Love You Forever

Love You Forever
Chapter 33


Di Hebei


Matthew langsung kembali ke markas selepas bertemu klien. Untuk menyamarkan pekerjaannya, Matthew juga turun ke dalam dunia bisnis. Dia selalu menggunakan cara licik mengambil saham milik rekannya. Sudah ada beberapa saham direbutnya demi memperluas jaringan di Beijing. Salah satunya ada di distrik Dongcheng.


"Aku mencintai pekerjaanku!" sorak Matthew.


Sesampainya di markas, Matthew terkejut melihat penampakan orang-orangnya sudah terkapar di lantai. Lelaki paruh baya dengan topi sebagai ciri khasnya, segera memasuki lorong melihat keadaan di dalam sana. Sayang sekali, para penjaga dalam pun ikut tak sadarkan diri.


Merasa ada yang tak beres, Matthew pergi memeriksa tawanan penting, namun tak lagi menemukan keberadaan Chika.


"Sialan! Bajingan mana yang sudah berani menerobos masuk kemari!" Matthew menggeram menahan amarah, garis rahangnya mengeras.


"Arrghhh ... !" raungnya


Matthew terlihat sangat frustasi sekali sembari mengacak-acak rambutnya. Kemudian menendang kursi dengan keras. Setelah meluapkan kekesalannya, dia beranjak membopong tubuh Anqio, kekasihnya yang sedang terbaring kaku di lantai.


Setelah menjalankan rencana, Anqio meminum teh yang sudah diberi obat tidur berdosis tinggi agar Matthew percaya sepenuhnya, apa yang terjadi adalah ulah orang lain. Dengan begitu, Matthew takkan mencurigainya.


"Ternyata Anqio cantik juga, tapi maaf Anqio! Aku tak bisa membuka perasaanku padamu meski kau sudah membantuku selama beberapa tahun terakhir ini."


Matthew membaringkan tubuh Anqio di atas ranjang. Kemudian, dia pergi menuju ruang eksekusi dan akan memenggal kepala orang yang menjadi penyebab kekacauan di tempatnya.


Rencana Anqio seratus persen lancar, Matthew sudah termakan api emosi. Sebelumnya, Anqio merekam si kambing hitam saat memasuki ruang operator yang mencoba menghidupkan kembali komputer. Anqio sedikit memotong videonya agar terlihat orang itulah pelaku yang sebenarnya.


"Matilah kau penghianat!" umpat Matthew seraya menatap tajam seorang pria dihadapannya.


Dalam hitungan detik, hidup pria itu sudah berakhir, bahkan Matthew tak berbelas kasih padanya.


*


*


"Tuan, Jun, aku mohon bantulah aku!"


Detektif Ma memohon-mohon pada Xu Jun Hui sembari memegangi kedua tangan, temannya.


"Maafkan aku, Detektif Ma. Aku harus segera menebus Chika sekarang, waktuku tidak banyak!" tegas Xu Jun Hui.


"Apa kau tidak curiga? Mungkin itu hanya cara mereka menjebakmu. Bagaimana setelah kau ke sana, mereka tak mau melepaskan Chika dan justru mengambil nyawamu?".


Xu Jun Hui terlihat sangat kesal. Jelas-jelas tim Investigasi sudah memutuskan kalau tersangka itu bukanlah pelakunya. Tapi, Detektif Ma masih bersikeras ingin melakukan interogasi kembali.


"Detektif Ma, jika kau mau, silahkan lakukan sendiri! Aku sudah tak berurusan dengan pekerjaan ini lagi. Bukankah kau senang melakukannya sendiri?"


Ucapan Xu Jun Hui barusan seperti sebuah sindiran yang ditujukan pada Detektif Ma. Mendadak, dia tak berkutik lagi.


Di dalam mobil


"Kenapa tak menghubungiku sampai sekarang?"


Xu Jun Hui mengusap-usap layar ponsel sambil memeriksa apakah ada panggilan telepon yang terlewatkan.


Kriing!


"Panjang umur untuk Putraku." Xu Jun Hui mencium ponselnya.


[ Halo, Pa! Ini Chika, kami sedang dalam perjalanan.]


[Benarkah? Aku mengkhawatirkannya sejak tadi, selain itu kekasihmu bahkan tak memberitahuku.]


[Begitu, ya? Pa, mari bercerita setelah di rumah. Aku akan mengurusnya dulu.]


"Halo ... Hei!"


Chika langsung memutuskan sambungan telepon begitu saja, padahal Xu Jun Hui juga ingin tahu lokasi mereka sekarang.


"Mengurus? Mengurus siapa maksudnya?"


Tiba-tiba lelaki berkacamata itu tersenyum lebar, "Bagus Chika! Hajar dia, bila perlu patahkan rahangnya! Anak itu membuatku khawatir saja."


Xu Jun Hui tertawa lepas, nampak rongga mulutnya sampai terlihat, membuat dia sedikit mengeluarkan airmata karena terharu.


"Ternyata inilah alasan aku menjadi lambat sekarang, itu karena Tuhan memberiku anak yang tangkas meskipun sedikit nakal." lirihnya.


*


*


Leo menjawab, "Sayang, aku sangat khawatir padamu. Lalu, orang itu hanya memberiku waktu 12 jam untuk menyelamatkanmu." Leo tak menatap lawan bicaranya dan tetap fokus menyetir.


"Penjahat itu bahkan mengancam Leo, cih"


"Walaupun begitu, kau juga harus mementingkan keselamatanmu!" Karena kesal, Chika menggigit lengan Leo.


Leo memekik setengah manja, "Ouch! Sayang, kau menyakitiku!"


"Biar saja! Kau pantas mendapatkannya," ucap Chika mencebik.


"Tunggu saja pembalasanku! Aku akan menerkam mu dengan buas seperti Harimau yang kelaparan! Rawrr ... Rawrr.. " Leo menggelitik pinggang Chika dengan satu tangannya.


"Sudah hampir seminggu tak bertemu, aku sangat merindukanmu!" Leo menatap mesra Chika yang sedang menyantap roti.


"Kau tampak kurus! Jika aku datang terlambat selangkah saja, mungkin aku takkan pernah melihatmu lagi." Leo tersenyum simpul.


"Biarkan aku makan dulu, baru kita berbicara tentang banyak hal, ya?" pinta Chika.


Leo mengusap lembut kepala sang kekasih dan mendaratkan sedikit kecupan.


"Baiklah, Nona Chika Arabella Wilson. Silahkan nikmati makanan Anda!" canda Leo.


"Kenapa kau hanya membeli ini? Aku masih sangat kelaparan, roti-roti ini tak cukup mengganjal perutku!" gerutu Chika dengan muka masamnya.


"Kekasihku ini memang lain daripada yang lain! Apa dia tidak tahu kalau perutku juga sedang keroncongan sekarang?"


"Apa kau mengatakan sesuatu?" selidik Chika.


Leo hanya menganga-nga, "Apa dia juga mendengarkan suara hatiku?".


Tak mendapatkan jawaban, Chika langsung menyumpal mulut Leo dengan sebiji roti. Spontan, Leo hampir tersedak dan mengeluarkan rotinya dengan cepat.


"Kau ingin membunuhku?"


Chika terkekeh, "Benar! Lalu aku akan menemukan pria lain untuk menjadi kekasihku. Itu pasti sangat indah!" ucap Chika menggoda Leo.


"Bicarakan lagi! Aku akan mematahkan lehermu, lupakan saja niatmu untuk mencari penggantiku!" Leo memalingkan wajahnya, dia enggan melihat Chika lagi.


"Aish! Kalau begitu aku seharusnya mati di sana saja,"


Sontak, Leo menghentikan mobilnya. Dia melayangkan pandangan tajam pada gadis di sampingnya. Lalu memegang wajah Chika dengan erat dan mengecup bibir kecil sang kekasih.


Setelah puas, dia melepaskan bibirnya perlahan-lahan. "Bilang saja kau menginginkan itu, tak perlu mencoba memanas-manasi aku!"


Chika tersipu malu, "Kata siapa? Kalaupun aku mau, aku sudah melakukannya sejak tadi!"


"Begitukah? Memangnya selama ini sudah berapa kali kau melakukannya lebih dulu?" tanya Leo sembari menyeringai.


Chika melipat kedua tangannya di depan dada, "Kalau begitu jangan lakukan lagi!"


Leo mengepal kuat tangan kanannya, "Kau? Apa yang telah mereka berikan padamu, hah?"


"Tak ada hal istimewa, tapi Tuhan memberiku seorang pria yang baik!" Chika membuang muka menahan malu.


"Siapa pria itu?" tanya Leo berpura-pura.


Chika menutup wajahnya, "Siapa lagi kalau bukan dirimu?!" Dia bagaikan lilin yang meleleh.


Leo


Terkadang kita menghabiskan waktu mencari yang sempurna tanpa tahu bahwa kesempurnaan itu diciptakan bersama dan saling melengkapi satu sama lain.


Chika


Dari sekian banyaknya impianku, aku merasa beruntung dicintai dengan tulus olehnya. Cinta hanyalah pengakuan tapi yang merasakannya adalah jiwa!