-bayangan Bibinya yang menyiksa dirinya bagaikan kemasukan setan.


Diinjak, ditendang, diberi makan makanan kucing. Hukuman yang diberikan Bibinya pun berlangsung selama tiga hari. Hanya karena Chika melawan kakak kelas yang sudah merundungnya di sekolah.


"Kau sungguh anak yang tak tahu berterima kasih. Apa ini caramu membalasku? Kau ingin membuatku malu didepan orang-orang itu, Chika Arabella?"


"Masih untung aku mau menampung dirimu!".


"Tapi, mereka yang memulainya, Bibi!" ucap Chika membela.