
"Apa maksudnya? Chip micro? Apa yang akan mereka lakukan padaku?".
Setelah kain yang menyumpal mulutnya tadi berhasil di lepaskan, dia bisa berbicara. Chika bertanya-tanya dan berusaha melepaskan tali. Dia nampak mulai putus asa kala tali yang mengikat tubuhnya tak mau lepas.
"Bagaimana ini? Aku harus keluar dari sini secepatnya sebelum orang-orang itu kemari."
"Ingin melarikan diri?" Suara itu terdengar dekat.
Sontak, Chika diam membisu. Dia tercengang kala melihat seorang lelaki bersama rombongan yang sedang menuju padanya. Berpakaian serba hitam dengan sorot mata yang tajam. Satu orang berperawakan tinggi dan besar memasukkan tangan ke dalam saku celana lalu menyeringai pada Chika.
Perasaan Chika mulai tak enak, jantungnya berdegup kencang, napasnya naik-turun. Ingin berteriak namun mulutnya seperti terkunci rapat. Lelaki bertopi berjalan mendekatinya. Chika menggeleng memberi isyarat agar orang itu menjauh.
Namun, lelaki itu tak menggubrisnya sama sekali. Dia justru menurunkan badannya perlahan hingga empat mata itu saling beradu pandangan. Chika membelalakkan matanya saat melihat sebuah pistol di balik jas hitam milik lelaki di depannya.
Chika menatap nanar lelaki yang semakin dekat dengan wajahnya. Kemudian lelaki itu memegang dagu Chika, tapi gadis itu langsung memalingkan wajahnya ke samping.
"Dres yang sangat cantik." pujinya sembari melihat Chika dengan tatapan nakal.
"Apa yang kau inginkan?" Chika berteriak dengan pandangan nanar yang beringas. "Lepaskan aku! Aku tidak ada urusan denganmu." dia mengamuk.
Lelaki itu tertawa, dia memberikan kode pada anak buahnya. Salah satu di antaranya membawakan satu pack tisu basah. Lelaki itu mengambil selembar dan mengusap lembut wajah Chika. Namun, lagi-lagi gadis itu kembali memalingkan wajahnya.
"Jauhkan tanganmu dariku!" pekiknya.
Lelaki itu menyentuh rambut Chika, "Benarkah? Aku hanya membantumu merapikan rambut yang merusak wajah cantikmu." dia menyeringai lebar.
Chika memejamkan matanya, "Siapa kau?" sorot matanya berubah.
"Such a unique girl! Kau tidak perlu tahu namaku, namun banyak yang sudah mengenalku." ucapnya
Chika cekikikan, "Di kenal orang banyak? Kau bergerak di bidang apa?" tanya Chika mengejek.
Ini pertama kalinya, lelaki itu mendapat tawanan seperti Chika. Dia semakin mendekatkan wajahnya pada Chika, "Aku menangkap orang untuk dibunuh." bisiknya dengan senyum sinis.
Namun, Chika pun ikut tersenyum dan merasa orang itu hanya bermain-main dengannya. Gadis berusia 21 tahun itu juga ingin mengikuti permainannya.
"Are you in the Mafia?".
Lelaki itu mengangguk, "Yeah! I am."
Dia berjalan meninggalkan Chika dan kembali duduk di kursinya. Setelah itu mengangkat jari telunjuknya, tak lama kemudian datanglah seorang wanita berpakaian seksi serba hitam dan langsung duduk di pangkuannya.
"Matthew, I really miss you so much babe." Lelaki itu membelai pipi wanita yang sedang di pangkuannya dengan mesra.
Chika merasa jijik dengan pemandangan di depannya. Dia menunduk dan terus memikirkan cara untuk melarikan diri dari tempat itu. Tiba-tiba seekor laba-laba jatuh tepat di dahinya. Gadis itu melirik perlahan-lahan, takut jika binatang kecil itu menggigitnya.
Wanita yang sedang duduk bermanja dalam pangkuan lelaki berperawakan besar itu datang menghampirinya. Lantas, dia meraih laba-laba dan memasukkannya ke dalam mulut. Dia mengunyah binatang kecil tersebut bagaikan keripik kentang. Setelah itu dia menjilat jari-jarinya.
Chika merasa mual, "Bagaimana bisa kau melakukan itu?".
Wanita itu menyeringai, "Jika binatang menjijikkan seperti itu bisa aku makan, lalu bagaimana dengan dagingmu?" dia kembali pergi pada lelaki yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Apa dia juga memakan kotoran?" Chika masih tak habis pikir dengan kelakuan wanita itu.
*
*
"Aku ingin melihat rekaman CCTV." ucap Leo yang baru saja tiba di ruangan operator keamanan.
Dua orang berseragam berdiri lalu membungkukkan badannya. Tak seperti biasanya, wajah atasan mereka terlihat kacau dan kusut. Kemudian, mereka langsung menunjukkan semua rekaman CCTV.
"Silahkan, Pak Leo."
Sesaat kemudian, apa yang diminta Leo sudah berada di depan matanya. Dia menelisik setiap detik demi detik di layar komputer, hingga tiba pada adegan Chika yang keluar dari mobil. Tampak dua orang pria bertopeng ninja itu menculik dan membawa Chika pergi.
Leo berusaha mengontrol emosinya, setelah itu mencari mobil yang mereka tumpangi berada. Sayang sekali, tak ditemukan.
"Cerdik! Mereka memarkir mobilnya jauh dari kawasan CCTV." seru Leo
"Sepertinya ini sudah direncanakan." imbuh seorang operator.
Leo memainkan jari-jemarinya di atas meja. Suasana hati pria itu sedang tidak baik-baik saja. Sudah 12 jam berlalu namun dia belum mendapatkan kabar Chika sama sekali. Bahkan perutnya sudah keroncongan tapi masih enggan untuk makan. Dia kehilangan selera makannya seharian.
Drrttt.. Drrttt..
Ponsel bergetar dari dalam saku celananya. Leo masih tenggelam dalam pikirannya hingga tak mendengar suara ponsel yang sedang berbunyi.
"Pak Leo, ponsel Anda berdering." seseorang menyentuh pundak Leo.
Lamunan buyar, dia langsung menerima panggilan telepon yang sudah terabaikan sejak tadi begitu tersadar.
[Halo, aku ingin bertemu dengan Anda sekarang.]
[Baik, temui aku di kantor!]
Tut.. Tut..
*
*
Di ruangan Direktur Utama, Leo duduk sembari menanti kedatangan seseorang. Pria itu nampak gusar dengan segala kekhawatiran dalam benaknya.
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuklah!" teriak Leo dari dalam.
Orang itu menyalami Leo kemudian dipersilahkan mengambil tempat untuk duduk. Dia menanggalkan topi setelah itu menyodorkan sebuah ponsel pada Leo.
"Informasi apa yang kau bawa?" tanya Leo dengan wajah penuh harap.
Lelaki itu menatap Leo, "Sehari sebelum kejadian, seseorang mengirimkan beberapa pesan. Anda bisa melihatnya sendiri! Pesan-pesan itu sudah dihapus oleh pemilik ponsel namun kami berhasil melakukan backup data," jelasnya.
Leo segera membuka ponsel milik Chika, ini pertama kalinya pria itu itu membuka privasi kekasihnya. Dia membaca pesan-pesan dari orang yang meneror Chika.
"Bajingan ini, siapa dia?" geram Leo.
"Kami sudah melacaknya, tapi ternyata dia bukan berasal dari sini, melainkan dari Negeri Matahari Terbit." tutur lelaki paruh baya.
Leo terkejut, "Jepang?" dia mengingat-ingat siapa musuh Chika di negara itu, "Apa itu Bram?"
"Kasus ini sangat sulit untuk dipecahkan. Kita harus mencari bukti rekaman CCTV lain, mungkin saja ada CCTV yang aktif di sekitarnya selain CCTV milik gedung ini?" sanggahnya.
Kemudian dia berpamitan pada Leo, malam sudah semakin larut. Semua karyawan sudah kembali sejak tadi. Hanya tersisa Leo yang masih termenung di ruangan tersebut.
"Katakan padaku, bagaimana caranya aku bisa menemukanmu?" Leo menatap foto Chika di layar ponselnya.
*
*
Sampailah Leo di rumah, dengan wajah lesu dia menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tengah. Dia melonggarkan dasinya dan melepaskan jas yang sedang dia kenakan. Pria itu bahkan tidak sempat mengganti pakaiannya.