Banned

Banned
Apartemen


Sore ini Nana keluar dari rumah sakit. Apa yang di katakan Arsa bukanlah bualan. Padahal banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam hati Nana. Tentang berawal Arsa berubah hingga Nana harus pulang lebih awal. Nana tahu kepulangannya dari rumah sakit ada alasan tertentu. Tapi Nana mengurungkan niatnya untuk sekadar bertanya.


Arsa mendorong kursi roda yang tengah di duduki Nana. Padahal Nana bisa berjalan walau pelan. Tapi Arsa terlalu berlebihan, dan Nana pun menuruti.


Tak sampai situ, saat sampai di halaman rumah sakit. Tepatnya mobil Arsa terparkir persis di depan. Arsa tiba-tiba menggendong Nana. Membuat Nana tersipu malu, dan berkata lirih untuk menurunkannya karena malu di lihat orang.


Arsa tak menghiraukan dan tetap menggendong Nana dan menduduki Nana di kursi penumpang depan dengan hati-hati.


Mobil Arsa melesat pergi membelah jalan ibukota yang setengah macet karena jamnya sudah jamnya pulang kantor. Sepanjang jalan Nana hanya melihat ke arah luar jendela.


Suasana menjadi dingin dan canggung. Ini pertama kalinya dirinya mengizinkan Nana untuk duduk di kursi mobil pribadinya. Selain kemarin itu adalah sebuah keadaan darurat. Tapi kali ini berbeda, Nana benar-benar sadar.


Dan pertama kalinya Arsa merasa bingung untuk mengawali percakapan. Ia ingin mencairkan suasana namun Arsa paham hati Nana sedang tak nyaman berada di dekatnya sekarang.


"Turun yuk." Ajak Arsa yang sudah membuka pintu mobil dan hendak menggendong Nana.


"Hah!" Nana terkejut dari lamunan, tapi ia segera tepis keinginan Arsa dengan lembut tak lupa memberikan senyuman hangat.


"Nggak usah, aku bisa jalan kok."


"Bener nggak apa-apa ?" Tanya Arsa ketika Nana berusaha keluar dari mobil.


"It's okay." Senyum Nana, namun Arsa malah seperti khawatir dan memasang tubuh siaga takut jika Nana akan jatuh.


"Tuh, bisa kan." Nana memperlihatkan jalan pelannya.


"Yang sakit tuh tanganku, bukan kaki ku." Nana mengulurkan kedua tangannya memperlihatkan dimana yang terluka.


Arsa hanya terkekeh, kemudian menutup pintu mobilnya. Namun Nana baru sadar sedang dimana dia sekarang.


"Iya aku tahu, tapi kamu habis kehabisan darah. Jadi aku takut kamu jalan gak seimbang."


"Ya udah yuk, masuk." Ajak Arsa yang mensejajarkan tubuhnya dan memegang lengan Arsa.


Nana masih bingung dengan posisi ia berdiri sekarang. Ternyata Arsa memarkirkan mobilnya di basement.


"Kita kemana ?" Tanya Nana yang kini menatap Arsa dengan lebih bingung.


Ada rasa takut mulai menghantui. Entah kenapa rasa takut yang mendominan merasuk diri Nana untuk mendorong fikirannya ke arah lebih buruk. Seperti Arsa akan melampiaskan amarahnya setelah Nana sembuh. Itu yang di fikiran Nana sekarang.


Arsa sedikit tercubit hatinya melihat ekspresi takutnya Nana. Apakah sebegitu parahnya apa yang pernah Arsa perbuat di masa lalu ? Padahal sudah cukup bagi Arsa untuk membuktikan niat baiknya untuk Nana. Tapi Nana masih takut dengan kebaikan Arsa sendiri.


Tapi Arsa mencoba memaklumi sikap Nana. Ia tak mungkin juga menyalahkan Nana atas kesalahannya lalu. Arsa meraih lengan Nana dengan lembut. Arsa balas tatapan Nana dengan penuh keyakinan.


"Udah nanti aku jelasin." Ucap Arsa yang sukses membuat Nana nurut.


Arsa Dan Nana masuk di sebuah apartement yang cukup mewah. Nana masih bertanya sendiri apa tujuan Arsa membawa dirinya ke sini. Jujur selama perjalan Nana tak memperhatikan mobil Arsa melesat kemana. Yang Nana rasakan sungguh perjalanan sedikit lama.


Dan sekarang ia tahu-tahu sudah di bawa ke apartement seseorang. Nana mengikuti langkah Arsa. Dengan mengagumi isi dan interior design apartement.


"Kalian udah dateng." Tiba-tiba suara wanita yang tak asing bagi mereka yang menyambut kedatangan mereka dari arah ruangan jika ditebak mungkin itu kamar.


Nana yang tahu itu siapa, Nana terkejut dan semakin bingung oleh situasi ini. Nana menatap ke arah Arsa yang berada di sisinya dengan tatapan meminta jawaban. Arsa hanya membalas dengan tersenyum masam.


"Ma-mama, Mama kok bisa di sini ?" Tanya Nana kepada Tamara yang kini mendekati mereka berdua dengan tersenyum.


"Gimana keadaan Nana sekarang? " Tanya Tamara dan menuntun Nana untuk duduk di sofa.


Arsa pun ikut duduk di seberang. Tamara tersenyum hangat ke arah Nana. Nana suka dengan senyuman Tamara membuat Nana semakin nyaman berada di dekatnya.


"Nana baik Ma." Balas Nana, Tamara menyelipkan anak rambut Nana dengan senyum yang masih hangat.


"Syukur, mulai sekarang kamu tinggal dulu di sini sementara." Nana semakin kaget, Nana sedikit tersentak untuk apa ia harus tinggal di sini.


"...sampai kamu sembuh total." Lanjut Tamara.


"Kenapa? " Hanya itu yang terlontar dari bibir Nana.


Tamara menghela nafas pendek lalu menatap ke arah Arsa. Dan Nana pun akhirnya menatap Arsa dengan menanti jawaban apa yang di berikan Arsa.


Sesekali Tamara mengusap lembut lengan Nana.


"Hm, rumah lagi di renovasi."


Jawab nyeleneh Arsa, padahal alasannya agar Nana bisa menjauhi Nenek Areta dan Laura semantara ini. Agar Nana benar-benar sembuh.


"Renovasi ? Apa yang di renov-" Ucapan Nana tersela akibat memaksa pelan tubuh Nana agar berdiri dari duduknya oleh Tamara.


"Sini biar Mama tunjukin kamarnya" Tamara menuntun Nana ke arah ruangan dimana Mama Tamara keluar setelah dirinya saja Arsa datang.


Tamara mengiringi jalan Nana ke arah kamar yang di maksud, " Mama yang nyuruh buat renovasi rumah kalian. Mama bosen sama cat rumah kalian dari dulu gak pernah di ganti sampe kusen gitu."


Nana mendengar penuturan Tamara, dan tubuhnya selalu merespon suruhan Tamara.


"Kamu istirahat yah." Mama Tamara membantu Nana membaringkan tubuhnya ke ranjang king size .


"Mama keluar dulu ya, kamu istirahat dulu aja. Jangan di fikirin ya." Sebelum Tamara pergi, ia tinggalkan kecupan hangat di kening Nana. Lalu menutup pintu kamar.


🍫🍫🍫