Banned

Banned
Ganti Baju


"Tapi pekerjaan Arsa gimana Ma ?" Tanya Arsa yang mengikuti langkah Tamara menuju dapur.


Helaan nafas pendek terdengar, lalu Tamara berhenti melangkah ia pun membalikan tubuhnya dan kini berhadapan dengan putranya.


Menyandarkan tubuhnya menyamping di meja dapur. Menatap sang anak tak bersahabat.


"Kamu itu ya, masih mikirin pekerjaan. Pekerjaan Papa yang urus. Ada bella juga, kamu sekarang kerjaannya ngurusin Nana sampai benar-benar pulih. Itukan janjimu, maka harus di tepati." Dengkus kesal Tamara.


"Kamu tuh harus ingat Sa. Siapa yang mulai duluan. Kalau bukan Si Uler yang kamu masukin ke rumah. Gak bakal dia bikin kegaduhan pake acara ngadu segala ke Nenek . Ini udah kelewat batas tahu gak. Udah mama bilang Laura itu gak baik buat kamu. Si Uler kayak dia masih aja di pertahanin. Heran Mama !" Ujar Tamara mulai memarahi putranya akibat Si Uler yang di maksud adalah Laura.


Tamara memang sudah tidak menyukai Laura. Terlebih Laura itu anak yang manja dan ribet. Dan sering ikut menindas Nana. Membuat Tamara semakin yakin jika keputusan untuk tidak merestui hubungan putranya dengan Laura saat itu.


Arsa hanya diam mematung, ia pun akan kalah jika berdebat dengan Mama nya .Dia memilih diam dan memasang telinga dengan lebar.


Ya Arsa tahu jika ingin memperbaiki hubungan dengan Nana haruslah dengan mengorbankan sedikit waktu, dan perasaan. Apa yang telah ia perbuat cukup membuat Nana memiliki terganggunya mental. Biarlah ia mengesampingkan hubungan asmara nya dengan Laura saat ini. Itu juga adalah hukuman untuk Laura.


Lama sekali Tamara menyeramahi Arsa. Dari mulai peraturan yang di buat Mamanya. Sampai mengurus hal-hal yang tak pernah Arsa lakukan seumur hidupnya. Tapi ia rela untuk menebus kesalahannya di masa lampau.


Ia harap dari ini semua akan memperbaiki hubungannya dengan Nana. Tapi jika menyangkut perasaan, jujur Arsa tak bisa. Entah mungkin bukan saat ini besok atau lusa.


Karena cinta bisa datang karena terbiasa.


\=\=\=


Malam telah tiba. Inilah Arsa yang lahir kembali. Tamara mengatakan peraturan yang harus di patuhi adalah Arsa tak boleh keluar apartement kecuali hal darurat. Alasanya agar Nenek Areta dan Laura tak bisa menemukan keberadaan mereka. Dan Arsa pun menyetujui. Ia fikir ini lebih baik, nanti ketika Nana akan pulih Ia boleh keluar sekali atau dua kali.


Jadi masalah seperti keperluan dapur dan rumah itu akan diurus oleh seseorang. Jadi tak perlu khawatir. Ya malam ini Arsa memulai dari memasak. Sebelumnya ia belum pernah menyentuh barang dapur apalagi bumbu dapur.


Arsa mulai dari ingin membuat sup ayam kampung. Katanya itu bagus untuk stamina dan tak memengaruhi untuk luka Nana. Arsa mulai sibuk dengan alat masak dan bahan dapur. Sesekali ia melihat tutorial video di YouT*be.


Hampir dua jam Arsa memerangi area dapur. Tamara sungguh tega terhadap putra kandungnya. Tamara tak membiarkan satu asisten rumah tangga berdiam di apartement. Sekalipun Mbok Imah, sungguh mendidik Arsa menjadi seseorang multifungsi.


Arsa memasuki kamar yang tengah Nana istirahat. Dengan membawa baki berisi masakan yang ia buat, semangkuk sup ayam kampung, potongan buah apel, air mineral, susu putih, dan cokelat panas kesukaan Nana. Semuanya benar-benar Arsa yang buat dan siapkan.


Ia bahkan belum sempat membersihkan diri. Masih memakai kaos hitam, celana pendek, dan celemek. Wajahnya saja sudah tak karuan, tapi senyumnya tak luput dari wajahnya.


"Nana, aku masuk ya. Aku udah siapain makan malam." Setengah berteriak Arsa masuk kamar.


"Loh mana Nana ?" Arsa tak mendapati Nana di tempat tidur, lalu ia meletakan baki yang ia bawa di atas nakas dekat ranjang.


"Na, kamu dimana? " Panggil Arsa


Hanya hening, dan sesekali terdengar suara lenguhan pendek dari dalam. Telinga yang semula ia dekat kan, perlahan ia jauhkan. Alisnya menaik satu, kali ini Arsa mengetuk pintu kamar mandi.


"Na, kamu di dalam." Tanyanya sekali lagi, dan terdengar sahutan pendek seperti lenguhan tadi.


"Masih lama kamu di dalam? " Tanya Arsa kali ini telinganya ia dekat kan kembali di daun pintu.


Lagi-lagi lenguhan pendek yang terdengar. Normal bagi fikiran Arsa. Ia laki-laki itu normal untuknya. Fikirannya sungguh membuat hatinya geli. Mungkin Nana sedang melakukan hal-hal yang--- tahu lah. Karena lenguhan yang beritme, pasti Arsa berfikir jauh.


"Ya udah kalau masih lama. Aku tunggu di sini ya, Na." Ujar Arsa yang baru menormalkan fikirannya barusan.


"Tunggu !" Sahut Nana dari dalam.


Arsa yang ingin melangkah pergi kembali terhenti di saat Nana bersuara. Arsa pun mendekati kembali pintu kamar mandi dan bertanya " Ada apa Na ?"


"Uumm-- to-long tolongin." Ragu Nana membuat Arsa semula berfikir macem-macem kini raut wajahnya berubah kepanikan.


"Apa sih Na ? Kamu kenapa ?" Tanya Arsa beruntun tanpa basa-basi ia membuka pintu kamar mandi dengan kasar.


Arsa menghela nafas lega, mendapati Nana dalam keadaan baik baik saja. Arsa pun mendekati Nana yang sedang menatap ke arahnya.


"Apa yang bisa aku bantu ?" Tanya lembut Arsa, tapi Nana sendiri bukannya menjawab malah menahan tawanya melihat penampilan Arsa.


Nana alihkan wajah yang menahan tawanya dengan menunduk. Walau itu lucu tapi ia berusaha bersikap normal. Takut membuat Arsa tersinggung. Lucu sekali Arsa Genendra memakai celemek untuk pertama kalinya. Pandangan yang tak biasa yang di dapati Nana hari ini.


"Nana, apasih ?" Arsa ikut menjatuhkan kepalanya sedikit kebawah hanya untuk melihat wajah yang di sembunyikan Nana.


Nana cepat menggeleng, dan membuang wajahnya ke arah sembarang agar tak bertatap langsung dengan Arsa. Itu sungguh akan menggoda tawanya yang sedang ia tahan.


Sempat Arsa menatap keseluruhan ruangan kamar mandi yang cukup terbilang besar. Dan ikut memandangi tubuh Nana. Karena tadi sempat berfikir jorok. Ia hanya ingin tahu kebenarannya saja. Tapi memang tidak ada hal yang mengganjal. Cukup mencurigainya kini ia beralih ke wajah Nana.


"Tadi kamu bilang mau minta tolong. Minta tolong apa ?" Tanya Arsa yang kini tatapan mata mereka saling bertemu.


Nana sudah mengendalikan tawa yang ia tahan dengan bernafas teratur. Itu cukup membantunya.


"Iya, aku mau ganti baju. Tapi tanganku kan--"


\=\=\=