
Selamat Membaca
🍫🍫🍫
Setelah sarapan Arsa dan Nana duduk berdampingan di sofa ruang tamu. Nana meraih remote tv di meja. Arsa sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang membuat Arsa hanya fokus di layar kecil itu.
Nana menonton acara pagi di televisi, tapi pikirannya tak fokus ke acaranya. Pandangannya terus mencuri di layar ponsel Arsa. Entahlah semenjak kapan Nana jadi tukang kepo apalagi kepo dengan urusan Arsa. Matanya sungguh tidak bisa di ajak bekerja sama. Sampai ia salah tingkah sendiri ketika Arsa menyudahi memainkan ponselnya. Lalu menaruhnya ke meja di depannya.
Buru-buru mata Nana ia arahkan ke layar televisi. Dan Arsa pun ikut menonton acara itu. Hanya suara meriahnya acara di televisi. Tak ada suara di keduanya. Membuat rasanya canggung. Karena ini hal pertama kalinya mereka duduk santai seruangan. Tak tahu harus mulai darimana.
15 menit mereka terdiam hingga Nana tiba-tiba memecahkan heningnya suasana.
Sebelum memulai kata Nana berdehem sebentar, " Boleh tanya? "
Arsa mengangguk tapi pandangannya mengarah ke layar televisi.
"Tapi janji jangan marah ya." Nana berjaga-jaga takut membuat Arsa marah karena pertanyaan yang ia tanyakan sedikit sensitif.
Arsa hanya berdehem dan mengangguk. Tapi kali ini pandangannya teralihkan ke Nana. Sekadar menyelidik tentang apa yang akan Nana tanyakan ke dirinya.
"Mm, emang Laura gak tahu kamu di sini? " Tanyanya sedikit dengan nada hati-hati.
Belum di jawab, baru satu tarikan nafas dari Arsa, " Tadi udah janji loh gak marah." Sergah Nana takut Arsa marah.
" Emang aku kamu apa. Dikit-dikit marah gak jelas."
Nana berjengit kaget, dari sekian Nana marah tak sebanyak Arsa yang dulu setiap detik akan memarahinya panjang kali lebar. Sekarang ia seperti lupa, dan malah menyalahkannya. Nana fikir ia marah hanya baru-baru ini. Matanya sudah memberikan tatapan kesal dari Nana. Buru-buru juga Arsa cepat berkata
"Emang Laura gak tahu aku di sini apalagi Nenek. " Jawaban Arsa membuat amarah Nana mereda.
"Mama sama Papa udah yang atur segalanya biar Laura sama Nenek gak tahu kita di sini." Sambungnya.
Nana mengangguk **** saja. Ia dan Arsa seperti pasangan lari dari sebuah kesalahan. Bersembunyi dan menghindar.
"Terus kalau mereka tanya gimana? " Tanya Nana kembali.
"Ya bilang aja aku lagi dinas di luar negeri karena ada pekerjaan mendadak." Sahut Arsa kemudian ia mengganti chanel karena acara sudah iklan.
"Mm, e-emang kamu gak rindu gitu sama Laura." Tanya ragu Nana, ah Nana benar-benar seperti orang ****. Ya pastinya Arsa rindu mereka kan pasangan kekasih.
Arsa mengalihkan pandangannya kembali menatap Nana. Dan mengerutkan dahinya seketika menanggapi pertanyaan Nana.
"Ya, namanya juga pasangan kan. Pasti rindukan." Buru-buru Nana meralat pertanyaannya tadi menjadi penjelasaan.
Nana langsung menatap ke arah layar televisi untuk menghindari tatapan mematikan dari Arsa. "Ya kalau aku jadi kamu pasti juga bakal rindu." Tambahnya dengan sesekali mata ekornya melirik ke arah Arsa.
Oh, Arsa benar-benar seperti sedang marah. Kenapa tatapannya semengerikan itu? Arsa kemudian menggeser duduknya mendekati Nana. Reflek Nana ikut bergeser menjauhi Arsa.
"Kamu udah punya pacar? " Sungguh pertanyaan mengejutkan untuk Nana. Ia langsung bersitatap dengan Arsa. Jarak mereka cukup dekat. Membuat aliran darah Nana berdesir menimbulkan rasa aneh di sekujur tubuhnya.
Ini bukan pertama kalinya mereka sedekat ini cuma di tambah pertanyaan Arsa dan tatapannya membuat sikap Nana semakin gugup luar biasa.
"Eh? Belum kok." Jawab Nana kemudian membuang wajahnya ke arah lain. Percayalah pipinya sedang memerah semerah tomat.
"Habisnya kamu tanya aneh-aneh aja." Tepis Nana kemudian ia membetulkan duduknya dan air mukanya yang memerah dengan berusaha tenang.
Arsa terkekeh mendengarkannya, ia ambil gelas berisi orange jus di meja. Ia teguk kemudian ii menaruh kembali ke meja. Tapi ia urungkan. Ia kembali menatap gelas itu benar-benar. Dan berujar, " Kemarin kamu sama gelas? " pertanyaan Arsa menggantung, membuat Nana mengerutkan dahinya.
Apa yang di maksud? Gelas dan dirinya?
"Ada apa? " Tanya heran Nana.
"Kemarin kamu marah sama aku gara-gara gelas kan? "
"Hah? Apa hubungannya gelas dan aku? " Bingung sendiri.
"Apa sih? "
"Kemarin lusa, kamu lupa, kamu ngambek gara-gara gelas. Aku nya yang malah kena." Arsa mencoba menjelaskan karena Nana lupa.
"Kemarin? Gelas? Aku? Ngambek? Kamu?" Nana tak ingat.
"Bener-bener ya perempuan. Kesalahannya sendiri langsung lupa." Dengus Arsa
Tiba-tiba ia ingat, dan pipinya menghangat sejalan apa yang terjadi 3 haru yang lalu.
"Oh, kemarin itu. Aku gak marah sama kamu gara-gara gelas." Ungkap Nana Dengan sikap biasa.
"Mana ada gak marah sama aku. Jelas-jelas aku di diemin sama kamu kemarin gara-gara gelas."
"Ih, aku tuh gak marah." Tapi malu,
"Tetep aja marah, sekarang jelasin kenapa sama gelas? "
"Kenapa apanya?"
"Ya antara gelas dan kamu. Dan hasilnya kamu marah sama aku."
"Apaan sih? Cuma gelas aja kamu maksa-maksa sih." Nana mulai tak santai.
"Ya aku butuh kejelasan." Tekan Arsa.
"Ya emang gak ada apa-apa? "
"Oh butuh di ulang lagi adegannya." Perang akan di mulai.
Nana bingung harus apa, tiba-tiba Arsa berdiri dengan masih memegang gelas di tangannya. Ia berdialog persisi seperti kejadian lalu. Antara dirinya, Arsa, dan gelas.
Arsa mempraktekkan adegan tersebut dengan berlebihan. Berpindah tempat, lalu bergaya seperti Nana kemarin. Lalu pindah menjadi dirinya sendiri.
Nana menyaksikan dengan sangat malu. Malu Arsa menjadi dirinya lebay, dan Nana jadi ingat pula ciuman secara tidak langsung. Membuat pipinya merona saja.
Cukup Arsa, kamu berlebih sekali. Pipi Nana sudah marah padam di buatnya.
🍫🍫🍫