
Nana pulang jam sebelas malam, setelah menikmati malam singkat dengan kedua pegawainya. Seperti biasa Nana masuk lewat pintu belakang. Nana membawa kunci duplikatnya. Ketika Nana membuka pintu, ada Laura duduk di kursi tempat meja mini bar. Laura memutar kursi itu ke arah berdirinya Nana di ambang pintu.
"Nek lampir ngapain lagi di duduk sendiri di situ." Bhatin Nana yang memiliki firasat tak benar.
Laura menatap Nana dengan sorotan mematikan. Nana menyadari itu pura-pura tak tahu, ia berjalan melewati meja mini bar tepat Laura duduk.
"Berhenti Lo di situ !" Laura beranjak dari duduknya kemudian berdiri di tepat belakang Nana.
Nana berhenti, mengambil nafas panjang. Nana memutar bola matanya jengah. Ia merasa tak ada masalah dengan Laura. Nana paling anti dekat-dekat dengan Laura. Karena Laura seperti Arsa, sama-sama tak suka dirinya .
"Apa ?" Tanya Nana yang tak merubah posisinya dengan nada malasnya.
"Lo gak sopan ya, Gue nih lagi ngomong sama Lo. " Suara menindas Laura muncul kembali setelah sekian lama Nana tak pernah mendengar itu.
Nana membalikan badannya, alasan dia cuma satu. Malas berdebat dengan Laura yang tak pernah ada titik temunya.
" Lo tuh gak tahu malu banget. Lo tuh cuma nump-"
"Cuma numpang hidup sama keluarga Arsa. Karena Gue anak pungut, seharusnya berada di tempat yang seharusnya. Gue seharusnya tahu diri siapa Gue kalau Gue ketemu Lo. Karena lo cuma orang satu-satunya di hati Arsa. Harus inget Lo tuh cuma milik Arsa." Sela Nana yang tahu ucapan Laura akan menuju kemana.
"Tsk, tahu diri juga Lo. " Mendesis Laura dengan masih tatapan yang mengintimidasi Nana." Lo tahu diri padahal ,tapi gak tahu batasan."
"Apasih maksud Lo, Ra?" Bingung Nana sekaligus malas meladenin Laura.
"Gak usah polos, Lo ya kan sok ngadu ke Arsa karena Lo cari muka semalem." Tangan Laura bersedekap, berdiri seolah dia seperti orang berkuasa.
"Sok ngadu ke Arsa ? Gue cari muka sama Arsa semalem ?" Bhatin Nana yang tak merasa berbuat itu.
"Jelasin ! Gara-gara Lo, Gue di tegur sama Arsa. Gue di hukum gak boleh buat party di rumahnya lagi." Nana masih bingung dia memilih diam.
Tapi bhatin Nana" Yaelah, cuma gitu aja di bikin masalah, gak berfaedah juga buat party berisik kayak gitu."
"Jelasin ! Malah diem." Sentak Laura, membuat Nana mengerjap kaget." Lo juga cari muka buat beresin tuh bekas party Gue sama temen-temen Gue. Padahal ada Mbok Imah, Lo sok-sok-an jadi pahlawan." Tambahnya dengan raut wajah Laura yang bisa di lihat dia kesal kepada Nana.
Nana sungguh males ngadepin Nek Lampir tua tapi otak kayak bocah. Ia tak menjelaskan apa-apa, ia memilih berakhir untuk pergi. Tapi di cegah oleh Laura dengan kata-kata kasar.
"Eh, anak tanpa orang tua!" Lontaran kasar dari Laura, terngiang jelas di telinganya seakan memenuhi gendang telinganya sekarang.
" Lo punya telingakan, Gue barusan ngomong dan tanya tentang kejadian semalem. Gara-gara Lo, Gue jadi di marahin Arsa. " Nana diam dengan wajah menahan amarah, jari jemarinya ia remas dengan kuat.
"Cih, cewek munafik kayak lo emang pantes nggak di anggap sama orang. Cuma bawa sial doang." Hinaan Laura terus menghujani Nana.
Tak henti-hentinya Laura berkata jahat untuk dirinya. Bahkan Laura sampai lupa tujuannya untuk apa. Karena Nana adalah sesuatu yang salah di kehidupan Laura maupun Arsa.
Karenanya cinta mereka terhalang seonggok daging tak berguna seperti Nana. Membuat Arsa yang dari dulu membencinya mendarah daging hingga menghasut semua orang untuk membenci dirinya, semakin membenci dirinya. Nana selalu berfikir ia hidup karena kesalahan. Seharusnya ia tak di lahirkan di rahim yang tak bertanggung jawab kepada dirinya.
\=\=\=
"Aw!" Rintih Nana yang menahan sakit di tangan kirinya karena Mbok Imah sedang mengolesi obat luka bakar.
"Neng, udah tahu sarang buaya, tapi masih dideketin." Mbok Imah merasa kasihan dengan Nana yang terus-terusan di siksa.
Mengingat kejadian 15 menit yang lalu.
Setelah Nana memberi ruang untuk Laura mengatai dirinya. Giliran Nana memberi sebuah penghargaan atas prestasi Laura sebagai pencemooh terburuk sepanjang masa. Nana menahan air mata sebagai tanda kepedihannya karena ucapan Laura.
Sebelum memberikan penghargaan, Laura terlebih dahulu mengambil air panas di dispenser di atas meja mini bar menggunakan gelas. Karena Nana hanya diam tak seperti dulu jika di hina. Nana akan langsung menangis dan berlari pergi. Kini memasang wajah tegar, lalu berbalik dan akan pergi meninggalkan radio rusak bagi Nana. Sikap Nana membuat Laura tersinggung. Menjadikan Laura gelap mata untuk melakukan lebih lagi terhadap Nana.
Byur
Segelas air panas mendarat di tangan kiri Nana mengenai bagian pergelangan tangannya dan punggung tangan. Hanya kata ****** setelah Laura mendaratkan air panas itu ketangan Nana. Namun Nana diam di keheningan, kebas awalnya terasa ketika air panas menyentuh kulitnya.
"Aw!" Teriak Laura sampai ia jatuh tersungkur ke lantai akibat pengharagaan Nana sebuah tonjokan sempurna di pipi Laura. Nana menonjok pipi Laura sekali dengan tangan kirinya.
Prang!
Gelas yang di pegang Laura pecah berserakan tanpa bentuk bersamaan Laura tersungkur dan menahan rasa sakit luar biasa. Seperti hati Nana yang barusan Laura pecahkan berkeping-keping.
Tepat waktu, Arsa yang baru pulang dari kantor. Ia masuk lewat pintu depan dan melihat kejadian tersebut langsung berlari menuju jatuhnya Laura guna untuk membantu berdirinya Laura.
Arsa tak bertanya ada apa yang terjadi. Ia hanya melihat Laura terjatuh dengan menahan rasa sakit di pipinya akibat pukulan Nana barusan. Tapi justru Laura membuat kejadian ini semakin drama. Dia pingsan ketika Arsa mencoba membantu Laura berdiri.
Nana melihat sekilas wajah Arsa yang dingin. Arsa tak terlihat marah yang semestinya. "Mbok, Mbok Imah. Panggil Dokter Mirza ke rumah." Teriak Arsa, berlalu melewati Nana yang berdiri melihat Arsa memapah tubuh Laura.
Rasa takut pun ada di benak Nana. Takut dirinya akan di marahi. Takut dirinya akan di lantai dengan banyak kata yang menyakitkan. Takut lebih dari sekedar mengatai, mungkin memukul. Wajar saja kesalahan Nana ke kekasih hatinya.
"Aw, pelan-pelan Mbok." Rintih Nana sekali lagi.
"Iya, Mbok tiup." Mbok Imah meniup tangan Nana akibat luka bakar dengan lembut.
"Lain kali, kalau Nona Laura berulah. Neng Nana langsung masuk kamar, kunci pintunya. Sumpel telingnya biar gak denger celoteh Nona Laura yang kejem." Imbuh Mbok Imah yang ikut kesal karena Laura yang memulai dahulu.
Cklek!
Arsa ternyata yang masuk ke dalam kamar Nana. Dan membuat Nana dan Mbok Imah langsung beranjak dari duduk.
"Mbok, aku mau ngomong sama Nana di sini. Mbok tolong keluar sebentar." Pinta Arsa lembut, tak ada tanda ingin memarahi Nana.
"Tapi Den." Mbok Imah enggan meninggalkan mereka berdua di situasi seperti ini, takut terjadi yang kurang mengenakan.
"Mbok, aku cuma mau ngomong aja." Arsa tahu kegelisahan Mbok Imah.
Imah pun langsung pergi dari kamar Nana, sebelum pergi Mbok Imah menyelipkan obat salep luka bakar ke tangan Nana.
"Mbok pergi, Nana gak apa-apa." Nana meyakinkan Mbok Imah, Mbok Imah pun meninggalkan mereka.
Arsa mengunci pintu kamar Nana, Nana hanya diam tak bergeming. Ada rasa takut yang menyelimuti di hatinya melihat akan sikap ngeri Arsa. Ia tak perlu bertanya apa maksud kedatangan Arsa saat ini.
Walau sudah makanan Nana ketika Arsa merasa Nana salah dimatanya. Arsa akan memarahinya, membentaknya, mengeluarkan kata-kata tak enak di dengar, menyudutkannya, segalanya tumpah ketika Nana bersalah dimatanya. Orang di sekeliling Arsa bukanlah hal pertama, ketika sudah waktunya. Arsa akan menumpahkan amarahmya dimana saja. Di depan temannya, keluarganya, bahkan temannya sekalipun. Arsa akan memarahi Nana habis-habisan.
Apalagi ini Nana membuat orang terkasihnya terluka dan membuat bekas di wajah kekasihnya itu. Pastilah Amarah Arsa sudah membayangi pikiran Nana sekarang. Mungkin bukan kata-kata amarah lagi. Bisa jadi ia akan melakukan hal sama yang dilakukannya kepada Laura. Atau menceraikannya bahkan menendang Nana dari rumah ini.
Mereka diam untuk beberapa menit. Nana diam, pikirannya kalut, jantungnya berpacu, keringat dingin membasahi bagian saraf sensitifnya, hanya sesekali Nana melirik Arsa hanya mengetahui ekspresi Arsa.
Tak tampak jelas gamabaran wajah Arsa. Hanya sekedar mencari jawaban di tatapan mata Arsa Apakah Arsa marah, atau marah banget kepadanya. Semakin Nana takut, semakin hal-hal menyeramkan akan terjadi. Nana mundur dua langkah, tangannya yang tadinya nyeri kini tak terasa kembali. Mungkin efek salep luka bakar sudah bereaksi. Atau mungkin ketakutan Nana yang mentralisirkannya.
Gengamananya mengerat bersamanya obat salep luka bakar yang di berikan Mbok Imah tadi. "Kenapa gak marahin aku langsung sih ? Atau tampar aku berulang-ulang. Kamu diem gini, buat aku semakin takut." Bhatin Nana yang mulai resah dengan kebisuannya mereka.
Nana berulang kali mengatur nafas, hingga terdengar di dalam ruangan. Seperti ruangan hampa baginya. Nana tak berani melihat wajah Arsa, Nana semakin menundukan wajahnya.
"Wanita ini kenapa terlihat menggemaskan jika ketakutan seperti ini ?" Bhatin Arsa.
"Akh, benar kata Papa." Bhatin Arsa yang senyum tipis mengulas begitu saja.
Deg!
Angin semula terasa panas kini semakin panas. Seperti hari akan kiamat, meteor-meteor akan menghujani bumi dengan kecepatan tak terhitung, mungkin saja saat itu ayam jantan akan bertelur.
Arsa mengenggam jemari Nana dengan lembut, menuntunnya ke arah tepi ranjang. Menjatuhkan tubuh Nana agar duduk bersama dengannya.
"Apakah ini jebakan ? Apakah ini hanya awalan ?" Pikiran Nana berkecamuk dengan sikap Arsa.
Menyentuh ujung rambut milik Nana ke kulit Arsa pun itu sebuah kesalahan bagi Nana. Ini sekarang Arsa menyentuh setiap ujung jari Nana. Reflek Nana menarik tangannya.
"Sini aku lihat lukanya !" Titah Arsa menarik lembut tangan Nana.
Jantung Nana lebih berpacu dari sebelumnya. Ingin rasanya jantung ini lari sejauh mungkin, agar tak menimbulkan detakan yang tak ingin Nana rasakan.
Dengan ragu-ragu Nana memberikan jemarinya untuk di lihat Arsa. Arsa melihat luka bakar akibat air panas yang di siram oleh Laura. Memerah, dan mulai melepuh hampir keseluruh punggung tangan Nana. Karena setelah di siram dengan air panas Nana tidak langsung melakukan pertolongan pertama.
Tatapan mereka tak bertemu, tapi Nana merasakan sesuatu kehangatan dari diri Arsa yang belum Nana rasakan sebelumnya. Seperti Arsa bukanlah Arsa yang ia kenal sebagai Arsa yang bersikap dingin, temperamen, dan aura mematikan bagi Nana. Arsa sekarang seperti Arsa yang terlahir kembali sebagai Arsa yang baru. Arsa yang pertama kali Nana lihat sebagai Arsa yang hangat.
Tak lama melihat kondisi tangan Nana. Arsa mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya. Ternyata salep, tapi bukanlah salep yang seperti Mbok Imah terapkan kepada Nana.
"Ini salep ampuh, tiga hari pemakaian bisa langsung kering lukanya. Kalau semakin rajin di pakai, semakin bagus hasilnya nanti." Ujar Arsa yang perlahan mengolesi dengan lembut.
Deg!
Nana melebarkan kedua matanya yang masih menunduk, "Tuhan ini apakah mukjizat ? Dia bicara sama aku ? Apa akunya yang halu ?" Bhatin Nana.
Pasalnya, mereka tak pernah berbicara panjang lebar. Apalagi Arsa, pasti hanya seperlunya. Panjang lebar pun itu amarah yang ia luapkan untuknya. Jadi seperti mimpi di siang hari bolong ketika Arsa berkata beberapa kalimat dengan suara lembut.
"Argh!" Lirih Nana, terasa perih ketika salep pemberian Arsa menyentuh di kulit Nana.
"Sakit ya ?" Tanya Arsa yang ikut meringis mendengar rintihan Nana." Tahan ya, emang sedikit perih di awal." Arsa meniup perlahan tangan Nana.
Nana meraskan perih yang amat terangat perih. Bibir bawah ia gigit sebagai menetralisir keperihannya. Ia pun merasakan angin lembut di kulitnya. Ya itu tiupan penuh perasaan yang dilakukan Arsa kepadanya.
Dengan telaten Arsa meng-aplikasikan obat salep dengan secara meyeluruh. Di selingi dengan tiupan dari bibirnya agar mengurangi rasa perih saat salep di oleskan.
"Jangan sampai kena air kalau bisa, makannya hindari yang amis-amis. Biar cepet kering lukanya." Pesan Arsa.
Nana hanya mengangguk dan tertunduk. Ia takut tiba-tiba setelah ini Arsa akan menyentaknya. Ia memejamkan matanya erat-erat, seolah-olah dia siap mendapatkan cercaan Arsa kali ini.
"Aku minta maaf ya atas nama Laura dengan kejadian tadi." Suara lembut Arsa terdengar jelas di telinga Nana. Sebelum Arsa pergi meninggalkan Nana seorang di kamarnya.
Nana tersentak, lebih terkejut dari apa yang dia fikirkan tadi. Sebutan aku, minta maaf adalah sesuatu yang mustahil bagi seorang Arsa Ganendra. Nana membuka matanya perlahan, melihat sekitarnya tak ada sosok Arsa lagi di ruangan sempit miliknya. Mungkin sebelum Nana memberikan jawabannya, Arsa telah pergi. Nana sampai tak sadar Arsa sudah tidak ada di kamarnya.
\=\=\=