
Arsa memandang takjub ke arah berdirinya Nana di depannya kini. Setelah membantu Nana mengganti baju Nana dengan kemeja miliknya. Mata Arsa menaik dan menurun melihat dari atas kebawah penampilan Nana. Ia terlihat menggairahkan sang lelaki normal.
Lebih sensual ketika Nana menggunakan kemeja polos putih dengan ukurannya lebih besar melekat di tubuhnya. Senyum masih terurai di wajah Arsa tapi dalam hati.
"Ada yang salah ya ?" Nana yang memperhatikan Arsa melihat Nana tanpa kedip.
Arsa tersentak, " Ah, gak ada.."
Arsa salah tingkah, "Mm... Ayo makan. Nanti takut keburu dingin."
Nana mengangguk hanya menurut dengan mengikuti langkah kaki Arsa akan menuju kemana. Walaupun dia sedikit risih dekat Arsa. Memakai kemeja yang longgar dan sedikit tipis. Dan aroma khas kemejanya adalah aroma Arsa.
"Dia ini kerasukan mahluk apa sih ? Apa salah makan ? Apa kepalanya membentur? Atau amnesia ?" Nana terlihat frustasi menanggapi sikap Arsa yang mulai hangat padanya.
Tapi sehangatnya sikap Arsa. Nana tetap harus jaga sikap dan selalu mengingat tentang hal yang menyangkut Arsa yang tidak Nana boleh sentuh. Ya kalau kemeja kali ini dia yang insiatif. Jadi Nana masuk zona hijau.
"Ayo duduk." Titah Arsa yang sudah duduk di tepi ranjang.
Nana menurut saja, kini mereka duduk saling berhadapan. Arsa mengambil semangkuk sup yang ia buat.
"Cobain deh ini enak apa gak. Aku yang masak, dan aku juga gak tahu cara masak nya gimana. Sebisa aku aja. Mudah-mudahan enak." Nana melongo, air liur nya sampai tak bisa ia telan dengan mudah.
Bola matanya berulang kali melihat Arsa dan mangkuk yang Arsa pegang. Ia tersanjung atas niatan baik Arsa. Tapi di sisi lain lambungnya saja sudah mulai menolak. Mendengar bahwa Arsa yang memasak, pastinya ini yang pertama kali. Dan Nana adalah orang yang mau tak mau mencicipi masakan Arsa. Dan tentu tak boleh memberikan jawaban yang tak enak di dengar. Dan parahnya jika sudah mengatakan penilaian ia pun harus menghabiskan.
Arsa menyuapi satu sendok sup itu masuk ke mulut Nana. Percaya lah Nana sekarang ini mau muntah. Tak ada pilihan lain ia harus menelannya bulat-bulat. Dan memasang wajah senyum yang menandakan bahwa masakan Arsa enak.
Arsa yang sedari tadi menatap ekspresi Nana menanti jawaban apa yang Nana berikan. Ketika Nana tersenyum ia bahagia bukan main.
Nana menelannya saja susah payah. Kalian tahu rasanya sangat manis sekali. Walaupun Nana suka makanan yang manis. Bukan berarti makanan semacam sup daging juga harus manis. Setidaknya takaran kemanisan Nana bukanlah takaran yang Arsa berikan di sup nya sekarang. Mungkin ada lima sendok ia berikan.
Nana hanya memasang wajah tersenyum yang tak luntur sama sekali. Setiap suapan adalah kebahagian buat Arsa. Namun bagi Nana itu adalah penderitaan. Ia harus menghabiskan semangkuk sedang sup itu.
Hatinya berdoa semoga tangannya lekas sembuh. Agar bisa melakukan sesuatu tak payah Arsa lakukan. Ini kemungkinan sampai minggu-minggu kedepan ia harus merasakan tekanan gula darahnya akan menaik. Atau mungkin berat badannya menaik secara drastis.
Arsa pun sama, ia sangat bangga dengan kegigihannya dan bakat terpendamnya. Mungkin. Sekali masak langsung enak. Siapa yang tak bahagia. Apalagi semangkuk sup yang ia buat habis tak bersisa.
"Nah minum obatnya dulu." Arsa menyuapi gelas kecil berisi 2 macam obat, dan segelas air minum.
"Ini susunya di minum dulu, sama cokelatnya." Arsa memindahkan dua gelas tersebut dari baki ke nakas dekat ranjang.
"Nanti aja deh, aku kenyang." Bohong Nana, ketika Arsa akan membantu Nana minum susu.
Nana sudah eneg dengan rasa manis sup ayam buatan Arsa. Rasanya sudah tawuran di dalam perut. Nana tak mampu jika harus menghabiskan susu low fat dan cokelat panas nya. Yang sebenarnya Nana mau.
"Oh ya udah. Aku ke bawa ini ke dapur dulu ya." Arsa membawa baki berisi semangkuk kosong ke dapur.
"Oh, Tuhan apakah ini karma ku. Aku tidak jadi mati, tapi malah harus mati perlahan." Desah Nana.
\=\=\=
Sudah dua jam berlalu setelah kepergian Arsa dari kamar untuk menyuapi Nana. Tapi selama itu tidak ada tanda-tanda Arsa masuk ke dalam. Apa yang Arsa lakukan ?
Nana terbangun, dan melihat jam digital di nakas sebarang sana. Jam menunjukan pukul 11 malam lewat. Ia tertidur karena obat yang ia konsumsi memberikan efek ngantuk. Matanya mencari sesuatu di sekitarnya. Ranjang sisinya bahkan sofa yang ada di dalam kamar tersebut tidak ada Arsa kemana Arsa ?