Banned

Banned
Dibawah Atau Diatas


Setelah ia buka kedua perban, Arsa menambahkan salep pengering luka di tangan Nana. " Kayaknya tiga atau empat hari lukanya bakal sembuh deh." Ucap Arsa yang melihat jeli setiap luka Nana.


Benar saja lukanya cepat mengering. Tiga atau empat hari mungkin sudah sembuh.


Setelah Arsa memberikan olesan salep di luka Nana. Kemudian membalutnya kembali dengan perban yang baru. Setelahnya, ia beres semua kotak P3K kemudian memasukkannya ke dalam laci kembali.


"Tidur gih udah malam."


Nana hanya diam sedikit mendongak menatap Arsa yang tengah berdiri.


"Kamu? " Tanya Nana.


Jika dirinya tidur di ranjang lalu Arsa tidur dimana. Kalau malam sebelum-sebelumnya Arsa tidur di sofa ruang tamu. Tapi karena keluarganya datang dimana ia akan tidur?


Adi, Tamara, dan Nabila tidur di ruang tamu. Padahal Nana sudah memaksa mereka untuk tidur di dalam kamar. Atau para wanita tidur di dalam, Arsa dan Papa mertua tidur di luar. Tapi mereka menolak dengan alasan sesekali mereka bisa tidur dengan anak bungsu. Untungnya sofa bisa di jadikan tempat tidur sekaligus. Jadi tidak masalah buat mereka. Nana tak bisa memaksa, ia menyerah dan mempersilahkan mereka tidur di ruang tamu.


Dan sialnya di kamar tidak ada sofa sama sekali. Padahal kamar cukup besar dan bisa di masukan sofa panjang di dalamnya.


Arsa menggaruk kepalanya padahal tak terasa gatal. Ia celingak-celinguk. "Aku tidur di bawah aja." Katanya menunjukan karpet di lantai.


"Mm, biar aku aja tidur di lantai kamu yang di atas." Usul Nana.


"Gak usah kamu aja tidur di atas. Biar aku yang di bawah." Tolak halus Arsa.


Nana kemudian berdiri dengan di bantu Arsa.


"Aku di bawah juga gak apa-apa. Kamu udah beberapa hari ini gak pernah tidur di ranjang pasti sakit badan mu." Memang benar dari rumah sakit ia hanya tidur di sofa, kemudian pulang pun ia tidur di sofa. Jujur tubuhnya sedang sakit sekujur tubuh. Apalagi malam ini ia harus tidur di lantai yang hanya beralaskan karpet.


"Aku aja yang diba-"


"Gak aku yang di bawah kamu yang di atas." Sela Nana dengan mendorong tubuh Arsa hingga Arsa jatuh duduk di ranjang.


"Gak bisa, aku di bawah kamu di atas Nana." Arsa menepis kedua tangan Nana yang mencengkeram kedua bahunya.


"Arsa."


"Aku udah bilang Nana Alina aku yang di bawah aja."


"Mana bisa sekarang gantian aku yang di bawah." Kekeh Nana.


Ya begitulah malam ini. Malam yang melelahkan bagi yang sedang lelah. Tapi mereka setelah menguras energi malah kembali cek-cok dan berdebat dalam hal sepele.


Lucunya setelah mendengar ribut-ribut kecil dari dalam kamar. Nana dan Arsa seolah lupa ada mahluk lain di sekitarnya sekarang. Ribut mereka memancing indra pendengaran mereka mahluk lain untuk ingin lebih tahu. Ya Adi, Tamara dan Nabila mendekati daun pintu kamar Arsa dan Nana.


Mereka tempelkan telinga mereka di daun pintu dengan mendengarkan dengan seksama. Mereka saling salah paham arti dari ribut kecil mereka Arsa dan Nana. Mereka fikir Arsa dan Nana saling berebutan poisi ya tau lah.*Mantap-mantap maksudnya 😅. Mereka yang menyalahkan arti dari perdebatan sesungguhnya membuat mereka bertiga saling pandang, dan tersenyum tipis.


Pada akhirnya Arsa kalah debat dengan Nana. Hanya satu kalimat yang Nana ucapkan ke Arsa.


"Gini aja deh kita sama-sama tidur di ranjang." Usul yang baik, itu namanya adil.


Arsa menoleh ke arah ranjang sesaat, lalu memandang Nana sesaat. Demi apapun, sumpah apapun Arsa benar-benar lelaki polos yang belum pernah tidur satu ranjang dengan wanita manapun. Sekalipun kekasihnya Laura. Di malam pernikahan Arsa dan Nana. Selama seminggu Nana harus tidur di sofa. Ya Nana dulu juga malas satu ranjang dengan Arsa. Sekarang malah usulan Nana membuat Arsa bingung.


"Kenapa? " Selidik Nana, melihat sikap Arsa yang gusar.


Arsa tak menjawab, ia bingung dan deg-degan. Ia tak tahu, lidahnya kelu terasa. Sampai-sampai Nana yang menatap Arsa, Arsa jadi salah tingkah.


"Gak, gak aku perkosa kok. " Kelakar Nana dengan menatap Arsa meledek. "Takut banget."


Ada pisau yang tak berwujud sedang menusuk hatinya. Perkataan Nana membuat Harga diri Arsa yang sebagai lelaki tulen terkoyak. Bagaimana bisa lisan Nana berkata demikian. Nyali Arsa semakin tertantang untuk mengambil keputusan. Seharusnya memperkosa itu dirinya bukan Nana.


"Oke gak masalah." Setujunya dengan santai.


Nana hanya menyunggikan senyum manisnya ketika Arsa langsung membaringkan diri di ranjang. Nana sebenarnya juga risih satu ranjang dengan Arsa. Apalagi ini pertama kalinya. Tapi ia tepis rasa itu. Ia gantikan rasanya hanya niatan baik untuk tidak membiarkan Arsa tidur di bawah. Tidur di sofa saja menyiksa apalagi di lantai yang hanya beralaskan karpet. Toh juga Arsa gak mungkin ngapa-ngapain dirinya. Ya Nana tak menampik jika ia seruangan dengan lelaki yang normal. Kapan saja Arsa bisa menerkamnya tiba-tiba dari hari kemarin. Dan itu sudah hak dia sebagai suami.


Jadi tak ada yang di takuti Nana. Nana ikut naik di sisi ranjang. Merebahkan diri di samping lelaki yang sebenarnya suaminya. Arsa sudah memejamkan matanya. Entah dia tidur atau belum. Tapi membuat keduanya merasa semakin tak nyaman di posisi seperti ini.


🍫🍫🍫