
Nana beranjak dari tempat tidurnya. Kakinya melangkah keluar dari kamar. Matanya menyapu pandangannya di setiap sudut ruang tamu. Dan pandangan matanya jatuh ke sofa panjang di ruang tamu.
Arsa, ia tidur dengan nyenyak nya. Wajahnya terlihat lelah. Mungkin sisa lelahnya waktu Arsa menjaga Nana dan ditambah ia harus mengurus kamar apartement sendiri.
Nana mendekati tidurnya Arsa. Nana pandangi wajah Arsa yang begitu tampan. Wajah tampannya di turuni oleh Papa Adi. Sifatnya pun sama. Penuh wibawa, bijaksana, pantang menyerah, dan baik hati selain Nana. Dan sifat teliti, kebersihan, dan kerapihan pastinya dari Mama Tamara.
Nana duduk bersimpuh di lantai beralas karpet tebal. Bola mata bermanik cokelat menatap tanpa bosan. Setiap ciptaan Tuhan itu patut di syukuri. Termasuk wajah tampan Arsa. Lihatlah, bulu mata Arsa tebal dan lentik. Hidungnya yang mancung, rahang yang tegas, bibir yang tipis. Wanita mana yang tak tergila-gila.
Nana tersenyum masam. Menyadari kini ia menatap wajah lelah Arsa tanpa was-was. Ingat, dulu ia hanya curi pandang wajah Arsa dari jauh saja. Itu sudah bersyukur. Dan sekarang beberapa hari ia bisa memandang wajah Arsa. Tanpa takut lagi. Ingat di rumah sakit. Arsa memeluk Nana dengan erat.
Ya ampun mengingatnya saja sudah buat hati berdegub kencang.
Entah-lah mengapa Arsa sekarang Begitu hangat padanya. Tak seperti dulu. Banyak sekali pertanyaan yang datang beralih ganti. Tentang dia, tentang Arsa yang sungguh berubah manis. Mungkin belum saatnya. Ada waktunya semuanya akan terjawab.
Nikmati saja hari-hari yang tak pernah Nana impikan sebelumnya. Duduk bersanding, bicara panjang lebar, dan tertawa bersama. Dulu itu hanya sebuah impian bagi Nana. Tak perlu menjadi seorang istri. Hanya di jadikan adik saja oleh Arsa. Itu suatu mukjizat.
Tapi kini kepahitan yang ia rasakan bertahun-tahun lamanya. Kini berbuah manis. Manis seperti cokelat yang ia minum ketika pagi hari. Tambah manis jika melihat kehangatan, dan senyum dari Arsa.
Sungguh, sekarang Nana dalam mode malu. Membayangi Arsa menggelikan hatinya. Nana tatap kembali wajah tampan Arsa yang lelah lamat-lamat. Oh Tuhan beginikah rasanya jatuh hati ?
Tiba-tiba Arsa menggeliat. Membuat Nana kaget bukan main. Nana langsung membungkuk ke bawah. Agar Arsa tak tahu jika dirinya tengah di sisinya.
"Ya Tuhan." Gumam Nana sesekali memejamkan matanya, seolah dia sudah siap menerima konsekuensinya saat ini.
Mata Nana membuka lebar ketika merasa sudah tidak ada pergerakan lagi dari Arsa. Itu cukup membuatnya bernafas lega. Perlahan ia kembali memposisikan dirinya untuk duduk. Jantungnya masih bertalu-talu, sebelum melihat Arsa ia pejam kan matanya. Dan membuka perlahan.
"Oh, syukur lah."
Arsa ternyata menyilangkan kedua tangannya. Dengan mata yang masih terpejam.
Nana membuka lemari, untungnya pintu lemari hanya di geser saja. Jadi Nana tidak kesusahan. Insiatif mengambil selimut di lemari untuk menyelimuti Arsa. Tak sengaja ia menjatuhkan sebuah barang ketika sudah berhasil menarik satu selimut dengan susah payah. Dan ternyata itu sebuah kotak hitam ukuran sedang. Dan isinya terberai ke lantai. Reflek Nana terkejut dan langsung menjatuhkan pandangannya ke arah barang yang terjatuh.
Nana membulatkan matanya ketika melihat semua isi berserakan di lantai. Ia pun duduk bersimpuh. Ia tarik satu persatu lembaran kertas tebal persegi. Memperlihatkan semua kenangan Arsa dengan Laura.
Semua foto yang memotret dan mengabadikan kedua sejoli dengan mesra. Tersenyum manis, tertawa, saling berpelukan. Itu yang terlihat. Nana melihat semua itu ia hanya meringis. Mengagum palsu bahwa mereka itu pasangan serasi.
Ia berbohong dengan hatinya sendiri. Padahal hatinya sedang tersayat samar. Helaan panjang, matanya ia arahkan ke atap langit-langit. Ada hak untuknya cemburu, tapi hanya sebatas istri yang tak di anggap keberadaannya.
Cemburu ?
"Ck, Apa aku cemburu ? Mana mungkin, sekian lamanya aku bersama dengan Arsa. Aku tak pernah menyimpan rasa lebih." Bhatin Nana yang menertawai kebodihannya sendiri.
Nana tak pernah menyimpan rasa lebih kepada Arsa. Ia kadang hanya sebatas mengagumi bakat dan kelebihan yang Arsa punya. Serius, hanya itu.
Apa mungkin karena akhir-akhir ini ia selalu intens dengan Arsa ? Terlebih Arsa memberikan perlakuan manis dan hangat pada dirinya. Jika benar hati Nana memanglah terlalu mudah untuk jatuh hati hanya dekat dalam waktu singkat.
Foto yang terakhir terselip di bawah saat Nana ingin memasukan kembali foto itu menggunakan tangan bagian punggungnya. Foto Arsa dan Laura tengah duduk di ranjang dengan wajah tawa mereka. Mereka hanya duduk saja. Tapi hati Nana terasa sesak. Mendapati sprei warna krem ranjang dan sekitarnya hampir mirip di ruangan apartement ini.
Nana tatap kembali ke arah ranjang dan benda-benda yang terlihat di foto. Ia samakan apa yang ia lihat di depannya. Benar-benar sama dan tak pernah berubah.
Itu artinya ini apartement memanglah milik Arsa. Dan Laura tahu itu. Atau ini apartement memanglah milik mereka berdua. Fikiran Nana terlalu jauh ketika menyangkut Arsa dan Laura.
Ya sudah lah.
Nana tak perduli itu. Ia hanya perlu menjaga jarak dengan Arsa dengan baik. Ia pungut kembali foto-foto mereka dan menaruhnya kembali. Ada benda satu yang lain dari yang lain. Kotak beludru berwarna merah hati.
🍫🍫🍫