Banned

Banned
Terungkap


Tiga hari sudah semenjak Arsa bertanya keadaan Nana. Setelahnya ia sibuk dengan pekerjaannya, lalu mengurus kekasihnya di rumah sakit.


Drttt Drttt


Ponsel Arsa berdering, masuk notifikasi dari Laura.


📩Laura Sayang pulang kantor bawain aku buah anggur ya


Hanya di read, ia masih memikirkan keadaan Nana yang sudah lama tidak melihat keadaanya. Tak bisa membohongi dirinya, ada secuil khawatir dan keinginan tahunya untuk Nana.


Ia lempar ponselnya begitu saja di tumpukan kertas-kertas pekerjaannya. Memberi jarak antara bangku dan mejanya. Mengendurkan dasinya, dan menyadarkan tubuh ke kebelakang. Lalu menatap langi-langit atap, sekelebat datang wajah Nana. Wajah yang lusa itu ia lihat begitu menggemaskan.


"Kenapa ya ? Dulu gue benci banget sama dia. Dan gue baru sadar ternyata dia itu lucu banget kalo di perhatiin." Gumam Arsa mengingat kejadian lalu yang ia mengobati luka Nana.


" Apalagi lihat dia yang jarang tertawa lepas." Mengingat Arsa pernah melihat senyum renyah dari Nana waktu dia gak sengaja melihat Nana dan teman-temanya di restoran jepang waktu lalu.


" Dia gak seburuk apa yang gue fikir dulu. Dan kalau bukan Mama dan Papa yang nyadarin gue mungkin hal itu-" Pikiran Arsa menerawang jauh sebelum kejadian Nana terkena labrakan Laura, setelah ia memperhatikan lincah nan gesit ia membersihkan ruang tengah waktu itu akibat Laura membuat kekacauan dengan teman-temannya.


Flashback


"Kenapa kamu gak pulang ke rumah? " Tanya Mama kepada putra tunggalnya yang sedang merebahkan diri di sofa ruang tamu.


Arsa baru pulang dari luar kota karena ada proyek untuk beberapa hari. Ia pulang lebih cepat satu hari. Dan saat ia baru sampai di halaman, ia melihat beberapa mobil terparkir di halaman miliknya.


"Ada apa di rumah ,Pak Tomo ?" Tanya Arsa kepada supir pribadinya yang menjemput dirinya dari bandara.


"A-anu Den, Non Laura hampir tiap hari ngadain pesta sama temen-temennya." Jawab ragu Pak Tomo dengan suara khas logat jawa kentalnya.


Pak Tomo seusia dengan Mbok Imah, dan mereka dari kampung yang sama. Mbok Imah lah yang merekomendasikan Pak Tomo untuk bekerja di kediaman Tuan Ganendra.


"Astaga !" Kesal Arsa, diikuti memijat pangkal hidungnya.


"Puter balik Pak, kita ke rumah Mama aja." Titah Arsa yang jengkel.


Mengingat kejadian itu, Arsa semakin kesal dan malas untuk menjawab pertanyaan Mamanya. Ia pun dalam keadaan jet leg.


"Arsa, Mama tanya loh." Sedikit kesal juga Mamanya di buat, dikacangin sama anaknya sendiri.


"Mama, Arsa capek loh." Ngambek Arsa.


"Ya ampun, kayak Mamah nyuruh kamu buat angkat-angkat barang aja. Jawab pertanyaan Mama apa sesusah itu." Mulai kesal jadinya.


"Gara-gara Laura ngadain party di rumah sama temen-temennya." Jawab Arsa yang tersadar apa yang ia ucapkan adalah sesuatu Mama Tamara namanya yang tak suka di sebut.


"Nggak, maksud Ars-"


"Stt! Mama gak budeg." Sela Mama Tamara dengan memasang wajah semakin kesal.


Arsa menyerah lalu menjatuhkan wajahnya di bantal sofa. Mama Tamara berlalu tanpa marah berlanjut. Arsa pun menyadari Mamanya tidak lagi di tempat, bernafas lega.


Tiba-tiba ada sesuatu yang dingin di kulit pipi Arsa. Ia mengerjap mata berkali-kali karena ia hampir terlena dengan mimpinya. Arsa mengeggeliat dan mengerang seperti tak ingin di ganggu.


Tapi sesuatu dingin itu tak kunjung hilang. Memaksakan matanya harus melihat sesuatu dingin itu. Membuka mata perlahan, terlihat matanya memerah. Tapi kini matanya membulat lebar-lebar.


"Jus alpukat !" Seru Arsa yang langsung duduk dan meraih gelas berisi jus alpukat kesukaannya.


"Mama tahu aja Arsa pengen sesuatu yang manis." Senang Arsa seperti bocah saja, dan menyedot jusnya tanpa mendongak ke wajah Mamanya.


Mama Tamara terkekeh melihat anaknya sudah tumbuh dewasa namun moodnya mudah di naikan dengan segelas jus alpukat.


"Nih, bonusnya." Mama Tamara meletakan sepotong puding cokelat kesukannya di meja.


"Wah!" Tak kalah melebar mata Arsa, sudah lama Mamanya tak membuat puding kebanggaan Mamanya.


Tak perlu basa basi, Arsa samber piring berisi puding lalu melahap tanpa jeda.


"Apa, apa ?" Pertanyaan Mama Tamara terhenti seolah dia ragu.


"Apa sih, Mah ?" Mama Tamara mengatur nafasnya.


"Apa Nana gak pernah buatin kamu hal-hal seperti ini ?" Lirih Mama Tamara, membuat Arsa tersedak dengan pudingnya.


Arsa meminum jusnya mengurangi batuk akibat tersedak. Ia menaruh keduanya, puding dan jus alpukatnya. Arsa memutar bola matanya, dan menghembuskan nafas sembarangan. Jengah mendengar namanya saja.


"Arsa mau keatas Ma." Arsa menghindar dari Mamanya ketika membahas Nana.


Arsa melepas lembut tangan Mama Tamara dari lengannya dengan lembut. Lalu pergi menuju anak tangga.


"Arsa, coba kamu buka telingamu, dan bisa menerimanya." Suara Mama Tamara sedikit meninggi, kini Mama Tamara berdiri menatap punggung kekar Arsa.


Langkah Arsa berhenti ketika 4 anak tangga telah ia pijak. Arsa menghembuskan nafasnya kasar, bola mata yang bermanik hitam mengkilat itu menatap langit-langit atap rumahnya.


"Apa yang harus Arsa dengar Ma ?" Kesal Arsa, Arsa masih berdiri membelakangi Mama Tamara.


"Tentang Nana." Suara Mama Tamara kembali lembut.


"Nana, Nana, Nana, Nana, Nana, Nana, Nana lagi." Batas kesabaran Arsa mulai memuncak.


"Apa harus, bertahun-tahun yang di bahas Nana ? Gak ada yang lain apa, hari-hari Nana. Apa di hati kalian cuma Nana ? Selalu Nana." Jengah Arsa.


"Apa yang membuatmu benci tentang Nana sih?" Kata Mama Tamara, Membuat Arsa yang menaiki dua langkah tangga terhenti tanpa membalikan badannya.


Arsa menarik nafas perlahan nafasnya, "Yang buat Arsa benci Nana adalah, dia selalu merebut kebahagian Arsa, dan kasih sayang seharusnya yang Arsa miliki juga." Pekik Arsa, air matanya telah tertampung di pelupuknya, namun ia tahan dengan sesekali ia menatap langit-langit atap rumahnya.


Entah jika membahas Nana emosional nya memuncak. Selalu menanggapinya dengan kasar.


Mama Tamara sedikit terhuyung, mendengar jawaban Arsa. Siapa yang meracuni pikiran Arsa sampai pikirannya stuck di sana? Masalahnya ia sudah tumbuh dewasa sekarang, dan mereka pun tumbuh bersama. Arsa adalah anak bijak dalam apapun. Tapi ia buta tentang Nana selama ini.


"Dan Arsa kecewa dengan kalian, Arsa harus menikah dengan Nana. Padahal hati Arsa telah di tempati." Sambung Arsa.


Semakin hancur hati Mama Tamara. Kenapa anaknya tidak mau membuka diri untuk Nana walau hanya sekali ?


Mama Tamara mengontrol emosinya yang sudah naik turun. Tangannya bertumpu di sisi tepi sofa, dengan nafas tersengal dan sesak terasa, ia berkata, " Arsa, kamu tak pernah mau dengar alasan kami yang sesungguhnya dari dulu. Alasan kami menerima Nana lebih dari orang luar. Alasan kami memiliki rasa sayang yang sama sepertimu. Bagaimana kamu bisa memahami tentang ini, jika kamu masih menutup diri. Dan menjauh dari segala tentang Nana." Arsa masih mendengar kalimat-kalimat Mama Tamara.


"Kami sayang sama Arsa, Arsa kecil, Arsa remaja, dan Arsa dewasa. Dimananya kami tak pernah menyayangimu, darimana kami tak memberikan kasih sayang kami. Kamu liat darimana ?" Air mata yang Arsa tahan, kini meluruh bebas.


Sebegitu menyakitkan untuk Arsa. Untuk Arsa yang selalu berfikir orang tuanya selalu berpihak dengan Nana.


"Semuanya kami turuti, Nana gak boleh tinggal satu rumah. Kami pindahkan ke paviliun halaman belakang, Nana gak boleh makan satu meja dengan kita, Nana ngalah makan satu meja dengan pelayan-pelayan rumah kita. Dan kamu sesuka hati mem-bully Nana dimana saja kamu lakukan, kamu tahu nggak mental dia terganggu. Karena siapa ?." Ada hati yang sedikit tercubit, mendengar penjelasaan Mama Tamara mengingat hidup Nana tak mudah.


Tapi Arsa tak perduli, sedikit pun tidak. Sejahat-jahatnya orang pasti punya sedikit hati nurani. Begitu Arsa, entah sikap dari mana ia bisa memperlakukan Nana begitu menyedihkan.


"Semuanya, Mama dan Papa hanya bisa diam tanpa membela Nana. Ketika Nana susah, sakit, kami tak pernah ada di sisinya. Karena apa ? Karena kami menghargaimu Nak."


"Banyak penderitaan yang dipikul Nana, kami orang terdekat, hanya meringakan. Kamu sudah berspekulasi bahwa kami tak pernah ada buat kamu. Nyataanya kamu tak pernah lihat kami." Mama Tamara menjeda, ia menangis jika mengingat buruknya Arsa dulu kepada Nana. Dan Mama Tamara dan Papa Adi hanya bisa memeluk dari kejauhan ketika Nana sedih akibat Arsa.


Arsa masih diam tanpa bergeming. Mulutnya terasa kaku untuk mengeluarkan kalimat. Ini pertama kalinya Mama Tamara memarahi dirinya tentang Nana. Itu membuat hatinya tergores. Sekian lama Mama nya diam.


"Sudahlah, banyak penderitaan Nana, kami yang sayang semakin sakit. Mama cuma mau meluruskan apa yang seharusnya kamu tahu dari dulu."


"Nana bukanlah cucu Mbok Imah. " Ucap Mamah.


"Maksud Mama apa ?" Arsa tersentak, bagaimana bisa ?


"24 tahun yang lalu, Papa dan Mama nggak sengaja liat Nana bayi di depan gerbang rumah kita. Entah siapa Ibunya, Ayahnya, yang jelas Nana memang tak diingankan." Jelas Mama Tamara pilu.


Deg!


Arsa membalikan tubuhnya, terasa pijakannya seperti tidak simetris. Ia bertumpu di tralis tangga. Arsa mendengar kalimat Mama Tamara mengingatkan moment-moment yang tak mngenakan untuk Nana. Ada hati yang merasa bersalah menghujani dirinya.


Arsa punya keinginan menyudahi konfilk dirinya dengan Nana. Bertahun-tahun ada rasa benci di hati Arsa kepada Nana. Tapi semakin ia berusaha untuk membuat hubungannya dengan Nana agar baik. Malahan semakin kebencian dia bertambah. Arsa sendiri bingung alasan dia membenci Nana apa.


Awal kedatangan Nana sebagai cucu Mbok Imah. Arsa tak pernah terusik sama sekali. Di keluarga yang menentang kedatangan Nana awalnya adalah Nenek Areta. Dan sesekali Nenek Areta menghasut Arsa untuk membenci Nana.


"Ma, kenapa baru bilang sekarang ?" Bergetar bibir Arsa.


"Mama udah berusaha buat bicara tentang ini. Tapi kamu gak pernah mau memberikan kesempatan sama Mama dan Papa untuk menjelaskannya." Arsa pun dari dulu tak pernah mau tahu apapun tentang kehidupan Nana. Ia selalu menghindar jika Mama dan Papanya akan membahas Nana.


Arsa pikir, orang tuangnya hanya akan membahas kebaikan dan kelebihan Nana di depannya. Padahal ada maksud lain. Sungguh ada perasaan menyesal, bagaimana pun Arsa tetap salah jika kenyataanya tak pernah terungkap.


Arsa terdiam, fikirannya kalut tak menentu. Ada hati yang bergemuruh. Benaknya selalu memanggil nama Nana. Memory-nya berputar tentang akan Nana. Dimana dia selalu membuat hidup Nana menderita tanpa bersalah. Kini dia baru sadar, apa yang ia lakukan adalah kesalahan yang fatal untuk Nana.


"Arsa mau istirahat Ma. Nanti lagi kita bahas." Arsa kembali, memijakkan kakinya di setiap anak tangga.


Mama Tamara tak menghentikan kepergian putranya. Ada perasaan lega di hati Mama Tamara telah memberitahu kenyataan Nana. Di hati kecilnya berdoa agar kelak Arsa bisa menerima Nana dengan penuh cinta. Tapi ada perasaan takut, takut anaknya acuh akan masalah ini. Dan tak mau juga membuka diri.


Kedua tangan Mama Tamara ia dekap di dadanya. Sembari melihat putranya menghilang dari tangga.


\=\=\=