
Waktu terus berlalu,namun keberadaan Vasya Vladimir seolah lenyap tanpa jejak.Tuan Adrian Slavovic sudah mengerahkan segala daya dan upaya namun hasilnya nihil.Hingga suatu hari,jasad remaja di temukan,dan di pastikan oleh pihak kepolisian sebagai jasad Vasya.Pakaian yang di kenakan sama,Tinggi dan berat badan 99% sama.Hanya tak bisa di kenali karena kondisi wajah sudah rusak.
Tuan Adrian pun menghentikan pencaharian.Akan tetapi,sejak Abian mendengar kisah tersebut dari ayahnya,Abian merasa kalau sepupunya itu masih hidup dan akan menimbulkan dampak besar dan berbahaya di kemunculannya kelak.Dan firasat Abian benar,oleh sebab itu ia telah mempersiapkan segala sesuatu kemungkinan nya.
Abian menghela nafas,sekilas kisah sejarah keluarganya menghantui fikirannya.Terlebih ia sudah mendengarkan laporan anak buahnya tentang pergerakan Vasya dan keadaan Vasya yang menjadi bak monster berwajah malaikat.Kekhawatiran akan keselamatan orang-orang terdekatnya,membuat ia harus membuat keputusan dan langkah yang tepat.
Abian melihat jam mewah merk R yang berlapiskan emas menunjukkan pukul tujuh belas lewat lima belas menit.Ia segera meraih jas nya dan Gadget yang berada di atas meja.Kaki nya melangkah tegas dengan rahang yang kokoh dan tatapan tajam menghunus ia berjalan menuju pintu keluar.Abian memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu sebelum menuju sebuah bangunan tepat jam sepuluh nanti malam.
Sedangkan Tasya sedang asyik memasak makanan kesukaan Abian,tidak ada pesan bahwa Abian menginginkannya.Hanya saja,Tasya ingin mençoba membuat pasta saos seafood asem manis pedas yang kata pak Pa'is adalah menu favorite Abian.
"Alhamdulillah..sudah masak semua.Sekarang aku mau icip-icip dulu.hmmm....." gumam Tasya, ia mengambil sebuah piring dan mengambil tiga sendok pasta dan satu ayam goreng krispi saos keju.Lalu ia menyendok pasta dan memakannya.
"hmmm..mmmh...enak...ga sia-sia aku belajar dari I-tube." gumam Tasya.Ia berniat menyendok lagi ke dalam piringnya.Namun,sebuah suara bariton menghentikannya dan membuatnya memucat dan langsung berdiri dengan wajah menunduk.
"Apakah kamu berniat menghabiskannya." ucap suara tersebut yang tak lain adalah Abian.
"Maaf tuan,ti..tidak..sa..saya kira tu..tuan tidak datang hari ini." ucap Tasya gugup.
"Heh...kamu ini, ambilkan untuk saya."titah Abian seraya duduk di kursi yang khusus untuk dirinya saja.
"a..apa tuan? Eh...ba..baik tuan." Tasya menjadi sangat gugup dan salah tingkah.Terlebih Abian selalu menatapnya tajam penuh arti.
Perlahan Tasya mengambilkan Abian setengah porsi pasta untuk Abian.
"Tuan mau pakai ayam goreng krispi?"tanya Tasya pada Abian.
"Nanti.saja,setelah saya memakan Pasta ini...hmmm." ucap Abian seraya menatap Tasya.
"Kamu duduk dekat saya makannya." ucap Abian seraya menunjuk kursi yang dimaksud.
"Taaa...pi tuan..sa....ba..baik,tuan." Tasya tidak jadi membantah karena sorot tajam Abian.Tasya mengambil piringnya dan duduk di kursi sisi kanan dekat Abian
"Duh,kenapa tuan berhenti mengunyah...jangan-jangan gak enak." batin Tasya,ia menunduk dengan tubuh agak gemetar.Tangan kiri nya yg berada di bawah meja mengepal menahan rasa takut.
Sikap Tasya tentu tak luput dari perhatian Abian.Ia sengaja berhenti lalu memasang wajah masam.Senyum smirk tersungging tipis saat melihat Tasya menunduk.
"Mau sampai kapan kamu menunduk,makananmu keburu basi kalau tidak segera kamu makan." ucap abian seraya berdiri dan menuju wastafel.
Tasya mendongakkan kepalanya,dan bola matanya membesar dengan ekspresi senang,karena pasta yang ia buat habis di lahap sang Tuan bahkan pasta yang berada di piring kaca bening pun sudah habis.Ia menatap Tuannya yang baru saja mengeringkan tangannya dengan pengering tangan.Dan saat yang sama Abian menatap Tasya lewat cermin yang berada di dinding atas washtafel.
"Pasta buatanmu lezat,saya suka." ucap Abian
Seakan faham tatapan Tasya.
Tasya tersenyum bahagia,wajahnya nampak sumringah.
"Gadis ini...sangat menggemaskan." batin Abian.Ia lalu mendekati Tasya dan berdiri di belakang Tasya.Jantung Tasya berpacu,seilah-olah habis jogging berkilo-kilo meter.
"Tuhan,kenapa tuan mendekatiku..duh mana harumnya itu loh." batin Tasya.
"Cup..."
"Hah." Tasya membeku seketika ketika merasakan pipinya baru saja di kecup.
"Habiskan makananmu,setelah itu berkemas,bawa semua keperluan dan kebutuhanmu." Ucap Abian seraya berjalan keluar dari ruangan makan.
"Hah..ta..." ucapan Tasya terhenti karena tubuh Abian sudah menghilang.
"Apakah aku di pecat? Tapi...bukannya tuan suka masakan aku.Apa aku buat salah?" Tasya bermonolog dengan ekspresi bingung.
"Baiklah...apapun itu,aku ga bisa apa-apa." ucap Tasya seraya menghabiskan makanannya dengan cepat.