
Arsa menikmati angin malam di balkon kamarnya. Tubuhnya sudah lelah, tapi pikirannya terus memikirkan Nana. Lelaki itu lampiaskan dengan sebatang rokok yang ia hisap. Matanya memandang luas ke arah langit yang bertaburan bintang.
Dia mengingat kesalahan yang terbesar yang pernah ia lakukan terhadap Nana. Pernah membuat Nana malu di depan anak-anak sekolah. Ketika Nana tak sengaja membasahi seragam milik Arsa. Dan Arsa marah pada saat itu. Padahal masalah sepele, tapi jika Nana yang melakukannya Arsa seperti bom waktu yang siap di ledakan.
Habis-habisan Arsa memaki Nana dengan kata-kata yang menyakitkan.
"Dasar lo tuh anak gak berguna, makanya lo tuh di buang. Lo tuh sampah, lebih dari sampah. Kalau orang tua lo tahu anak kayak lo gak berguna. Gue yakin orang tua lo aja males melihara lo." Habis sudah cercaan Arsa kepada gadis yang bersimpuh di depannya dengan tangisan tanpa suara.
"Gue kasih tau ke lo semua pada(Arsa menunjuk-nujuk kesemua anak yang mempertontonkan Arsa dan Nana) Dia tuh anak buangan. Hidupnya cuma numpang. Terus nguras harta nyokap bokap gue. Jadi gue minta lo semua gak ada yang boleh deketin dia. Jauhin dia, dia pembuat sial." Habis puas Arsa menghina Nana. Ia pergi dengan teman-temanya meninggalkn seonggok daging yang tak berguna bagi Arsa.
Dan akhirnya Nana banyak teman yang tak mau berteman dengannya. Ia jadi bahan bullyan berbulan-bulan. Yang Arsa dengar Nana sampai tak mau sekolah dan makan. Dan sebulan lebih Nana sakit, dan Arsa tidak tahu sakit apa.
Padahal waktu itu Arsa tahu jika Nana adalah cucu Mbok Imah. Kalimat-kalimat yang menyakitkan hanya dasar lontaran belaka. Padahal Nana sendiri sudah hancur dengan perkataan Arsa.
Arsa yang mengingat kenangan buruk dan pahit bagi Nana, menyisir rambutnya dengan kasar menggunakan tangannya. Hembusan nafas kasarnya, dan memukul tralis.
"Maafin gue Na." Lirih Arsa yang bersalah.
Masih terngiang pula kalimat jika Nana bukan cucu Mbok Imah. Seolah-olah ia tahu dari awal jika Nana memang Nana anak buangan, tak berguna, dan tak diinginkan. Padahal Arsa pun tak tahu jika perkataanyaan memang benar adanya. Semakin membuat Arsa bersalah kepada Nana.
Tok Tok
"Papa masuk ya Sa." Suara dari Papa Adi, Papa Arsa masuk dan mencari putranya tercintanya.
Arsa hanya diam dan masih menatap langit dengan pandangan kosongnya.
"Kamu di sini." Arsa terkejut, Papanya sudah berada di sisinya.
"Papa." Terkejut Arsa.
"Kaget ya, kenapa gak pulang ke rumahmu." Papa juga ikut memandang langit malam.
"Besok Pa."
"Jangan di tunda sebelum semuanya menyebar."
Arsa menatap Papanya dengan menaikan satu alisnya, "Menyebar ? Apanya ?"
"Perasaan Nana." Arsa menyambut ucapan Papanya dengan tertawa kecil.
Papanya pun ikut tertawa, biasanya jika menyebut nama Nana. Arsa akan mencak-mencak tidak jelas.
"Maksudnya, Nana suka sama Arsa ?" Pemahaman yang membuat Papa Adi tertawa terbahak-bahak.
Arsa semakin bingung, apa salah ?
Papa Adi berdehem sejenak, meredakan tawanya.
"Perasaan takut sama kamu lah."
Dahi Arsa terlipat, Apa dia hantu sampai Nana takut dengan dirinya ? Dalam hati Arsa.
"Kamu itu udah terlalu kejam sama Nana. Nana sampai takut sama kamu. Emang kamu gak sadar ?"
"Aku baru sadar sekarang pah." Lirih Arsa menekuk wajahnya dengan perasaan sedih.
Papa Adi menepuk bahu putranya itu, mengusap dengan lembut. Memberikan energi baik untuk anaknya. Papa Adi paham perasaannya saat ini. Papanya tak menyalahkan dirinya atas ketidak tahunya tentang Nana yang sebenarnya.
"Sekarang udah jelas, Papa memang egois menikahkan kamu dengan Nana. Dan Papa tahu itu sangat tidak adil untukmu. Suatu saat kamu paham akan hal ini. Tapi Papa mau kamu jangan kasar sama Nana. Nana sudah terlalu banyak menderita. Papa tak mendorong kamu untuk langsung menerima Nana. Tapi kalau bisa kamu mulai belajar baik sama Nana." Jelas Papa Adi.
Papa hanya melempar senyum, matanya menatap lekat langit malam.
"Hari kelulusan SMA waktu itu, Papa dan Mama menjanjikan jika Nana lulus dengan nilai bagus. Kami akan mengabulkan permohonan Nana. Dalam bentuk apapun, dan kami terkejut ketika Nana meminta asal usulnya yang sesungguhnya. Di situlah kami cerita semuanya." Ujar Papa seraya menatap langit malam.
Jantung Arsa seolah berhenti. Arsa yang mendengar Papa, tak ingin berlama-lama di sana. Dengan cepat ia berlari keluar kamar. Sampai Papa baru sadar ketika Arsa telah keluar dari kamar.
"Mau kemana ?" Teriak Papa.
"Mau pulang !" Sahut Arsa yang menggema di seluruh ruangan.
Arsa pergi mengendarai mobil sendiri. Dengan kecepatan tinggi. Isi otaknya terus memutar memory yang menyedihkan bagi Nana. Apa yang pernah ia perbuat dulu dan sekarang pun. Bisa dikatakan dia memang jahat.
Ya Arsa sampai ke rumah melihat Nana tengah fokus beberes. Arsa ngurungkan niatnya untuk meminta maaf. Dan Arsa juga tahu kejadian Laura dan Nana. Arsa tahu dari awal, semuanya. Dan Arsa tak menampik jika itu memang kesalahan Laura sendiri.
Flashback end
Jantung Arsa kembali berdetak mengingat wajah polos Nana waktu di kamar. Ia paham jika Nana sedang ketakutan. Takut jika Arsa marah karena telah melukai Laura. Takut jika Nana akan mendengar kalimat-kalimat yang menyakitkan. Takut Nana akan merasakan sakit yang teramat.
Senyum tipis mengulas ketika melihat wajah ayu Nana. Ada terbesit ingin jauh menatap Nana.
"Kenapa jadi mikirin Nana sih ?" Lirih Arsa dengan wajah merahnya karena malu sama pikirannya sendiri.
Tok Tok.
"Masuk." Titah Arsa.
Sekertaris Bella ternyata, ia masuk dengan membawa berkas-berkas yang ada untuk di tinjau kembali.
"Permisi, Pak." Sopan Bella.
Arsa hanya mengangguk, dan menerima berkas yang di bawa Bella.
"Lusa ada jadwal apa Bell ?" Tanya Arsa seraya memeriksa berkas-berkas.
"Besok ada meeting sama Pak Bima. Dan dua hari lagi Bapak dinas ke kalimantan." Tutur Bella.
"Oh, ya udah kamu boleh pergi sekarang."
"Iya Pak, Saya pamit." Undur Bella.
***
Arsa tengah mampir ke swalayan terdekat untuk membeli titipan Laura. Dan ia kembali ke parkiran mobil. Dengan gesit Arsa masuk, dan melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit dirawatnya Laura.
Arsa masuk ke ruangan VVIP kamar di mana Laura dirawat. Arsa tak mendapatkan Laura di kamar. Ia berjalan menuju bahas dekat ranjang rumah sakit untuk meletakan plastik berisi anggur permintaan Laura.
Sayup-sayup ia mendengar suara rintihan kecil dan teriakan. Arsa mengernyitkan dahi, telinganya mencari sumber suara tersebut. Matanya menyapu bersih ruangan itu.
"Suara apa sih ?" Jengkel Arsa yang kunjung tak menemukan.
Tiba-tiba ia terfokuskan di bawah bantal. Tangannya mencoba mengangkat bantal. Arsa melihat handphone Laura. Usai ia angkat bantal terdengar dengan jelas suara yang tak asing baginya. Suara rintisan, tangisan, dan teriakan mendominasi.
Hati Arsa panas seketika, betapa memilukan tangisan dan rintihannya. Tak berfikir lama Arsa pun mengambil ponsel milik Laura. Matanya membulat sepenuhnya, dari nafasnya terdengar berat. Tangannya gemetar menyaksikan apa yang ia saksikan barusan.
\=\=\=