Banned

Banned
Rahasia Yang Memilukan


Arsa sudah di ruangan Dokter Anita, ia tengah duduk dan menantikan jawaban apa yang di berikan Dokter Anita. Perasaan Arsa menyatakan ada kemungkinan Nana masih bisa selamat.


Dokter Anita menatap sedih, dengan sesekali menghembuskan nafas perlahan.


"Bagaimana Dok ?" Tanya Arsa yang sudah tidak sabar menanti jawaban dari Dokter Anita.


"Begini tuan, jika terlambat sedikit saja entah apa yang akan terjadi kepada istri anda." Tutur Dokter Anita, dan Arsa masih menanti kelanjutannya.


"Istri anda koma, karena terlalu mengeluarkan banyak darah di pergelangan tangan kirinya." Arsa terkejut, ia ingin menangis namun ia tahan. Ia berkata ia harus kuat hanya untuk menyemangati dirinya sendiri.


"Tuan ini suaminya, bagaimana bisa istri anda menginginkan bunuh diri." Tanya Dokter Anita sedih.


Arsa hanya mampu menggelengkan kepalanya. Air matanya tak mampu ia bendung. Arsa tak kuat mendengar kata bunuh diri.


"Dan saya tanya, luka di bagian tangan kiri ada luka bakar karena siraman air panas. Kenapa bisa itu terjadi ? " Ada sedikit curiga dari Dokter Anita mengetahui luka-luka di tubuh Nana.


Arsa hanya menggeleng kepala, sungguh ia tak kuat untuk bicara.


"Dan lagi banyak luka pukulan benda tumpul di area kedua tangannya. Membuat luka bakar yang hampir kering terbuka kembali. Dan bagian punggung juga ada beberapa. Dan wajahnya sedikit bengkak akibat pukulan juga. Bagaimana anda sebagai suami ?" Jelas panjang lebar, Dokter Anita tak tahu harus bagaimana lagi. Intinya Nana seperti butuh pertolongan lebih dari medis.


Arsa menangis kembali, tangannya mengepal keras. Hatinya hancur redam mendengarkannya penuturan Dokter Anita. Yang ia sendiri tahu namun memilih diam.


"Mohon tuan bekerja sama dengan kami. Apa yang sebenarnya terjadi. Masalahnya istri tuan bukan sekali ingin mengakhiri hidupnya." Ucap Dokter Anita, membuat Arsa membelalakkan matanya.


Apa yang dikatakan Dokter barusan sungguh pukulan tak kasat mata. Arsa menatap dengan terkejut ke arah Dokter itu. Jujur Arsa tak tahu jika mengenai ini. Arsa hanya tahu kejadian ini bukan yang lain.


"Maksud dokter apa ?" Tanya Arsa.


"Maksud saya, ada di bagian pergelangan tangan kanan ada bekas sayatan lama yang sudah di jahit. Tapi sudah terjadi lama sekali." Jawab Dokter Anita.


"Sungguh saya tidak tahu. Saya tahu hari ini saja." Arsa bingung, ia mencoba mengingat kapan itu terjadi.


"Saya fikir istri anda juga sedikit terganggu metalnya." Kata Dokter Anita.


Apalagi ini ?


"Maksud Dokter istri saya gila ?"


"Bukan, bukan berarti gangguan jiwa. Seperti dia pernah mengalami trauma berlebih. Mungkin dimasa lalunya. Ada ketakutan yang menghantui dirinya menjadikan istri tuan terdorong untuk melakukan bunuh diri." Jelas Dokter Anita.


"Dan istri tuan harus terapi ke psikolog. Saya takut akan terjadi fatal jika di biarkan. Dan tuan sendiri sebagai suami harus menjadi peran yang besar untuk mendorong kesembuhan istri tuan sendiri." Kata Dokter Anita.


"Iya saya paham, saya akan melakukan yang terbaik buat istri saya." Begitulah akhir dari pertemuan mereka.


\=\=\=


Mbok Imah yang menunggu di luar UGD dengan sesekali melihat ke arah dalam. Nana terbaring lemah, Mbok Imah masih menangis jika melihat penderitaan Nana. Mondar mandir, ia pun menunggu kedatangan Arsa. Mbok ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Neng Nana.


Cukup lama berdiri, Mbok Imah melihat Arsa tengah berjalan menuju berdirinya Mbok Imah . Dengan wajah sedih, dan terlihat tak bersemangat.


"Bagaimana Den ?" Tanya Mbok Imah menanti jawaban. Mboj Imah pun sama, sama khawatirnya.


"Mbok, Nana koma." Ucap Arsa melemah, ia pun melihat Nana terbaring tak berdaya di sana.


Mbok Imah jatuh terduduk di kursi. Air matanya luruh. Mbok menyembunyikan wajahnya diantara kedua tangannya. Isakan kecil yang begitu menyayat hati.


Arsa tak tega melihat Mbok Imah lalu menghampirinya. Dan duduk di sisinya, Arsa memeluk Mbok Imah dari samping. Guna menguatkan Mbok Imah.


"Sabar Mbok, seenggaknya Nana masih ada kemungkinan besar hidup. Kita harus banyak berdoa sama yang Maha Kuasa agar di berikan kesempatan untuk Nana pulih." Tutur Arsa.


"Andai saja Mbok gak nururti permintaannya. Pasti Neng baik-baik saja." Ucap Mbok memyesal


"Mbok jangan salahkan diri sendiri." Arsa mengusap bahu Mbok Imah dengan lembut.


Hatinya pun tak kalah hancur. Berulang kali ia mencap dirinya penjahat. Berulang kali menganggap kejadian ini salahnya. Jika saja dulu Arsa tak membenci Nana berlebih. Andai saja ia benci sekedar menjauh, bukan mengolok, mengatai, dan mencaci Nana dengan kejam.


Hening terasa sampai Arsa membuka suara, "Mbok Arsa mau tanya sesuatu."


"Tanya apa Den ?" Kata Mbok Imah yang mulai tenang sekarang.


"Tadi kata dokter tangan sebelah kanan Nana ada bekas sayatan juga Mbok. Apa Nana dulu pernah-" Arsa menggantung ucapannya.


Mbok Imah paham, "Iya kejadian enam tahun yang lalu." Tutur Mbok Imah dengan sesekali menghela nafas panjang.


Rahang Arsa jatuh ketika mendengarnya. Apa benar ? Kenapa ?


Jantungnya berdegup cepat, menanti cerita panjang secarik cerita kehidupan Nana yang dulu pernah ia hapus dari kehidupannya untuk tidak bahas kehidupan Nana.


"Karena kami semua menutupinya dari Aden." Jawab Mbok Imah.


"Kenapa harus di sembunyikan dari Arsa ?" Tanya Arsa, perasaanya semakin sesak.


"Karena ?" Mbok menatap ragu ke arah Arsa.


"Karena apa Mbok ?" Desak Arsa.


"Karena semuanya berawal dari Aden." Mbok Imah menangis, menangis yang kesekian kalinya.


"Hah ? Karena aku ?" Arsa tersentak mendengar penuturan Mbok Imah.


"Enam tahun lalu, Aden mengeluarkan kata-kata menyakitkan waktu di sekolah. Ingat ? Neng Nana terluka saat itu. Dirinya malu sampai beberapa hari tidak mau masuk sekolah. Mengurung diri di kamar. Neng gak mau makan sampai tidak mau menemui siapapun. Kami sudah berusaha saat itu untuk membujuknya. Karena kami hanya khawatir Neng Nana tidak makan. Dan di saat Tuan Adi mendobrak paksa pintu rumah paviliun. Kami mencari Neng Nana di seluruh ruangan. Terakhir ruangan yang kami temui hanyalah kamar mandi. Aden tahu apa yang kami lihat ?" Mbok mengingat rentetan cerita yang memilukan.


Hati Arsa mencelos, bergemetar tubuhnya. Semakin dalam saja rasa bersalahnya. Bagaimana ini ? Nana ingin mengakhiri hidup karenanya. Ia pun berusaha mengingat di sela-sela Mbok Imah bercerita. Mengingat bagian mana yang membuat hidup Nana yang ingin mengakhiri indahnya dunia.


"Banyak darah di bathub. Waktu itu nyawa Neng Nana hanya di ujung tanduk. Persis seperti tadi, kami membawanya ke rumah sakit. Dan persis pula seperti ini. Neng Nana koma selama satu minggu lebih. Hari-hari selanjutnya kami memulihkan mentalnya. Neng Nana depresi berat Den. Dia fikir semua orang akan menghakimi dirinya. Akibat kesalahan yang tak pernah ia buat." Sambung Mbok Imah.


"Tapi Mbok Nana belum tahu kan kalau dirinya bukan cucu Mbok Imah. Bagaimana depresinya begitu memuncak." Tanya Arsa.


Mbok Imah menatap heran ke Arah Arsa. Bagaimana Arsa tahu ? Bukannya Arsa selalu menolak untuk mendengarkan penjelasaan dari siapa pun.


"Gimana Aden tahu? " Tanya Mbok Imah dengan menatap mata manik hitam Arsa guna menyelidik.


Arsa membuang muka ke depan, ia malu sama dirinya yang jahat kepada Nana.


"Arsa di kasih tahu sama Mama dan Papa." Ujarnya dengan tidak menatap Mbok Imah.


Oh, wajar saja. Mungkin sudah waktunya, pikir Mbok Nana.


"Iya emang yang dikatakan Aden benar adanya. Sebenarnya Neng Nana udah curiga jauh sebelum orang tua Aden memberitahu. Kecurigaan Neng Nana di awali Aden selalu berbicara tentang kehidupan Nana. Mbok sebenarnya kasihan sama Neng Nana. Dia bener-bener hidup sebatang kara. Makanya dia berfikir dunia tak berpihak padanya." Mbok Nana mengakhiri cerita panjangnya dengan wajah suram.


Arsa terus memilin jari-jari tangannya, menundukan kepalanya. Seolah iya menyembunyikan wajah sedih dan bersalahnya. Entah air mata keberapa ia teteskan untuk istrinya yang sedang terbaring tak sadarkan diri.


Hatinya yang baja seperti melebur bersamanya rasa bersalah. Iya, Arsa tahu dirinya bersalah. Arsa pula harus memperbaikinya.


Arsa memandang lurus, ia seka sisa air matanya. Menghela nafas pendek, kemudian menyandarkan diri di kursi.


"Mbok." Serak suara Arsa memanggil Mbok Imah.


Mbok Imah memandang Arsa. "Ada apa Den? " Tanya Mbok Imah.


Arsa membenarkan duduknya, sekarang ia duduk tegak, dan berkata "Arsa tahu, Arsa salah. Dan Arsa menyesal telah mengabaikan Nana dulu dan detik ini. Apa Nana mau menerima kata maaf dari Arsa Mbok?"


Kalimat terakhir Arsa seraya memandang Mbok Imah yang di sisinya dengan wajah penuh sesal. Mbok Nana terperanjat seketika, rahangnya jatuh sesaat. Mungkin jika Mbok Imah sebagai Nana akan ada perasaan yang menusuk. Tapi karena Mbok Imah, ada perasaan lega mengetahui Arsa akan membuka diri untuk Nana. Ya mudah-mudahan.


Sebelum Mbok Imah menjawab pertanyaan Arsa, Mbok Imah terlebih dahulu tersenyum manis. Seketika pandangannya kedepan, dengan senyum masih di torehkan.


"Aden belum kenal Neng Nana." Ucap Mbok Imah.


Arsa mengernyitkan dahi tak tahu arti kalimat tersebut. Arsa tak menyahut, ia masih menanti jawaban Mbok Imah dengan jantung berdebar.


"Hati Neng Nana entah terbuat apa, begitu keras seperti baja, begitu putih seputih kapas, begitu lembut seperti sutra-" Mbok Nana menatap kedepan, bibirnya masih menampilkan senyuman yang lebar. Mungkin meresap kalimatnya sendiri, atau membayangi visual Nana sendiri.


"-sesedihnya, semarahnya, sesakitnya yang di rasakan. Neng Nana selalu tersenyum dengan tulus itu menandakan dia sangat menerima dan mudah memaafkan kesalahan orang lain. Jadi-" Mbok Imah menatap Arsa yang tengah menatapnya juga dengan mengusap pundak Arsa dengan lembut.


"-jadi Mbok yakin, Neng Nana akan memaafkan segala kesalahan Aden Arsa. Apapun itu, jadi jangan berkecil hati." Akhir Mbok Imah dengan masih tersenyum.


Hati Arsa menenang ketika Mbok mencoba meyakinkan dirinya jika Nana akan memaafkannya. Arsa mengangguk lalu tersenyum.


\=\=\=


Sudah tiga hari belum ada tanda-tanda Nana siuman. Nana kini sudah di pindahkan di ruangan rawat inap dan tentu dengan pengawasan Dokter Anita. Mbok Imah masih setia menunggu di rumah sakit. Dan selalu berdoa agar Nana cepat pulih.


Dan Arsa di sana tengah terduduk lesu tanoa gairah. Ia tinggalkan semua pekerjaannya hanya untuk menjaga Nana siang dan malam. Padahal Mbok Imah sudah mengatakan agar dirinya saja yang di sini. Namun Arsa menolak keras. Dia harus menunggu Nana sampai siuman. Mbok Nana pun tak bisa memaksa kehendak Arsa. Ya Mbok Imah paham Arsa masih diselimuti rasa bersalah dan penyesalan.


Arsa tak henti-hentinya berdoa, dan menangis jika melihat keadaan Nana yang begitu menyayat hati. Arsa duduk di sisi tempat Nana terbaring. Wajahnya yang mulai membaik karena sebelumnya membengkak dan sedikit biru di salah satu pipinya. Tangan kiri yang dulu pernah ia obati, terluka kembali meninggalkan luka pukulan rotan di atas dan telapaknya. Dan tangan kanan pun sama seperti di tangan kiri Nana. Yang paling menyakitkan adalah kain kasa yang membalut pergelangan tangan kiri Nana dengan rapih.


Tatapan Arsa melemah, menangis dan menangis melihat keadaan Nana sekarang. Ia merindukan dimana Nana tertawa walau hanya sekali dalam hidup Arsa melihat Nana tertawa lepas.


Ia usap lembut puncak kepala Nana. Ia belai pipi chubby Nana. Tersadar Arsa tersenyum miris ketika melihat wajah ayu Nana teduh milik Nana.


Cklek!


\=\=\=