Banned

Banned
Kepergok


Tadinya ******* ringan bertahap saling membuka mulut. Ciuman yang terbilang amatiran. Ciuman yang sedikit tergesa-gesa, tak ada trik apapun di sana. Ciuman berlangsung mengalir sesuai hasrat keduanya. Mengecup, *******, menghisap.


Arsa menyerang habis bibir merah Nana dengan buas. Nana sampai kewalahan mengimbangi ciuman amatiran Arsa. Nana sampai kehabisan nafas, baru Nana menghirup nafas pendek. Jemari tangan Arsa sudah menelusup leher jenjang Nana, kemudian menarik tekuk Nana. Sungguh Arsa seperti kesetanan, ia tak mengizinkan Nana untuk menghirup udara sebentar.


Lidah Arsa menejelajah habis setiap rongga mulut Nana tanpa sisa. Lenguhan kecil dari Nana membuat birahi Arsa memuncak. Ada sengatan aliran listrik menjalar ke setiap saraf sensitif, terbuai dan inginkan lebih.


Sesekali Arsa memberi jeda untuk keduanya ketika nafas mereka memburu karena kehabisan oksigen. Setelahnya tanpa ampun Arsa mencium kembali. Desahan kecil terjadi ketika lidah Arsa mulai menjalar bagian telinga, berpindah ke leher jenjang Nana. Ia lahap setiap jengkal leher Nana tanpa sisa. Membuat Nana merintih panjang. Kissmark ia tinggal di beberapa bagain leher Nana.


Arsa kembali ke awal, yaitu bibir yang ia senangi rupanya. Ia ***** perlahan, menikmati setiap *******. Dengan terhanyut setiap desahan, lenguhan, rintihan dari Nana. Arsa semakin gila di buatnya.


Apa ini rasanya ciuman pertama?.


Suara passcode di tekan pun mereka tak menyadari. Sampai bunyi dentingan pintu terbuka mereka hanya terhanyut hasrat yang belum mereka rasakan.


Masuk gadis cantik dari luar, terkejut melihat pandangan tak biasa ia lihat secara live. Apalagi pemainnya adalah kakaknya sendiri.


"Kak Arsa!" Suara Nabila mengejutkan aktivitas mereka.


Reflek mereka menjauh dan melihat siapa yang datang. Ternyata adik bungsu Arsa yaitu Nabila yang sedang melihat mereka dengan tatapan terkejut.


Membuat mereka malu dan gelagapan. Arsa dan Nana berdiri bersamaan, dan bukan Nabila saja yang masuk tapi Adi dan Tamara orang tua mereka datang berkunjung.


Untung hanya Nabila yang melihat aksi mereka. Dan sadar situasinya, Arsa langsung mendekati Nabila dan memberi kode untuk tidak ember mulutnya. Nana merapihkan kemeja Arsa yang di pakai kini kusut karena karena aksi panas mereka barusan. Dan mengurai rambutnya yang sebahu agar menutup sebagian lehernya agar menutupi bercak merah.


🍫🍫🍫


Degupan jantung mereka belum mereda ketika sudah satu ruangan. Ya, mereka berniat menjenguk Nana. Padahal mereka baru mendarat dari Jepang. Tapi karena perhatian dan sesayang itu dengan Nana. Mereka memutuskan untuk menginap di apartemen Arsa.


Atmosfer sudah tercipta dengan canggung teruntuk tiga manusia yang saling diam dan melempar tatapan tak jelas. Nana hanya menundukan kepalanya karena malu sekali. Untung Nabila yang melihat. Tapi sama saja rasanya tak mengenakan hati.


Arsa, rasanya belum menghilang kejadian tadi di kepalanya. Ada desiran aneh yang menghinggapi hatinya. Ini benar ciuman pertama Arsa untuk Nana. Ia sendiri tak percaya ciuman pertamanya jatuh Ke Nana. Dan anehnya ia tak pernah menyesal.


Adi dan Tamara saling memandang lalu memandang ke semua anak mereka. Baru lima menit yang lalu kangen-kangenan sekarang malah diam dan canggung.


"Nana gimana keadaan tanganmu? " Tanya Adi yang memecahkan rasa sunyi.


"Baik-baik aja Pah." Sahut kedua suami istri bersamaan.


Arsa da Nana saling pandang. Apalagi orang tua mereka menatap bingung. Sejak kapan mereka jadi kompak. Apa benar ayam jantan bakal bertelur?


"Oh, syukur lah. Terus kapan bisa pulih? "Tanya Adi kembali.


"Mungkin beberapa hari ke depan udah mulai baikan." Lagi-lagi mereka kompak.


Apakah air liur kalian bertukar hingga menciptakan kekompakan?


Nana jengkel sekali dengan Arsa. Dirinya yang sakit, dirinya pula yang di tanya. Kenapa Arsa yang ikut-ikutan jawab? Sumpah NNana malu banget.


"Kalian kenapa sih? " Heran Tamara dengan menahan senyum lebarnya.


Tanya tak bisa menyembunyikan rasa bahagia yang berkecamuk di hatinya. Apa Arsa selain berniat membuka diri atau Arsa juga berniatan untuk membina rumah tangga kalian yang baru berusia satu tahu. Jika benar, Tamara akan berdonasi dengan jumlah yang banyak ketika mereka berdua akan bersatu sebagai pasangan mencinta.


"Gak kenapa-kenapa Ma. Nana izin ke kamar dulu sebentar ya Ma, Pa, Nabila." Izin Nana, ia sungguh sangat malu hari ini.


Selain kepergok beradegan panas di depan Nabila, ia juga harus malu dengan sikap error Arsa. Ia hanya ingin cepat-cepat menyembunyikan wajah malunya.


Nana beranjak dari duduknya, setelah mendapatkan izin dari semua orang. Entah di otak Arsa ini sedang berfungsi sebagai apa?


Bukannya berbasa-basi dengan mereka agar mereka tidak menerka-nerka tentang hubungan kami. Malah ia ikut pamit ke kamar mengikuti langkah Nana.


Nana sangat malu, rona wajahnya tercetak jelas dengan warna merah. Jantungnya masih belum normal, maksudnya masih berdetak tak santai. Ia teringat jelas bagaimana kejadian panas tadi, antara dirinya dan Arsa.


Gimana bisa sampai senafsu itu? Nana yang duduk di toilet, pandangannya jatuh ke sepasang kakinya. Walaupun dia sedang sendiri tapi ia masih saja merasa malu.


Dan di perparah adik kandung Arsa melihat aksi mereka di sofa tadi. Nana takut bagaimana jika adik Arsa mengadu ke kedua orang tuanya lebih parahnya jika Nenek Areta dan Laura tahu. Bisa habis dia. Hari ini Nana benar-benar sedang tidak beruntung.


Debat dengan Arsa, ciuman pertamanya di renggut oleh Arsa, kepergok adik Arsa.


Arghhh! Semuanya karena Arsa.


Nana frustasi sekali, kepalanya ia angkat menengadah ke langit-langit atap. Terdengar suara yang memanggil namanya dengan lembut.


Sadar yang masuk Arsa, Nana merubah posisi duduknya. Sama sekali tidak memandang wajah Arsa. Hatinya menggerutu tak jelas ketika mendengar suara Arsa.


"Ngapain sih ikut-ikut ke sini. Bikin bad mood aja." Kesal Nana.


"Hey, marah ya." Arsa mendekati Nana yang sedang diam dengan bibir yang mengerucut.


"Udah tahu masih aja tanya." Nana hanya diam tak menyahuti sang suami.


"Jangan marah dong, bibirnya tuh jelek tahu." Goda Arsa yang terus-terusan ingin saling bersitatap dengan Nana. Tapi Nana selalu menghindar.


"Bibir ini juga yang kamu cium tadi." Kesal sekali.


Arsa setengah berjongkok di depan Nana, terus ingin bersitatap dengan Nana. Tapi lagi-lagi Nana menghindar.


"Mama yang lain mau nginep di sini." Ucapan Arsa sukses membuat mata bermanik cokelat terang langsung menatap bertemu mata si bermanik hitam pekat mengkilap di depannya.


"Mereka mau nginep? " Nana belum siap harus 24 jam bertemu dengan mereka.


Nana masih malu, malu sekali. Terlebih tadi Nabila memergoki dirinya dan Arsa tengah berciuman. Nana tak tahu harus bersikap seperti apa nanti. Degupan jantungnya semakin kencang. Perasaanya tak enak, tak bisa di jelaskan.


"Iya, katanya apartemen kita lebih dekat dari bandara. Dan ingin langsung menginap di sini." Jelasnya.


Tunggu!


"Apartemen kita? Sejak kapan?" Pikiran Nana melayang kejadian lusa kemarin, foto mesra mereka berdua di kamar apartemen ini. Hati Nana tiba-tiba meringis seketika.


"Ini semua gara-gara kamu tahu gak." Tukas Nana. Emosinya bercampur menjadi satu, sekarang ia hanya ingin meluapkannya.


Arsa melipat dahinya menatap bingung ke Nana. "Kok aku? "


Nana membenamkan wajahnya ke bawah. Antara marah dan malu bisa di jabarakan di wajah Nana sekarang. Nana memukul bahu Arsa dengan keras. Keras bagi Nana, tapi tidak bagi Arsa.


"Kamu malu ya? " Pertanyaan yang sengaja Arsa lontarkan, Nana kembali memukul bahu Arsa berulang ulang.


Sungguh Arsa tidak tahu malu. Kenapa juga dia bertanya seperti itu. Rasanya Nana ingin menendang jauh kemana saja manusia satu ini yang di depannya. Apa dia seperti ini jika sudah mencium wanita dengan mudahnya melupakan. Emang Arsa tidak tahu malu.


"Arsa, udah sana kamu mending keluar. Ngapain kamu kesini." Nana kesal sekali.


Arsa tersenyum senang sudah menggoda sang istri. Nana sampai malu untuk menunjukan wajahnya yang sudah memerah. Dia tidak marah tapi sedang malu saja. Mudah saja sebenarnya mengatasi kekesalan Nana. Seperti halnya kemarin, jika tidak Arsa berinisiatif membelikan sekotak cokelat untuk Nana. Tidak mungkin hari ini dia bisa berciuman dengan Nana.


"Kamu kenapa sih marah-marah terus. Mau aku cium lagi." Percayalah Arsa benar-benar tidak tahu malu sekali.


🍫🍫🍫