
Hai Readers makasih ya udah mampir ke novel ku. Maaf jika ada kata-kata atau alur yang tidak pas. Dan kalau sudah baca tolong tinggalkan kesan kalian seperti apa tentang ceritaku. Comment di bawah ya๐. Dan jangan lupa ๐ nya. Vote dan klik ๐. Makasih semuanya๐
\=\=\=
Setelah kejadian itu, Arsa lebih perhatian dengan kondisi tangan Nana. Bukan secara langsung menanyakan kabar Nana. Melainkan perantara dari Mbok Imah. Mbok Imah selalu melapor apa yang Arsa katakan tentang dirinya ke Nana.
Arsa selalu mengingatkan Mbok Imah tentang apa yang akan dimakan Nana nantinya. Padahal tanpa di ingatkan Mbok Imah pun tahu. Juga mengingatkan Mbok Imah untuk mengingatkan Nana memakai salep pemberiannya dengan rajin. Dua hari setelah kejadian di kamar sempit Nana sebelum berangkat kerja. Arsa selalu absen bawelnya ke Mbok Nana.
Nana tetap berkerja seperti biasanya. Tangannya mustahil untuk digunakan membuat adonan kue. Ia hanya datang memandori Riska dan Tedjo melakukan langkah-langkah membuat cake-cake di menu tokonya. Dan akhirnya ia merekrut pegawai baru untuk bekerja menggantikan Riska dan Tedjo yang biasanya melayani pelanggan.
Nana dengar-dengar Laura di rawat di rumah sakit. Sebenarnya tidak perlu serepot itu sampai harus ke rumah sakit. Dirawat dirumah, istirahat cukup, memakan makanan sehat, dan meminum obat dengan teratur itu sudah cukup efektif.
Tapi Laura walau usia sudah hampir 24 tahun. Ia selalu berperilaku kekanak-kanakan. Manja adalah sifatnya. Terlalu berlebihan juga iya. Apalagi ketika Nana memberikan penghargaan tak terlupakan untuk Laura. Laura semakin manja dengan keadaannya. Kenapa nggak ?
Laura seorang model terkenal di indonesia. Sebenarnya Arsa kurang setuju Laura memilih menjadi model. Terlebih model majalah dewasa, memperlihatkan bagian-bagian tubuh wanita. Kekasih mana yang rela, kekasihnya di tontonan ribuan pasangan mata lelaki.
Laura semakin frustasi, ketika benjolan sebesar kepalan tangannya terbentuk di bawah matanya. Entah kenapa sampai membengkak sebegitu besarnya. Nana adalah gadis, tidak pernah melakuakn latihan fisik. Seharusnya tidaklah begitu besar. Kalaupun besar mungkin itu karma dari Tuhan. Karena Laura sering menjahati dirinya. Itu sudah bayaran memuaskan untuk Nana.
\=\=\=
Jam tujuh pagi Nana sudah bersiap akan berangkat ke tokonya. Arsa sudah pergi setengah jam darinya. Nana menghabiskan sarapannya di meja makan. Mbok Imah tengah menyiram tanaman di halaman depan. Samar-samar terdengar suara ribut kecil di beranda depan rumah.
Nana penasaran ribut apa di depan. Ia beranjak melewati ruang tamu. Sebelum sampai ke depan pintu. Masuklah wanita berusia hampir enam puluh dengan dua bodyguardnya dengan bertubuh besar dan kekar di setiap sisi wanita itu. Nana terkejut melihat siapa yang datang.
Kakinya lemas seketika, tatapannya berubah sayu terlihat. Wanita itu menatap Nana dengan bengis, membuat hati Nana bergemuruh. Mbok Imah menyusul dari belakang dengan tergesa-gesa. Dan berkata dengan suara seraknya yang khas " Nyonya Besar, ampuni Neng Nana. Tolong jangan melakukan sesuatu kepadanya." Mbok Imah memohon dengan bersujud.
"Sudah Mbok, nggak perlu bersujud." Nana menghampiri Mbok Nana guna menitah Mbok Nana berdiri. "Ayo Mbok berdiri.
Mbok Imah pun berdiri, terlihat mata sayupnya telah basah oleh air matanya. Nana balik melihat wanita itu dengan berani. "Nek ada apa ?" Ucap Nana.
"Kurang ajar, siapa yang menyuruhmu untuk memanggil saya dengan sebutan Nenek." Sentak wanita tua itu dengan nada amarah yang tinggi.
"Sudah tidak pernah di ajarakan lagi. Panggil aku Nyonya Besar, Nyonya Besar." Kalimat Nyonya Besar penuh dengan penekanan.
"Seperti pelayan-pelayan keluarga Ganendra lainnya. Saya tidak sudi kamu meanggil saya dengan sebutan Nenek. Tidak pantas di dengar."
"Baik, Nyonya Besar." Lemah Nana yang pasrah.
Nyonya Besar dimaksud adalah Ibu angkat dari Ayah Arsa. Ya Nenek dari Arsa yaitu Nenek bernama Areta Ganendra. Nenek Areta seperti Arsa. Membenci dan membenci kehadirannya di tengah-tengah keluarga besar Ganendra. Apalagi sekarang Nana menjadi menantu pewaris Genendra. Nenek Areta semakin tidak suka.
Sebenarnya yang tahu identitas Ayah Adi adalah anak angkat hanyalah Mama Tamara, Nenek Areta, dan Papa Adi. Nana dan Arsa pun tidak tahu mengenai ini.
Awalnya Arsa tidak berlebihan membenci dirinya. Namun karena dipengaruhi oleh Nenek Areta. Arsa semakin membenci dirinya seperti Neneknya. Arsa cucu tersayang karena anak laki-laki tunggal yang akan menjadi penerus bisnis keluarga Ganendra selanjutnya.
"Ada apa Nyonya Besar datang kesini ?" Tanya Nana.
Nenek Areta mendekap tangannya, berjalan menuju mendekati Nana dengan tatapan tak suka."Cih ! Bertanya seperti itu seperti kamu pemilik rumah ini. Nggak tahu diri."
"Kalau bukan anak saya yang bodoh memelihara manusia nggak berguna sepertimu. Kamu bukanlah siapa-siapa, mungkin kamu akan mati kelapaaran diluar sana." Pelupuk matanya sudah digenangi airmata Nana ketika mendengar kalimat-kalimat Nenek Areta.
"Dibandingkan kamu dan sampah masih berharga dengan sampah." Harga diri Nana seperti tak pernah terlihat dimata Nenek Areta.
"Anak buangan, berarti anak tak diinginkan. Orang tuamu saja menganggap kamu seperti sampah. Apalagi dirimu yang terus-terusan masuk di kehidupan Keluraga saya." Sakit rasanya, teriris perih hatinya. Air mata Nana tak lagi mampu terbendung. Sekujur tubuhnya bergetar.
Luruh sudah air matanya tanpa di perintah. Ada segurat kesedihan yang mendalam. Ada kekecewaan yabg tertoreh sedemikian rupa. Ada kemarahan berapi-api namun tak bisa ia perlihatkan. Begitu miris, dan hina sebagai manusia kecil di keluarga Ganendra.
Ada keberuntungan yang patut ia syukuri bisa hidup dengan baik di di keluarga Ganendra. Ada yang masih peduli terhadapnya. Tapi ketika Nenek Areta dan Arsa melontarkan kalimat menyakitkan untuk dirinya. Seperti ribuan mahluk hidup di muka bumi ini membenci dirinya. Tak inginkan dirinya hidup sebagai manusia kecil. Ya seperti itu. Menyakitkan bukan.
"Cukup!" Teriak Nana frustasi setiap mendengar kalimat hinaan untuknya seperti teriris dengan pisau tumpul berlumuran serbukan garam.
"Ah, harimau telah bangun dari tidurnya." Nenek Areta sedikit tersentak, sekian lama Nenek Areta membuat Nana menderita baru kali ini Nana berani berteriak sekeras itu.
Plak! Plak! Plak! Plak!
Mbok Imah melihat kejadian itu terperangah. Mbok Imah tak berani melihat secara langsung bagaimana tamparan yang begitu keras diterima oleh Nana.
Empat kali tamparan begitu keras mendarat di pipi kanan kiri Nana dari Nenek Areta. "Lancang kamu ya !" Bentak Nenek Areta.
Ia menampar Nana kesekian kalinya dengan amarah yang meluap. Hingga ujung bibir Nana berdarah. Nana sampai ambruk, ia terduduk lungai. Ia tak bisa membalas, ataupun mengelak.
Hanya terasa kebas, tak merasakan apakah perih atau panas setelah berkali-kali di tampar oleh Nenek Areta.
Tamparan awal Mbok Imah hanya diam, tapi melihat bringasnya Nenek Areta Mbok Imah melakukan penengahan. Tapi ia selalu terjatuh akibat dorongan dari kedua bodyguard Nenek Areta. Mbok Imah memohon untuk diampunkan kesalahan Nana. Nenek Areta tidak mengindahkan ucapan Mbok Imah, malah semakin tersulut emosinya untuk terus menampar Nana tanpa ampun.
Nana hanya pasrah dan pasrah. Matanya nanar, jatuh melihat lantai. Nenek Areta berkata kasar tentang dirinya pun serasa telinganya tak bisa mendengar. Nana sudah lemas, Nenek Areta tak iba melihatnya. Ia tak bisa menampar Nana lagi, ia masih bisa menjambak rambut Nana. Memukul kepala Nana hampir jatuh ke lantai.
"Ini untuk rasa tidak terima kasihnya kamu yang sudah di besarkan oleh keluarga Ganendra. Dasar anak tidak tahu di untung." Nana diam, air matanya yang luruh hampir tak tersisa.
"Nya, saya mohon ampun belas kasihan. Tolong sudah." Lagi-lagi Mbok Imah berusaha menyudahinya.
Mendengar itu Nenek Areta menatap Mbok Imah dan berkata "Kamu itu siapa ? Cuma pelayan rendahan, kamu itu nggak ada hak buat ikut campur. Kalau masih kamu bersuara, mulai besok kamu di pecat." Ancam Nenek Areta.
Nana menggelengkan kepala, tatapan yang nanar itu mengisyaratkan jangan di ulangi kembali. Mbok melihat tatapan Nana hanya mengangguk dengan menahan suara isak tangisnya.
"Maafin Mbok, Mbok gak bisa jagain kamu."Bhatin Mbok Imah.
Mbok Imah sesekali melihat perlakuan sadis Nenek Areta tanpa bisa melakukan apa-apa. Nana hanya memandang Mbok Imah dari kejauhan untuk berkata dengan tatapannya tetaplah di sana, aku baik-baik saja. Nana berharap Mbok Imah tidak menghubungi Arsa. Karena jalan terakhir adalah memberitahu Arsa atau mungkin orang tua Arsa.
Entah hati Nana terbesit mengingat Arsa. Karena akhir-akhir ini Arsa baik kepadanya. Ada sedikit harapan Arsa tahu dan membelanya. Namun itu lelucon untuk Nana, Arsa pun membenci dirinya sama halnya Nenek Areta. Yang ada ketika ia di siksa mungkin Arsa akan menikmati pertunjukannya, dan tertawa puas. Hal yang mustahil bagi Nana, mengharapakn bantuan untuk dirinya yang tak layak hidup.
Mbok Imah memberanikan diri mendekati pesawat telepon yang dekat di sisinya. Perlahan berjalan berharap tidak di sadari oleh Nenek Areta. Mbok ingin meminta bantuan kepada Arsa. Tapi naas, belum ia menekan tombol angka. Kedua bodyguard Nenek Arita telah di belakang Mbok Imah.
Pesawat telepon terjatuh ketika Mbok Imah di seret kedua orang dengan tubuh kekar dan besar. Mbok Imah di bawa ke gudang, ia di kunci di sana. "Lepasin saya, hei buka, buka pintunya." Pekik Mbok Imah.
\=\=\=
Nana masih dengan Nenek Areta. "Kamu juga berani-beraninya melukai calon menantu saya, melukai wanita yang dicintai cucu saya. Apa kamu bosen hidup ?" Bentak Nenek Areta.
Ctak!
"Arghhh!" Teriak Nana mengisi seluruh ruangan, menahan sakit yang teramat.
Suara pukulan dari rotan mendarat di kedua tangan Nana. Sakit ? Jangan di tanya, suara pukulannya terdengar nyaring. Orang yang nendengarnya pun ikut meringis. Di tambah tangan kiri Nana melepuh.
Nana pun tidak tahu Nenek Areta mendapatkan rotan kayu dari mana. Nana bodoh, jelaslah Nenek Areta sudah memikirkan hukuman apa yang pantas untuk dirinya.
Ctak!
"Arghh!" Suara menyakitkan, lebih sakit. Tenaga Nenek Areta sungguh masih berstamina. Menyisakan luka yang teramat pedih.
"Kamu wanita tak tau di untung. Habis kesabaran saya untukmu. Jika bukan karena anak dan menantu saya, mungkin kamu sudah saya buang ke tempat asalmu." Sakit bukan, sakit hati ini sungguh tak dapat di obati.
Nana menggigit bawah bibirnya, memejamkan matanya erat-erat. Ia berharap ini adalah mimpi buruk baginya. Air mata luruh seketika, berteriak ketika rotan pipih itu melayang dan mendarat di kedua tangannya berulang-ulang.
\=\=\=