Banned

Banned
Menyadari


Mata Nana mengerjap ketika Arsa memeluknya dengan tiba-tiba. Ada perasaan hangat menghinggap hati keduanya. Ini pertama kalinya Nana di peluk lelaki selain Papa Adi yang Nana anggap sebagai Ayahnya sendiri. Sekarang ia dipeluk oleh suaminya sendiri seperti aneh. Sedangkan Arsa bukan pertama kalinya memeluk Nana. Ketika Nana tak sadarkan diri. Dia yang memeluknya erat dengan penuh rasa khawatir.


Pipi Nana bersemu merah. Jantungnya berdesir meraskaan hangatnya pelukan suaminya. Senyum manis tertoreh di bibir manis Nana. Sungguh rasanya berbeda.


Nana merasakan bahunya basah. Tak Mungkin jika Arsa berliur di bahunya. Terdengar pula kalimat maaf di telinga Nana. Membuat Nana tersentuh, namun ia cepat melepas pelukannya dari Arsa.


Nana ingin tahu apakah Arsa menangis? Apakah karenanya ?


Arsa melepaskan pelukan Nana dengan air mata yang berlinang. Nana menatap kebingungan. Arsa malu di tatap intens oleh Nana di tambah ia menagis di depannya. Arsa memangalihkan wajahnya ke arah lain. Nana terkekeh melihat salah tingkah Arsa.


"Aku fikir basah di pundak karena air liur." Cela Nana dengan menahan senyumnya.


Arsa tercengang mendengarnya, reflek mencubit hidung bangir Nana lembut.


"Sembarangan." Kesal Arsa tak terima.


Nana tertawa begitu melihat Arsa kesal karena ulahnya. Arsa terkesiap melihat tawa lepas Nana. Ia sudah lama tak pernah melihat Nana tersenyum begitu tanpa beban.


Arsa yang tak sadar menarik ujung bibirnya melihat tawa Nana.


"Ya udah diminum nanti keburu dingin." Arsa mengambil cup cokelat.


"Enggak mau, akh." Tolak Nana yang menjauh dari cup cokelat yang akan Arsa bantu untuk Nana minum.


"Nana, gak ada siapa-siapa di sini. Laura gak bakal tahu kalau gak ada yang kasih tahu. Dan aku janji aku gak akan bilang juga sama Laura. Janji !" Arsa mengangkat tangannya tanda bersumpah. Dan wajahnya terlihat serius mengatakannya apa yang ia katakan.


Nana mengerjap matanya, Nana tak berfikir jika Arsa akan bersikap berlebihan "Iya aku percaya." Melemah Nana, membuat Arsa tersenyum.


"Nah gitu dong." Arsa mengusap lembut puncak kepala Nana. Membuat Nana salah tingkah di buatnya.


"Ya udah diminum." Arsa menyodorkan kembali cup-nya ke arah bibir Nana.


Nana kembali menjauh dengan mimik wajah masam. Arsa menghela nafas panjang, matanya semula membara kini terlihat kecewa dan kesal.


"Ada apa lagi sih Na ?"


"Aroma cokelatnya ketimpa aroma badan." Dagu Nana menunjukan ke arah Arsa.


"Jadi gak wangi cokelat." Imbuh Nana yang sedikit ragu mengatakannya.


Arsa tersentak dan malu. Arsa mencium area ketiaknya sendiri. Berakhir memasang wajah masam juga. Ia sadar seharian ia belum mandi. Ia sungguh malu kepada Nana. Arsa menyengir malu ke arah Nana. Nana terkekeh melihat tingkah suaminya.


"Aku belum mandi, pantesan bau. Aku mandi dulu ya, bentar aja." Arsa memohon agar sabar menunggunya, dengan sigap ia mengambil paper bag di atas meja dekat sofa yanng berisi baju miliknya dan berlalu pergi ke arah kamar mandi di ruangan itu.


Nana hanya mengangguk kepalanya, ia melihat sisi lain dari Arsa sekarang. Begitu seperti Arsa terlahir kembali. Tak sadar bibir yang mungil dan sedikit tebal tersenyum tipis.


\=\=\=


Lima menit, Arsa keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang dapat mencuci mata Nana. Gimana tidak, seumur-umur dia lihat seseorang yang menawan di depan matanya dengan nyata.


Stelan kemeja hitam panjang dengan ditarik hingga lengan melihatkan otot lengannya. Celana panjang hitam bahan. Rambut basah yang sedikit terjulur di dahi. Melihat wajah Arsa yang setelah mandi sungguh menyegarkan. Ditambah ia tersenyum manis ke arah Nana.


Satu paket lengkap sesosok Arsa. Membuat Nana tak henti memujanya. Sungguh melihat sesuatu yang tak pernah ia lihat. Membuat jantungnya melompat tak beraturan. Sungguh mendebarkan.


"Hey !" Arsa mengejutkan Nana.


"Kenapa ?" Tanya Arsa.


"Aku kehilangan fokus." Arsa menaikan alisnya seketika mendapatkan jawaban aneh dari Nana.


"Kenapa gitu ?" Tanyanya lagi.


"Udah beberapa hari gak di kasih asupan segelas cokelat. Makanya fokus ku hilang." Arsa terkekeh mendengar jawaban Nana yang ngawur.


"Orang kurang fokus gara-gara kurang minum air mineral, kamu malah kurang asupan secangkir cokelat." Arsa mencubit hidung bangir Nana dengan lembut lagi


Deg!


Jangan beritahu siapa-siapa jika dirinya sedang di mode baper.


Nana tersenyum lebar, "Nih asupan kamu keburu dingin." Arsa menyodorkan cup cokelat tadi dan membantu Nana meminumnya.


Seteguk cokelat melaju bebas di kerongkongannya. Nana mengambil nafas panjang lalu menghembuskan nafasnya perlahan. Matanya terpejam, Nana benar-benar menikmati satu teguk cokelat hangat. Sungguh dia rindu dengan aroma, dan rasa dari cokelat.


"Cuma cokelat segitunya." Cela Arsa yang menggeleng kepalanya melihat reaksi Nana setelah meminum cokelat ke sukaannya.


Nana yang mendengarnya pun langsung membuka mata. Ia menatap ke arah Arsa. Arsa mengedikan bahunya, tidak tahu arti tatapan Nana.


"Satu tegukan itu berarti buat aku. Apalagi cokelat, cokelat tuh kayak seni." Celetuk Nana.


"Seni ?" Bingung Arsa.


"Seni, misal lukisan, lukisan pasti ada arti bagi penikmatnya, ada kepuasan sendiri. Semakin lukisan itu semakin berharga, maka semakin puas pula penikmatnya. Begitu juga cokelat bagi penikmatnya. Semakin cokelat itu berkualitas semakin nikmat di setiap tetesnya." Jelas Nana, Arsa memperhatikan setiap Nana berbicara.


"Cokelat itu bagian hidupku. Aku nyaman ketika menghirup aroma pekatnya. Ada rasa penenang, entahlah pokoknya aku suka cokelat." Sambungnya


Arsa memperhatikan sosok gadis di depannya. Ada perasaan nyaman di dekatnya. Bukan aroma cokelat, namun sikap Nana yang begitu menikmati hidup walau hanya se-cup cokelat panas. Terdengarnya memanglah aneh atau lucu. Tapi cara menjabarkan arti cokelat baginya sungguh membuat Arsa terkesima.


Arsa baru sadar, Nana gadis yang mungil, tingginya hanya 150 cm. Rambut cokelat lurus sebahu, mata yang bulat bernetra cokelat, dua alis yang hitam lebat, hidungnya yang bangir, kedua pipi yang chubby, bibirnya yang sedikit tebal nan mungil, warna bibir yang merah mengkilap, warna kulit yang putih. Sungguh ia baru sadar visual sosok Nana Alina. Yang lebih lucu adalah aroma tubuhnya yang berbau cokelat. Manis.


Ketika tersenyum menampilkan lesung pipit tipis di kedua pipinya. Oh sungguh membuat lelaki mabuk akan parasnya yang cantik dan menggemaskan. Tak menampik jika seorang Arsa bisa terbuai akan kecantikan Nana. Hanya saja ia baru menyadarinya.


"Hey, hey !" Nana menyadarkan Arsa yang tengah memandangnya tanpa berkedip.


"Ih, ni orang kesambet apa sih. Segitunya dah ?" Bhatin Nana yang kali ini sedikit menggoyangkan tubuh Arsa.


"Eh, gimana ?" Reflek Arsa yang terkejut.


"Ih, gimana apa nya ? Jangan melamun. Gak boleh tahu, apalagi ni mau maghrib, di rumah sakit lagi." Ucap Nana dengan mempebesar bulatan matanya.


Arsa tertawa kecil, Nana mengernyitkan dahinya. Sedikit kesal Nana di buatnya, karena Arsa menyepelekan ucapannya. Namun Nana tak menampilkan wajah kesalnya. Ia sadar yang ia hadapi adalah Arsa. Karena bagaimana pun Nana masih sedikit takut jika banyak bicara dengan Arsa.


"Iya, iya, ya udah ini di habiskan." Arsa membantu Nana meminum cokelatnya lagi.


🍫🍫🍫


Boleh donk tinggalin jejak 😉