Banned

Banned
Tragis


Arsa lari sekuat tenaga ketika mulai memasuki area rumahnya. Ia tak mengawali salam ataupun menandakan dirinya tengah pulang. Nafasnya terengah-engah, dalam hatinya bergemuruh. Sesak pasti, air mata pun tak ia izinkan. Luruh asesukanya, ia mencari sesorang di setiap sudut.


Matanya berakhir di ruangan dekat dapur. Ya itu kamar Nana.


"Aden !" Pekik Mbok Imah ketika melihat Arsa akan menuju kamar Nana dengan panik.


Dengan cepat Mbok Imah mendekati majikannya itu. Wajah Mbok Imah pun sama, sama-sama panik. Malah lebih panik dari Arsa. Terlihat pucat, dan gemetaran.


Arsa melihat Mbok Imah langsung berhenti.


"Mbok dimana Nana ?" Dengan suara paniknya.


"Den, untung Aden pulang. Mbok telfon Aden berulang-ulang gak di angkat. Mbok khawatir Den." Suara gemetar Mbok Imah, tangisannya tertahan.


"Kenapa Mbok ?" Tanya Arsa dengan sedikit mengguncang tubuh Mbok Imah.


"A-anu Den, Neng Nana dari kemarin belum keluar kamar." Jujur Mbok Imah panik dan juga takut berlebihan.


Arsa langsung memandangi kamar Nana, " Maksud Mbok apa? " Tak kalah panik Arsa.


"Gak tahu, tapi Mbok Khawa-" Ucapan Mbok Imah terhenti karena Arsa langsung lari mendekati kamar Nana.


Dalam hatinya berdoa semoga tak terjadi apa-apa. Doanya terus menyelipkan nama Nana ya nama istri yang tak pernah ia anggap.


Arsa menggedor pintu Nana, memanggil-mangil nama pemilik kamar. Tapi tak ada sahutan sama sekali. Kaki Arsa gemetar, pikirannya kacau takut, takut Nana akan berbuat sesuatu. Karena pintu kamar terkunci dari dalam dan tidak ada sahutan sama sekali dari dalam kamar Nana.


Video yang memperlihatkan Nenek Areta menyiksa Nana begitu memilukan. Terbayang-bayang jelas di fikiran Arsa. Dan rasa takut menghantuinya.


Mbok Imah pun memanggil Nana berulang. Ia ikut panik karena Arsa mulai mencoba mendobrak pintu Nana.


"Nana aku minta maaf, aku datang untuk menebus kesalahan aku. Sungguh aku minta maaf." Sesalnya, dengan berusaha mendobrak pintu dengan kasar.


Brakk!


Pintu terbuka, mata Arsa dan Mbok Imah menelisik seluruh ruangan. Tidak ada siapa-siapa. Ya ia dengar hanya gemericik air dari kamar mandi dalan kamar Nana.


Arsa tak peduli jika Nana sedang mandi atau apa. Yang sekarang ia fikir, ia memastikan Nana baik-baik saja sekarang. Arsa cepat membuka pintu kamar mandi. Ia tak percaya dengan pemandangan yang menakutkan di depannya.


"Neng, Neng Nana." Teriak histeris Mbok Imah yang ikut melihat dan menyaksikan tragisnya isi kamar mandi.


Apa yang mereka lihat, darah mewarnai seluruh lantai kamar mandi. Arsa tak tahu dari mana darah segar itu mengalir.


Yang ia lihat membuat jantungnya seolah berhenti sejenak. Kakinya lemas tak berdaya, di tambah melihat kejadian yang menimpa Nana.


Nana terduduk dan menyandarkan di dinding kamar mandi. Air shower terus menghujani tubuh mungil Nana. Wajah Nana pucat, pucat sekali. Nana tak sadarkan diri sama sekali.


Arsa menghampiri Nana, " Nana, Nana, bangun. Aku mohon kamu bangun sekarang." Arsa mengguncangkan tubuh Nana berharap Nana tersadar.


"Nana, aku, aku minta maaf." Suara memilukan terdengar dari mulut Arsa. Arsa memeluk gadis itu dengan erat. Dan itu pertama kalinya Arsa memeluk Nana. Di saat di ambang kematian Nana. Dan pertama kalinya Arsa memeluk Nana sebagai seorang istri. Mungkin ini pertama dan terakhir kalinya Arsa memeluk Nana.


"Aden, kita harus bawa Neng Nana ke rumah sakit. Mbok sudah suruh Pak Tomo menunggu di halaman" Suara Mbok membuyarkan Arsa.


Arsa mengangguk kemudian berlari, dan memapah tubuh mungil Nana. Mbok Imah duduk di bagian depan, dan Arsa duduk di bagian tengah. Memapah tubuh Nana yang dingin dan lemas.


"Cepetan Pak, Cepet ke rumah sakit terdekat." Teriak Arsa panik.


"Baik Den." Pak Tomo meluncurkan mobil dan mengendarai dengan kecepatan tinggi.


"Tahan, Tahan Na. Aku yakin kamu bakal selamat. Bertahan Na." Rasa ketakutan mulai menghantui.


"Tuhan izinkan aku menebus kesalahan di masa lalu. Tolong selamatkan Nana, selamatkan hidupnya. Aku mohon." Serunya dalam hati, mengurai air mata.


Hatinya hancur, entah perasaanya sudah tak karuan. Melihat Nana merintih kesakitan, menangis menahan kesakitan. Sungguh Arsa menyesal.


15 menit mobil Arsa sampai di halaman rumah sakit. Dengan cepat Mbok Imah memanggil perawat. Arsa pun turun dengan masih memapah Nana yang tak berdaya.


"Sus tolong selamatkan istri saya." Pekik Arsa yang menaruh Nana di atas bankar.


Dengan sigap kedua perawat perempuan dan satu laki-laki melajukan roda ranjang rumah sakit menuju ruang UGD.


Semua mata yang melihat Arsa penuh iba. Kemeja putih berlumuran darah, akibat darah mengalir tanpa henti di tangan Nana. Arsa tak peduli, ia ikut berlarian membawa Nana masuk ke UGD.


Arsa ingin masuk, namun perawat melarangnya. Arsa hanya melihat dari luar kaca pintu kamar UGD. Dokter dan perawat sibuk menyelamatkan nyawa Nana.


Arsa tak sanggup, ia terduduk lemas di depan pintu UGD. Hatinya selalu berdoa menyelipkan nama yang dulu tak pernah ia anggap sama sekali. Kini ia berdoa dengan sungguh-sungguh dan ikhlas atas Nama Nana.


Mbok Imah tak kalah kalut dan panik. Mbok yang berusia 63 tahun. Ikut berdoa, memunajatkan nama Nana di dalam hati. Berharap akan ada mukzijat yang begitu agung.


"Den, ayo kita tunggu di sana." Mbok Imah menunjuk kursi tunggu tak jauh dari mereka.


Arsa mengangguk, Mbok Imah membantu Arsa berdiri. Tenaga Arsa sudah terkuras begitu banyak. Untuk nafas saja susah, air mata masih mengalir. Berharap keajaiban akan datang. Dan ia sudah berjanji untuk menebus kesalahan lalu.


"Sabar ya Den. Mbok yakin Neng Nana pasti selamat." Mbok mencoba menguatkan hati Arsa.


Cukup lama Arsa terdiam, menekuk wajahnya. Air mata masih menetes, mungkin setiap tetesan air mata Arsa adalah doa-doa untuk Nana.


"Mbok, kenapa Mbok gak cerita ?" Suara serak terdengar dari mulut Arsa, namun Arsa tak menatap Mbok Imah langsung.


Deg!


Mbok Imah yang tadinya duduk dan melihat pintu UGD. Reflek langsung menoleh Arsa. Bibirnya gemetar, air matanya memerah kembali. Kenapa Arsa bertanya kejadian itu ? Bukankah tidak ada yang tahu selain orang yang terlibat.


"Mbok, Arsa tanya." Ucap Arsa kini menatap Mbok Imah dengan sayu.


"Ma-maafin Mbok, Mbok tahu ini salah. Seharusnya Mbok kasih tahu Aden. Mungkin Neng Nana gak bakal begini. Maafin Mbok." Tangis Mbok pecah seketika, ia merasa bersalah.


Arsa pun ikut menangis kembali, tangannya ia pegang erat-erat. "Mbok, sekarang pun kalau Mbok cerita juga semuanya udah terjadi." Lirih Arsa yang menatap ke arah sepatunya.


Tercekat tangisan Mbok Nana, emang benar yang dikatakan Arsa. Semuanya sudah terlambat.


Akhirnya Mbok Imah cerita dari awal sampai dimana Nana mengurung diri. Sehari sebelum kejadian. Nana sudah berpesan untuk tidak mau diganggu. Jika ada yang bertanya dimana dirinya. Bilang dia sedang tidur. Awalnya Mbok Imah masih menganggap wajar. Karena Nana masih mau diantar makan. Walau Nana yang mengambil sendiri ketika Mbok Nana akan masuk. Nampan berisi makanan Nana akan di taruh di lantai, ketika pintu kamar terbuka.


Tapi setelahnya Mbok Nana khawatir karena Nana tidak kunjung membuka pintu. Pagi dan siang Nana akan berteriak jika dirinya belum lapar. Tapi ketika sore Mbok Nana mencoba untuk mengetuk pintu dan memanggil Nana dari luar. Tidak ada jawaban, pintunya pun terkunci dari dalam.


Berulang kali Mbok Nana mencoba memanggil Nana. Namun tak ada sahutan sama sekali. Membuat Mbok Imah panik setengah mati. Ia berusaha menelfon Arsa , namun tak di angkat. Tak lama kemudian Arsa datang tepat waktu. Kemudian Nana di temukan tak sadarkan diri penuh dengan darah di sekelilingnya.


Arsa pilu, kalut, bahkan membenci dirinya sendiri. Karena pernah mengabaikan, dan menyakitkan Nana gadis yang baik. Kenaoa baru sekarang, sekarang setelah Nana di ambang kematian. Hati dan matanya terbuka untuk Nana.


Arsa menyandarkan dirinya ke kursi. Ia mengacak rambutnya tak tentu. Sesekali menatap pintu UGD dengan perasaan was-was. Sudah 60 menit Nana di sana namun belum ada kabar.


Tak berapa lama, pintu UGD terbuka. Arsa dan Mbok Imah langsung berdiri dan menghampiri dokter dan perawatnya.


"Anda siapa nya korban ?" Tanya dokter perempuan sekitar berusia 35 tahun, dan bernama Anita di nametag-nya.


"Saya suaminya." Balas Arsa dengan menatap penuh harap mendapatkan kabar yang bagus.


"Bisa ikut saya ke ruangan." Pinta Dokter Anita.


\=\=\=