Banned

Banned
Buah Hati


"Kenapa sama adikmu? " Tanya Tamara yang hedak beranjak dari duduknya untuk melihat keributan kecil di dalam kamar.


"Biasa galaknya kumat." Sahut Arsa dan berjalan menuju dapur.


Tapi ucapan sang adik terus-terusan terekam di ingatannya. Jujur itu menggangu pikirannya sekarang.


Tamara, Adi, dan Nana sedang menonton tv. Sedangkan Arsa seperti biasa. Dia berkutat di dapur menggunakan celemek kebanggaannya. Mencuci semua sayur, memotongnya, membersihkan ikan gabus yang di bawa Tamara tadi. Dan membuat bumbu sesuai keinginannya,lalu memasukanya menjadi satu. Untuk masalah rasa, entah itu garam, gula, atau penyedap rasa di depan matanya itu ia masukan semua.


Takaran? Sesuai insting Arsa. Absurd emang Arsa ketika memasak. Asal ada panci, air dan api. Pikirnya semua akan jadi.


🍫🍫🍫


Arsa tengah mengeluarkan nasi dari penanak nasi. Mengambil sayur sup ikan gabus itu yang di katakan Arsa kepada keluarganya dengan semangat. Tamara, Adi, Nabila dan Nana tengah duduk rapih di meja makan. Hari ini yang memasak hidangan dari koki spesial.


Dia pamer akan kelebihannya sekarang. Tuan Arsa Ganendra yang multitalent. Di tambah tingkat kepedeannya meningkat berkali lipat ketika Nana mengatakan sendiri bahwa masakan Arsa memang enak. Padahal dirinya tak pernah memakan masakan dirinya sendiri.


Ekspresi wajah-wajah yang belum mencoba masakan Arsa adalah wajah seperti orang takut kena jebakan. Tegang tapi penasaran. Mereka tatap betul-betul di mangkuk masing-masing penampilan dari sup itu sendiri. Kemudian Arsa juga menghidangkan lauk tambahan seperti ayam goreng, dan tumisan kakung. Tambahannya food delivery Arsa hanya bisa masak berjenis sup.


Nana hanya menatap miris kearah tiga orang di sekitarnya. Lalu mereka mencium aroma dari sup tersebut. Nana tebak dari ekspresi sang Mama ia sudah paham dari aroma yang sudah tidak sinkron. Nana menggigit bibir bawahnya, menahan tawanya. Ekspresi Tamara ibarat kata di tengah-tengah jalan banyaknya lalu lalang kendaraan maju kena mundur kena. Itulah ekspresi sang Mama mertua.


Sedangkan Arsa, Arsa duduk dengan bangga di sisi Nana. Masih terulas senyum simpul di bibir lelaki itu.


"Ayo dong dimakan. Masa si liatin doang sih!" Seru Arsa tak sabar melihat ekspresi wajah mereka pertama kali menyantap masakan anak lelaki mereka satu-satunya.


Nana menahan tawanya, sungguh perutnya seperti di gelitikin beribu tangan. Rasanya ia ingin tertawa terbahak-bahak, hingga memukul meja di depannya. Di tambah melihat ekspresi mereka yang tegang. Tapi ia tahan sebisa mungkin. Ia samarkan rasa ingin tertawanya menyantap nasi yang di depannya. Nana saja sampai enggan melihat sup di depannya. Apalagi mereka yang hendak memakannya.


Inilah adegan yang Nana tunggu terutama Arsa. Mereka bertiga kompak mengambil sendok. Dan mereka akhirnya memasukan satu sendok besar ke dalam mulut mereka. Hati keduanya berdegup kencang seperti menanti undian saja. Keduanya menatap lamat-lamat ke arah mereka bertiga.


Hoek!


Tahu satu keluarga kecuali Arsa. Mereka berhamburan lari mencari tempat apa saja untuk membuang apa yang di mulut mereka. Wajah Arsa berubah menjadi pias. Terilaht raut wajahnya menjadi muram bercampur terkejut.


🍫🍫🍫


Pukul 7 malam, semua duduk di sofa ruang tamu dengan wajah menyesal, terutama Nana. Dia yang paling menyesal karena tidak berterus terang bagaimana rasa sebenarnya masakan Arsa. Pasti jika Arsa tahu dari awal masakannya rasanya buruk. Dia akan berusha untuk belajar bagaimana memperbaiki letak kesalahannya. Bukan seperti ini. Nana benar-benar menyesal sekarang.


Arsa tak ikut berkumpul malam ini. Setelah kejadian tadi siang. Ia pergi masuk ke dalam kamar, sampai malam pun tak ada juga muncul si pria itu. Sampai-sampai tak ada yang mau membujuk Arsa untuk keluar. Nana berulang kali menatap pintu kamar. Berharap sosok pria itu keluar dengan wajah senyumnya. Tapi itu mustahil, seharusnya emang ada orang yang membujuknya. Tapi kami di sini semua memilih menghindar.


"Nanti juga dia bakal keluar." Ucap Tamara berusaha menenangkan sang menantu yang sedang gelisah.


"Iya, dia cuma malu aja." Timpal Adi memberi ucapan menyakinkan.


Tapi tidak dengan hati Nana. Hatinya tak nyaman jika dia berdiam diri. Jujur hati kecilnya berkata rindu. Rindu seperti pasangan yang baru kasamaran. Baru setengah hari Nana tak melihat Arsa, ia galau tak tenang.


Nana beranjak dari duduknya. Ia memilih menenangkan pikirannya di luar balkon. Nana hembuskan nafas berulang kali. Hanya untuk membuang rasa kegelisahan yang menggebu-gebu. Rasa bersalah, khawatir, dan rindu yang terlalu menjadi satu.


Rasa sesal kembali menyeruak begitu menyayat. Apa ini? Hanya itu membuat perasaan Nana terguncang. Apa emang hatinya selemah itu.


"Jangan di pikiran kak." Nana terkejut merasakan kedatangan Bila di sisinya.


Yang bikin terkejut untuk pertama kalinya Bila menyebut dirinya dengan sebutan Kakak. Ada apa ini? Apakah begini rasanya di timpa masalah tapi keberkahan datang terus menerus.


Nabila hanya tertawa, " Aku yakin kok, kakak gak bakal marah kayak dulu sama Kamu kak." Yakin Nabila.


Nana tertawa membalas ucapan adik iparnya.


"Aku harap hubungan kalian bakal begini terus sampai kalian bahagia."


Nana memicingkan matanya mencerna kata demi kata yang di ucapkan Nabila barusan.


"Bahagia dalam arti? "


"Ya cinta lah." Nabila membentuk tangannya love, di angkatnya ke atas. Sampai bulan berada di tengahnya.


"Cinta? Apa bisa sampai sejauh itu?" Bhatinnyanya.


"Paham gak artinya ini apa? " masih tangan di angkat ke atas membentuk hati dengan di tengahnya persis ada rembulan.


Nana menatap gadis di sebelahnya, mendengar pertanyaan sang ipar ia hanya menaikan alis sebelah. Ia menggelengkan kepalanya tak paham.


Nabila tersenyum ke arah Nana dengan tatapan berbinar. Ia lepas kedua tangan yang membentuk hati. "Perhatikan ya." Intruksi Nabila.


Tangan kanan ia angkat kembali membentuk hati tak sempurna, " Ini Kak Arsa."


Nana masih menunggu penjelasaan Nabila dengan menatap ke arah atas dengan seksama.


Lalu tangan kiri ia tautkan ke tangan kanan. Tangan Nabila kembali bersatu menyempurnakan hati yang yang tak sempurna menjadi sempurna. " Ini Kakak." Ucapnya tersenyum lebar.


Nana menanggapi malu, Nana menyenggol Nabila pelan.


"Paham gak arti rembulan di tengah? " Tanya Nabila.


Yang di tanya hanya menautakn kedua alisnya. Ia semakin tak paham. Nana tak paham.


"Maksud arti rembulan ditengah adalah buah hati." Jelasnya.


Nana paham, ia hanya mengangguk dan bibirnya membentuk O.


Eh?


"Gimana maksudnya? "


Buah hati? Buah hati siapa?


"Maksud buah hati, buah hati itu anak? " Tanya polos Nana.


Nabila menepuk jidatnya sendiri. Kakak iparnya benar-benar polos.


"Iya, cinta kalian akan nyata dan semakin nyata jika kalian sudah punya buah hati. Ya anak." Jelas Nabila.


🍫🍫🍫