
Selamat Membacaπ
π«π«π«
Benar saja kan apa kata Arsa. Kini Nana bingung sendiri ketika akan memegang sikat gigi yang Arsa letakan di pinggiran wastafel. Nana masih berusaha, dari mulai menggunakan lengannya. Bisa, tapi gak bisa juga ia gerak-kan gosok gigi itu. Sangat susah pastinya.
Sampai Nana lelah dan kesal sendiri. Ia buang gosok-kan gigi itu dengan sembarang di wastafel. Ia gengsi sebenarnya melakukan hal itu. Tapi rasa kesalnya sudah mendahuluinya. Nana memasang wajah bodo amat ketika Arsa memandangi-nya dengan mengejek. Arsa melanjutkan sesi akhirnya berkumur dan mencuci wajahnya.
Arsa tahu jika Nana sangat kesal pagi ini.
Nana sungguh kesal, kesal, kesal, kesaaallll. Nana mendengkus kasar, dan berlalu pergi.
Bruk !
"Mau kemana? " Arsa lagi-lagi menahan Nana dengan cara menarik lengan Nana begitu kuat hingga Nana masuk kedalam pelukan Arsa.
Seketika pipi Nana memerah di bersama jantungnya yang ikut berdetak. Sungguh merespon dengan cepat, menimbulkan sikap Nana menjadi gugup.
"Ih apaan sih? Aku mau keluar." Berontak Nana yang berusaha mengambil jarak.
Arsa sungguh gemas, pelukannya ia lepas. Tapi kini berpindah, mengunci tubuh Nana ke tembok dengan kedua tangan Arsa juga mengunci.
"Lepas." Berontak Nana
"Gak."
"Makanya nurut." Tolak Arsa.
Helaan nafas kasar, sorotan mata yang tajam mengarah ke diri Arsa . Nana kali ini akan meledakan dirinya di depan suaminya yang sudah membuatnya marah dan marah.
"ARSAAAAA!!"
Teriakan yang memekak-kan telinga. Arsa sampai sakit mendengar teriakan Nana yang begitu nyaring. Tapi Arsa juga senang karena Nana pertama kalinya menyebut namanya di depannya. Setelah sekian lama Arsa melarang Nana menyebut namanya ketika Nana di sekitarnya.
"Lepa-"
Mata Nana semakin bulat saja, sikap Arsa sungguh berlebihan. Nana tak ingin berharap lebih akan Arsa. Nana takut jika ia terbuai perlakuan manisnya. Kapan saja Arsa bisa meninggalkannya tanpa menoleh.
Nana kini melemah, artinya pasrah. Agar urusannya juga kelar, dan tak harus lama-lama berdekatan. Arsa tersenyum tipis, jujur hati nya sedang berdetak tanpa ia sadari.
"Susah banget sih di suruh manut." Arsa memulai membantu Nana bergosok gigi, dan mencuci wajahnya.
"Ginikan cepet selesai." Sindir Arsa yang membantu Nana mengeringkan wajahnya dengan handuk.
"Makasih." Jutek Nana dan berlalu pergi.
Arsa membiarkan Nana pergi begitu saja. Arsa sungguh gemaaassssss.
π«π«π«
Nana pergi ke dapur setelah menghindar dari Arsa.
"Jantungku masih normal kan ?" Tanya Nana yang menyentuh dada-nya sendiri. Meraskaan detakan yang tak biasa. Pipinya berubah menghangat membayangi kejadian tadi.
"Arrrssaaa!" Frustasi Nana.
Nana menuangkan air dari tempat air minum ke gelas. Tiba-tiba saat ia hendak meminumnya. Arsa meraih kembali gelas yang Nana apit menggunakan pergelangan tangannya.
"Ck, aku mau minum." Protes Nana.
"Aku juga." Arsa meminum dari gelas milik Nana sampai habis.
"Ck !" Nana melihat Arsa dengan tatapan kesal, dan memilih untuk tidak berdekatan dengan Arsa.
Lagi-lagi lengan Nana ia tarik dan kembali mengunci tubuh Nana di meja makan. Kedua mata mereka saling bertemu.
π«π«π«
Makasih yang udah mampir, jangan lupa tinggalin jejak kalian ya. Like, Comment, biar aku semangat buat nulisnya. Makasih semuanya.ππππππππππ