Banned

Banned
Debat Panjang Pertama Kalinya


"Iya, aku mau ganti baju terus mandi. Tapi tanganku kan--" Nana menengadahkan kedua tangannya yang sedang terluka dengan memasang wajah memelas.


Arsa menjatuhkan rahangnya, melihat seorang wanita yang begitu imutnya di hadapannya. Jujur ia belum pernah melihat wajah melas nan imut dimana pun. Baru kali ini melihat wajah Nana, pipi yang menggembung, bibir merah yang tebal yang sedikit mengerucut.


Oh ! Sungguh gemas sekali.


"Tanganmu bener-bener belum sembuh. Mana boleh kena air. Kena air aja gak boleh apalagi mandi" Ujar Arsa yang mendekati Nana.


"Terus gimana ? Aku udah gerah banget pengen mandi. Kan dari rumah sakit aku belum mandi." Kecewa Nana yang benar-benar tak tahan dengan kondisinya sekarang.


Arsa hanya diam menatap ujung ke ujung tubuh Nana. Ia sedang memikirkan cara agar Nana bisa tetap melakukan keinginannya untuk mandi. Arsa menyandarkan diri ke samping di wastafel.


"Oke, aku bantu." Ucap Arsa, membuat Nana tersentak.


Mata yang bulat bernetra cokelat itu memandang bodoh ke arah Arsa.


"Gimana caranya ?" Tanya Nana


"Kamu bantu aku mandi gitu. Ogah, gak mau. Mending cari siapa kek." Sergah Nana yang sadar akan maksud ucapan Arsa.


"Ya terus kalau bukan aku siapa ? Kalau cari orang juga siapa ?" Kini Arsa berdiri tegap dengan wajah setengah bingung juga.


"Ya kan bisa panggil siapa. Pegawai apartement perempuan, atau Mbok Imah suruh ke sini." Alasan Nana memang masuk akal.


"Nana, aku juga maunya gitu. Jadi aku gak repot-repot urus apartement sendiri. Dan kamu juga bisa ke urus. Tapi kata Mama bener-bener gak bisa aku tolak." Jelas Arsa yang juga merasa frustasi dengan Mama nya.


"Kok ? Kenapa? " Nana bingung dengan apa yang di katakan Arsa.


Karena memang ia tidak berbicara banyak dengan Tamara. Nana istirahat, bahkan pulangnya Tamara saja tidak tahu.


"Mama gak bolehin aku keluar dari apartement..." Nana mengernyitkan dahinya tapi fokus dengan ucapan Arsa.


"... gak boleh sama sekali. Dan di depan pintu apartement ini ada orang suruhan dari Mama buat jaga biar aku gak keluar. Dan kamu tahu aku gak bisa nolak apa yang di katakan Mama. Jadi, ya gak ada yang bisa bantu selama kamu pulih total." Jelas panjang Arsa.


"Alasannya apa coba ?" Nana benar tidak berfikir jernih kenapa Tamara mengurung mereka berdua selama itu.


"I don't know." Arsa mengusak rambut kepalanya kasar.


Arsa pun tak tahu, menurutnya Mamanya sudah berlebihan. Tapi Arsa tak bisa menolak atau membantah. Di lain itu juga ia memang ingin memperbaiki hubungannya dengan Nana. Dan mencoba ingin menjauhi Nana dari Nenek Areta dan Laura.


Nana menjatuhkan kedua pundaknya lemas dan menatap ke arah lain. Ia pun sama bingungnya. Di tambah ia bingung bagaimana caranya dia jika ingin mandi atau memakaikan bajunya. Secara tangannya saja tidak bisa di gunakan sementara ini.


Arsa melihat kegelisahan Nana. Ia pun melangkah dan menghadap di punggung Nana. Tangannya menuju resleting dress ia Nana kenakan.


Reflek Nana membalikan tubuhnya. Dan menatap Arsa dengan sorotan mata yang tajam. Ia Arsa tahu ia sudah berani. Tapi percayalah Arsa hanya ingin niat membantu.


"Apa sih." Jutek Nana yang menatap tajam Arsa.


"Iya maksud aku minta tolong panggil in orang buat bantu aku."


"Ya kan tadi udah aku jelasin. Aku aja gak boleh keluar gimana orang luar. Ih, Si Aneh !" Entah mengapa Si Aneh panggilan khusus untuk Nana dari Arsa terucap begitu saja.


Iya memang pas saja Si Aneh untuk Nana Alina.


"Kalau orang aku juga orang kan." Tambah Arsa dengan tak mau kalah.


"Ih, iya aku tahu. Tapi maksud aku cewek loh." Nana mencebik dan mengalihkan pandangannya ke arah sembarang.


"Ya udah anggap aja aku cewek. Bereskan." Ucap Arsa yang sedikit meledek.


"Mana bisa."


"Ya udah aku ganti baju cewek biar kayak cewek. Biar terasa gitu." Nana menaikan alisnya satu, memandang wajah Arsa yang serius dengan tatapan mematikan.


"Oke, oke aku bercanda." Kekeh Arsa yang melihat tatapan Nana sudah siaga dua alias akan meledak dan memarahinya.


"Ya terus gimana ? Jadi gak mau mandi, aku nawarin diri buat bantu kamu. Free." Ucap Arsa dengan kata free dengan jelas.


"Ih, apaan sih." Nana merajuk, ia membalikan tubuhnya membelakangi Arsa.


Namun Nana masih bisa melihat Arsa dari cermin yang ada di depannya. Wajah Nana kesal dan memerah juga karena Arsa.


"Ya terus gimana ? Penawaran masih ada." Bisik Arsa tepat dia antara telinga Nana sebelah kiri.


Bulu roma Nana berdiri seketika, ketika hembusan nafas Arsa menerpa di bagian telinga. Ia langsung menatap ke arah cermin. Menatap wajah Arsa yang sedang berada di antara pundaknya sebelah kiri. Mata mereka bertemu dibayangan cermin. Arsa tersenyum manis, membuat Nana salah tingkah di buatnya.


Ada detakkan tak jelas menghinggapi jantung Nana. Menjalar hingga kedua pipinya yang tembam menjadikan semburat merah.


"Oh sangat memalukan." Bhatin Nana yang ingin menyembunyikan wajahnya yang tengah memerah.


"Hm... Bagaimana ?" Tanya Arsa yang tahu kini Nana sangat malu.


Dari pipi chubby yang Nana miliki tengah memerah. Asal kalian tahu Arsa pun merasakan hal yang sama. Ada detakkan yang tak beritme. Yang susah ia jelaskan, bahkan ia pun tak tahu artinya.


"Ih, Arsa kenapa sih ? Akhir-akhir ini beda. Di tambah sikapnya yang aneh. Please, Sa jangan buat keadaan semakin rumit." Bhatin Nana.


Nana tak menjawab ia memilih pergi. Ia tak ingin lebih dekat dengan Arsa. Mengingat Laura semakin Nana ingin menjauh dari sosok Arsa.


Srttt!


🍫🍫🍫