
Selamat Membaca ✌
🍫🍫🍫
Mata mereka saling mengunci, cukup lama terjadi. Berakhir dengan Nana tiba-tiba memberontak.
"Lepasin." Arsa tersenyum tipis melihat pipi Nana berubah menjadi merah.
Arsa tahu, Nana memberontak karena malu di tatap seperti itu. " Lepasin, aku bilang lepasin." Galak Nana.
"Kenapa sih marah-marah mulu ? Gak capek apa ?" Kata Arsa, Nana memelototi Arsa dengan galak.
"Apaan sih nih anak, dia duluan yang mulai." Kesal Nana tapi sebenarnya jantungnya sedang kumat. Berdetak ketika di dekat Arsa.
"Kamu nyebelin banget, ganggu aku terus. Bisa gak sih jangan ganggu aku terus." Protes Nana dengan kesal.
"Idih, yang ganggu siapa? " Jawab Arsa, " Aku niatan bantu kok."
"Kamu tuh yang aneh, aku cuma bantu, kamunya malah marah-marah." Gantian Arsa yang tak mau kalah.
Nana sungguh kesal dengan Arsa. Kenapa juga Tamara harus memilih Arsa untuk mengurus dan menjaga dirinya ? Dan Arsa ternyata sangat menyebalkan.
Nana mencebik dan tak mau menatap Arsa. Nana pasrah, nanti juga Arsa akan capek sendiri. Nana tak menyahuti Arsa sama sekali.
" Ya udah aku minta maaf deh. Mau maafin gak ?" Tanya Arsa dengan berusaha mencari tatapan Nana. Karena setiap Arsa ingin menatap mata Nana. Nana terus menolak.
"Aku ambil-in ya." Tawar Arsa, Nana hanya diam.
Arsa kembali menuangkan kembali air di gelas tadi. Dan mengulurkan tangannya ke arah wajah Nana.
"Nah, aku bantu ya." Karena Nana tak merespon, Arsa tetap memberikan gelas itu dan di sambut bibir Nana.
Arsa tersenyum geli, Nana menerima sambutan gelas itu di bibirnya dengan kedua matanya mengarah ke sembarang tempat. Nana terlanjur kesal dengan Arsa. Tapi air yang Arsa berikan telah di minum habis oleh Nana.
Tunggu !
Ketika Nana baru melangkah beberapa, tiba-tiba Nana membalikan tubuhnya. Arsa masih di tempat dengan gelas masih di pegangnya. Arsa menaikan satu alisnya ketika mendapatkan tatapan selidik dari Nana.
"Kurang? " Tanya Arsa yang ia fikir Nana ingin minum kembali.
Bukannya menjawab Nana malah mendekati Arsa. Tapi matanya tertuju di gelas yang Arsa pegang. Membuat Arsa semakin bingung.
"Ada apa ?" Heran Arsa yang ikut melihat gelas yang ia pegang.
Nana tak menjawab, matanya masih betah menatap gelas tadi yang ia gunakan. Arsa semakin bingung di buatnya. Malah Arsa mengangkat gelasnya setinggi dadanya, Membuat tatapan Nana mengikuti arah gelas yang Arsa gerakan.
"Apasih Na? " Arsa mulai kesal.
Tatapan Nana beralih ke Arsa, dan berujar " Tadi gelas mana yang di pake? " Tanya Nana dengan nada selidik.
"Ya, gelas yang tadi lah." Jawab ringan Arsa.
"Gelas yang mana ?"
"Astaga Nana, gelas yang tadi awalnya kamu pegang."
"Terus dimana tadi kamu minum? " Tanya Nana.
Arsa mengernyitkan keningnya dengan bola mata bergerak ujung ke ujung, " Ya disini lah."
"Apaan sih Na ? Gak jelas deh."
"Bukan, dimana-nya kamu minum? Di sini, di sini, apa di sini " Nana menunjukan setiap bibir gelas.
Arsa menggaruk tekuk nya yang tidak gatal, " Ya persis yang tepat kamu minumlah." Jawab polos Arsa.
Nana menjatuhkan rahangnya, matanya membulat seketika. Pipinya merona kembali.
"Bener-bener ya, kamu tuh. Ck." Nana pergi ke arah kamar meninggalkan Arsa tanpa penjelasan.
Arsa berdiri mematung, hanya menatap linglung kepergian Nana. Matanya kembali menatap ke arah gelas yang ia pegang tadi.
"Heh! Gelas, kamu bilang apa ke Nana? " Arsa geram sendiri.
Arsa menaruh kembali gelas itu di meja. Ia pusing memikirkan sikap Nana hari ini. Nana memiliki sikap moody akut kali.
Nana menutup pintu kamar, ia sentuh bibirnya menggunakan lengannya. Hal sepele padahal, tapi untuknya sesuatu yang tidak bisa di jelaskan. Jantungnya bertalu-talu, dengan rasa bergemuruh di dada. Nana benar-benar melihat dengan jelas bibir gelas tadi. Basah hanya di sebagian sisi itu artinya dia benar-benar berciuman secara tidak langsung.
Tuhan awalan seperi apa ini ?
🍫🍫🍫
Ringtone ponsel Arsa berdering, sebelum melihat siapa yang menelfon. Arsa mencuci tangannya di wastafel karena ia habis memotong ayam kampung yang akan ia masak untuk sarapan hari ini.
Arsa mendekati meja ruang tamu, dan tertera nama di sana yaitu Nenek. Raut wajah Arsa benar-benar berubah. Yang tadinya sumringah, menjadi malas tak beralasan. Dengan helaan nafas kasar. Arsa mengambil ponselnya, dan men-slide warna ke hijau.
"Hallo, Nek. " Kata Arsa dengan nada lesu.
"Arsa kamu dimana? Udah beberpaa hari ini kamu gak masuk ke kantor. Gak ngabarin nenek atau Laura. Kamu ini sebenarnya kemana sih ?" Rentetan pertanyaan, dan omelan memenuhi isi telinga Arsa.
Jika mendengar suara Nenek Areta membuat Arsa kesal karena Nana di buat menderita. Ugh ! Andai dia punya hubungan baik dari awal dengan Nana. Pastinya gak akan kejadiannya seperti ini.
"Arsa baik-baik aja di sini Nek. Nenek gak perlu khawa-"
"Ya sekarang kamu lagi dimana? " Sela Nenek Areta.
Bruk!
Arsa langsung menoleh ke arah kanan, dan
🍫🍫🍫
Berikan dukungan kalian ya, biar akuhnya semangat. Like, comment, share, dan klik 💜. Dan jangan lupa vote-nya. Thanks yang udah dukung novel ini. Dan juga yang udah mampir. Makasih banyak.
Maafin kalau tulisan ku agak berantakan. Maklum akuhnya penulis amatiran 😅.
Sekali lagi thanks yak. Purple U