
Memperlihatkan bagian tubuh Nana yang ramping. Sebagai lelaki normal membuatnya terkejut. Penampakan yang tak jelas alias samar dari atas sampai bawah. Jujur walaupun Arsa mempunyai tabiat yang kurang bagus. Ia masih anak rumahan. Ia tak suka melakukan hal-hal yang menjerumus negatif untuk dirinya.
Semisal berhubungan intim dengan kebanyakan wanita. Atau bergonta-ganti pasangan. Arsa bukanlah tipe lelaki seperti itu. Jika pergi ke club malam ia pun hanya minum segelas atau dua gelas menghormati teman atau rekan kerja yang ngajak ia pergi ke club.
Itu semua bukan gaya hidupnya. Jujur Arsa masih perjaka. Mungkin bagi teman dekatnya itu adalah hal yang tak menunjukan sisi seorang laki-laki. Tapi menurut Arsa itu adalah bentuk sisi seorang laki-laki. Jika ia ingin mendapatkan istri atau wanita yang ia cintai bisa menjaga diri. Terlebih dahulu dirinya harus juga bisa menjaga kesuciannya.
Teman-temannya yang mendengarnya langsung tertawa. Katanya di dunia ini sudah tidak memegang prinsip seperti itu. Tapi jawaban Arsa cukup membungkam mulut temannya dengan berkata " Maaf, gue gak mau cari barang bekas."
Temanya kalah telak di buatnya. Mungkin di saat itu temanya berfikir langsung tentang yang di ucapkan Arsa.
"Lepasin pengaitnya." Pinta Nana yang membuat Arsa yang tadinya menatap tubuh Nana dari belakang kini terkejut.
"Eh, gimana ? Pengait apaan" Tanya ulang Arsa.
"Ini loh." Mengendikan bahunya memberi sinyal ke Arsa.
"Aku gak bisa lihat. Aku lepas ya penutup mataku."
"Eh, mana boleh." Cegah Nana.
"Ya terus gimana? Aku aja gak bisa lihat."
"Ih, maksud aku da-daleman atas ku buka pengaitnya." Malu Nana.
Sumpah, Nana belum pernah membuka baju di depan lelaki mana pun. Walau pun Arsa sudah memakai penutup. Tetap saja ada nyawa lain di sekitarnya. Pastinya membuat Nana merasa tak nyaman. Apalagi dirinya kini setengah telanjang.
Tapi ya udah lah. Toh dia suaminya, sudah halal ini kan. Dan sah-sah saja.
"Oh bilang dong."
"Ya udah cepet."
Ya, Arsa melakukannya dengan susah payah. Arsa tak pernah melepas barang yang memang milik wanita. Dia sedikit gugup, dan ada rasa malu. Dia lebih memilih pidato di khalayak ramai di bandingkan harus melakukan seperti ini. Gugupnya luar biasa.
Di tambah aroma tubuh Nana sangatlah beraroma manis seperti cokelat. Fikir Arsa aroma timbul karena Nana suka sekali minum atau makan berjenis cokelat. Saking sukanya mungkin mandinya pake cokelat leleh, fikir Arsa.
"Udah nih." Kata Arsa menghela nafas panjang karena lega.
Ternyata susah untuk melepas pengaitnya. Membuat Arsa Ganendra tadinya hampir menyerah. Bukan menyerah untuk melepas pengaitnya namun ingin membuka sehelai kain yang menghalangi pandangannya.
Dalaman atas Nana benar-benar terlepas dari tempat yang seharusnya. Kini ia benar-benar setengah telanjang. Malu sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi. Ia hanya terbiasa tidur tanpa bra sama sekali.
Nana bingung, " Eh, kok pake kemeja. Kan aku juga bawa baju."
Arsa yang memegang kemeja ingin memakaikan malah terhenti karena Nana bertanya.
"Lebih praktis ini." Jawab singkat Arsa.
"Tapi ini kan baju kamu."
"Ya emang kenapa? " Tanya Arsa
"Emang boleh gitu ?" Pertanyaan polos yang sangat terlalu.
Arsa menghembuskan nafas kasar, ia terlalu gemas dengan Nana. "Nana Alina, aku yang bawa baju. Aku yang ambil ke lemari. Dan ini aku yang kasih. Jadi intinya boleh."
Nana mendengar penuturan Arsa mengerjab matanya dua kali. Tangannya yang masih menyilang di antara kedua dadanya. Karena ia benar-benar hampir telanjang.
Nana juga tidak bisa menolak apa yang di ucapkan Arsa.
"Siniin tangannya. Aku gak bisa lihat. Arahain ke lengan kemeja." Arsa membuka kemejanya lebar-lebar agar tangan Nana bisa leluasa masuk.
Dengan pelan tangan kanan Nana ia masukan ke lengan kemeja. Arsa yang penipu ulung mungkin. Wajahnya memerah semerah-merahnya. Bagaiman tidak ia masih melihat samar bagian depan Nana dari pantulan cermin. Dengan cepat ia sadar, mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Udah." Lirih Nana yang sudah memasukan tangan kirinya juga.
Ya selanjutnya adalah mengancing baju kemeja satu persatu. Arsa melihat samar dari balik kain penutup matanya bahwa Nana tengah menutup bagian dadanya dengan kemeja yang belum di kancing. Arsa tahu Nana sedang risih sekali.
"Sini aku kancing baju nya." Titah Arsa yang mengulurkan kedua tangannya dari belakang.
Nana tak bisa menolak, karena dirinya saja tidak bisa melakukannya sendiri. Ia sadar ia butuh seseorang untuk membantunya.
Deru nafas Arsa menerpa bagian telinga, anak rambut, dan kulit pipi sebelah kanan Nana. Menimbulkan sensasi berbeda di antaranya sebenarnya. Mereka sama-sama gugup, sama-sama tersipu malu.
Secara tidak langsung Arsa memeluk Nana dari arah belakang namun niatan yang berbeda. Dua kancing lolos, walau Arsa masih hati-hati agar Arsa tak menyentuh hal lain selain kancing baju.
Bau aroma manis dari tubuh Nana kini masuk daftar kesukaannya. Aroma dari rambutnya pun begitu lembut. Kesempatan Arsa untuk menghirup lebih lama aroma sang gadis alias istrinya.
🍫🍫🍫
Hayuklah yang udah baca klik Like nya aja aku udah seneng. Masa pelit gitu 😐. Becanda sayang, udah mampir baca aku juga udah seneng. Di intip sedikit juga gak apa-apa. Makasih banyak yang udah baca karya aku 💜.