
Aku tahu di tipu itu lebih menyakitkan di banding di tinggalkan._Nana Alina_
🍫🍫🍫
Ini sudah larut. Nana kembali masuk ke dalam kamar dengan perasaan takut-takut. Tapi Adi, Tamara, dan Nabila menyemangati dirinya. Menyuntikkan kata-kata semangat di nyali Nana. Dengan sekali tarikan nafas, ia buka handle pintu perlahan.
Degupan jantungnya semakin tak santai saja. Edaran pandangan Nana tertuju ke sosok pria yaitu suaminya yang tengah tidur di bawah lantai yang hanya beralaskan karpet tebal. Sepertinya dia sudah tidur.
Nana menutup pintu pelan. Masuk dengan langkahan kaki yang teramat pelan hingga tidak menimbulkan suara. Kini Nana berdiri membelakangi sang suami. Cukup lama Nana berdiri mematung tak melakukan apa-apa. Sampai entah keberanian dari mana ia berucap.
"Kamu udah tidur? " Tanya Nana yang sekarang mendekati Arsa, dan duduk di belakang punggung sang suami.
Ia tekuk kedua lutut. Dengan kedua tangan masuk diantara betis dan paha. Dagunya ia tumpu di atas lutut.
Arsa ternyata belum benar-benar tidur. Arsa kini membuka matanya yang terpejam.
"Belum." Sahut Arsa yang tidak mau membalikan tubuhnya.
"Oh."
"Hah, apa dia hanya bilang oh. " Kesal Arsa, ia langsung memejamkan matanya kembali.
"I'am sorry." Lirih Nana namun masih terdengar di telinga Arsa.
Arsa langsung membuka matanya yang terpejam. Tapi belum membalikan badan atau bangun dari pembaringnnya. Telinganya ia buka lebar-lebar. Berharap Nana mengatakan hal lain selain maaf.
Lama Arsa menanti kata lanjutan. Tapi tak kunjung terdengar. Ia fikir Nana tertidur. Sampai pikirannya buyar akibat ia mendengar suara redaman tangis isakan kecil dari belakang.
"Arsa, aku sungguh minta maaf. Aku tidak berniat berbohong. Aku hanya bingung harus memberi jawaban apa pada saat itu. Yang aku pikirkan agar kamu senang atas niatanmu dan usahamu. Itu yang aku pikirkan. Tidak ada maksud lain. Aku benar-benar minta maaf." Nana berkata tulus.
Arsa tersentuh dengan kata-kata maaf Nana. Sungguh Nana memiliki hati yang besar. Ia mau mengakui kesalahannya dan meminta maaf berulang kali. Tapi diri Arsa terbilang harus banyak belajar.
"Aku tahu di tipu itu lebih menyakitkan di banding di tinggalkan." Arsa tersentak kalimat yang Nana lontarkan barusan.
Apa dia bercerita tentang dirinya? Secara tidak langsung mengartikan keseluruhannya. Hati Arsa langsung tercabik. Ingin rasanya ia memeluk wanita di belakangnya ini. Arsa benar-benar tidak marah betul. Ia hanya kesal dengan dirinya yang payah dalam memasak.
"Maafkan aku." Lirih Nana, air mata sudah jatuh membasahi pipi chubby nan putih.
"Jika kamu marah denganku tak apa. Tapi aku mohon jangan marah kepada keluargamu. Sekali lagi aku minta maaf." Mendengar Nana menangis entah kenapa hati Arsa terasa ngilu.
"Aku akan akan keluar. Selamat malam." Usai dari kata maafnya.
Dengan cepat Arsa terbangun dari tidurnya. " Nana."
Membuat Nana yang masih terduduk dengan posisi hendak berdiri ia tertegun ketika Arsa langsung memeluknya dengan erat. Nana terkejut, mengerjapkan matanya berulang. Seolah tak yakin dengan apa yang terjadi. Jantungnya berpacu karena ketakutan berubah menjadi perasaan gugup yang luar biasa.
Pelukan yang terjadi beberapa detik kemudian Arsa melepas pelukan mereka. Kedua tangan Arsa terulur menangkup kedua pipi Nana. Menatap lamat-lamat netra cokelat terang Nana. Sampai terasa hembusan nafas terasa menerpa permukaan kulit. Jarak di antara semakin dekat.
Tatapan satu sama lain. Memberikan keduanya desiran aneh yang menjalar di setiap aliran darah tubuh membawanya terbang bebas. Seolah ingin waktu berhenti sejenak. Nana tersadar, walaupun mereka sudah menikah. Tapi hati Arsa bukanlah untuknya. Nana menghargai perasaan Arsa untuk siapa. Nana sadar jika dirinya membiarkan jatuh ia akan sulit untuk keluar.
Nana langsung memundurkan wajahnya ke belakang pelan. Seolah memberikan kode ke Arsa. Tapi bukannya Arsa melepas tangkupannya ia malah makin mendekati dirinya.
Lihatlah wajah ayu Nana. Hidungnya memerah karena menangis, matanya basah sebab air mata menetes dan membasahi pipi chubby Nana. Reflek ibu jari Arsa menjelajahi ke dua pipi Nana hanya sekedar mengusap air mata yang masih mengalir.
"Aku gak marah sama siapa-siapa. Aku cuma kesel aja sama diri sendiri yang payah dalam hal memasak." Ujarnya dengan lekat matanya memandang sosok gadis yang dulu ia benci.
"Jangan nangis lagi ya." Lembutnya suara Arsa sampai terasa di ulu hati. Nana benar-benar merasakan ketulusan Arsa.
Nana tak tahu harus bersikap seperti apa menghadapi Arsa saat ini. Apakah dia harus senang atau sebaliknya. Senang karena Arsa membuka diri untuknya. Sedih semakin ia senang semakin ia terluka berharap yang jelas tak akan pernah ia bisa miliki. Sakit bukan.
Nana hanya mengangguk kecil, dengan mata masih melekat memandang wajah Arsa.
"Janji ya jangan nangis lagi di depan aku. Maksud aku jangan nangis karena aku. " Pintanya seraya tangannya menyelipkan anak rambut yang sedikit terurai ke belakang telinga Nana.
Nana hanya merespon dengan anggukan saja. Dia sudah memasang tembok besar di hatinya menghalangi dan menjaga takut kalau ia jatuh hati. Tapi sekarang seolah terkikis sedikit demi sedikit. Perhatian kecil membuat pipinya menghangat, degupan tak bisa ia jelaskan. Apakah ini degupan rasa takut, atau ia sedang dalam proses awal mencintai?
"Senyum dong."
Nana tersenyum kecil, senyuman yang membuat lubang kecil di kedua pipinya tercetak. Dia sungguh manis jika begini. Sedikit Arsa salah tingkah hanya karena senyuman Nana. Bola matanya mencoba lari ke arah lain. Karena jika ia turuti jantungnya semakin kencang berdetak.
"Ya udah, aku ganti perban kamu dulu ya. " Arsa melepaskan tangannya dari kedua pipi Nana. Ia berdiri, berjalan menuju laci di meja belakang Nana mengambil sebuah kota P3K. Ia kembali duduk di hadapan Nana sembari membuka kotak tersebut.
Ia ambil perban baru, kemudian tangannya lihai membuka perban di tangan Nana. Arsa membuka perban itu dengan telaten. Sesekali ia menatap wajah ayu Nana. Nana membalas tatapan Arsa kemudian mereka saling melempar senyum.
🍫🍫🍫