Banned

Banned
Tahu Diri


"Kamu itu belum kapok ya saya siksa kamu kemarin." Ucap Nenek Areta dengan penuh penekanan dengan tatapan yang menakutkan.


"Dasar perempuan kagatelan, perempuan gak tahu diri. Dengan keadaan lo sekarang, lo buat cari perhatian sama Arsa kan. Ngaku lo!" Tukas Laura yang tak kalah menyakitkan.


Nana diam, dan menutup telinganya serapat-rapatnya dengan tak memasukan hati ucapan mereka yang jelas mengoyak hati Nana. Sungguh ia tak ingin membuat keributan kembali setelah kejadian lalu. Ia lebih memilih mengalah dan menerima keadaanya apapun. Ia sendiri pun tak bisa membela diri karena dirinya pun sedang tak berdaya.


"Saya udah bilang buat jauhi cucu saya. Kamu tuh gak paham apa yang saya lakukan kemarin. Apa kurang ?" Pernyataan Nenek Areta membuat Nana langsung menggeleng kepala.


Hatinya setakut itu. Takut terulang kembali, karena rasanya semenyakitkan itu.


"Kalau masih punya harga diri tolong di pake dan ngotak. Tahu diri aja kamu itu cuma istri gak di anggap. Dan pada kenyataannya yang di hati Arsa cuma ada gue." Ucapan Laura tadi membuat membuka mata dan telinga Nana selebar-lebarnya.


Ia hampir lupa siapa dirinya, dan siapa yang di hati Arsa. Ia sampai terhanyut akan sikap Arsa akhir-akhir ini. Dan melupakan status kami. Ia kami suami istri tapi hanya sekedar status bukan perasaan yang mengikatnya.


"Nenek lain kali buat ia paham dengan kondisinya dan tempatnya. Jangan seperti anjing sudah tahu di tampung tapi masih membuang kotoran sembarang." Sindir Laura bergelayutan di tangan Nenek Areta yang membuat Nana terpojok akan maksud perkataan Laura barusan.


"Gara-gara lo Arsa udah gak pernah perhatian sama gue. Gue di acuhin akhir-akhir ini. Dan ini semua gara-gara lo. Lo emang sengaja buat kita renggang. Dan biar bisa lo milikin." Tukas Laura tak kalah menyakitkan.


"Sabar Laura, Nenek akan beri dia pelajaran yang lebih nanti. Tapi sekarang kita harus menyadarkan anak gak guna ini." Mata Nenek Areta sudah tak bersahabat ketika memandang Nana.


"Saya peringati ya, jauhi cucu saya. Kamu harus sadar kamu datang darimana. Asalmu sungguh menyedihkan, sekarang dengan tidak malunya dekat-dekat dengan Arsa. Ini peringatan kamu untuk yang terakhir kali. Kalau kamu masih aja kegatelan sama Arsa. Tunggu hari buruk mu akan datang." Ancam Nenek Areta serius, sedangkan Laura memberikan tatapan kemenangan.


Nana mengangguk dan diam. Hatinya bukan baja lagi. Kini berhamburan bagaikan debu. Usai mereka pergi dengan meninggalkan luka yang teramat di hati Nana. Bulir-bulir bening membasahi kedua pipinya.


Tak menyangka jika hidup dirinya akan masuk ke lubang hitam. Yaitu masuk sebagai bagian keluarga Ganendra, dan menantunya. Jujur Nana manusia biasa, ada kala rasa jengah melanda. Di keliling orang-orang yang tak menyukai keberadaannya.


\=\=\=


Tatapan Nana kini beralih ke sosok gagah Arsa. Nana tahu jika Arsa sangat mencintai Laura semenjak kuliah . Siapa orang yang tahu tentang kedekatan mereka dan keserasian mereka di mata teman-teman terdekat. Wanita yang sudah lama mengejar Arsa banyak yang patah hati ketika dirinya menjalin kasih dengan Laura. Dan hubungannya sekarang renggang karenanya. Ada rasa penyesalan tidak memaksa Arsa pergi dari sini.


Siapa yang tak suka seorang Arsa Ganendra. Mata memandang untuk pertama kalinya saja sudah terbuai. Arsa lelaki yang bijaksana di mata orang lain. Kehidupannya yang mengharuskan dirinya berkembang menjadi anak yang pintar, bijaksana, berwibawa, elegan, dan dingin adalah sifat yang hanya di tunjukan untuk ke beberapa orang termasuk Nana.


Orang yang baru ia kenal pun pastinya akan langsung bersifat dingin, acuh tak acuh. Ia hangat ketika berkumpul keluarga inti, kekasihnya Laura, dan teman dekatnya. Jika selain mereka, aura mematikan hanya untuk Nana dan orang yang baru ia kenal di luar dari pekerjaan.


Ya Arsa lelaki tampan, ia berusia 28 tahun dengan Nana haya beda 2 tahun saja. Wajah yang di idamkan para wanita. Bernetra hitam mengkilap, hidung yang mancung, alis yang tebal dan hitam, bibir yang merah dan sedikit tipis. Ia tak kalah manis jika tersenyum, karena setiap ia tersenyum akan menimbulkan lesung pipit samar di pipi kanan.


Sosok yang atlantis, tinggi 170 cm, memiliki rambut hitam yang bertataan stylish yang cocok di dirinya. Wanginya, wangi aroma mint. Sungguh menambah manly untuk seorang Arsa.


Sudah lima menit Nana puas memandang Arsa yang dari jauh. Ia cepat menyadarkan dirinya langsung. Tak lama Mbok Imah datang. Mbok menyapa Arsa terlebih dahulu, baru menuju Nana yang tengah duduk bersandar.


Mbok Imah melempar senyumnya, ia sepertinya membawa sesuatu.


"Bawa apa Mbok ?" Tanya Nana yang melihat tas sedang yang tengah di letakan di nakas.


"Mbok bawain makan siang. Buat Neng sekalian Aden juga." Mbok Imah mengeluarkan semua isi di tas yang ia bawa.


Aroma yang Nana rindukan semerbak di seluruh ruangan. Iya asam pedas kesukaannya. Dari aroma asamnya saja sudah membuat air liur mengalir.


"Wah, Mbok masak asem pedes buat Nana.


" Antusias Nana.


"Kok tahu sih Neng ? Padahal belum Mbok buka tutupnya." Heran Mbok Imah tentang penciuman Nana yang tajam.


Nana hanya tergelak, melihat ekspresi Mbok Imah yang lucu.


Melihat Nana tertawa hatinya ikut berbunga. Hingga menoreh senyum tipis di wajah tampan Arsa. Ia memegang dadanya yang saat ini berdegup kencang seirama dengan tawa Nana.


Oh, Arsa dalam mode malu. Pipinya memerah, namun ia sembunyikan wajahnya dengan terus memandang layar laptop dengan serius. Padahal hatinya sedang tak mau di ajak serius.


Ia buru-buru ikut bergabung dengan mereka. Ia tak mau mati kutu karena sedang mengalami kecepatan detak jantung.


"Mbok, Nana gak boleh makan daging atau ikan dulu." Sergah Arsa yang ikut bersisihan dengan Mbok Imah.


Nana masih tertawa, tapi kali ini mereda karena Arsa. Ia usap air matanya yang di pelupuk mata. Entah karena bawaan, setiap Nana tertawa terbahak-bahak matanya selalu basah seperti orang menangis.


"Iya, Mbok tahu. Mbok ganti sama ikan gabus. Di kampung Mbok biasanya ikan bagus buat mempercepat mengerikan luka dalam. Apalagi luka seperti Neng Nana. Jadi aman di konsumsi." Jelas Mbok Imah.


"Ikan selain ikan laut juga boleh kok Den. Ikan sungai Neng Nana boleh makan." Tambahnya .


Arsa dan Nana mengangguk mengerti apa yang di jelaskan Mbok Imah.


\=\=\=


Dokter Anita telah memeriksa rutin Nana. Ia mengatakan jika mental Nana terguncang kembali. Dan memberikan arah pada Nana jika ada masalah tolong di bicarakan. Agar hati dan pikirannya sedikit lega.


Nana hanya menangguk, dan menepis ucapan Dokter Anita bahwa ia sedang tidak ada masalah. Apa lagi ada Arsa di ruangan. Membuat Nana cepat-cepat meralat ucapan Dokter Anita. Nana hanya mengatakan bahwa ia stres di rumah sakit. Tentu bohong, Nana hanya tak mau menambah masalah bagi Arsa.


Ya emang Nana tak yakin jika Arsa di pihaknya. Tapi setidaknya untuk dirinya aman. Karena Nenek Areta adalah Nenek yang paling ia sayangi. Dan Laura adalah belahan jiwanya.


Tentu Arsa mendengar perkataan Dokter Anita suatu tamparan baginya. Ia sudah tahu apa yang menggangu pikiran Nana. Tapi ia malah seperti curut pengecut. Tahu tapi tak mau berusaha memperbaiki keadaan Nana.


Arsa sebenarnya malu jika harus sok-sokan membela Nana tiba-tiba. Karena untuk perhatian saja yang sekarang pasti membuat Nana bertanya-tanya. Apa lagi jika dirinya membela tanpa di pikir panjang.


Dulunya saja tidak berbeda dengan Nenek dan Laura ketika memperlakukan Nana. Tapi Arsa tak pernah bermain tangan apa lagi Nana seorang perempuan. Pantang baginya memukul wanita sekali pun itu salah. Tapi perlakuan Nenek kepada Nana sungguh tak bisa di toleransi.


Tapi Arsa sungguh belum berani membela Nana mengatasnamakan dirinya sendiri. Ia masih hidup di balik topengnya untuk saat ini . Ketika bertemu Nenek atau Laura ia akan terlihat cuek dengan Nana. Dan ketika Arsa bertemu Nana ia akan menjadi penuh perhatian dana kasih sayang.


Dokter berkata demikian membuat Arsa gagal dengan janjinya yang akan melindungi Nana dan merawat Nana.


"Nana." Arsa memanggil lembut Nana yang tengah serius menonton acara di tv.


"Hm..." Balas Nana yang tak mengalihkan wajahnya ketika Arsa memanggil.


"Jangan sakiti diri lagi ya." Lirih Arsa tapi masih di dengar Nana.


Yang membuat telinga Nana menangkap sesuatu yang asing. Nana langsung menatap Arsa yang kini juga tengah menatapnya serius.


"Maksudnya? " Heran Nana.


"Maksud aku, ini untuk terakhir kalinya kamu nyakitin diri kamu sendiri. Mulai sekarang kamu harus menghargai kehidupan yang di kasih Tuhan. Aku gak mau lihat kamu kayak kemarin." Arsa berujar dengan tatapan serius dan penuh perhatian.


"Kenapa? "


What, Nana hanya melontarkan pertanyaan kenapa? Sedangkan Arsa sudah berkata kali panjang lebar. Dan Nana masih belum menangkap perkataannya. Ia gengsi sebenarnya kepada Nana. Tapi mau gimana lagi ia harus memiliki hubungan baik dengan Nana.


"Kamu ngerepotin tahu." Kesal Arsa.


\=\=\=