
"huosh....hosshh....hoossshhh...hufff ..syukur bisa lolos." ucapnya pelan.Ia membungkukkan diri dan tangannya di pinggang dengan posisi agak merunduk.Tiba-tiba ia merasa hawa dingin di sekitarnya.Ia bergidik ngeri.
"Apakah Tuan Malaikat itu tau dan marah.?" batin lelaki itu.Ia menegakkan badannya dan bermaksud berjalan.Namun,ia terkejut saat mendongak.Wajahnya memucat pasi dan bibirnya bergetar,seketika hawa dingin menelusup di sekujur tubuhnya,ia menggelepar bagai ikan yang akan mati.Perlahan,tubuhnya menggerus matanya membola.Tak lama tubuh itu mengering itu menggelepar dan tewas.
Tak jauh dari sana,sesosok putih memperhatikan .Seringai tajam dan mematikan terukir di wajah super tampannya.
Sosok yang tak lain adalah Vasya mendongak menatap langit malam kelam.Ia memejamkan mata,sekelebat bayangan masa lalu yang terjadi di depan matanya melintas di memori terdalam nya.Tetesan bening bak kristal bergulir di sela sudut mata indahnya yang almond.
"Tuan." seorang anak buah nya membuyarkan lamunannya.
"Bagaimana?." ucapnya datar dan dingin.
"Mereka berhasil membawa gadis itu." ucap sang anak buah.Senyum tipis menungkik di sudut bibir Vasya Ia lalu menatap rumah orang tua Tasya.Dimana saat ini,Abian dan ibu dari Tasya serta RT masih berdiskusi.Tak lama,nampak Abian berlari keluar dan berteriak atas sesuatu,ia terlihat panik saat memasuki mobilnya dan mengendarai kendaraan mewah tersebut dengan buru-buru,satu mobil anak buahnya mengikuti dari belakang,juga melakukan hal yang sama.Sedangkan satu mobil yang berisi lima anak buahnya masih tinggal dan berjaga-jaga di rumah bu Halimah atau rumah orang tua Tasya.
Sementara itu,sesaat setelah kepergian Abian dari tempat rahasia di mana ada Tasya,pak Pa'ish di sembunyikan,ternyata kedatangan tamu tak di undang.
Jarum jam berdetak memecah sunyi,sebuah kediaman yang terletak agak jauh di dalam hutan dan dengan penjagaan ketat serta alarm rupanya tak mampu menahan atau mencegah kedatangan tamu tak di undang yang telah mengetahui keadaan dan situasi serta mampu melumpuhkan sistem keamanan yang telah di buat tim Abian.
Orang -orang berpakaian hitam dan bertopeng bak ninja telah melumpuhkan sistem keamanan.Mereka lalu menumbangkan satu persatu penjaga.Namun, saat memasuki lapisan keamanan kedua yang berada di dalam rumah,penyusup cukup kesulitan menghadapi tim tangguh Abian lapis kedua.
Mendengar suara ribut,paman Pa'ish terbangun.Ia segera keluar,namun saat di.pintu ia di cegah anak buah Abian.
"Tuan,jangan keluar."
"Mereka mengincar nona Tasya,tapi saat ini tim berusaha memukul mundur penyusup." ucap si penjaga.
"Tidak,saya harus melindung neng." ucap paman,ia segera menuju kamar Tasya yang berada di lantai dua.Namun baru beberapa langkah,ia roboh seketika ketika mendapatkan pukulan dari belakang.
"Cik, orang tua.Saya sudah memperingatkanmu." ucapnya sambil menyeringai.Ia lalu berjalan santai menuju lantai atas yang nampak tak ada penjagaan.Karena para pengawal sibuk meladeni penyusup hingga tanpa sadar mengarah ke luar.Penjagaan menjadi lemah.
Lelaki itu terus berjalan santai hingga di depan pintu kamar Tasya.Ia memutar handle pintu,dan ternyata di kunci.Lelaki itu lalu menarik nafas panjang,lalu memutar handle dengan keras.
"Krrraaakkk..." terdengar suara seperti patahan.Pintu terbuka otomatis karena pemutar sudah tak berfungsi.Lelaki itu memasuki kamar Tasya.Kamar itu nampak gelap.Lelakinitu tersenyum smirk,ia meraih sesuatu dari kantong mantelnya yang besar.Lalu memakai benda itu di wajahnya.Benda yang serupa kacamata namun bisa mendeksi suhu dan gerak tubuh manusia yang biasa di gunakan oleh kalangan militer.
Ia mengedarkan pandangannya di seluruh ruangan yang gelap.Hingga pandangannya terhenti pada sebuah lemari besar.Kaca mata yang lelaki itu pakai melihat seonggok tubuh tengah bersembunyi di dalam lemari besar.
Lelaki bertubuh tinggi dan besar itu melangkah mendekati lemari.Lalu membuka lemari tersebut.Nampak wajah si gadis terkejut dengan mata membola dan menutup mulutnya,sedangkan wajahnya begitu pias dan panik bahkan ia menangis.Lelaki itu mengulurkan tangannya,tiba-tiba gadis yang tak.lain adalah Tasya menerjang dengan sekuat tenaga,namun hanya bisa membuat lelaki besar itu termundur beberapa langkah ke belakang.Tasya berlari menuju pintu keluar.Namun,belum juga sempat ia mencapai pintu,tiba-tiba rambutnya di tarik dari belakang,dan sebuah pukulan di tengkuknya,membuat ia tak sadarkan diri.Lelaki itu lalu membopong tubuh Tasya layaknya karung beras yang sedang di panggul.
Notes : Mohon maaf jika kisah tak selaras dg genre .ππΌ
Rencana awal ingin membuat kisah romantis seperti penulis-penulis keren di sini,namun apa daya saya tak pandai menuturkan hal-hal manisπ
Rupanya passion sy lebih ke action dengan bumbu horor.π€
Kritik dan saran saya tampung.JANGAN LUPA LIKE,SUBSCRIBE,VOTE n KOMENNYA YA..ππ€π