
Nana memunculkan dirinya dari balik tubuh Mbok Imah. Agar bisa melihat jelas siapa di sana.
Bibir bergetar seraya mengucap terimakasih kepada yang Maha Kuasa. Arsa masih mematung di ambang pintu. Jantungnya berdetak tak karuan. Melihat sorot mata sayu di sana tengah menatapnya penuh tanda tanya.
Tak bisa menahan air matanya yang berusaha kuat untuk tidak jatuh. Rasa khawatir yang begitu berkecamuk berakhir dengan melegakan. Rasa berat melangkah, betah rasanya Arsa mematung seperti orang bodoh.
Gelisah menghantui perasaan Arsa, malu dan bersalah menjadi satu. Menatap wajah polos Nana seperti melihat dosanya. Begitu tersiksa, begitu menyayat. Ia harus tetap menghadapi situasi ini walaupun ia di cap pecundang.
Dengan tubuh bergetar, jantung yang terus bertalu-talu. Wajah yang pias terlihat, langkahan kecil mendekati mereka, Mamanya, Mbok Imah, dan tentu Nana.
"Arsa ?" Bhatin Nana yang bingung melihat kehadirannya di tengah-tengah mereka.
"Kenapa dia di sini? " Raut wajah berbagai pertanyaan tergambar jelas.
"Arsa, kamu habis darimana ?" Tanya Tamara.
Arsa menatap mata Mamanya dengan sedih, ia ingin sekali menatap dekat istrinya. Namun hatinya malu menggerakan matanya untuk memanglingkan dari sorot mata Nana.
"Arsa dari luar Ma." Lirih Arsa kemudian menundukan wajahnya kembali.
Tamara menghela nafas panjangnya, tangannya sudah gatal ingin menampar putranya. Namun ia tahan karena mengingat apa kata Dokter Anita.
Nana melihat bingung dan heran. Dari ujung kepala hingga kaki penampilan Arsa begitu kacau. Bukan Arsa sebenarnya, sedang terjadi apa sebenarnya ? Nana terlihat bingung dengan pandangannya tak lepas melihat penampilan suaminya.
Tamara menyuruh Arsa berdiri di dekat Nana. Arsa menuruti permintaan Mamanya, hati Nana semakin geli saja melihat sikap Arsa. Sejak kapan Arsa berubah ?
Mendengar nama Nana saja sudah terlihat muak. Kenapa sekarang di minta untuk mendekati dirinya. Dia patuh. Sungguh lucu bagi Nana.
Arsa mencuri pandangannya ke arah Nana yang Arsa tangkap wajah Nana sedang menatap dirinya. Arsa menatap sepatunya, jantungnya di sana sedang berpacu. Salah tingkah di tatap Nana seperti itu.
Arsa memberanikan diri mengangkat wajahnya yang begitu muram. Menatap manik cokelat terang yang tengah menatap dirinya dengan memberikan senyum simpulnya.
"Argh, dia gak berubah." Bhatin Arsa melihat sikap Nana yang begitu manis di mata Arsa.
Tamara dan Mbok Imah memilih duduk di sofa. Mereka memberi ruang untuk Arsa mengatakan sesuatu. Walaupun di ruangan lebih dari dua orang. Bagi Arsa seperti hanya berdua. Sunyi dan mendebarkan saja.
Mata Nana kembali menatap arah lain. Dia terlihat sedikit takut dekat dengan Arsa. Arsa tahu itu, memang dirinyalah penyebab semuanya. Tapi Arsa berjanji dengan dirinya untuk menjaga Nana. Hatinya pun sedikit sakit mendapat perlakuan Nana barusan. Padahal belum seberapa ketimbang luka Nana sekarang. Perasaanya seperti sedang di permainkan. Kadang wajah Nana menunjukan ceria kadang menunjukan rasa ketakutan.
"Gi-giamana keadaannya ?" Tanya Arsa penuh ragu takut membuat Nana takut.
"Baik." Angguk Nana yang masih tak mau melihat Arsa.
Hatinya tercabik kembali melihat sikap dingin Nana barusan. Tuhan beginikah rasanya mendapatkan perlakuan tak mengenakan ?
"Kamu belum makan ?" Tanya Arsa yang melihat semangkuk bubur di nakas belum tersentuh.
"Be-Belum." Jawab Nana, ia tak tega sendiri jika ia terus membuat keadaan semakin tak mengenakan saja.
Sebenarnya ia pun bingung. Semenit ia bisa bersikap normal di hadapan Arsa. Tapi semenit lagi ia merasa ada ketakutan yang berlebih.
Tapi entah hatinya takut, takut jika dekat dengan Arsa. Seketika potongan-potongan ingatan menghinggapinya.
"Mau aku suapin ?" Tawar Arsa penuh lembut.
Nana menatap ragu ke arah Arsa yang sudah memegang mangkuk bersiap menyuapi dirinya. Seketika mengingat pula kekasihnya yang biasa dia sebut Nek Lampir alias Laura.
Kejadian kemarin sudah menjadikan peringatan keras untuk dirinya. Nana takut, takut jika Laura tahu. Mungkin bukan tangannya yang luka, tapi bagian yang lain buat Nana menderita kesakitan.
Arsa masih menunggu jawaban Nana. Ia masih setia memegangi mangkuk dengan sabar. Nana melihatnya sungguh tak tega. Ingin kepalanya mengangguk, tapi wajah Nek Lampir dan Buyut Nenek Lampir menghantuinya. Ia bergedik sendiri mengingatnya.
"Mbok." Panggil Nana, Arsa paham, kecewa pasti tapi ia sembunyikan di balik wajah tegarnya.
Mbok Imah mendekat, ia tersenyum paham.
"Mbok, Mbok aja yang suapin Nana." Pinta Nana dengan hati tak enak mengabaikan kebaikan Arsa padanya.
"Maafin aku. Aku gak bisa nerima kebaikan kamu seperti ini." Ucap Nana lemah kepada Arsa.
Hati Arsa meraskaan sakit, paham apa yang dimaksud Nana. Ia sembunyikan mata sendu itu dengan tersenyum. Ia memberikan mangkuk itu kepada Mbok Imah. Mbok Imah menerima dengan senang hati.
Arsa melangkah menjauh dengan hati kecewa. Ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Nana. Namun Nana menolaknya, ya wajar jika mengingat perlakuannya kepada Nana.
"Tapi kalau mau beliin aku se-cup cokelat panas, boleh." Ujar Nana, Arsa menghentikan langkahnya mencoba mengingat ucapan barusan.
Arsa menyeka air matanya yang sudah menetes beberapa. Tersenyum lebar, hatinya berdegup kencang karena senang. Arsa tak menoleh ke arah Nana. Ia memilih bergegas pergi dari ruangan untuk hanya membeli se-cup cokelat panas.
Tamara melihat wajah terkejut putranya cukup membuatnya terkekeh. Begitu senangnya.
Nana pun yang melihat Arsa antusias karenanya. Tersenyum manis, tak menyangka hari ini dan pertama kalinya Nana meminta sesuatu ke Arsa. Dan langsung Arsa berangkat tanpa menolak.
\=\=\=
Arsa datang dengan membawa kantong plastik di tangannya. Nana yang sedang menyaksikan acara televisi tersentak melihat kedatangan Arsa.
Nana tersenyum ke arah Arsa. Arsa pun membalasnya, tapi ada jantung yang sedang bertalu-talu milik Arsa. Pipinya bersemu merah sekarang.
"Cokelatnya ada ?" Tanya Nana dengan berbinar matanya menatap terus ke arah Arsa sampai Arsa menaruh kantong plastik nya di nakas.
Arsa tersenyum, dan mengangguk. Mengambil cup cokelat panas dan membuka tutupnya.
"Mau minum sekarang? " Tanya Arsa dengan memegang cup yang siap untuk diminum.
Nana mengangguk dengan cepat. Ia ingin segera meminum seteguk kentalnya cokelat hangat sekarang. Arsa mencoba membantu Nana meminumnya. Karena tangan Nana belum bisa memegang sesuatu barang.
Nana tersadar ketika bibir cup sudah di dekatnya. Nana menjauhkan diri, Arsa bingung atas sikap Nana. Nana hanya menelan salivanya ketika aroma kuat cokelat telah merasuk rongga hidungnya.
"Kenapa? Ini anget kok." Arsa memastikan kalau cokelat itu memang benar hangat.
Nana menggeleng sedih, wajahnya ia tekuk. "Bukan itu-" Perkataan Nana menggantung ketika akan menyebut nama Laura. Ia melihat kembali wajah Arsa yang sudah kecewa.
"Nggak gitu." Nana meralat, takut sekali jika Arsa memarahinya. Melihat wajah kecewa Arsa saat ini.
"Terus kenapa? "
Nana menundukan wajahnya kembali, ia gigit kecil bibir bawahnya. Terlihat dia sedang ketakutan.
"Laura ?" Nama yang mengusik Nana dari tadi, alasan menjauh dari Arsa.
Arsa menghela nafas panjang. Ingin sekali rasanya tidak membahas kekasihnya itu di saat keadaan seperti ini.
Arsa meletakan cup cokelat panasnya di nakas. Arsa tak bisa menahan sikap cemberut Nana. Ia terdorong untuk memeluk Nana. Arsa memeluk lembut gadis bertubuh mungil. Arsa mendekap tubuh Nana dengan erat.
🍫🍫🍫