
"Maafin Mama tadi sore gak nemenin kamu. Tadi ada urusan sedikit." Tamara memeluk Nana dengan hangat. Ia baru datang di karena kan ada urusan penting.
"Gak apa-apa Ma. Nana sendiri juga gak masalah."
"Gimana keadaan kamu sekarang ?"
"Udah lumayan Ma."
"Kamu udah makan belum ?"
"Udah tadi."
"Arsa mana ?" Mata wanita itu tengah menyapu keadaan ruang rawat mencari putranya.
"Oh, lagi di kamar mandi." Jawab Nana.
Tak lama Arsa keluar dari kamar mandi. Arsa yang melihat Tamara langsung menyapanya dan memeluknya. Setelah ia rasa cukup basa-basi. Ia kembali disibukan pekerjaan yang ia tinggali beberapa hari.
Arsa selama Nana di rumah sakit 3 hari ia tak berangkat kantor. Jika ada pekerjaan mendadak sekalipun, Arsa akan meminta semua itu di tunda atau di batalkan. Karena pada saat itu keadaan Nana belum sadar dari koma.
Sekarang Nana sudah sadar, dan Arsa memulai pekerjaan yang menunggunya. Ia duduk di sofa yang di sediakan dengan mata fokus di layar laptop nya dan beberapa kali ia membuka kertas dokumen-dokumen diatas meja yang di bawakan oleh sekretarisnya tadi sore.
Malam ini ia akan lembur sembari menunggu Nana di rumah sakit. Selama Nana di rumah sakit ia akan terus di sisinya. Memantau keadaan Nana setiap hari, dan menemaninya.
Arsa di mata Nana, Mama, dan Mbok Imah memanglah berubah drastis. Tahu lah seperti apa Arsa memperlakukan Nana begitu bencinya. Tapi akhir-akhir ini, balok es yang tadinya keras dan dingin mulai mencair dengan ajaib. Entah Arsa yang memang berubah atau memang takdir yabg mengharuskan sikap Arsa berubah.
Arsa lebih perhatian kepada Nana. Arsa selalu di samping Nana dua puluh empat jam. Padahal Nana meminta dirinya untuk pulang dan melakukan pekerjaan seperti biasanya. Karena Nana sudah di rawat oleh Mbok Imah atau kadang-kadang Tamara datang. Namun Arsa tetep kekeh, bahkan di saat Dokter Anita meminta Arsa keluar untuk pemeriksaaan. Arsa pun tak mau keluar, ia bilang ia harus di sini untuk menemani sang istri.
Ya, Dokter Anita menganggap Arsa adalah suami yang penyayang dan bertanggung jawab. Tapi kenyataannya awal bukanlah seperti itu. Bahkan Nana sendiri bingung kenapa Arsa bisa berubah drastis. Bahkan ia fikir semua ini memanglah akal-akalan Arsa untuk menyiksa dirinya. Misal nanti di saat Nana sudah sembuh total, Arsa akan lebih kejam pada dirinya. Nana sudah membayangkan betapa ngerinya ketika Arsa benar-benar akan seperti itu.
Di saat Nana bertanya kronologi dirinya di saat Arsa menolongnya. Mbok Imah pun sama halnya bingung seperti Nana. Bahkan Mbok Imah hanya berkata "Aden sudah berubah, jadi jangan takut lagi."
Padahal Mbok Imah sudah tahu, tapi entah kenapa Mbok Imah memilih bungkam. Padahal jika di beritahu bukannya bagus untuk hubungan mereka keduanya. Mungkin juga ada alasan lain yang membuat Mbok Imah diam.
"Kamu pulang aja, udah beberapa hari ini kamu di sini. Lagian aku udah ada Mbok Imah." Udah kesekian kalinya Nana membujuk Arsa yang kini sedang menyuapinya dengan telaten.
Jujur saja, untuk Nana sangatlah aneh merasa jika Arsa melakukan hal-hal baik untuk dirinya. Apalagi Arsa melakukan semuanya penuh kelembutan dan perhatian.
"Kamu kenapa sih, bahas ini mulu ? Aku udah bilang gak akan pulang sebelum kamu sembuh total. Jangan maksa aku, Na." Kali ini suara Arsa meninggi satu oktaf.
Membuat pikiran aneh-aneh Nana kembali lagi memutar di kepalanya. Nana yang tadinya menatap Arsa, kini melihat kedua tangannya yang luka-luka. Nana ingin sekali menangis, karena sekarang ketakutannya telah membayangi dirinya. Bisa dibilang rasa trauma Nana kembali. Entah setiap Arsa meninggikan suaranya semakin ia takut. Ia ingin rasanya berjauhan dengan suaminya.
Padahal hanya masalah sepele, tapi bisa membuat hati Nana bergemuruh tak karuan. Ketakutan, dan keringat dingin bercucuran. Ingin menangis namun tertahan atas keegoannya karena tak mau di anggap lemah atau cengeng oleh Arsa.
Karena dulu setiap Nana sudah menangis ketika Arsa menyalahkan dirinya dengan suara meninggi. Itu saja sudah berhasil meloloskan air matanya jatuh. Itu yang tak di suka Arsa. Air mata kesedihan Nana itu sangat di benci Arsa.Dan Nana di tuntut untuk tidak menangis.
Arsa sadar Nana tengah menyembunyikan wajah sedihnya. Arsa menghela nafas pendek. Dengan lembut ia mengusap lengan Nana. Nana tak bergeming, ia masih menyembunyikan wajahnya.
"Bukan gitu, maksud aku, aku mau merawat kamu tanpa bantuan siapa pun. Jadi aku mohon izin aku ya buat aku jaga kamu sampe kamu bener-bener sehat.." Pinta Arsa kali ini suaranya melembut.
\=\=\=
Nana sudah tak cerewet tentang yang di lakukan Arsa. Menemaninya selama 24 jam. Walaupun ia harus tetap kerja sampai tengah malam. Walaupun ia harus tidur di sofa setelah lima hari sudah Nana di rawat.
Hari ini Arsa keluar untuk membelikan se-cup cokelat panas untuknya. Setiap pagi hari Arsa akan keluar sendiri untuk membeli se-cup cokelat panas untuk Nana. Dan Dokter Anita juga tak melarang Nana mengkonsumsi itu. Dan malah itu bagus untuk mengatasi rasa stres berlebih.
15 menit Arsa keluar, ia tak sengaja menangkap dua sosok tak asing di matanya di saat ia kembali.
"Nenek, Laura." Lirihnya, lalu ia menghindari papasan dengan mereka.
Yang membuat Arsa terkejut, mereka keluar dari ruangan Nana dimana ia di rawat. Jantung Arsa semakin berdegup. Rasa khawatir, dan takut menghantuinya. Langkahnya kini melebar agar sampai ke ruangan rawat Nana.
Ya cepat atau lambat pasti Nenek Areta dan Laura datang menemui Nana. Walaupun Nana dan Laura di rawat di rumah sakit yang berbeda. Dan ia harus menemani Nana agar tak terjadi sesuatu lagi yang dilakukan kedua wanita itu. Tapi Arsa kecolongan kali ini, membuat keresahannya semakin memuncak.
Dengan tergesa-gesa ia membuka pintu kamar rawat inap. Yang pertama kali Arsa lihat adalah Nana yang sedang salah tingkah. Nana sedikit terkejut melihat kedatangan Arsa tiba-tiba. Dengan cepat kedua lengannya mengusap air mata yang mengalir entah kenapa. Nana berusaha tersenyum ke arah Arsa yang kini melangkah menuju dirinya.
"Kamu nangis ? Kenapa? " Tanya Arsa pura-pura tidak tentang Nenek Areta dan Laura habis dari ruangan ini.
Semakin jelas apa yang mereka lakukan tadi karena mengetahui Nana menahan sisa isakan tangisnya sebisa mungkin di tambah mata yang basah.
Nana hanya membalas dengan menggeleng kepala lalu tersenyum yang belum hilang. Matanya basah membuat hati Arsa tercubit. Arsa tahu karena siapa, tapi ia tidak tahu karena apa. Apa Nenek Areta dan Laura berkata menyakitkan hati Nana ? Hanya pertanyaan Arsa kala itu.
"Cokelat ku mana ?" Tanya Nana dengan tatapan berbinar ketika Arsa memberikan cup berisi minuman yang paling ia suka.
Arsa seperti biasa akan membantu Nana menyesap cokelatnya. Tapi kali ini Nana menolak dengan lembut.
"Eh, Nana bakal minum tapi nanti." Nana menghindar dari perlakuan Arsa dengan tersenyum.
"Kenapa ?" Hanya itu yang Arsa lontarkan.
"Tunggu hangat." Arsa menaikan alisnya satu, kecurigaannya memanglah benar.
"Kenapa harus tunggu hangat, pas panas di di minum perlahan bukannya enak kata mu ?" Arsa mencoba sedikit ingin Nana memberitahu apa yang terjadi barusan sampai hal yang biasa ia lakukan di tolak.
"I-iya sih. Tapi tunggu hangat aja, aku mau minumnya sekarang hangat aja."
"Ya udah kalau gitu, nanti kalau udah hangat aku bantu ya." Arsa mengalah daripada membuat Nana semakin gusar. Arsa menaruh kembali di nakas.
Nana mengangguk, dan Arsa kembali duduk di sofa dan mengerjakan pekerjaannya agar tidak menumpuk.
Nana teringat 10 menit yang lalu.
Nana terkejut mendapatkan tamu yang tak ia inginkan. Nenek Areta dan Laura yang sekarang memakai cadar tipis untuk menutupi kecacatannya sekarang dari semua orang.
Nana terhenyak, mereka datang dengan tatapan tak bersahabat. Ditambah ia hanya seorang diri.
\=\=\=