Banned

Banned
Menjaga


"Iya aku udah banyak ngerepotin Arsa. Dan buat beberapa masalah. Emang harus dari awal aku nolak kebaikan dia." Bhatin Nana yang terhenyak akibat ucapan Arsa, padahal Arsa hanya berkata sembarangan.


Arsa menelisik mimik wajah Nana yang tiba-tiba muram ketika tadi Arsa berkata.


"Em, maksud ak--"


Nana tiba-tiba tersenyum ke arah Arsa, " Aku janji gak akan ngulangin hal gila lagi. Dan aku sadar hidupku lebih berharga dari apa pun." Janji Nana.


"Nah gitu dong." Senang Arsa yang mendengar janji Nana.


Reflek Arsa mengusak lembut puncak kepala Nana dan berkata, "Janji!"


Sebuah satu kalimat yang mengikatkan dua hati lamban laun. Semoga mereka akan mengingat janji yang dibuat.


"Tapi... aku mau kamu jangan jagain aku di sini lagi." Nana berkata ragu takut Arsa marah padanya.


Arsa menghela nafas kasar, matanya yang teduh kini merubah sorotannya menjadi tajam. Ini lagi yang di bahas. Udah keberapa kali Nana meminta dirinya untuk lepas tanggung jawab.


"Kamu kenapa sih ? Ada yang kamu sembunyiin dari aku ?" Kesalnya.


"Nggak gitu." Cepat Nana menjawab.


"Aku bilang aku gak mau kamu suruh-suruh aku buat gak jagain kamu. Selain di suruh Mama juga ini kemauan aku." Tambahnya dengan mendengus kasar.


Hah! Kemauan aku ? Terperanjat ketika kata itu terngiang di gendang telinganya.


Nana menatap selidik di bola mata hitam mengkilap guna arti perkataannya barusan. Jujur atau dusta.


"Bukan gitu, aku cuma gak mau nyusahin kamu." Lirih Nana yang memandang Arsa dengan sendu.


Arsa tahu di balik bola mata indah Nana terselip luka beribu luka yang amat sakit. Matanya menceritakan segalanya yang tak pernah Nana ungkapkan.


"...Kamu ada pekerjaan. Kamu masih ada Laura. Kamu mas--" Tercekat ucapan Nana ketika Arsa tiba-tiba menangkup kedua tangannya di wajah Nana.


Arsa menatap lamat-lamat bola mata bernetra cokelat. Bola mata itu mulai berkaca-kaca. Ya Arsa tahu arti ucapan Nana.


"Nggak gitu, ini udah tanggung jawabku buat jaga kamu. Udah keharusan aku, kalau kamu gak mau nyusahin aku. Please cintai dirimu sendiri mulai sekarang. Itu udah cukup." Perkataan Arsa menyentuh hati, ini pertama kalinya untuk Nana mendengar ucapan perhatian dari Arsa.


Nana luluh, ia mengangguk perlahan. Arsa tersenyum kemudian memeluk gadis mungilnya di pelukannya erat.


"Maafin aku, Na. Aku tahu apa yang aku lakukan sekarang tak bisa menebus kesalahan ku di masa lalu. Tapi setidaknya ini awal dari kehidupan yang baru" Bhatin Arsa.


Arsa melepas diri dari peluk hangatnya Nana. Tangannya memegang kedua pundak Nana dan sedikit meremasnya, " Please, kali ini aja aku mau jaga kamu. Jangan nolak." Lirih Arsa.


\=\=\=


"Dok, bisa minta waktunya sebentar." Tahan Arsa, setelah Dokter Anita baru saja selesai memeriksa Nana.


"Silahkan."


"Tapi kalau bisa jangan di sini." Mata Arsa mengarah ke ranjang pasien Nana.


Dokter Anita paham dan meminta berbicara di ruangannya. Arsa pun mengiyakan, kemudian berjalan keluar dari ruangan rawat inap Nana.


"Aduh, gimana ya." Nada pertimbangan dari Dokter Anita.


Arsa menatap berharap, berharap jawabannya sesuai keinginannya. Dokter Anita menatap Arsa dengan gelisah. Gelisah akan memberikan jawaban yang tepat.


"Ya, yang seperti saya katakan tadi. Ada hal yang tidak bisa saya jelaskan di sini. Tapi saya harap Dokter mengizinkan untuk istri saya pulang. Kalau bisa hari ini juga." Pinta Arsa penuh harap.


Dokter Anita menghela nafas pendek, "Tuan masalahnya tidak sesederhana itu. Pasien memang tidak ada luka yang serius. Bahkan lukanya pun hanya satu atau dua minggu ke depan lukanya akan kering..." Jeda sesaat,


"....Istri tuan butuh pendamping untuk mengatasi mentalnya yang rapuh. Perasaanya masih terguncang karena mencoba bunuh diri. Memang pasien terlihat baik baik saja di luar. Tapi kan Tuan tidak tahu hatinya sangat hancur."


Arsa menatap ke arah lain. Mengambil nafas perlahan. Iya tahu ini salah satu kesalahannya. Ia mengatakan ingin menjaga Nana dengan hidupnya. Namun melihat Nenek Areta dan Laura sungguh hatinya menciut. Ia hanya tak ingin muncul sebagai Arsa yang berubah. Yang mulai perhatian dan membuka diri untuk Nana. Yang ada Nenek Areta dan Laura semakin beringas untuk menyiksa Nana lebih dan lebih.


Itu alasannya mengapa ia ingin Nana keluar dari rumah sakit secepatnya. Arsa ingin menjaga Nana secara tidak langsung. Walau mungkin nantinya di saat Nenek Areta, Laura, Arsa dan Nana bertemu bersamaan. Arsa akan berubah menjadi Arsa dulu yang Nana kenal.


Entah lah, mungkin akan terjadi. Tapi untuk saat ini, Arsa harus benar-benar menjauhkan Nana dari kedua orang yang ia sayangi tepatnya.


"Saya mohon Dokter, saya janji akan bawa rutin istri saya untuk chek up. Tapi untuk saat ini saya memohon untuk Dokter untuk ngizinin istri saya pulang secepatnya." Mohon Arsa yang tetep kekeh.


Kali ini Dokter Anita menghela nafas panjang. Wajahnya terlihat kecewa dengan keputusan Arsa. Dokter Anita fikir, Arsa sungguh egois membiarkan istrinya dalam kesusahan.


"Oke..." Angguk Dokter Anita seraya mencari lembaran kertas di antara kertas-kertas yang tertumpuk rapih di meja.


Arsa yang mendapatkan persetujuan Dokter Anita menghela nafas lega. Akhirnya Nana bisa pulang lebih awal. Agar Nenek Areta dan Laura tak akan mengganggu Nana lagi.


"Ini tolong tanda tangan dari pihak wali. Insya Allah malam nanti istri Tuan sudah bisa pulang." Pasrah Dokter Anita.


"Makasih, Dok, makasih banyak. Makasih sudah membantu saya." Senang Arsa kemudian berpamitan dengan Dokter Anita.


\=\=\=


"Mbok, beresin barang-barang Nana sekarang." Tiba-tiba Arsa muncul dari balik pintu masuk.


Ia menghilang sejak siang tadi di saat ia meminta untuk berbicara dengannya. Kini baru datang sekitar pukul lima sore. Dan ia langsung menyuruh Mbok Imah untuk membereskan barang-barang Nana secepat itu.


Mbok Imah yang sedang menyuapi Nana, mereka saling pandang. Menyiratkan sebuah pertanyaan ada apa ? Namun tatapan mereka beralih menatap Arsa yang tengah berdiri dengan masih bingung.


"Ada apa ?" Arsa mengernyitkan dahinya melihat Mbok Imah dan Nana menatap kebingungan.


"Seharusnya kita yang tanya ada apa ?" Balik Tanya Nana dengan wajah yang benar-benar polos.


Arsa menyempatkan memasang senyum simpulnya ke arah mereka yang sedang di mode kebingungan.


"Kata Dokter Anita kamu udah boleh pulang sore ini. Jadi aku minta Mbok beresin barang-barang Nana sekarang ya Mbok." Arsa berjalan menuju ranjang pasien Nana, tangannya meraih buah apel dan pisau.


"...Dan nanti Dokter Anita bakal periksa rutin." Lanjut Arsa yang sekarang duduk dan mengupas apel yang ia raih.


Nana hanya diam mendengar dan memperhatikan Arsa yang tengah membuka buah apel. Dan Mbok Imah pun mulai sibuk berkemas.


"Kenapa? " Arsa melipatkan dahinya ketika ia menyuapkan satu potongan apel dan melihat ekspresi Nana yang memandangi dirinya penuh keanehan.


Nana hanya diam dan menggeleng kepalanya pelan. Mulutnya terbuka menerima suapan dari Arsa.


Arsa tahu Nana sedang berjaga jarak dengannya. Walaupun Arsa tahu apa yang di fikiran Nana. Arsa hanya bisa berpura-pura selayaknya tak pernah tahu menahu. Arsa memakai topeng dengan baik. Seharusnya Nana saat ini akan terus bertanya tentang banyak hal tentang Arsa yang tiba-tiba berubah.


Tapi Nana tak melakukan itu. Ia lebih cukup dengan keadaan seperti ini. Melupakan dan mengobati rasa luka dengan sendirinya. Nana tak ingin menimbulkan percikan api kembali. Begini saja sudah lebih baik.


\=\=\=


Hai, boleh donk setelah baca Tinggalkan jejak. Like, comment and share. Dan klik tanda hati nya. Biar aku tambah semangat. Dan makasih sudah mampir baca, dan like nya. 💜💜💜