Banned

Banned
Pagi Hari Pertama Di Apartement


Boleh dong tinggalin jejak, biar aku syyeeemangat buat bikin ceritanya. Makasih juga kalian yang udah mampir 💜


Selamat membaca 😉


🍫🍫🍫


Nana kembali ke ruang tamu. Di bawanya selimut tebal di pelukannya. Langkahnya mendekati Arsa yang sedang tidur pulas. Dengan hati-hati ia tutupi tubuh atlantis Arsa dengan selimut tebal. Dengan susah payah Nana menyelimuti tubuh Arsa dengan kondisi tangannya yang masih sakit dan terasa nyeri.


Nana kembali duduk di lantai menghadap arah wajah Arsa yang terlelap. Dagunya ia tumpul di kedua lutut kakinya yang ia tekuk. Sembari bola matanya menatap Arsa. Melihat wajah Arsa, foto-foto kebersamaannya dengan Laura begitu jelas di ingatannya. Ada rasa aneh yang menghinggapi relung hatinya. Sedikit merasa sakit. Di tambah ada sebuah kotak cincin di sana. Membuat jelas keadaan dan kenyataan.


"Gara-gara aku kalian gak bisa bersatu. Laura sungguh beruntung di cintai Arsa dengan tulus. Aku seharusnya tahu diri. Aku ini siapa nya Arsa." Bhatin Nana


Adanya foto di tambah sebuah cincin di sana. Semakin mengingatkan diri Nana sekarang. Arsa miliknya tapi bukan hatinya.


🍫🍫🍫


"Hey Na, Nana, kok tidur di sini ?"


Mata Nana ia buka perlahan. Dirinya merasa terpanggil ketika suara khas serak dan berat memanggilnya dengan lembut. Matanya membuka lebar, mendapati Arsa tengah di sisinya.


"Hm." Sahut Nana yang enggan bangun, matanya pun terpejam kembali.


Nana baru tidur jam satu malam. Rasa kantuknya belum datang, dan ia banyak memikirkan hal-hal berat. Seperti, kotak semalam yang ia temukan dan sikap Arsa akhir-akhir ini. Ia halau fikirannya dengan membaca buku majalah yang kebetulan di susun rapih di laci meja yang berada di ruang tamu itu persis berhadapan sofa yang Arsa gunakan untuk tidur.


Nana buka setiap lembaran majalah, hingga ia tertidur dengan kepala ia jatuhkan ke meja. Ya, Nana tertidur dengan posisi duduk, dan kepalanya berada di meja.


"Kenapa bisa tidur di sini sih ?" Bingung Arsa yang masih berusaha membangunkan sang istri.


"Na, kalau masih ngantuk tidur di dalam gih." Arsa mencoba menarik lengan Nana dengan sedikit tubuh Nana ia goyakan.


"Na, denger gak sih. Atau aku gendong nih." Mendengar kata gendong dari mulut Arsa.


Membuat Nana lekas bangun dan duduk tegak. Matanya langsung membulat, ia paksakan untuk benar-benar membuka mata.


"Hah, aku dah bangun nih." Kata Nana tak lepas ia menunjukan matanya yang bulat tengah memerah ke arah Arsa.


Arsa terkekeh melihat tingkah Nana dan tangannya menunjuk kening Nana dengan pelan. Dan berkata, "Gak dari tadi."


Membuat Nana merespon dengan bibir mengerucut artinya ia kesal. Nana langsung membuang muka ke arah bufet televisi di depannya.


"Sorry !" Kata Arsa yang langsung cepat minta maaf karena Nana sedang merajuk.


Nana masih kesal, ia masih ngantuk. Nana emang selalu begitu. Tidur yang tidak kenyang membuat mood nya menjadi jelek. Di tambah Arsa menoyorkan keningnya.


"Eh mau kemana? Aku belum selesai ngomong." Arsa hanya menatap perginya Nana.


"Katanya suruh bangun." Sahut Nana yang tak menoleh ke arah Arsa.


Itu membuat Arsa ingin menjahili Nana lebih. Wwajahnya yang cemberut, itu seperti magnet untuknya. Arsa beranjak dan ikut masuk ke kamar.


Arsa tak mendapati Nana di ranjang ataupun di spot manapun, terkecuali kamar mandi. Arsa langusng menghampiri kamar mandi yang memang tidak di tutup pintunya.


Pertama kali Arsa lihat adalah Nana hanya berdiri di depan wastafel dengan matanya mengarah bingung ke jajaran tempat khusus sikat gigi dan pastanya. Ia menatap bingung sekali, bahkan air kran di wastafel di biarkan mengalir saja.


Arsa langsung mematikan kran air dan berujar " Sini aku bantu." Tawanya dengan tersenyum.


Nana mencebik yang artinya ia masih kesal, tapi ia masih menatap ke arah Arsa. Dengan sorot mata tajam. Ah, perempuan pikir Arsa.


Nana tak menjawab, ia berlalu melewati Arsa yang masih menunggu persetujuan Nana. Tapi buru-buru lengan Nana ia tahan, " Mau kemana sih ? Udah nurut aja."


Arsa menuntun Nana yang masih diam tapi masih mau merespon arahan Arsa untuk tetap berdiri di depan wastafel.


"Jangan marah, nanti cepet tua." Goda Arsa yang tersenyum di depan cermin, beruntung Nana lihat.


"Apaan sih? " Bhatin Nana yang langsung membuang wajahnya.


Arsa hanya menahan tawanya, ingin sekali ia mencubit pipi chubby milik Nana. Tangan Arsa ia ulur-kan ke arah tempat dimana sikat gigi dan pastanya berada. Ia ambil dua sikat gigi, ia berikan pastanya secukupnya di keduanya. Setelah itu ambil gelas untuk di isikan air dari kran wastafel untuk berkumur.


"Nah." Arsa mengulurkan tangannya ke arah mulut Nana untuk memberikan air di gelas.


Nana menepis gelas itu dari tangan Arsa, " Aku bisa sendiri." Ujar Nana.


Arsa langsung memutar bola matanya jengah, sampai kapan Nana akan bilang 'aku bisa sendiri '.


"Coba tunjukin ke aku kalau kamu bisa sendiri." Kesal Arsa yang langsung meletakan gelas itu dan ia sibuk menggosok giginya sendiri.


Huh


Dengkus Nana, kemudian ia raih gelas itu menggunakan kedua lengannya. Berhasil melakukannya, gelasnya ia letakan dengan di hentakan sampai menimbulkan suara.


Matanya menyorot tajam ke depan cermin sembari berkumur-kumur. Membuat Arsa menatap balik di cermin dengan tatapan menantang.


"Tunggu aja lo, bentar lagi pasti minta bantuan gue." Bhatin Arsa di dalam hatinya tersenyum menyeringai.


🍫🍫🍫