Banned

Banned
Menghindar


Nana berdiri dengan terhuyung. Matanya menatap nanar, seketika sekeliling ruangan terlihat buram. Tangisannya tertahan, tercekat di kerongkongan. Menyakitkan rasanya.


Berjalan terseok-seok dengan sisa tenaga yang ia miliki. Kedua tangannya ia tengadahakan dengan jelas dan getaran menyelimutinya. Darah bercucuran di tangan kirinya, sebab luka tersiram air panas belumlah sembuh total.


Keadaannya kacau setelah insiden pagi itu. Iba dengan keadaanya dirinya sendiri . Menatap pilu melihat luka yang ia dapatkan. "Apa hidupku adalah kesalahan bagi lingkungan ku ?" Lirih Nana dengan menahan suara tangisnya yang begitu memilukan.


Kedua tangannya penuh luka, wajah yang terlihat bengkak menyisakan robekan di ujung bibir, bagaimana tidak, di tampar berkali-kali, di jambak rambutnya, di tambah pukulan menggunakn rotan sebanyak 20 kali lebih. Belum lagi Nek Areta juga memukul area punggung Nana beberapa kali.


"Ah, Mbok Imah, Mbok masih di gudang." Tersentak Nana mengingat Mbok Imah yang masih di kurung di dalam gudang.


"Argh!" Rintihan Nana, setiap hentakan kaki menjalar ke tangan yang luka memberikan rasa menyakitkan.


Ia tahan, sampai ia di depan pintu gudang. Ternyata benar, Mbok Imah belum di keluarkan.


"Mbok, Mbok." Panggil Nana.


"Hah, Neng Nana ?" Gumam Mbok Imah yang langsung mendekati pintu."Neng, Mbok di sini."


"Syukurlah, sabar Mbok, Nana buka dulu kuncinya." Dengan susah payah memutar kunci pintu, tangannya terasa sakit sekali.


"Sabar Mbok, Nana lagi usaha ?" Ucap Nana dengan berusaha dan menahan sakit.


"Hah, berhasil!" Butuh 3 menit hanya memutar kunci, sungguh sakit luar biasa.


Cklek!


Mbok Imah keluar berhamburan langsung memeluk Nana.


"Maafin Mbok Neng, Mbok gak bisa jaga Neng Nana." Mbok menangis di pelukan Nana.


"Udah, Nana gak papa Mbok." Nana menenangi Mbok Imah yang menangis terisak.


"Apa ada yang luka atau sak-" Terkejut melihat keadaan Nana yang menyedihkan, dari wajah hingga tangan.


"Neng, tanganmu ?" Mbok Imah ingin rasanya memegang tangan Nana dengan lembut, tapi pasti sakit.


"Gak papa Mbok, udah kita masuk yuk." Ucap Nana.


Mbok Imah seperti ingin menangis kembali, namun ia tahan. Terasa hembusan nafas yang tak beraturan. Menangis tercekat di kerongkongan Mbok Imah. Mbok Imah mengangguk, lalu menuntun Nana berjalan.


Kring! Kring!


Pesawat telepon di rumah berbunyi, Mbok Imah akhirnya yang mengangkat.


"Halo, dari kediamannya Tuan Arsa Ganendra." Ucap Mbok Imah ramah.


"Halo Mbok, Mbok lagi di rumah." Ucap seseorang di ujung telefon sana.


"Ah, Aden Arsa. Ada apa ?" Tanya Bi Imah.


"Itu, Arsa minta bikinin bubur ayam ya Mbok. Laura kebetulan ingin makan bubur ayam buatan Mbok. Habis dari kantor, Arsa bakal ambil sendiri." Mbok Imah hanya mengangguk mendengar setiap kalimat Arsa dengan baik.


"Siap, Den. Udah itu aja ?"


"Um, A-arsa, Arsa mau m-mau tanya Mbok." Entah ragu atau malu.


"Iya Den, mau tanya apa ?"


"I-tu, itu ten-tentang--" Menggantung begitu saja.


"Ah, iya Mbok. Gimana keadaanya sekarang ? Apa Nana udah makan siang ? Apa sekarang dia lagi tidur? "Banyak pertanyaan yang terlontar dari Arsa.


Mbok Imah yang mendengarnya pun terkekeh, pasalnya Arsa awalnya malu-malu untuk bertanya, sekali di beri ruang pertanyaannya lebih dari satu.


"Arsa cuma tanya aja Mbok." Malu Arsa yang terlihat seperti perhatian kepada Nana tapi dia malu untuk mengakui.


"Umm-" Mbok Imah terlihat ragu, Mbok Imah diam sejenak.


Mbok Imah tengah menatap Nana sekarang. Namun Nana menggelengkan kepalanya perlahan. Mbok Imah mengangguk tanda paham apa yang tersirat dari Nana.


"Mbok ?" Arsa menunggu cukup lama.


"Ah ! Aden bikin kaget Mbok aja." Tersentak Mbok Imah.


"Habisnya Mbok di tanya malah diam." Arsa membela diri.


"Neng, Neng Nana udah mendingan, udah makan, sekarang lagi tidur di kamarnya Den." Bohong Mbok Imah.


"Bagus kalau gitu, ya udah Arsa pamit dulu ya Mbok. Jangan lupa pesan Arsa tadi."


"Baik Den." Arsa mematikan panggilannya terlebih dulu.


Mbok Imah lalu mendekati Nana yang tengah berdiri menyandarkan diri ke dinding dengan wajah sayu.


"Neng kenapa nggak jujur aja sama Aden." Mbok Imah menuntun Nana ke dalam kamar Nana.


"Mbok, mana mungkin Arsa bakal peduli tentang keadaan aku yang sekarang. Yang lebih parah, apalagi ini semua sebab aku yang nonjok Laura." Jelas Nana.


"Den Arsa peduli, nyatanya Aden masih nanya kabar Neng barusan." Mbok Imah seolah membela Arsa.


"Peduli sebatas iba itu menyedihkan Mbok." Lemah Nana yang tengah duduk di tepi ranjangnya.


Mbok Imah sedikit tersentak apa yang di ucapkan Nana barusan. Emang ada benarnya bisa jadi Arsa hanya peduli sebatas iba.


Mbok Imah pun langsung mengambil P3K di laci nakas. Kemudian duduk di sisi Nana dengan tersenyum manis." Tapi seenggaknya Aden Arsa mulai baik sama Neng Nana."


"Iya aku baru sadar, Arsa sedikit berubah akhir-akhir ini. Padahal dulu kalau aku sakit, jatuh sekalipun dia gak pernah sepeduli dan seperhatiab ini. " Bhatin Nana yang mulai mencerna ucapan Mbok Imah.


"Aw, sakit Mbok." Rintih Nana, yang sedari tadi Mbok Imah memngobati luka-luka yang di tangan Nana.


"Tahan Neng." Mbok Imah pun ikut meringis.


Setelah Mbok megurus Nana, Mbok pun beranjak pergi.


"Mbok jangan bilang ke Arsa tentang Nenek Areta, dan a-aku." Kata Nana melemah.


Mbok hanya diam dan mengangguk kemudian keluar dari kamar Nana.


\=\=\=


Pukul setengah tujuh malam, Arsa pulang. Ia menaruh tas kerjanya di kursi meja makan. Matanya menyapu seluruh ruangan. Dia mencari seseorang, "Mbok, Mbok." Panggil Arsa yang mencari sesuatu di meja dan lemari dapur.


Tak ada sahutan dari Mbok Imah. Tak sengaja ia menatap pintu kamar Nana. Seketika ia berhasrat untuk mengetahui keadaan Nana. Apakah luka bakarnya sudah membaik ?


\=\=\=