Banned

Banned
Otak M*sum


Srttt!


Kain hitam tipis yang melingkar sebagai ikat pinggang dress milik Nana tiba-tiba di tarik oleh Arsa. Entah sejak kapan simpul kain yang membentuk pita di belakangnya terlepas. Yang jelas Arsa menarik keras kain hitam tipis yang melingkar di pinggang hingga tubuh mungil Nana ikut tertarik. Tubuh Nana masuk ke dalam pelukan Arsa. Tatapan mereka saling bertemu. Cukup lama.


"Ehem! " Arsa berdehem, Nana yang tersadar langsung mengambil jarak.


Nana tahu kedua pipinya yang chubby kini mulai memerah. Dengan cepat ia membelakangi Arsa. Oh Tuhan apakah jantungnya kurang sehat akhir-akhir ini ? Berdetak tanpa di beri jeda.


"Sini aku bantu lepasin bajunya. Tapi mana baju yang mau kamu pake ?" Tanya Arsa yang mencairkan suasana.


Nana tersadar, langsung mengulurkan tangannya ke arah wastafel di depannya. Arsa melihat, baju potongan yang Nana ambil. Arsa mendengus kesal setelah melihat pakaian yang di pilih Nana.


"Kenapa pake baju ini ?" Tanya Arsa.


"Ya kan suka-suka aku mau pake baju apa. Lagian aku ambil baju ini juga susah payah." Ketus Nana mendengar pertanyaan aneh Arsa.


Helaan nafas kasar terdengar, Arsa memijat pangkal hidungnya.


"Ya, maksud aku kamu gak punya baju rumah yang terusan gitu."


"Misal ?" Tanya Nana polos, mereka saling tatap di cermin.


Arsa menepuk jidatnya sendiri. Pandangannya ia buang ke arah sembarang. Ia gigit bibir bawahnya yang tipis. Baru memulai ia sudah hampir goyah. Emosinya memang sangat buruk. Tapi untuk Nana Arsa akan mencoba serileks mungkin.


Arsa memandang ke arah bayangannya sendiri di cermin. Nana masih betah menatap bayangan Arsa di pantulan cermin. Matanya yang bulat dan besar sedang menatap ke arahnya.


"Ya, misal kayak baju kamu yang sekarang pake. Ini kan dress ya, terusan. Nah, kan ada versi santainya gitu. Ya baju rumahan tapi modelnya kayak terusan gitu loh. Mudeng gak sih." Ungkap Arsa yang menahan emosinya sebisa mungkin dengan tetap tersenyum.


"O..." Bibir tebal Nana membentuk lingkaran, ia mengangguk mengerti.


"Maksud kamu daster."


"Nah iya ituh, mudeng kan. Ada kan ?" Lega Arsa.


"Gak." Geleng Nana polos.


Jleb


Senyum yang terukir manis di bibir Arsa kini berubah drastis. Apa yang ia dengar sungguh menikam ulu hatinya. Ia sudah menjelaskan panjang kali lebar. Tapi jawabannya singkat, padat, dan jelas.


"Kenapa bengong ?" Tanya Nana tanpa dosa melihat wajah Arsa dengan tatapan kosong terlihat di cermin.


"Oke, aku keluar sebentar. Tunggu dulu ya." Arsa pergi secepat mungkin, meninggalkan Nana yang terlihat bingung.


Tak lama Arsa keluar membawa satu stel baju kemeja panjang berwarna putih miliknya. Nana tak bertanya untuk apa. Ia hanya melihat Arsa menaruhnya di atas tumpukan baju milik Nana tadi.


Tanpa basa-basi Arsa menutup matanya menggunakan kain hitam tipis yang ia lepas dari dress yang Nana kenakan. Nana hanya diam menatap ke arah cermin melihat gerak-gerik Arsa.


"Oke, kita mulai ya." Arsa mulai meraba bagian area punggung Nana.


"Ada apa lagi ?" Tanya Arsa yang sebenarnya pandangannya tak benar-benar tertutup.


"Tunggu, ini berapa ? " Nana menunjukan semua jari tangannya yang berjumlah sepuluh.


"Apaan sih Na ? Aku aja gak bisa lihat." Ngeles Arsa yang sebenarnya tahu jemari Nana ia angkat semuanya. Karena untuk di tekuk saja masih nyeri. Jadi hanya ada antara dua jawaban lima jari atau sepuluh jari. Sedangkan Arsa hanya berpura-pura tak tak melihat.


"Justru itu, aku mau ngecek." Jawab Nana.


"Lima."


Nana memutar bola matanya ke arah ujung ke ujung mata. Ia seperti memikirkan sesuatu. Entah apa?


Sekian Lama, " Oke aku percaya." Nana membalikan dirinya kembali membelakangi Arsa.


Arsa tersenyum tipis, tapi hatinya tergelak. Nana memang imut sekali. Tangan Arsa mengarah di antara resleting dress Nana perlahan.


Bulu kuduk Nana kini berdiri. Berdesir setiap bunyi resleting turun. Ia pejamkan kedua matanya.


"Aku fikir tadi kamu terengah-engah ngapain. Rupanya..." Uca Arsa dengan terkekeh, ia baru mengerti pasti susah untuk menggapai resleting yang sedangkan tangan Nana masih sakit untuk di gerakin.


Nana yang memejamkan matanya membuka matanya sebulat-bulatnya. Nana menangkap apa yang di maksud ucapan Arsa barusan. Dengan keras, disikutnya perut ABS Arsa. Ya walau Nana sendiri belum tahu bentuk perut Arsa.


"Aw!" Arsa reflek mundur beberpaa langkah, tangannya langsung memegang perut yang di sikut Nana. Dengan merintih kesakitan.


"Dasar otak mesum." Celetuk Nana dengan wajahnya yang kesal.


Ini pertama kalinya Arsa di kata-i mesum oleh wanita. Dan itu Nana sendiri. Sedikit tersentak, terkejut sekali dengan ucapan Nana. Ingin marah, tapi rasanya tertantang untuk lebih menggoda Nana.


"Sakit tahu Na." Meringis Arsa yang masih memegang perutnya.


Nana tak menggubris rintihan Arsa.


"Ih, sumpah kami kok jahat banget sih."


"Makanya jangan menyimpulkan sesuatu secara negatif. Kan nyebelin." Kesal Nana.


"Iya maaf Na. Habisnya kamu bukannya nyaut kek tadi." Arsa cari pembelaan.


Arsa kembali ke semula. Meraba resleting yang belum ia tarik kebawah sepenuhnya. Kini dengan cepat Arsa menarik ke bawah resleting dress Nana.


Setelah resleting terbuka lebar menampilkan sedikit celah kulit putih punggung Nana. Giliran tangannya meraba kedua pundak Nana. Ia sebenarnya melihat dengan buram tapi jelas kok. Gimana ya menjelaskannya. Yang tahu Arsa lah bagaimana persis jelasnya 😆.


Nana memberikan reaksi sedikit terkejut ketika tangan besar Arsa mulai menyentuh bagian pundak Nana. Sedikit risih. Tapi ia memaklumi, karena dirinya saja tidak bisa melakukannya.


Kemudian tak membutuhkan waktu lama. Dress yang ia kenakan kini terjatuh ke bawah lantai. Memperlihat......


🍫🍫🍫