
Nana sempat melarikan diri dari cengkeraman Arsa. Jika tidak dia benar-benar akan mencium dirinya. Nana menghindar keluar dari kamarnya. Ikut bergabung keluarga Arsa di ruang tamu. Hari memang sudah siang.
"Papa,Mama gak istirahat. Istirahat di kamar aja." Tawar Nana yang ikut menjatuhkan diri di sofa bersama mereka.
Nana memang sangat akrab dengan mereka. Kecuali Nabila yang biasa di panggil Bila. Bila sangat cuek dan dingin pada Nana. Entahlah dia juga di pengaruhi oleh kakaknya untuk membenci dirinya. Sebenarnya Nana kurang tahu Bila benci dengannya atau tidak. Hanya sikap yang di tunjukan kurang bersahabat. Makanya mereka jarang berinteraksi, hanya seperlunya.
"Nanti aja deh." Jawab Tamara.
"Bila, kamu kalau mau tidur di kamar aja." Nana tak jahat juga sampai tak menawari adik iparnya.
"Emang boleh? " Nana tersentak balasan dari Nabila. Apa dia sedang bermimpi sekarang? Apakah benar es yang beku di depannya telah mencair?
"Eh? Ya boleh lah, masuk aja." Jawab Nana dengan salah tingkah.
"Ya udah kalau gitu, aku rebahan aja di kamar." Ucapnya langsung beranjak dari duduk menuju kamar yang tepat terletak memunggungi Nana.
Nana menatap kepergian Nabila sampai tubuh gadis itu menghilang masuk ke dalam kamar. Matanya mengerjap berulang kali. Apakah ini halusinasi di siang hari?
Tamara menatap Nana dengan penuh kebingungan. Membuat Tamara langsung menggoyang tubuh suami yang tengah asyik menonton tv. Adi pun ikut menatap ke arah dimana dagu sang istri seperti menunjuk ke arah tertegunnya sang menantu.
Mereka saling pandang, dan mata mereka tengah berbinar. Bagaimana tidak? Badai yang di alami Nana mulai mereda seiringnya waktu. Ada kelegaan di hati mereka. Ada secercah harapan untuk membuat Nana dan Arsa saling mencinta. Dan Nabila, asal para pembaca tahu. Sikap yang di tunjukan ke Nana selama ini adalah kedok. Nabila tak sebodoh itu terpengaruh kata-kata jelek untuk Nana masuk ke otaknya dari sang Nenek atau Laura. Nabila tak seperti sang Kakak yang mudah termakan omongan Nenek.
Nabila sama halnya kedua orang tuanya. Dia selalu tak ambil kesimpulan hanya dengan kata. Ia tahu jika Nana jauh dari kata buruk yang selalu Nenek, kakaknya, bahkan Laura katakan. Hidup itu selalu adil, jika kamu di katakan buruk oleh beberapa orang, tidak semuanya akan ikut men-cap dirimu buruk. Tergantung diri masing-masing. Kamu tunjukan kebaikan mereka akan menilaimu dengan kebaikan . Begitu pula sebaliknya.
Alasan Nabila hanya malas hari-hari di di jejal kata-kata tak baik untuk otaknya. Jika dia memilih netral itu akan lebih baik. Akan lebih baik untuk dirinya, mereka, dan dianya.
"Ngapain kamu di sini? " Tanya Arsa.
"Di suruh Kak Nana." Nabila tengah merebahkan diri di atas ranjang dengan bermain game di ponselnya.
Arsa hanya mengangguk, ia baru selesai dari kamar mandi. Arsa berjalan menuju adiknya berbaring di sana. Sang adik menatap keheranan.
Jitakan pelan mendarat di kening sang adik, "Gak sopan. " Kemudian Arsa duduk di tepi ranjang.
Nabila mengadu kesakitan dan mengusap pelan keningnya. Nabila menatap kesal kakaknya. Dengan berat hati Nabila menyandarkan diri di sandaran tempat tidur.
"Sana ah." Usir Nabila.
"Iya-iya." Sebelum jitakan kedua melayang bebas di antara kening Nabila. Ia lebih baik mengalah. "Ada apa? "Ketus Nabila.
"Tutup mulut masalah tadi." Ujar Arsa, sontak membuat Nabila memicingkan matanya.
"Tutup mulut juga perlu biaya." Todongnya dengan mengulurkan telapak tangan kanannya.
"Cih, dasar mata duitan." Arsa mendesis tak suka.
"Biarin tandanya mataku masih normal." Tukas Bila. "Ya udah kalau gak mau kasih."
"Eh, iya nanti kakak transfer deh." Sergah Arsa takut sang adik bocor.
"Dari tadi kek." Nabila menarik kembali ukuran tangannya.
Arsa mendengus kesal. Belum apa-apa sudah di peras sang adik. Arsa beranjak dari tepi ranjang. Akan melangkah keluar. Langkahnya terhenti ketika sang adik berkata,
"Aku ingetin deh, lepasin Laura, hidup bahagia dengan Kak Nana. Cinta sejati gak bakal datang untuk dua kali. "
"Dasar masih bocil udah ngomong cinta-cintaan." Arsa berbalik badan dan melempar pajangan lunak yang berada di meja dekat pintu keluar. Melempar ke sembarang arah yang penting mengenai sang adik.
Dengan cekatan Nabila menghindar. " Awas jangan nyesel lo ya kak. Suatu saat lu bakal nangis dan minta bantuan sama gue. Inget itu." Teriak Nabila ketika Arsa keluar mengabaikan dirinya.