
"Tengil gila ...!"
"Syaira ...!" Aku terlonjak dari tepi ranjang seolah mendengar pekikan penuh amarah itu tepat di telinga.
"Ada apa, Bar?" Ibu menoleh.
"Syaira ...." Jantung berdentum kuat. Kupandangi tiap sudut kamar.
"Akbar ... di sini tak ada Nak Syaira. Kau akan resmi menikahi Lena sejam lagi."
Kulitku terasa dihunjami ratusan jarum. Nyeri sekali! Langkahku surut ke belakang. Terduduk kembali ke tepi ranjang. Lunglai. Ingin sekali aku pergi dari tempat ini dan menemui Syaira.
"Bar ...." Tatapan sedih Ibu membuatku tak bisa menahan diri lagi.
"Bu ...." Kupeluk tubuh padat ini dengan erat dan meremas kebaya bagian punggung. Sesak napas. Jantungku terasa jebol. Ingin menangis, tapi malu. Sedih ini kutahan mati-matian sejak dua minggu lalu.
"Mungkin kalian tak berjodoh. Sabar, Nak. Jadilah lelaki yang berani bertanggung jawab atas apa yang telah kau perbuat."
Brakk! Pyaaarrr!!
"Suara apa itu?" Sontak kujauhkan diri dari Ibu dan melotot tegang.
Ibu angkat bahu kemudian bergegas keluar kamar. Kini aku sendiri di kamar ini. Di rumah Lena, gadis yang pernah singgah dihidupku selama dua tahun. Singkat memang. Namun, dengan bangsatnya, gadis yang tak sungguh-sungguh kucintai itu memorak-porandakan mimpiku bersama Syaira! Brengsek!
"Bar ... Akbar...!" Ibu tergopoh masuk kamar lagi.
"Ada apa? Suara apa tadi?" tanyaku penasaran. Ibu tampak ragu menjawab.
Tak sabar, aku bergegas keluar. Terhenyak. Kulihat kaca berserakan dengan pigura besar yang patah teronggok di lantai teras. Potret preweeding-ku dengan Lena yang setinggi satu meter itu telah rebah tertutupi pecahan kaca. Beberapa anggota keluargaku dan keluarga Lena berdiri mematung. Wajah mereka tegang melihat ke arahku.
"Apa-apaan ini?" teriakku marah entah pada siapa
"Mas ...." Aku tak memedulikan Lena yang menghampiri. Gadis manis itu sudah siap dengan kebaya dan riasan pengantin.
"Tidak tahu, Mas. Tadi tiba-tiba ada angin kencang. Foto preweednya jatuh dan pecah," jawab seorang pria muda yang kutahu itu salah seorang sepupu Lena.
"Sudah, tak apa! Jangan berpikiran aneh-aneh. Ini hanya kebetulan saja." Bapak membubarkan kerumunan.
Ibu menggandeng lenganku seolah memaksa untuk segera masuk kamar lagi. Lena yang tampak kebingungan juga kembali masuk ke kamarnya.
"Apa artinya, Bu?" Aku merasa ada hembusan angin aneh menerpa tengkukku.
"Tapi foto besar itu jatuh setelah aku mendengar suara Syaira barusan."
"Akbar ... Itu hanya kebetulan. Tak ada hubungannya dengan Nak Syaira." Ibu berusaha meyakinkan dengan mengelus kedua pipiku.
"Tidak! Syaira sedang marah besar saat ini, Bu. Dia pasti sedang mengutuk dan menyumpahiku! Akbar tau persis bagaimana Syaira jika di puncak amarah!"
Rasa takut begitu mencengkeram jiwa. Perasaanku tak enak. Serasa hal buruk sedang mengintai di depan sana. Sang kegelapan menanti dengan mulut iblisnya yang menganga. Siap mengunyahku mentah-mentah.
"Akbar, dengar Ibu!" Diguncangnya kedua lenganku kuat. "Kau ... akan menikah dengan Lena. Kau sendiri yang membuat surat perjanjian itu di atas materai dengannya ... di hadapan orangtua Lena dulu. Ibu saja tak tahu soal itu. Jadi sekarang ... lakukan sesuai isi perjanjian. Ibu dan Bapak tak bisa menolongmu. Jalani ini semua dengan ikhlas. Kau dengar Ibu 'kan?"
Aku tak ingin menjawab apapun. Pikiranku terus tertuju pada Syaira. Sedang apa gadisku itu sekarang? Apakah doski baik-baik saja setelah menerima sms dariku?
[Maafkan bocah brengsek ini, Syai. Aku tak minta apapun darimu. Hanya doa restu yang kuharapkan, agar pernikahanku lusa berjalan lancar. Terima kasih atas hari-hari indah bersamamu. Aku mohon, maafkan aku. Tapi, aku berani memastikan satu hal padamu, bahwa hatiku akan selalu milikmu. Dari bocah jahil, brengsek, mesum, juga ******** ini.]
Kubaca lagi deretan kalimat yang kukirimkan pada Syaira dua hari lalu. Sungguh! Aku mengirim pesan ini dalam kondisi tertekan. Dalam tekanan hebat yang aku sendiri tak berdaya untuk melawan.
Ampuni aku, Syai. Tak bisa menolong diriku sendiri untuk keluar dari situasi ini. Sudah telanjur menandatangani surat perjanjian itu dan tak bisa mengelak lagi. Namun, percayalah. Cintaku hanya untukmu. Selamanya ....
Aku yang salah. Terlalu gegabah menandatangani surat perjanjian yang bisa menyeretku ke penjara jika mengingkari.
Sial!
Kenapa aku dulu selugu itu? Jika aku mengelak, tetap saja tak bisa hidup dengan Syaira. Pertaruhan ini teramat besar untuk nama baik keluarga, karierku di pemerintahan sekaligus image Syaira sendiri.
Mungkin ini termasuk egois. Menyelamatkan diri sendiri dengan melukai Syaira-ku di banding memperjuangkan cinta kami. Tak apa. Semoga ada cara lain untuk membuat hangus perjanjian brengsek itu, kembali pada Syaira, dan menyelamatkan muka keluargaku.
Prosesi akad nikah kujalani dengan apa adanya. Senyum hanya sebagai topeng selama acara berlangsung. Tak urung, suasana mencekam masih saja terasa kala angin kencang sesekali ikut hadir, sedikit membuat kami harus waspada.
Entah, darimana asal angin misterius itu. Apakah tamu tak diundang itu kiriman Syaira yang saat ini pasti terluka hebat.
"Mas ...."
Aku tergagap. Lena merangkul lengan kiriku manja. Senyum lebarnya bagiku terlihat seperti sebuah ejekan dan tanda kemenangan. Ia berhasil menyeretku ke depan penghulu dengan meminjam kekuasaan orang tuanya. Sumpah! Aku muak dengan gadis ini.
"Kok ... mukanya gitu?" Dicubitnya pinggangku genit.
Hanya menyeringai. Malas meladeni Lena yang telah resmi jadi istriku. Otakku dipenuhi sosok Syaira. Teriakan marahnya serasa meneror telinga. Tatapan sinisnya seolah menusuk bola mataku. Ah, dia sadis, tapi aku memujanya setengah mati.